Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
RATU RAISA


__ADS_3

Kaisar Henry turun dari kuda, ia bersimpuh di tanah dengan menopang dua tangan di atas pahanya. Raisa bingung dengan apa yang dilakukan suaminya itu. Semua bangsawan menatap sepasang penguasa itu.


“Ayo turun letakkan kakimu di atas tanganku Ratu!” ujar Kaisar Henry dengan nada penuh permohonan.


“Yang Mulia Kaisar?” sahut Ratu Raisa malu bukan main, wanita itu tak enak hati jika harus menjadikan telapak tangan pria penguasa itu sebagai pijakannya.


“Tapi aku merasa tidak pantas,” cicitnya.


“Kau pantas Yang Mulia Ratu. Kau kini penguasa kerajaan Lucyfer. Kau pantas mendapat penghormatan ini,” sahut Kaisar Henry dengan nada bangga.


“Kaisar,”


“Anggap saja ini tanda besarnya cintaku padamu istriku,” sahut Kaisar Henry meyakinkan.


Akhirnya Ratu Raisa meletakkan kaki kanannya di atas telapak tangan kaisarnya. Karena terlalu berhati-hati Ratu Raisa lemah menginjakkan kakinya, ia nyaris tersungkur jika saja Kaisar Henry tak segera menangkap tubuhnya. Pria penguasa itu menggendong sang ratu masuk ke dalam istana mereka.


Panglima Marquez Arthur membawa plakat penobatan ratu dan juga mahkota lambang kerajaan Lucyfer. Semua bangsawan berkumpul di area utama. Kaisar Henry menurunkan ratunya di sana. Marques Albert langsung berdiri di sisi Kaisarnya.


“Kepada semua bangsawan. Perlu aku tekankan di sini, jika Ratu baru saja melumpuhkan kerajaan Lucyfer seorang diri!” ujar Kaisar Henry.


“Sebagai bukti, ada plakat dari Pangeran Lucyfer yang menunjuk langsung Ratu Raisa menjadi ratu dari kerajaannya. Silahkan Panglima!” ujar Kaisar Henry.


Marques Arthur meletakkan mahkota di sebuah baki berlapis beludru merah dan ada simbol kerajaan di sana. Semua orang menekuk kaki ketika baki itu melintas, kecuali kaisar dan ratunya. Panglima Arthur membacakan plakat.


“Saya atas nama penguasa dari kerajaan Lucyfer menyatakan jika Pangeran Lucyfer menyerahkan tahta mutlak pada Ratu Raisa!”


Princess Belle menggeleng, ia tak percaya dengan pengumuman yang baru saja dikatakan oleh Marquez Arthur.


“Itu tidak mungkin!” teriaknya.


“Dia seorang perempuan tak mungkin mengalahkan satu kerajaan!” lanjutnya memekik.


“Belle Harley!” sentak Kaisar Henry murka.


“Tangkap dia dan buang ke daerah terpencil jadikan tahanan kekaisaran karena berani merendahkan Ratuku!” titahnya penuh amarah.

__ADS_1


“Yang Mulia ... anda tak berhak menghukumku. Aku adalah keturunan asli dari kerajaan Harley!” teriak Princess Belle.


“Aku yang paling berkuasa di sini!” bentak Kaisar Henry.


“Marquez Albert!”


“Hamba Kaisar!”


“Runtuhkan kerajaan Harley, jadikan wilayah dan satukan dengan kepemimpinan Duke Albert, ayah mertuaku!” titahnya.


“Baik Yang Mulia!’ sahut Marquez Albert langsung mengerjakan tugasnya.


Princess Belle kini sudah kehilangan tahtanya, bahkan gelar kebangsawanan akan segera dicopot ketika kerajaannya rata dengan tanah. Gadis itu pun berteriak seperti orang gila. Beberapa pengawal langsung menyeretnya keluar istana dan melaksanakan hukuman yang dikatakan oleh sang kaisar.


Para bangsawan bungkam, mereka menunduk tak mampu berbuat banyak. Seluruh masyarakat menggelar pesta meriah dengan kemenangan dan takluknya sebuah kerajaan di bawah kepemimpinan ratu mereka.


Berita tentang Ratu Raisa yang menjadi pemimpin sebuah kerajaan kaya menjadi sorotan dunia. Tanah kerajaan Lucyfer sangat kaya, karena di dalam tanahnya tersimpan emas murni, di manapun tanah dicangkul, maka yang didapat adalah emas.


Makanya semua orang saling berebut dan saling menjarah tanah yang lain. Jika perlu mereka akan saling membunuh. Orang-orang kaya yang tamak akan menggeser tanah warga pribumi dan menguasai. Pangeran Lucyfer tak peduli, yang penting semua membayar pajak tinggi.


