Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 16 seperti keluarga harmonis


__ADS_3

Terkadang apa yang kita harapkan tak berjalan bagaimana semestinya. Seperti halnya harapan Arin. Ia berharap sang Papa tak mencarinya. Tetapi kenyataannya. Pandu Pratama masih berusaha mencari keberadaan sang putri yang selama ini tak pernah ia ketahui wajahnya.


"Maafkan aku Nira. Waktu itu aku tak berdaya". Lirih Pandu menatap pemandangan dari jendela. Ekpresinya sangat sedih. Seolah menyesali apa yang terjadi dalam kehidupannya.


Braakk.


"Aku dengar kau masih mencari anaknya Nira". Ketus Intan istri Pandu.


"Benar. Kenapa? Dia anakku. Memangnya aku salah kalau ingin tahu keadaannya?. Jangan bilang kau mengusik mereka?". Selidik Pandu mengintimidasi.


" A.. apa? Apa maksudmu? Jangan asal menuduh mas. Aku saja gak tau mereka di mana". Sanggah Intan gelagapan. Pandu mengernyit. Curiga dengan sikap istrinya.


"Oke. Tapi kalo sampai aku tahu ada apa-apa dengan mereka. Aku akan meceraikanmu. Akan ku kembalikan semua jabatan ini padamu". Ketus Pandu mecengkram lengan Intan sekuat tenaga. Seakan melampiaskan amarahnya lalu keluar ruangan dengan ekpresi marah. Intan lunglai. Syok. Ia duduk di sofa. Termangu dengan sikap Pandu. Ini kali pertama ia melihat reaksi Pandu. Suami yang amat dicintai.


"Ck. Mama berantem lagi sama Papa". Cabik Selin saat masuk ke ruangan Pandu. Suara Selin mengagetkan Intan. Ia buru-buru menghapus air mata.


"Ehm. Enggak. Kalau ingin Bicara sama Papamu. Dia barusan keluar".


"Aku tahu. Tadi papasan di lobby. Sepertinya Mama buat masalah".


"SELIN!. Kau.." Nyalang Intan kesal dengan sikap anaknya.


"Upst. Jangan marah Ma aku cuman menebak. Santai aja kali". Goda Selin mengedipkan sebelah mata.


"Hah. Selin. Mama lagi gak ingin berdebat denganmu".


"Aku juga gak ingin debat sama ibu menteri".


"Terus kenapa kau sering meledek Mama?".


"Mana ada? Mama saja yang terlalu sensitif".


"Entahlah".


Intan langsung pergi. Setiap bicara dengan putrinya. Selalu saja ada perdebatan di antara mereka. Selin menyunggingkan senyum saat Mamanya pergi.


......................


@Al's Cafe.


Saat jam istirahat kafe ini sangat penuh. Kebanyakan pekerja lelaki. Mahasiswa dan juga pelajar yang sedang mengerjakan tugas. Tetapi hari ini di penuhi pekerja kantor sekitaran kafe.


"Waow. Apakah meraka sedang bosan makan di kantin kantornya". Celetuk Mira.


"Hmmmm. Kerja yang bener nona. Jangan bawel". Sahut Rio.


"Kurasa bukan begitu Mir. Sepertinya beredar kabar kalo mbak Arin yang live musik saat jam istirahat. Tebakanku mereka penasaran". Sambung Meli menyejajari mereka.


Meli ikut bantu-bantu di kafe. Sebab gadis kecil itu mengikuti Bubunya yang hampir seminggu bermalam di kafe. Setiap Aslan menjemput. Allea selalu menangis. Akhirnya, Aslan mengalah. Hal itu membuatnya untuk sering datang ke kafe kalau ada waktu luang.


"Nice Meli. Sejuta with your opini". Mira menjentikkan jarinya dan menunjuk ke Meli dengan jari telunjuk. Meli tersenyum dengan kelakuan Mira. Awalnya Meli mengira kalau Mira dan Rio tipe orang yang susah di dekatin. Ternyata mereka nyambung dari candaan dan obrolan.


Rio tepuk jidat dengan kelakuan mereka.


"Seru sekali kalian". Tegur Arin sembari menurunin anak tangga dan menggandeng Allea. Lalu duduk di kursi meja bar.


"Biasa mereka lagi gosip pelanggan cowok-cowok yang good looking". Cabik Rio.


"Heiii mulut anda jangan fitness". Kompak Mira dan Meli dengan ekpresi jengkel. Ucapan mereka membuat Arin tersenyum.


Ternyata benar tebakan Meli. Saat Arin muncul, para pengunjung baik lelaki dan perempuan berbisik mengomentari si pemilik kafe.


"Oh ini pemiliknya. Cantik"


"Pantes si Bima kepincut"

__ADS_1


"Gils.. Senyumnya manis banget. Aku meleleh"


"Memang kayak putri kerajaan. Cantik paripurna"


Dan masih banyak lagi pujian dari mereka.


"Bubu gak ucah cenyum. Bubu becok pake topeng". Protes gadis kecil yang sangat obsesi pada Bubunya. Peka sekali telinganya jika menyakut sang ibu.


