
Aslan POV
Sial. Benar-banar merepotkan. Kenapa bayi ini nangis terus?. Apa dia gak betah di sini?. Kepalaku pusing memikirkannya. Hebat sekali bocah. Dua minggu kau sudah ganti lima nany.
"Tuan maaf. Nona demam tinggi. Dia tidak mau makan dan hanya menangis". Lapor Meli Nany Allea yang ke enam.
"Kalau mau di gendong. Nona selalu menggeliat. Seolah tidak mau di gendong". Lirih Meli lesu.
Aku hanya mengangguk. Paham. Kelakuan bocah itu memang di luar nalar.
Seakan dia protes. Atau jangan-jangan tidak suka dengan siapapun kecuali wanita yang memungutnya. Ah sialan. Aku lupa namanya.
"Rudi. Bisa ke rumah. Sekarang!". Titahku tanpa mendengar jawaban dari sebrang sana.
"Kemasi barangnya". Komandoku pada Meli.
"Baik Tuan. Tapi Nona belum mandi". Ragu-ragu membalas ucapanku.
"Biarkan saja. Aku yang akan mengganti bajunya". Aku melangkahkan medekati Allea yang menangis kejer.
Hasil privat dua jam, dua minggu yang lalu. Aku bisa mengganti pakaian bayi menyebalkan ini. Anehnya. Dia diam saat aku mendekatinya. Apa ini yang di namanya ikatan batin?
Oeeek... Oeeek... Oeek.
Ikatan batin apaan?. Dia hanya merepotkan. Ini lebih memusingkan di banding pekerjaan dikantor.
"Tuan. Nona kenapa?". Rudi langsung menghambur ke sampingku dengan wajah panik.
"Dia gak mau berhenti nangis. Rud. Ck. Sial. Aku pusing. Ayo bawa dia ke wanita itu".
"Nona Arin Tuan namanya". Rudi memberi tahu. Masa bodo siapa namanya.
__ADS_1
Apa peduliku?. Tanpa pikir panjang aku membawa bayi menyebalkan ini ke kafe wanita itu.
Akhir pekan memang menyebalkan. Jalanan macet. Mau kemana sih orang-orang ini?.
"Haduh. Kau tak bisa mediamkan dia?". Betakku pada nany itu.
Hampir setengah jam di tengah kemacetan. Di tambah mendengar bisingnya tangisan bayi. Aku kesal. Ingin memukul Selin. Kenapa dia kabur?.
Akhirnya. Setelah drama macet. Sampai juga di kafe ini. Aku mendorong pintu masuk. Kenapa hanya dua orang? kemana wanita itu?. Aku mengernyit.
"Hei bos kecil kenapa menangis?". Pegawai lelaki mendakit Meli sembari mengusap jambul Allea.
"Astaga. Dia demam? Tuan kenapa gak di bawa ke Rumah Sakit?". Paniknya sembari mengambil ponsel disaku celana. Siapa yang dia hubungi?.
"Mira Tolong ambilkan paracetamol anak di lantai atas". Titahnya.
"Ah oke. Cepat hubungi Nyonyia". Balas orang yang berama Mira sembari berlari ke lantai atas. Aku hanya mengamati.
"Nyonyia dimana? Healing jangan kelamaan. Anakmu di sini demam tinggi. Dengarkan dia menangis kayak gini". Ucapnya dengan menyodorkan baskom untuk mengopres Allea.
"Ck. Jarang telpon. Sekalinya telpon diabaikan kayak gini. Dasar Nyonyia". Kelunya. Dia mengambil alih Allea. Menenangkan. Nihil. Bayi menyebalkan itu masih saja menangis.
"Rio paracetamolnya habis. Duh payungnya kau letakkan di mana? aku ke apo..tik". Dia shock. Melihat sosok wanita di pintu masuk dengan tampilan basah kuyup sembari membawa seplastik obat-obatan.
Tanpa memperdulikan sekitar Dia lari menuju lantai atas.
Aku melotot. Hanya butuh tiga detik. wanita itu sudah ganti busana dan melilitkan handuk di kepala.
"Huwaaa cintanya Bubu. Kenapa sakit?. Apa mereka menelantarkanmu. Cup. Cup. Cinta. Bubu di sini jangan nangis". Ucapannya bagaikan mantra. Allea langsung diam. Dasar bayi menyebalkan.
...----------------...
__ADS_1
Allea terlelap dalam gendongan Arin. Demam tinggi pun sedikit menurun. Lima orang di kafe itu memperhatikan Arin dengan pikiran masing-masing.
"Tuan dimana istrimu?". Tandas Arin tanpa basa basa-basi.
"Aku tak punya istri". Aslan menjawab santai dengan menyesap minuman yang di sediakan Rio.
"Ha? ma..." Arin tak melanjutkan omongannya. Ia teringat obrolannya bersama Bian. Lalu menyunggingkan bibirnya.
"Apakah ibu anak ini nona Selin?" Bisik Arin membuat Aslan melotot. Kaget. Rahasia ini hanya Dirinya dan Rudi yang tahu.
"Kau..?". Nyalang Aslan.
"Heii jangan marah. Saya hanya nebak dan reaksi anda meyakinkan saya untuk berpikir. Bahwa itu benar adanya". Balas Arin mengulum senyum.
"Hah. Wanita ini bahaya. Aku harus membukamnya". Batin Aslan menganalisa Arin dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ayo buat kesepakatan". Ucap Aslan tiba-tiba.
"Tuan". Rudi langsung beranjak. Ia kaget dan khawatir. Baru kali ini sang tuan membuat kesepakatan tanpa diskusi dengannya.
Lambaian tangan Aslan membuatnya duduk kembali. Seolah mengatakan. Tenanglah. Tak akan terjadi apa-apa.
"Mari besarkan anak ini bersama. Siang bersamamu. Malam bersamaku". Pungkas Aslan. Arin mengeleng. Ia menimbang usulan Aslan.
"Haruskah aku menyetujuinya? Tapi apakah artinya aku harus tinggal di rumahnya? Hah. Baiklah. Ini demi Allea". Batin Arin bimbang.
"Kumohon setuju saja. Toh ini menguntungkanmu". Batin Aslan mejerit. Gemas dengan jawaban Arin.
"Oke. Saya setuju". Arin mengulurkan tangan dan Aslan menyambut uluran itu dengan bahagai.
Rencananya sesuai yang diinginkan. Tak akan melepas orang yang mengetahui rahasiannya.
__ADS_1
...----------------...