Wanita itu berjalan bersama Duke Albert, sang ayah di sepanjang karpet merah menuju altar, di sana Kaisar Henry menunggunya dengan baju kebesaran warna hitam dengan banyak tanda kehormatan. Para tamu hadir, termasuk para raja dunia.


“Aku serahkan kembali putriku padamu Kaisar!” ujar Duke Albert ketika sudah di depan altar.


Ratu Raisa menatap wajah suaminya yang tirus, ia begitu menyesal mengabaikan sang kaisar karena terlena dengan kesedihannya sendiri. Pendeta meresmikan pernikahan keduanya kembali, sebuah cincin indah melingkar di jari manis sang ratu.


“Kalian sudah sah menjadi suami istri. Silahkan Kaisar mencium istrinya!” pinta pendeta.


Kaisar Henry membuka lapisan kain tipis yang menutupi wajah istrinya. Ia tersenyum dengan binaran kebahagiaan dan cinta. Pria penguasa itu mengecup kening istrinya penuh kelembutan.


Kini keduanya duduk di singgasana mereka. Semua mengangkat gelas anggur ke atas, mereka bersulang dan mendoakan pernikahan Kaisar Henry dan Ratu Raisa.


“Salut untuk Kaisar dan Ratu!” pekik Raja Mali, dari Afrika.


“Salut!” pekik semua tamu kehormatan.

__ADS_1


Mereka menenggak anggur terbaik yang berasal dari wilayah kekuasaan Raja Darly. Kaisar Henry menggenggam erat jemari istrinya, beberapa kali pria penguasa kedapatan mencium buku jemari wanita yang juga berkuasa itu.


“Yang Mulia, hamba selaku Kaisar Shi Luan Ho memberi salut pada Yang Mulia Ratu yang telah berhasil menaklukan kerajaan Lucyfer dan menjadi pemimpinya di sana,” sahut kaisar yang mengenakan baju hanfu berwarna merah dengan sulam burung pheonix dari benang emas.


“Terima kasih Kaisar,” sahut Ratu Raisa menekuk kaki.


Kini wanita itu telah mengenakan gaun indah warna tosca. Dari seluruh perempuan bangsawan, Ratu Raisa memang paling berani dalam warna. Di mana-mana semua bangsawan hanya berani memakai warna hitam, putih, abu-abu atau coklat.


Kini wanita yang menjadi ratu di kerajaan Lucyfer itu juga menantang mode yang berkembang pada jamannya. Ia tak lagi memaki kurungan ayam di bukong dan mengikat kuat perutnya dengan stagen. Tubuhnya sangat seksi dengan balutan sutra yang melekat di tubuhnya.


“Yang Mulia cantik sekali!” puji salah satu permaisuri.


“Terima kasih Yang Mulia. Anda juga sangat cantik. Apa ini kain tradisional Afrika?” tanya Ratu raisa melihat kain yang melilit di tubuh istri Raja Mali.


“Benar Yang Mulia ....’


Para wanita istri raja dan Kaisar saling berbincang. Permaisuri china menggunakan penterjemah agar bisa masuk dalam obrolan dan candaan semuanya. Senyum tak pernah lepas dari wajah permaisuri cantik itu.


Malam makin ralut, pembangunan hotel dengan taraf internasioanl sebentar lagi rampung. Para tamu kehormatan masih di tempatkan di paviliun yang tersebar di istana. Kaisar Hnery memeluk tubuh polos istrinya.


“Sayang ... maafkan aku!” pinta Ratu Raisa lirih.


“Aku memaafkanmu sayang. Maafkan aku juga yang terkesan tak peduli pada semuanya dan membiarkanmu menangis,” sahut Henry.


Pria itu berkali-kali melayangkan ciuman di seluruh wajah istrinya. Ratu Raisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya, ia membelai dada sang penguasa yang masih saja membuatnya terpana, karena otot-otot yang membentuk indah di sana.


Keduanya kembali mengarungi ombak cinta yang dahsyat setelah lebih dari tiga bulan perang dingin antar mereka berlangsung. Kaisar Henry telah memperkuat plakat sang ratu dengan meminta wanitanya menjabat pemimpin di kerajaan Lucyfer.


“Buktikan pada bangsawan rakus itu. Jika kau layak jadi Ratu, istriku,” ujar Kaisar ketika melepas bibitnya.


“Aku akan memikirkannya Yang Mulia,” jawab Ratu Raisa menerima semua tumpahan bibit di dalam rahimnya dan berharap ada pembuahan terjadi di sana.


Bersambung.


Wah ... akhirnya.

__ADS_1


Next?


__ADS_2