"Memangnya kena..". Allea langsung menutup mulut Arin dengan tangan mungilnya. Saat ada yang berbisik.


'Gila suaranya adem banget. Jadi pengen ngencanin dia'.


'Ya Tuhan. Rasanya ingin mengajak ke pelaminan'


"Bubu gak boleh ngomong". Kesal Allea. Arin melotot dengan sikap putrinya dan mengernyit. Heran.


"Allea itu gak sopan. Kenapa putri Papi kesal? memangnya Bubu nakal?". Ucap Aslan yang baru sampai sembari menggendong Allea dan mecium pipi gembul Allea.


Saat istirahat ia menyempatkan untuk melihat putri kecilnya. Itu hanya alibi Aslan wahai pemirsa. Sebenarnya Aslan ingin melihat Allea gede alias Arin. Hehehe.


Allea yang manyun pun cekikian karena geli.


"Ctop Papi". Tegasnya mendorong dada Aslan.


Giliran pengujung wanita yang terpesona dengan Aslan.


"Waow. Idaman sekali makhluk Tuhan depan mata ini". Decak Mira kagum dengan Aslan. Arin hanya melongo melihatnya.


"Abaikan bos. Dia memang gitu kalo ada yang bening-bening". Selorok Rio sembari sibuk menyiapkan pesanan pelanggan.


"Hehehe. Hajar Mir. Gas..". Arin belum selesai ngomong Allea sudah memotong.


"Bubu gak boleh ngomong" Sambil meronta minta turun dari gendongan Aslan. Setelah terlepas dari kungkungan Aslan. Allea menghambur kepangkuan Arin.


Arin mengernyit. Ada apa dengannya hari ini. Mungkin begitulah arti kernyitan Arin.


Meli dan Mira tersenyum melihat interaksi kedua bosnya.


"Cocok Bukan?". Lirih Mira mencari dukungan.


"Benar. Sangat cocok. Porsi yang pas. Cantik dan tampan. Anak yang manis, imut dan pintar". Bisik Meli memberi dukungan. Lalu keduanya menoleh dan tos.


"Seperti keluarga harmonis. Mendadak aku shipper mereka". Timbrung Rio menyejajari Mira dan Meli setelah mengatar pesanan pelangan.


"Oi. Otak kalian jangan traveling sesuka hati. Aku tahu isi otak kalian". Dengus Arin saat matanya tak sengaja menoleh ke sebelah kiri dan menangkap tiga setan yang mengamati arah mejanya.


Baik Mira, Meli dan Rio langsung cangkung. Kiku pura-pura mencari kesibukan menyambar benda apa saja di dekat mereka. Saat Aslan menoleh mengikuti Arin.


"Kenapa mereka?". Aslan penasaran.


"Gosipin kita". Kesal Arin.


"Gocip itu apa bu?". Tanya polos Allea.


"Hmmm ngomongin orang, cinta". Jawab Arin lembut sembari tersenyum dan mengusap bibir blebotan Allea pakai tissue. Aslan menyunggingkan senyum melihat sikap Arin.


"Belalti olang tadi ngomongin Bubu". Celetuk Allea sembari asyik makan pasta.


"Emang ngomongin apa?". Arin penasaran.


"Bubu cantik". Sahut Allea cepat.


"Memang". Spontan Arin sembari menyesap es tehnya.


"Terus apa lagi". Gantian Aslan yang penasaran.

__ADS_1


"Meleka mau ngencanin Bubu. Ada juga yang mau ngajak Bubu ke pelaminan. Itu cemua makcudnya apa Pi?". Allea balik tanya. Ia ingin tahu artinya.


Arin tersedak.


"Mana Al? mana orangnya? yang mana?". Semangat Arin sembari celingungan ke setiap sudut kursi pelanggan yang semakin sepi. Mereka sudah kembali kerja.


"Cudah pelgi"


"Semangat amat"


Aslan dan Allea kompak dengan perkataan masing-masing. Mereka menatap Arin kesal.


"Yaaa elah. Napa gak ngasih tahu Bubu. Kan lumayan ada yang ngajakin kencan. Jarang-jarangkan Bubu kencan. Besok kalo orang yang tadi ke sini lagi. Kasih tahu Bubu ya". Celetuk Arin asal.


"Gak boleh!. Bubu kencannya cama Papi aja. Bubu kan udah punya Papi. Bubu gak boleh kencan cama yang lain". Ceplos Allea ketus sembari menatap Arin kesal.


Karung mana karung? Astaga bocah ngomongnya ringan sekali. lihatlah dua orang dewasa ini. Mereka tersedak mendengar ucapan putrinya. Kelabakan ingin kabur. Lalu perhatikan trio lambe yang ternganga. Syok mendengar ucapan bayi tiga tahun. Siapa yang ngajari ngomong seperti itu?. Tapi mereka terlihat bahagia melihat adegan tanpa skenario. Jarang-jarang mereka melihat bosnya kena roasting.


"Uhuk. Ehm. Anu. Papi masih ada meeting. Papi pergi dulu". Aslan reflek beranjak lalu mecium kening Allea dan juga Arin.


Ha.


