
Geisha menatap foto USG di tangannya. Ia begitu terharu, setelah enam bulan pernikahan wanita itu kini mendapatkan apa yang ia inginkan yakni kehamilan.
"Jadi aku sebentar lagi akan jadi ayah?" tanya Henry tidak percaya.
Geisha mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Keduanya saling berpelukan. Mereka bahagia dengan berita ini. David, Regina dan Albert langsung bersorak girang ketika mendengar berita bahagia itu.
"Jadi kita akan jadi kakek dan nenek!" seru David.
"Sudah berapa bulan sayang?" tanya Regina.
"Baru lima minggu Ma," jawab Geisha.
"Kalau begitu kau jangan banyak pikiran ya, jangan terlalu lelah dan jangan banyak bergerak!" tekan Regina.
Geisha hanya tersenyum mendengarnya. Ia kembali mewujudkan mimpinya memiliki anak kembar.
"Kenapa titik putihnya banyak begini?" tanya Albert.
Sedangkan Albert Norton juga tengah menanti kelahiran bayinya ke dunia. Usia kehamilan Laisya menginjak sembilan bulan, hanya tinggal menghitung hari saja.
"Daddy akan dapat cucu segini!" jawab Geisha dengan menunjukkan jarinya.
"Jangan bercanda Gei!" seru Albert tak percaya.
"Itu benar Daddy, kau akan mendapat cucu sebanyak itu!" sahut Henry bangga.
"Kalau begitu kita harus menyiapkan semuanya. Kita perkirakan jika bayi-bayi ini akan lahir di sembilan bulan mendatang bertepatan dengan hari Thanksgiving!" ujar David.
Albert mengangguk setuju. Geisha tak pernah bosan menatap foto USG itu. Tak lama, ada telepon dari Albert asisten pribadinya Henry.
"Halo Tuan, istriku hendak melahirkan!" seru pria di seberang telepon panik.
Henry memutar mata malas. Ia sudah mengatakan jika ketika bayinya lahir baru pria itu meneleponnya.
"Tuan, aku harus apa?" tanya pria itu panik sendiri di sana.
Henry tak tega, sebagai sesama ayah tentu ia juga dilanda kepanikan ketika istrinya melahirkan nanti. Terlebih, yang lahir lebih dari satu.
"Aku mau menemani Albert dulu ya," ujarnya meminta ijin.
Semua mengangguk begitu juga Geisha. Henry pun pergi bersama beberapa pengawalnya. Hanya butuh dua puluh menit, pria itu sampai.
"Albert?" panggilnya.
Albert terduduk lemas dengan air mata berderai. Henry langsung duduk di sisi pria itu dan menenangkannya.
"Mereka pasti baik-baik saja,"
"Kata dokter keduanya terlilit ari-ari, aku rasa mereka terlalu sesak di dalam hingga membuat kericuhan dalam perut ibunya," kekeh Albert menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
Henry tak menanggapi, ia sangat paham kondisi asisten yang sudah ia anggap kakaknya itu. Sudah lebih tiga jam mereka menunggu, tapi belum ada tanda-tanda dari dalam ruangan. Albert makin putus asa, pria itu kembali menangis tersedu.
"Jangan seperti ini, berdoalah!" peringat Henry kesal.
Hingga terdengar suara tangis bayi yang begitu kencang. Lalu sepuluh menit kemudian, suara tangis bayi lagi terdengar. Dua janin yang rusuh itu telah lahir dengan selamat.
Kini dua bayi sedang terlelap dalam boks mereka Laisya baru saja menyusuinya, operasi cesar berjalan sedikit mengalami kendala. Dua bayi itu terlilit ari-ari mereka, sampai dokter harus merogoh perut Laisya dan memotong tali pusat di sana. Keduanya keluar dengan suara yang begitu kuat.
"Laki-laki dan perempuan, kembar sepasang!" ujar Henry menatap dua bayi di dalam boks.
Pria itu mencium keduanya. Dua bayi mungil itu menggeliat sambil mengerucutkan bibirnya. Henry gemas sekali, ia juga ingin istrinya melahirkan cepat.
"Aku harap Tuan mau jadi ayah baptis mereka," pinta Albert.
"Tentu, aku mau jadi ayah baptis mereka!" sahut Henry.
Hanya dua hari saja Laisya berada di rumah sakit, bahkan kini wanita itu tengah memasak.
"Sayang, istirahat lah. Kau baru saja mengeluarkan dua anak!" titah ayah dari Henry.
"Baik Daddy," sahut Laisya menurut.
