Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 8


__ADS_3

Setelah menyuapi si kembar, Arin menyerahkan mereka pada nanynya untuk dimandikan.


Arin beranjak ke teras. Mondar-mandir menunggu putri sulungnya yang belum pulang. Ia cemas jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


Lalu menghela napas lega, saat mendengar suara mobil memasuki perkarangan rumahnya.


Ia tersenyum jahil. Siap meluncurkan serangan untuk menggoda anak gadisnya.


"Aih, Aku yang melihat saja kok deg-degan." Komentar Arin saat melihat Melvin membukakan pintu untuk Allea.


Arin melangkah mendekat. "Mampir dulu, nak." Tegur Arin sembari tersenyum. Dan mengedipkan sebelah matanya pada Allea


"Ha? Apaan?." Lirih Allea mengernyit.


"Terima kasih Tante. Mungkin lain kali. Oh iya, maaf jam segini baru pulang." Jeda Melvin melirik arlojinya.


"Tadi setelah makan, kami mampir sebentar ke Toko buku." Lapor Melvin malu-malu.


"Iya, nak. Tidak apa-apa." Balas Arin mengulum senyum.


"Baik, Tante. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum." Pamit Melvin mencium punggung tangan Arin.


"Waalaikumsalam, Hati-hati nak Melvin." Sahut Arin.


"Waalaikumsalam." Lirih Allea dengan ekpresi bahagia.


"Hati-hati, Vin. See you kapan-kapan." Teriak Allea sembari melambaikan tangan.


Melvin menurunkan kaca mobil. "Soon, Allea. Bukan kapan-kapan." Balasnya seraya tersenyum dan melambaikan tangan.


Allea nyengir mendengar balasan Melvin. "Jadi enggak sabar." Desisnya lirih. Ia belum beranjak dari posisinya. Masih menatap mobil Melvin sampai menghilang dari halaman rumah.


"Ehm. Sampai kapan mau berdiri di situ, Allea?." Retorik Arin menatap putrinya.


"I-iya, Bu. Ini Allea move." Reflek Allea lari kecil menghampiri Arin.


"Oalah... jadi gitu. Nyuruh Bubu cepet-cepet pulang itu, kamu mau kencan."Goda Arin menatap putrinya.


Ia ingat kejadian kemarin saat Allea meneleponnya. "Bubu. Adik-adik badannya panas. Sudah di kasih obat, tapi panasnya belum turun. Huwaa. Allea enggak mau tahu. Pokoknya, Bubu harus bin wajib pulang. Right now or tomorrow!." Cerocos Allea.


Arin belum menjawab. Allea menyambar lagi."Tunda acara reproduksi nambah anak. Itu bisa dilanjutkan kapan-kapan. Bubu sama Papi punya banyak waktu berduaan. Untuk sekarang, kesehatan si kembar lebih penting."


Arin tercengah mendengar tetuah putri kebanggannya. Lalu ia pun memutuskan kembali ke Jakarta. Meninggalkan Aslan yang masih survei lokasi.


"Siapa yang kencan, Bubu?." Sanggahnya memeluk manja lengan Arin. Ia menggeleng mengingat sesuatu.


"Oh iya. Katanya, dia sudah izin sama orang tua Allea. Enggak mungkin 'kan Allea dapat hukuman dari ortunya?." Sindir Allea melirik Bubunya.


Arin mengulum senyum mendengarnya. Dan mengusap kepala Allea. "Nenekmu tadi telepon, Al. Jadwal bulananmu nginep di sana. Katanya, kelar Isya, kamu dijemput." Ungkap Arin seraya meraih remot TV di meja.


Setelah kepergian Selin, Arin menceritakan siapa Allea sebenarnya pada Intan. Dengan syarat, tidak boleh cerita ke Allea.


Intan menempati syarat yang di ajukan. Lalu ia meminta Arin, mengajak Allea bermain atau menginap ke rumahnya. Untuk mengisi hari-harinya selakigus sebagai penawar kehampaan hati atas kepergian sang putri tercinta.


"Bubu, pindah jadwal bisa enggak?." Tawar Allea sembari duduk di samping Arin.


"Bilang saja sama Nenek." Saran Arin melirik putrinya yang sedang menggeleng seakan mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Males telepon Nenek." Balas Allea mendengus.


"Bubu?." Pekik Allea pelan sembari menyandarkan kepalanya di bahu Arin.


