Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
SEBUAH FAKTA


__ADS_3

Satu minggu sudah Geisha berada di rumah, beberapa dokter dan ahli therapist datang untuk memberikan treatment pada gadis itu.


"Tidak ada yang merasa sakit kan?" tanya dokter perempuan yang menangani therapist jalan Geisha.


"Tidak, Dok," jawab gadis itu.


"Jangan dipaksa ya. Jika berasa ngilu atau apa langsung istirahat saja," terang dokter sebelum pergi dari mansion mewah itu.


Geisha sudah bisa menerima jika apa yang dialaminya kemarin hanya mimpi belaka. Tak ada kekaisaran bernama Horton di sejarah. Bahkan wilayah-wilayah yang ia kenali, seperti kerajaan Namont, Darly, Jones, Lucyfer bahkan bekas kerajaan Harley juga tidak ada.


David Jhonson tengah menangani sidang yang membuat putrinya nyaris tewas itu. Laura menuntut pria itu dengan dakwaan pembiaran karena ayah dan ibunya yang sudah meninggal dunia menitipkannya.


"Nona Laura Stones!" ujar jaksa penuntut umum.


"Apa kau tau, sebuah titipan itu mestinya harus dikembalikan pada pemiliknya?"


"Saudara sudah dijaga dengan baik oleh klien kami, bahkan semua menyayangi saudara dengan tulus. Tetapi anda malah meracuni Nona Jhonson?!"


"Keberatan yang mulia!" pekik penasihat hukum. "Penuntut umum lari dari jalur persidangan!"


"Yang Mulia, terdakwa sendiri yang lari dari jalur persidangan!' seru penuntut umum.


"Keberatan ditolak! Lanjutkan penuntut umum!" Hakim mengetuk palu dan meminta penuntut umum melanjutkan tuntutannya.


Semua bukti lengkap, bahkan kamera pengintai di mansion Jhonson memperlihatkan bagaimana kelakuan Laura di sana, yang ternyata juga ingin mencelakai paman dan bibinya.


"Sidang ditunda, ada bukti baru tentang upaya lain dari saudara terdakwa!"


Hakim mengetuk palu. Semua berdiri ketika hakim pergi dari sana. Penasihat hukum melobi penuntut umum untuk memberi keringanan pada terdakwa karena masih terlalu muda.


"Dia baru tujuh belas tahun, masih di bawah umur," ujarnya.


"Apa itu juga kau lakukan jika putrimu yang hendak dibunuh?" tanya Jhonson dengan tatapan tajam.


Penasihat hukum hanya menghela napas panjang. Semua tak ada yang memakai baju khusus persidangan, mereka memakai baju bebas karena terdakwa baru berusia tujuh belas tahun. Laura kembali ke sel tahanannya. Gadis itu dipisah tempatnya dari tahanan dewasa.


Laura kembali termenung di dalam tahanan. Ia sudah merencanakan semuanya. Tetapi ia gagal, ingin hidup bergelimang harta, ia menjadi seorang psikopat.


Sementara di mansion Jhonson. Geisha kembali mengasah otaknya, ia harus pergi ke kampus senin besok. Pihak kampus memberi waktu pada gadis itu untuk beristirahat, Geisha harus mengejar semester yang tertinggal kemarin.


"Sayang, apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Regina sang ibu.


"Susah Ma,"


"Apa kau ingin membeli baju baru. Jujur Mama kurang suka dengan semua baju itu," keluh Regina.


"Ma,"


"Sayang, berikan saja pada yang membutuhkan, lalu kita berbelanja sampai puas. Bagaimana?" tawar Regina sambil memberi saran.


Regina memang sudah membuang semua pakaian putrinya. Laura selalu memakai baju-baju Geisha setiap gadis itu pergi ke kampusnya.


"Ma, ini masih bagus," ujar Geisha tak keberatan.

__ADS_1


"Sayang, aku mohon!" Regina memaksa.


Akhirnya Geisha mengangguk. Memang bajunya hanya tinggal beberapa potong saja, ia yakin tidak semua baju bisa dicoba semua oleh Laura. Tetapi, Regina yang sudah terlanjur kesal, meminta para maid membuang semua baju putrinya itu dan menyisakan beberapa.


"Salma!" panggil Regina.


"Saya Nyonya,"


"Tolong kau bersihkan ruang wadrobe Nona Geisha. Jangan ada satu bajupun, begitu juga pakaian dalamnya. Bakar!" titahnya tegas.


"Baik Nyonya!" sahut Salma.


Regina menggandeng putrinya, beberapa pengawal mengikuti dua majikannya. Sebuah mall besar inventaris sang suami. Mereka berdua disambut oleh semua pegawai.


"Ini, kau pakai langsung ini!" titah Regina menyodorkan semua pakaian yang baru pada putrinya.


"Lalu yang kupakai?" tanya Geisha bingung.


