Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
HUKUMAN UNTUK SANDRA


__ADS_3

Raja Namont menatap tak percaya, semua bukti dan saksi memberatkan istrinya. Pria itu sangat mencintai wanita yang kini penampilannya seperti orang gila. Tangan dan kakinya dipasung. Air mata Raja Namont perlahan mengalir.


"Sandra ... apa ada kata yang ingin kau katakan?!" tanya Kaisar Henry.


Pria itu berdiri dengan jubah kebesarannya. Ia menjadi hakim agung atas peradilan dari mantan bangsawan itu. Sandra telah dicabut gelar kebangsawanan nya.


"Aku bersumpah kekaisaran ini akan hancur ... sehancur-hancurnya!" sumpah wanita itu.


"Permaisuri!" peringat Raja Namont.


"Cis ... pria lemah. Kau seperti kacung yang tunduk di kaki Kaisar!" hina Sandra.


"Aku menyesal menikahimu!" lanjutnya berteriak.


Raja Namont terhenyak mendengar perkataan istrinya. Ia mengira wanita itu mencintainya.


"Apa kau tidak pernah mencintaiku?"


"Cuh!' Sandra meludah di muka Raja Namont.


Memang jarak Raja Namont dengan Sandra begitu dekat. Algojo menampar wanita itu kuat-kuat hingga Sandra tersungkur ke tanah.


"Aarrrgghh!" teriaknya.


"Aku bersumpah kau hancur Raisa!" teriaknya.


"Beri hukuman pada Sandra!" teriak para bangsawan.


"Pancung dia!" titah Kaisar Henry.


Sring! Bunyi gesekan pedang memekakkan telinga semua orang. Algojo telah menajamkan pedang itu.


Raja Namont yang tadi diludahi oleh Sandra baru tersadar jika memang tak ada cinta di dalam diri wanita itu.


"Tunggu!" teriaknya.


"Biar aku sendiri yang memenggal kepala wanita ini!" lanjutnya.


Sandra terkejut, ia menatap pria yang masih menjadi suaminya. Sebuah tatapan meminta belas kasihan tersirat di sana. Sebuah batu besar berada di tengah altar, kepala Sandra diletakkan di batu itu.


"Raja," panggilnya lirih.


"Aku membencimu!' seringainya licik.


Crash! Semua orang di sana berteriak. Beberapa wanita langsung memalingkan muka. Kepala Sandra menggelinding dengan senyum kepuasan di sana. Tubuh Raja Namont gemetar hebat. Kaisar Henry langsung memerintahkan beberapa ajudan istana membawa pria itu pergi dari sana.


Beberapa orang langsung membersihkan altar. Mayat Sandra langsung dibawa dan dimakamkan bersama kepalanya. Sebuah batu hitam bertulis pengkhianat kekaisaran tertulis di sana.

__ADS_1


Makam Sandra di letakkan dekat aliran sungai yang deras. Di bawah pohon kapas. Tak ada yang berani untuk menginjakkan kaki di sana kecuali para ahli. Tanah yang lembek dan sering bergerak. Mampu membuat orang langsung tergelincir ke sungai dan hanyut terbawa derasnya arus.


Raja Namont duduk termenung. Ia menatap dua tangan yang baru saja memenggal kepala istrinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu ia pun menangis pilu.


Kaisar Henry menatap kehancuran seorang pria. Ia sangat tau apa arti wanita yang tadi dipenggal oleh Raja Namont. Pria itu selalu memuji sang istri.


"Raja Namont!" panggilnya.


Pria itu segera menghentikan tangisannya. Ia sesenggukan. Kaisar Henry menepuk bahu pria itu.


"Memang berat, tapi lebih berat lagi jika kita memaafkan sebuah kejahatan besar," ujar Kaisar Henry menenangkan Raja Namont.


"Iya Yang Mulia. Aku hanya tak percaya jika untuk dua kalinya aku memenggal kepala dua orang yang aku cintai. Pertama kakak sepupuku sendiri, lalu sekarang adalah istriku," ujarmya terisak.


"Kau pasti bisa melewatinya, Karena kau adalah pria tangguh. Banyak gadis di luar sana yang pantas untuk dirimu," ujar Kaisar Henry memberi semangat pada salah satu rajanya.


Raja Namont mengangguk. Kaisar Henry meninggalkan pria itu. Raja Namont pun tak lagi menangis.


"Tuan, ini adalah minuman coklat. Sebuah minuman racikan baru dari Ratu!' ujar Leana membawakan baki di atasnya ada mug berisi minuman coklat hangat.


Raja Namont menatap mata hijau jernih milik pelayan itu. Ia sempat tertegun. Sedang Leana masih berdiri sambil membawa baki di tangannya.


'Yang Mulia!" panggil gadis pelayan itu lagi.


"Taruh saja di sana. Terima kasih!" suruh Raja Namont.