"Iya. Apa?. Kenapa?."


"Melvin kalau kirim pesan ke Bubu, bahas apa?."


Hening sejenak. Arin mengulum senyum. Seakan tahu bahwa putrinya menyukai pria itu.


"Hanya izin ingin bertemu denganmu. Kenapa?. Memangnya dia enggak hubungi kamu?."


Allea mengangkat kepalanya. "Baru tadi siang. Itu pun cuma miss call sama kirim pesan kayak gini doang, Bu." Ungkap Allea melihatkan pesan Melvin pada Ibunya.


"Apaan coba kirim pesan cuma, 'Assalamualaikum Allea'. Kalau di jawab salamnya. Sudah kelar. Bubar jalan." Imbuh Allea mencibir.


Arin cekikikan. "Memangnya kamu mau di kirim pesan gimana?."


"Ya minimal tanya kondisi, keadaan jiwa, raga, pikiran Allea dong. Kalau kayak gitu kesannya enggak niat chat." Dengus Allea bersedekap.


"Hahaha. Ya sudah. Protes saja ke dia. Atau Bubu saja yang nanya. Hari ini sekolahmu tidak masalah 'kan? Bagaimana keadaan hati putri Bubu nan cantik jelita ini?. Kelihatannya sih bahagia. Tapi kok mukanya di tekuk kayak cemburu?." Ulas Arin mengamati wajah Allea sembari cekikikan.


Allea menghela napas panjang. "Kelihatan banget ya muka Allea kalau cemburu?." Retoriknya menyandarkan kepala di sandaran sofa. Ia menyugar rambutnya sembari menatap langit-langit ruang tamu. Mengingat obrolannya bersama Melvin.


"Ehm. Sori, Vin. Gue cuma penasaran saja. Treatment elu ke gue itu hanya sekedar ngetreat sebagai kawan 'kan?." Allea menegaskan dengan hati berdebar.


"Hmmm. Bisa kawan. Bisa juga sebagai zawjatun-ku nanti." Balas Melvin tersenyum samar sembari menatap Allea.


"Ha?. Apa?. Sau apa, Vin?." Kernyit Allea.


Melvin tidak menjawab. Ia hanya tertawa dan melangkah menuju kasir.


“Ada apa, Allea?." Tanya Arin menoleh ke putrinya yang sedari tadi di ajak berbincang tidak menyahut.


Allea membenarkan posisi duduknya menghadap sempurna ke Arin. "Bubu, jelaskan!. Gimana raut muka Allea kalau lagi cemburu. Biar Allea bisa mengantisipasi." Ucap Allea tiba-tiba membuat Arin terbahak-bahak.


"Ya Gusti, Allea. Gimana caramu mau antisipasi? Kamu jangan aneh-aneh. Rasa cemburu itu naluri, Allea."


"Allea yakin bisa, Bubu. Percayalah pada anakmu yang pintar, cerdas, Baik hati suka menambung, ringan tangan ini."


"Iya. Suka memukul 'kan." Kekeh Arin.


Allea berdecak sebal."Memang ya, kalau jodoh itu kelakuan sebelas-dua belas. Bubu sama Papi. Fix, kalau ada nominasi pasangan menjengkelkan. Allea jamin kalian menang."


"Hahaha. Iya kalau kamu yang buat acara." Ucapan Arin terjeda saat mendengar salam.


"Assalamualaikum. Wah bidadari-bidadari Papi ada apa nih? Kelihatannya seru banget." Ucap Aslan sembari mendekati mereka. Lalu mencium kening Arin dan puncuk rambut Allea.


"Waalaikumsalam." Jawab Allea dan Arin kompak.


"Oleh-olehnya mana, Pi?." Todong Allea tanpa basa-basi.


Aslan mengacak-acak rambut putrinya."Capek, Al. Oleh-olehnya. Mau pasir Bali?. Bentar. Kayaknya tadi nyelip di celana Papi." Kelakar Aslan sembari pura-pura mengambil celananya. Yang kemarin ia gunakan ke Pantai.


Allea menghentakkan kakinya sembari cemberut. "Tuh 'kan bener. Memang Bubu sama Papi itu pasangan klop." Komentar Allea menaiki tangga.