Rafael dan Gabriella baru saja dibaptis, kini mereka dalam gendongan Geisha dan juga Regina. Keduanya begitu gemas dengan dua bayi itu.
"Kalian tampan dan cantik ya," puji Geisha.
Usai makan siang, mereka meninggalkan pasangan suami istri yang baru saja menjadi orang tua itu.
"Sayang, kenapa perutmu lebih besar dari milik Laisya kemarin?" tanya Regina khawatir.
"Kan janinnya lebih dari dua Ma," jawab Geisha lalu mengusap perutnya.
"Astaga, Mama jadi takut melihat perutmu sayang," ujar Regina khawatir.
"Tenang Ma. Bahkan ada wanita yang melahirkan dua belas anak sekaligus," jawab Geisha santai.
"Ini baru setengahnya," lanjutnya.
Geisha kembali mengelus perutnya. Ia membayangkan wajah empat anak yang hadir dalam mimpinya. Richard, George dan William mirip dengan dirinya sedang Elizabeth mirip dengan ayahnya. Ini janin dalam perutnya lebih dua.
"Astaga sayang, Mommy tak sabar ingin cepat melihatmu!" serunya gemas.
Perut Geisha makin lama makin besar. Henry sampai memberikannya kursi roda agar sang istri tak terlalu lelah membawa dirinya.
"Sayang, jangan berlari!" peringat pria itu sampai menahan nafas.
Geisha padahal hanya berjalan cepat, ia sedikit kesal dengan perhatian yang terlalu berlebihan.
"Sayang, aku hanya berjalan sedikit cepat, bukan berlari!" sahutnya.
__ADS_1
"Sayang!" peringat David.
Mereka kini tinggal di mansion milik David, pria itu sangat khawatir jika meninggalkan putrinya sendirian di mansion besar milik Henry.
Henry pun jadi sedikit tenang ketika istrinya ada di rumah mertuanya.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama?" tanya Albert sambil mengelus perut besar Geisha.
"Sudah!"
"Belum!"
Jawaban berbeda yang membuat semua orang mengerutkan dahinya. Geisha hanya tersenyum, tentu ia telah menyiapkan nama yang sesuai dengan nama semua anak dalam mimpinya.
"Richard, George, William dan Elizabeth!" lanjutnya.
"Loh kok cuma empat, dua laginya?" tanya Albert lagi.
"Yang duanya aku belum menyiapkan!" jawab Geisha.
"Bagaimana jika Anna dan Layael?" ujar David memberi saran.
Geisha menatap ayahnya, ia tersenyum lebar dua nama sama dalam mimpi terwujud. Hanya saja, Raja Namont, Raja Darly, Raja Raymond dan Raja Lucyfer tak hadir di dunia nyata wanita itu.
Waktu benar-benar berputar begitu cepat. Tak ada yang bisa menghentikan perputaran itu. Kini semua orang menunggu di ruangan khusus. Mereka menonton bagaimana enam bayi diangkat dari perut Geisha. Suara tangis yang bersahutan. Semua berpelukan dengan bahagia.
"Semua lahir dengan selamat begitu juga ibunya," ujar dokter menjelaskan.
Kini mereka ada di ruangan besar dan mewah, enam bayi dalam boks mereka. Geisha tengah memeras air susunya dalam kantung khusus. Seorang perawat membantunya.
"Air susu Nyonya sangat banyak sekali," ujar suster lalu meletakan kantung-kantung berisi susu itu dalam storage khusus.
Henry datang bersama dengan para orang tua. Mereka mencium Geisha dengan penuh rasa haru. Tubuh wanita itu jadi gemuk paska melahirkan.
"Aku gendut Mama," keluhnya.
"Tidak masalah sayang, nanti juga kurus lagi. Lihat anakmu setengah pasukan begitu!" kekeh Regina.
Geisha merengek manja, tapi ia bahagia sekali. Kini sepasang suami istri itu saling berpelukan di ranjang. Semua telah pulang ke rumah. Bahkan dua kembar telah menjenguk bayi-bayi itu dengan begitu berisik. Geisha tertawa sampai menangis.
"Kau bahagia sayang?" tanya Henry.
Pria itu tak pernah berhenti bertanya, apa istrinya bahagia atau tidak. Geisha mengangguk kuat.
"Aku bahagia sekali sayang. Sangat bahagia!" ujar wanita itu.
Keduanya pun kini menatap enam bayi di tengah-tengah mereka. Geisha telah menyiapkan semua untuk mendidik anaknya agar kuat dan tangguh, seperti anak-anak dalam mimpinya waktu itu.
TAMAT.
__ADS_1
ba bowu Readers ❤️❤️❤️😍😍😍😍