Raja Namont menggelengkan kepalanya. Baru kali ini ia melihat seorang gadis cantik dari kasta pekerja terendah di istana.


Pelayan dianggap kasta paling rendah pekerjaannya di istana. Walau mereka bekerja sebagai pelayan ratu, raja atau kaisar sekalipun.


Satu hari sudah Sandra tewas dipancung. Suasana istana berangsur membaik. Ratu Raisa memilih membeli lagi peralatan tidur bayinya dan membakar boks lama. Semua maid membersihkan ruangan mengganti sprei dan juga tirai. Mereka membakar semuanya agar tak ada satu bekas racun yang tersisa.


"Ini ruangan baru untuk para putra mahkota dan juga putri mahkota Yang Mulia!" lapor pekerja istana.


Ratu Raisa menatap puas. Kamar itu dekat taman utama di mana sirkulasi udara paling baik. Matahari juga tak terlalu menyengat di sana walau dalam keadaan terik.


"Baiklah, susun semuanya!" titah sang ratu.


Semua bergerak, ada yang memasang tirai, menaruh boks bayi di tengah-tengah ruangan. Semua selesai dengan cepat karena dikerjakan oleh banyak orang. Ratu Raisa puas dengan hasil kerja semua orang.


"Kaisar, aku minta mereka diberi bonus,"


"Sir Alex!" panggilnya.


"Saya Yang Mulia!" pria bernama Alex membungkuk hormat.


"Berikan pada semua pekerja dua keping perak dan lima keping emas sebagai bonus!" titah Kaisar Henry.

__ADS_1


"Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia!" pekik semua pekerja langsung bersujud di depan pria penguasa dan istrinya itu.


"Bangkit lah. Ambil bonus kalian. Lawan jika ada kecurangan! " tekan Kaisar Henry.


"Baik Yang Mulia!" sahut para pekerja.


Tak ada orang yang berani bermain curang. Terlebih sang kaisar telah memberi perintah pada mereka untuk melapor jika ada kecurangan.


Kaisar Henry menatap istrinya yang begitu bahagia. Kini mereka berdua menatap empat bayi yang telah terlelap. Kaisar mencium empat bayinya bergantian.


"Kau bahagia Ratu?" tanya pria bermata gelap itu pada istrinya.


Ratu Raisa mengalungkan lengannya ke leher sang suami. Ia mengangguk antusias. Setelah ia kemarin kembali ke tubuhnya, Geisha berharap itu adalah terakhir dia kembali pada tubuhnya. Wanita itu hanya ingin bersama suami dan empat anaknya.


"Aku mencintaimu Kaisar," ujarnya.


Kaisar Henry menempelkan hidungnya di hidung sang ratu. Bibirnya mengecup bibir Ratu Raisa pelan. Dua benda itu pun saling memagut dengan gairah. Lambat laun pagutan itu makin lama makin dalam dan menuntun. Ratu Raisa sangat menginginkan sang suami.


"Sayang," panggilnya mesra.


Sebuah ketukan membuyarkan keromantisan itu. Ratu Raisa jadi kesal dibuatnya, terlebih Kaisar Henry melepas pagutannya.


"Yang Mulia, ada utusan dari negara C dan B. Mereka ingin membangun kerjasama dalam pembangunan kereta api!" lapor staf istana.


Ratu Raisa melepas lengannya. Wajahnya tertekuk dan sangat membenci tamu-tamu yang datang itu. Kaisar Henry terkekeh. Ia memeluk istrinya dan mengendus leher wanita itu.


"Kau membuatku bergairah sayang," ujarnya.


"Yang Mulia!" kembali terdengar ketukan pintu.


"Pergilah, aku tak suka diganggu seperti itu terus menerus!" perintah sang ratu dengan muka cemberut.


"Aku pasti cepat selesai, sayang!" janji Kaisar Henry.


Pria penguasa itu pun pergi. Ratu Raisa hanya bisa menghela napas panjang, ia sangat tau berapa lama dibutuhkan kaisar dalam menjalin kerjasama itu.


"Aku yakin, kau keluar dari ruangan itu setelah empat hari kemudian!' cibirnya dengan senyum kesal.


"Aku mencintaimu Kaisar. Aku tak mau kembali ke masa di mana aku berada. Bersamamu jauh lebih indah di bandingkan di sana," ujarnya bermonolog.


Sementara di dimensi yang berbeda, sepasang suami istri menatap putrinya yang sudah kembali koma setelah sadar beberapa saat lalu. Air mata sang ibu tak berhenti mengalir di pipi mulusnya.


"Tuhan kembalikan dia padaku. Aku akan mencintainya lagi secara tulus seperti sebelumnya. Kembalikan dia padaku!" doanya penuh harap.


bersambung.


Hmmm ... doa mana yang dikabulkan ya?

__ADS_1


Next?


__ADS_2