Arin yang mendengar hanya cekikikan. Aslan mengernyit dan mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Hei Allea, bukannya sudah di kasih oleh-oleh sama cowok sholehmu." Pekik Aslan menghentikan langkah Allea. Lalu putar balik menghampiri Papinya.


"Wait. Wait. Papi tahu dari mana?." Penasaran Allea. Rasa sebalnya seketika lenyap.


"Duh sepertinya enggak bisa sekarang, Allea. Papi kangen sama si kembar." Kekeh Aslan melangkah menuju kamar untuk bersih-bersih.


"PAPIIIII. BERANTEM YOK!." Seru Allea jengkel. Dan rasa jengkelnya menjadi saat melihat bahu Aslan naik-turun. Tertawa bahagia menggoda putrinya.


Aslan hanya melambaikan tangan dan melanjutkan niatnya.


"Sssttt. Allea enggak baik seperti itu sama orang tua." Ujar Arin lembur sembari mengelus bahu Allea.


"Ya. Maaf, Bubu." Lirih Allea menunduk. "Allea 'kan penasaran." Imbuh Allea sembari memainkan jemarinya.


Arin langsung memeluk putrinya. "Iya, Bubu tahu. Maaf ya. Melvin yang memberi tahu kami. Dia tanya warna kesukaanmu sebelum membeli kadonya." Ungkap Arin menenangkan.


"Kok enggak nanya langsung ke Allea?." Kernyitnya.


"Ya masa mau ngasih kejutan nanya ke orangnya." Kekeh Arin. "Ya sudah. Kamu bersih-bersih, siap-siap mana yang harus di bawa ke rumah Nenek." Tutur Arin sembari mencium kening Allea.


Allea mengangguk."Makasih, Bubu." Ia membalas mencium pipi Ibunya sembari tersenyum.


...----------------...


Sampai di kamar, Allea membuka kado dari Melvin. Ia teringat kejadian beberapa jam lalu.


"Ini buatmu. Semoga kamu suka." Ucap Melvin sembari menyodorkan kardus kecil.


"Tapi ulang tahun gue masih bulan depan, Vin." Sanggah Allea mengernyit.


"Hmmm. Memberi hadiah tidak harus tepat di tanggal ulang tahun, Allea. Bebas, mau ngasih sekarang, besok lusa, bulan depan, dua bulan lagi itu tidak masalah." Jelas Melvin sembari tersenyum.


Allea mengulum senyum. "Oh ada suratnya. Ih sweet banget. Kalau kayak gini 'kan gue makin ngarep." Lirih Allea mengambil kertas yang dilipat berbentuk kupu-kupu.


Untuk *Calon zawjatii* Kawanku-Allea.


“Ih dia nulis apaan kok di coret? Demen banget sih bikin gue penasaran." Komentar Allea lalu melanjutkan baca sepucuk surat Melvin.


Aku berdoa semoga kamu selalu sehat dan bahagia. Bagaimana keseharianmu di sekolah? menyenangkan 'kah?. Tidak tawuran kayak pas SD 'kan?. Aku harap. Cukup aku yang menjadi korban kekerasanmu. Hehehe.


Hmmm, pasti banyak murid pria yang mendekatimu, ya. Secara, Kecantikan Allea yang Masya Allah sekali itu tiada duanya. Aih, membayangkan saja membuatku kesal.


Allea tergelak membaca pujian Melvin. Pipinya bersemu merah. " Sa ae lu, Vin. Gue jadi malu."


Oh iya, hadiah ini kamu pakai pas perayaan hari ulang tahunmu ya. Semoga kamu senang. Maaf, sepertinya aku tidak bisa datang di acara ulang tahunmu. Aku doakan. Semoga Allah Ta'ala berkahi di setiap langkahmu. Aamiin.


"Aamiin."Desis Allea.


Terakhir. Barakallah fii umrik [calon istri]. 😊


Dari Melvin Kyle [Calon Imam sekaligus suamimu].


"Hajim, nulis arab enggak pakai harakat. Di kira gue ahli bahasa arab. Si kambing. Maksudnya supaya gue enggak tahu artinya?." Maki Allea lalu menyeringai.


"Jangan panggil gue, Allea Alister kalau enggak dapet maksud tulisan lu." Komentarnya sembari melihat benda pemberian Melvin.


Mata Allea berbinar. Ia tidak percaya dengan kado pemberian Melvin. Satu set perhiasan permata biru muda.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2