Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 12 Pertemuan


__ADS_3

Arin POV


Maafkan Bubu Allea. Ini sangat penting bagi Bubu. Entah. Sepanjang perjalanan Air mataku tak berhenti. Sampai depan gerbang Panti. Aku berhenti sejenak. Menghembuskan nafas. Jujur. Dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya. Memarkirkan asal motor ku. Melirik mobil mewah yang terparkir cantik di samping. Menggeleng. Lalu berlari menuju ruangan Bunda.


Ceklek


Aku buru-buru membuka pintu tanpa mengetok. Astaga lupa sebab terlalu semangat. Aku mengedarkan pandangan. Bunda berdiri lalu ibu paruh baya di sampingnya mengikuti.


Deg.


Bukan Mama. Lalu siapa?. Senyuman yang mengembang itu mendadak memudar dari bibirku.


"Duduk dulu nak. Bunda ambilkan air. Pasti jalanan macet ya". Basa-basi Bunda sembari menyodorkan kemasan air mineral. Aku tahu pasti ada sesuatu. Rasanya ingin berkata. Berhenti basa-basi Bunda dan ceritakan apa yang terjadi. Baiklah. Aku ikuti alurnya. Aku duduk di sebrang tamu Bunda.


"Bagaiama kabar Allea?". Lagi Bunda masih basa-basi. Aku cerita ke Bunda soal Allea. Saat pertama Bunda bertemu Allea. Bunda sangat menyukai bayi gembul itu. Aku menyunggingkan senyum saat ingat waktu itu. Aih Bunda bisa saja membuat suasana hati menjadi lebih baik.


"Dia baik Bun. Tadi sekolah di antar bapaknya". Jawabku.


Bunda tersenyum simpul. Aku melirik ibu paruh baya itu. Dia mengernyit. Sepertinya penasaran.


"Syukurlah. Nak Arin. Perkenalkan tamu Bunda. Beliau ingin bertemu denganmu. Silakan kalian ngobrol". Ucap Bunda beranjak. Tapi aku menahan tangan Bunda. Aku tak sanggup mendengar kenyataan soal Mama sendirian. Meskipun aku merasa Bunda sudah mengetahuinya. Aku ingin Bunda di sini.


"Temani aku Bund". Pintaku bergetar. Entah apa yang terjadi. Tamu Bunda itu menangis. Akhirnya Bunda duduk di sampingku.


"Nak. Namaku Dina. Aku mengenal ibumu. Sangat". Ucapnya dengan nada bergetar. Aku terperangah.


"Maaf. Seharusnya aku mengkerahkan seluruh kekuatan untuk mencarimu. Maaf Arin". Sesalnya sembari menyeka air mata.


"Selama ini, kau pasti menunggu ibumu". Lanjutnya memastikan.


"Benar. Aku sangat menunggu Mama menjemputku. Aku ingin bertanya banyak hal". Cicitku dengan tenggorokan kering.


"Mungkin ini sudah sangat lama. Ibumu menitipkan ini sebelum pergi. bukalah". Ucapnya menyodorkan amplop coklat yang tertulis untuk Anaku tercinta di pojok kanan atas.


"Hello anak gadis Mama. Apa kabar?. Pasti anak Mama sangat cantik sekali :). Send hug for you, Sayang. Cintanya Mama, Maaf. Saat kau baca surat ini, Mungkin saja Mama sudah pergi jauh. Anak Mama tercinta. Percayalah bahwa Mama berjanji ingin menjemputmu itu benar adanya. Tetapi jika Mama tak bisa datang. Bisa jadi sesuatu menimpa Mamamu. Saat ada seorang wanita ingin bertemu denganmu dan menyerahkan surat ini. Kenalkan sahabat Mama. Dina Gutama. Namanya. Bertanyalah padanya tentang Mama, Papa dan arti namamu. Kau pasti penasaran. Bukan?. Anak gadis Mama yang pintar. Maafkan Mama. :).


Hening. Hanya terdengar bunyi jam dinding. Apa maksudnya ini. Jangan bilang arti dari pergi jauh itu sebenarnya Mama sudah meninggal. Aku menelan ludah.


"Tante. Mama menulis pergi jauh. Mama pergi kemana?". Aku bertanya tidak. Tepatnya memastikan. Takut dugaanku benar.


"Mamamu meninggal Arin". Jawabnya getir. Entahlah. Perasaan apa ini. Kenapa sesak sekali? Dan air mataku mengalir deras tanpa permisi.

__ADS_1


Tuhan. Aku sangat sedih. Aku terluka akan harapan yang kudambakan akan indah saat pertemuaan itu tiba. Namun kenyataannya harapan itu melukaiku. Aku tak bisa pura-pura tegar. Badanku lemas. Kepalaku pusing. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap.


Aku tak sadarkan diri.


......................


Jam makan siang. Ponsel Aslan sangat berisik.


"Siapa yang telpon Rud?". Tanya Aslan masih berkutat dengan tumpukan dokumen.


"Meli tuan". Jawab Rudi. Aslan mengela nafas.