Arin melotot kaget. Lebih kaget lagi jantungnya berasa berhenti memompa. Lalu lihatlah setan kecil ini. Santai sekali menikmati pastanya. Ingin sekali menguyel-uyel wajah tanpa dosanya setelah mengobrak-abrik hati orang dewasa.


......................


Aslan POV


Astaga. Apa yang aku lakukan?. Kenapa mecium keningnya. Sial. Benar. Ini gara-gara setan kecil itu. Seandainya Allea tak ngomong demikian. Mungkin pikiran dan hati aku tak sekacau ini. Hei. Bocah setan. Kau harus tanggung jawab. Efeknya masih terasa. Tremor. Jantung berasa meledak.


Kenapa aroma dia masih tercium?. Hmmm aroma ini seperti tak asing. Siapa yang pernah pakai parfum seperti itu. Aroma lavender yang sangat menenangkan.


Hah. Seakan aku melupakan kelakuan dia beberapa hari yang lalu. Saat dia tak ada kabar. Tak pulang ke mension. Bahkan tempo hari dia menyuruh aku mengumumkan ibu kandung Allea ke publik. Ada apa dengannya?. Apa itu sesuai keinginan hatinya? Aku rasa tidak.


Aku teringat saat dia tak ada kabar. Beginikah rasanya mengasuh anak? Luar biasa. Ternyata tak mudah mengasuh anak kecil. Sungguh dia gadis hebat. Masih muda. Tapi mau mengasuh anak kecil tanpa mengeluh sedikitpun. Aku perhatiin dia sangat menyayangi Allea. Selalu menuruti apa yang anak itu inginkan. Bahkan membetak pun tak pernah.


Saat Allea mengajak main ke kafe. Aku perhatikan tingkah Allea. Dalam hati berharap Arin ada di sini dan kembali ke rumah. Aku kaget Allea lari ke arah lantai dua. Reflek Aku mengikuti. Dia sepertinya mendengar suara yang sangat dirindukan. Benar. Dia menyibak gorden balkon. Lalu dua orang beda gender sedang mengobrol. Aku senang sekaligus kesal. Siapa lelaki itu? Apakah Dokter Bian? Wajahnya tak asing.


Allea menghambur ke arah Arin. Sembari meluncurkan rentetan pernyataan mengerikan. Apa katanya tadi? Papi juga kangen Bubu. Hei bocah. Kau pintar sekali mengobrak-abrik perasaan Papimu. Ck. Lihat tatapan sinis lelaki itu?. Rasanya, ingin melayangkan pukulan di wajah pongahnya.


Ada apa dengan hati ini? Rasanya nyeri saat melihat Arin. Mungkin bibirnya tertawa tapi matanya tak bisa bohong. Seperti orang habis menangis. Apakah dia putus cinta?. Atau ada masalah lain? Aku ingin bertanya ini itu. Tapi aku ragu. Siapa aku? Hanya orang lain. Tak berhak ikut campur dalam masalahnya.


Aku hanya bertanya basa-basi. Tapi dia tak menjawab. Justru ngomong nglantur yang membuat aku sedih dan bimbang. Saat aku berbalik meninggalkan dia di balkon. Samar-samar aku mendengar keluh-kesahnya. Aku semakin penasaran. Maaf Arin sepertinya aku melebihi batas.


"Rudi. Bisa ke ruanganku". Pinta aku lewat saluran telpon kantor.


Aku mendengar ketokan pintu. Itu pasti Rudi. Aku langsung mempersilakan masuk.


"Iya tuan".


"Cari tahu identitas Alesha Arin sedetailnya". Titah aku.


"Ya tuan?". Ragu Rudi seperti tak percaya.


"Apa aku harus ngomong ulang?". Ketus aku.


"Oh baik tuan. Maaf". Sahutnya lalu berbalik dan menggelengkan kepalanya. Aku hanya menyeringai.


Aku melirik ke frame yang terletak di kiri meja. Itu foto tunangan aku. Memang dia sangat cantik. Dialah kekasih yang membuat aku tak bisa berpaling. Tetapi, Arin berbeda dari kebanyakan perempuan yang aku jumpai. Perlahan dia menyusik pertahanan aku dan satu-satunya perempuan yang melihatkan ekpresi datar saat aku memberikan hadiah atas kerja kerjanya merawat Allea. Bukannya terima kasih tapi justru mengomentari.


"Kenapa gak kau kasih mentahannya saja?". Begitulah komentar yang sangat menyebalkan.


Dasar Arin. Si perempuan aneh.


......................

__ADS_1


Mas As memang begitu rawat anak kecil. Keliatannya saja mudah tapi kalo di jalanin. Hmmm jangan tanya. Soalnya aku pun belum pernah, hahaha. Cuman hasil survei sana sini. Pokoknya rawat baby itu... waow mantaps ๐Ÿคญ๐Ÿคญ. So aku akan apresiasi for Mama-mama yang berdedikasi merawat buah hatinya. Kalian luar biasa.๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘. Dan pesan untuk anakยฒnya. Oi bocah jan durhaka ya kalean. ๐Ÿ˜‰


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


__ADS_2