"Kita bawa dan bakar segera ketika di mansion!" jawab Regina lalu memberikan satu mini dress cantik pada putrinya.


Selama nyaris dua jam mereka ada di bangunan besar tersebut. Keluar masuk butik dan membeli banyak gaun, dress dan juga pakaian santai. Sepatu, make up, tas dan lain sebagainya.


"Ma," rengek Geisha sudah kelelahan.


"Sebentar lagi sayang!" paksa Regina. "Bajumu masih sedikit!"


Geisha menatap lima puluh paper bag dengan logo butik ternama. Itu belum seperempat ruang wadrobe milik Geisha.


"Besok lagi Mom," pinta gadis itu lagi.


Regina tersenyum, akhirnya wanita itu mengajak putrinya untuk makan di restauran mewah. Selesai makan, mereka pun pulang dengan banyak barang belanjaan.


Malam tiba, David sudah duduk di kursi ruang makan. Mereka memang selalu makan bersama, dari sarapan hingga makan malam.


"Aku dengar kau baru saja menghabiskan uang Ayah?" kekeh David.


"Mama yang paksa Yah!" tunjuk Geisha tak mau disalahkan.


Jhonson tertawa lirih, pria itu tak pernah mempermasalahkan berapa banyak uang yang dihabiskan putri juga istrinya. Itulah gunanya ia mencari uang.


"Ayah hanya bercanda sayang. Itulah gunanya ayah bekerja keras, apa lagi kalau bukan untuk kenyamanan mu,"


"Terima kasih Yah,"


"Sama-sama sayang," sahut Jhonson.


"Mama nggak diucapin terima kasih nih?"


Geisha lalu menggelayut manja pada ibunya. Hal biasa yang gadis itu lakukan, Regina merindukan hal ini semenjak putrinya koma kemarin.


"Ma, apa besok harus pergi belanja lagi?" tanya Geisha malas.


"Besok kita ke spa sayang," jawab Regina tak bisa dibantah.

__ADS_1


"Ma ... Mama kan tau, aku tak bisa dipijat!" tolak Geisha langsung.


"Sayang, kamu melakukan theraphy apa bukan dipijat juga?" tanya sang ibu memutar mata malas.


"Ma," rengek Geisha.


"Ikuti kata Mamamu sayang!" perintah sang ayah.


Geisha akan diam jika ayahnya berkata demikian. Gadis itu akhirnya menurut. Regina mencium putrinya.


Ketika di kamar, David memberitahu jika Laura menuntutnya atas pembiaran. Regina sangat kesal mendengarnya.


"Apa-apaan dia?" serunya kesal.


"Sudah mau membunuh putriku. Kok dia menuntutmu seperti itu?!" dumalnya lagi. "Dasar anak tak tau diri!"


"Sayang, kau tau. Dari rekaman kamera pengintai, ternyata kita menemukan bukti baru. Laura kedapatan ingin mencelakai kita berdua," ujar Jhonson memberitahu.


"Apa?" desis Regina tak percaya.


"Aku ingin menyelidiki kasus tewasnya Tania dan suaminya sayang," lanjutnya.


"Apa yang kau curigai suamiku?" tanya Regina mendadak takut.


"Kita tau, jika kematian dan kecelakaan itu hanya dari kabar, tanpa tau benar atau tidaknya mereka benar-benar tewas bukan?" Regina mengangguk.


"Aku curiga, ada sebuah rekayasa dan pasti ada sangkut pautnya akan kelakuan Laura selama ini," jelas Jhonson lagi.


"Sayang, aku mau putri kita dijaga ketat oleh beberapa bodyguard!" pinta Regina langsung.


"Aku sudah siapkan itu sayang," sahut Jhonson lagi.


Regina memeluk suaminya, entah kenapa temuan baru itu membuatnya jadi takut. Wanita itu takut putrinya benar-benar pergi dari hidupnya.


Sementara itu di sebuah mansion mewah, seorang pria tampan dengan mata kelam menatap putus asa pada kedua orang tuanya.


"Pa, Ma ... ini bukan jamannya lagi pernikahan bisnis!"


"Aku tau apa yang terbaik untukmu Henry!" sahut sang ayah keras.


"Nona Jhonson akan menaikkan pamormu, perusahaan ayahnya sangat menunjang perusahaan kita!" lanjut pria itu.


"Nak ... berpikirlah cerdas. Cinta bisa datang karena terbiasa, Geisha tak bisa dibandingkan dengan gadis incaranmu itu," peringat sang ibu.


Henry menatap foto gadis cantik di atas meja kerjanya. Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu hanya bisa pasrah.


"Baiklah, tunggu aku memutuskan hubunganku dengan Sonia,"


"Tak perlu, gadis itu hanya menginginkan uangmu. Aku yakin, jika kau miskin dia tak akan melirikmu sama sekali!" sahut Albert Hormer yakin.


Bersambung.


Eh ... ada babang Henry.

__ADS_1


Next?


__ADS_2