"Angkat saja. Pasti Allea yang telpon". Titah Aslan.


Benar. Saat Rudi menekan jawab. Suara cepreng khas Allea meleking. Memenuhi ruangan Aslan. Entah bicara apa hingga Aslan tak mendengar perkataan Allea.


"Allea bisa pelan bicaranya. Jangan teriak". Pinta Aslan. Ia mengggeleng. Setelah ngomong panjang lebar. Kenapa sunyi?.


"Ada Apa? Kenapa anak cantiknya Papi gak ngomong?". Rayu Aslan.


"Waow.. Si bos bisa juga ngomong lembut kayak gitu. Wah. Aku syok mendengarnya". Julid Rudi dalam hati. Ia tersenyum dengan isi hatinya.


Hening. Belum ada suara dari sebrang hanya terdengar segukan kecil.


"Papi. Poncel Bubu gak aktif. Huhuhu. Tadi Bubu gak jemput Allea. Papiii. Bubu gak mungkin ninggalin Allea kan?. Huhuhu". Isakan Allea dari sebrang membuat Aslan gelisah.


"Papi pulang sekarang". Gusar Aslan mematikan sambungan telpon. Menyambar blazernya.


"Ayo Rud. Jemput Allea".


"Tapi Tuan?".


"Tapi Apa Rud? Bagaimana jika media tahu? Bagaimana komentar para staf nanti? itukan yang kau ingin bilang?. Aku gak peduli Rud. Saat mendengar Allea menangis hatiku sakit".Tegasnya sembari buru-buru ke baseman.


"Hah. Baiklah. Terserah tuan". Gerutu Rudi jengkel.


Dalam perjalanan tak ada sesi perbicangan. Baik Aslan dan Rudi sibuk dengan pikiran masing-masing. Aslan memikirkan kejadian seperti apa bila Allea di bawa ke kantor atau publik mengetahuinya. Selama ini ia berhasil mengelabui awak media. Ia bimbang. Tentunya pihak Selin akan bahagia dengan berita besar ini. Aslan menutup mata.


Beberapa saat sampai di kediaman Aslan. Ia langsung berlari menuju Allea yang sudah menunggunya di pintu. Aslan menatap keadaan putrinya. Matanya sembab dan masih ada bekas menangis.


"Nona menangis terus tuan. Dia tidak mau makan". Lapor Meli sopan. Aslan langsung menggedong Allea.

__ADS_1


"Rudi cancel semua jadwalku hari ini. Dan cari Arin sampai ketemu"Titah Aslan.


"Baik". Sahut Rudi cepat.


"Huhuhu Pa..pa..pi. Bu..bu gak pelgi ninggalin Allea kan? Hiks".


"Sssttt. Bubu gak mungkin ninggalin Allea. Sekarang makan dulu ya. Papi suapin".


"Gak mau. Huhuhu. Al... Hiks. Allea maunya cama Bubu. Hiks. Hiks. Hiks".


Aslan menghebuskan nafas panjang.


"Stress Aku. Astaga anak siapa ini?. Sabar Aslan sabar. Kemana sih perginya tu anak?. Awas kau. Apa dia sengaja ngerjain aku?. Hah". Gumam Aslan dalam hati sembari menimang-nimang Allea supaya tidur. Pasalnya, Ia pusing mendengar rancauan Allea.


Kiloanmeter dari kediaman Aslan. Rumah Sakit Medika. Arin di larikan ke IGD. Mereka sangat panik dengan keadaan Arin. Sudah dua jam lebih tanda-tanda Arin sadar tak kunjung terlihat.


"Bu Siti. Kapan dia bangun? kata Dokter gak pa-pa. Tapi kenapa belum bangun-bangun". Gusar Dina.


"Tenang Bu Dina. Arin anak yang kuat. Dia hanya syok dan seolah tak terima pada kenyataan . Sebab keinginannya yang dia dambakan pupus". Jelas Bunda seraya membelai rambut Arin.


Perlahan kelopak mata Arin bergerak. Ia membuka mata.


"Bunda ini jam berapa?". Lirihnya.


"Alhamdulillah Arin akhirnya kau sadar". Kompak Bunda dan Dina memeluk Arin. Si empu tubuh hanya tersenyum kecut.


"Oh. Ini hampir jam tiga". Bunda menginfokan.


Arin menghela nafas dan mengubah posisi tidurnya.


"Maaf Allea. Kau pasti mencariku. Tapi untuk saat ini aku ingin sendiri". Sendu Arin dalam hati.


"Bunda. Aku ingin bicara dengan tante".


"Baik. Bunda juga mau ke kantin".


Bunda langsung keluar ruangan. Arin beranjak menuju sofa.


"Tante siapa Papaku". Celetuk Arin tanpa basa-basi. Dina melotot. Kaget dengan pertanyaan Arin.


"Mungkinkah kematian Mama ada hubungannya dengan Papa?". Lagi retorik Arin membuat Dina terperanjat. Tak menyaka dengan kesimpulan dari anak sahabatnya itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2