
Geisha menundukkan kepala melepas ciuman Henry. Pemuda itu ingin kembali memagut bibir yang langsung menjadi candunya itu, namun Geisha menahannya.
"Tuan," larangnya.
"Kenapa?" tanya Henry berbisik.
"Maaf Tuan, saya harus pergi ke ibu saya," jawab Geisha.
Henry mengurai pelukannya. Pemuda itu memilih menggandeng gadis itu dan mengajaknya keluar dari jembatan penyeberangan. Gadis itu terkejut ketika sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Sosok pria keluar dan membuka pintu.
"Silahkan Nona, Tuan!" ujarnya.
Geisha sangat mengenal suara itu. Ia menatap pria dengan kacamata hitam, tinggi dan tampan perawakan Marquez Albert ada pada pria yang berdiri membuka pintu mobil.
"Masuk lah," Henry mendorong tubuh gadisnya ke dalam mobil.
Geisha duduk dengan tenang dengan Henry di sisinya, pemuda itu menggenggam erat tangan Geisha dan enggan melepasnya.
"Bawa ke mall xx, Albert!" titah Henry.
"Baik Tuan!"
Albert menjalankan mobilnya dalam kecepatan sedang. Geisha kembali terkejut dengan nama pria yang menjadi supir itu.
"Albert adalah sekretaris pribadiku," jelas Henry.
Albert melepas kacamatanya. Geisha kembali terkejut, pria di balik kendali mobil itu sangat mirip dengan Marquez Albert di dalam mimpinya. Mata coklat gelap nan tajam dengan alis seperti kepakan sayap burung elang. Hidung mancung bibir tipis dan rahang kokoh. Mirip sekali, Geisha nyaris menangis dengan apa yang terjadi hari ini.
Mobil berhenti di depan lobby mall, Albert turun dan membuka pintu. Kembali Henry menggandeng mereka berjalan menuju sebuah butik ternama. Regina menunggu putrinya.
"Halo Nyonya Jhonson, saya Henry Hormer," ujar pria itu memperkenalkan dirinya.
"Ah, kau manis sekali. Apa hubunganmu dengan putriku Henry?" tanya Regina dengan senyum indah.
"Saya ingin menjadi kekasihnya Nyonya. Jika boleh saya ingin bertunangan dengan putri anda," jawab Henry tegas.
Geisha terkejut, ia tak menyangka jika pemuda itu langsung mengutarakan hal itu, padahal mereka baru bertemu.
"Kau pasti sudah memiliki kekasih!" tebak Geisha cepat.
"Dan aku tak mau mengganggu sebuah hubungan!" lanjutnya.
"Aku belum memiliki kekasih, memang tadinya ada gadis yang kuincar sebelum bertemu dengan mu Nona Geisha!" sahut Henry jujur.
Pemuda itu memang mengincar Sonia untuk menjadi kekasihnya. Model cantik yang belum terkenal, begitu lugu dan sangat manis di mata Henry. Tetapi setelah bertemu Geisha, pemuda itu langsung memutuskan untuk memilik gadis yang dipilihkan sang ayah untuknya.
__ADS_1
"Pasti dia cantik!' sahut Geisha sedikit cemburu.
Henry mampu menangkap itu. Tatapannya pada Geisha membuat Regina senang bukan main. Baru kali ini ia mendapatkan seorang pria yang langsung memuja putrinya. Regina lalu membandingkannya dengan Chris.
"Jauh sekali bedanya!" sungut Regina dalam hati.
Geisha kembali membeli banyak gaun, mini dress dan baju kaos dan celana jeans untuk koleksi wadrobe nya. Gadis itu juga membeli beberapa sepatu untuk kegiatan kampusnya. Ketika Regina mau membayar, Henry mencegahnya.
"Biar saya yang membayarnya Nyonya!"
Henry menyerahkan kartu debit berwarna hitam dengan list emas. Kartu unlimited yang tak dipunyai semua orang, bahkan orang paling kaya sekalipun kecuali kalangan tertentu.
Regina tersenyum, ia sangat tau apa arti ketika Henry mengeluarkan kartunya. Pemuda itu mengatakan jika dirinya pantas untuk Geisha karena pasti akan menjamin hidup gadis itu.
"Terima kasih sayang," ujar wanita itu.
Kini keduanya memilih berpisah, Henry melambaikan tangannya ketika Geisha melambai padanya. Iris amber Geisha mampu menghapus wajah lugu Sonia.
"Benar kata Daddy, jika ada yang bisa mendongkrakmu untuk sampai ke puncak. Untuk apa mencari yang tak memiliki pengaruh di masa depan?" monolognya.
Albert membungkuk hormat dan membuka pintu untuk tuan mudanya. Kini keduanya pun pulang. Henry memutuskan untuk tidak lagi mendekati model itu. Beruntung ia tak pernah bertukar nomor ponsel dengan gadis itu.
"Tuan, Manager dari agensi model Ladiesline hendak menggelar fashion show," lapor Albert..
"Lalu?" tanya Henry kesal.
Henry melempar boks tisu pada Albert yang disertai tawa asistennya itu. Sudah berkali-kali Albert meledek usahanya mendekati Sonia yang lugu dan polos itu. Gadis dengan tinggi 180 dengan berat 60kg.
"Tiang listrik," begitu ledekan Albert pada Sonia.
"Dadanya kempes, bokongnya saja yang indah, apa yang kau lihat dari dirinya Tuan?" sindir Albert pada majikannya itu.
"Ck ... jangan meledekku terus Albert!" sahut Henry kesal.
"Aku tidak meledekmu Tuan, tapi menyadarkanmu. Nona Sonia hanya memanfaatkan dirimu yang tak pernah jatuh cinta," sahut Albert.
"Beruntung kau cepat tersadar setelah bertemu dengan Nona Geisha. Kau tau Tuan, Nona Geisha merupakan gadis genius di kampusnya. Beliau juga mendapat beasiswa penuh!" lanjutnya.
Henry terdiam. Ia juga tak mengerti bagaimana bisa ia tertarik dengan Sonia, bahkan berbohong pada ayahnya jika dirinya telah menjalin hubungan dengan gadis itu.
"Diam lah Albert. Aku kini jatuh cinta sungguhan dengan Geisha. Tetapi, Tuan Jhonson sepertinya sangat belum siap jika putrinya diambil orang," ujar Henry.
"Jangan putus asa dulu Tuan, kau belum mulai," ujar Albert menyemangati tuannya.
Mereka pun sampai di sebuah mansion mewah. Albert membukakan pintu untuk tuan mudanya. Beberapa pekerja langsung berbaris dan membungkuk hormat.
__ADS_1
Sedang di perusahaan, Jhonson memijat keningnya ketika melihat putrinya dicium bibirnya oleh seorang pria. David tau hubungan putrinya telah kandas bersama Chris akibat orang ketiga. Pria itu takut jika Henry juga menyakiti putrinya.
"Tuan muda Hormer tak memiliki hubungan dengan siapapun Tuan!' lapor pria yang selalu menemaninya kemanapun.
"Apa kau serius, Arthur?"
"Tentu Tuan, gosip kedekatannya dengan salah satu model juga terbantahkan karena tak ada bukti kongkrit tentang hubungan itu!' jawab Arthur tegas.
David mengangguk tanda mengerti, ia cukup lega jika Henry tak memiliki hubungan dengan gadis atau wanita manapun.
"Baik terima kasih Arthur, apa ada pekerjaan lagi?"
"Tidak ada Tuan dan sama-sama!' ujar Arthur lalu membungkuk hormat.
"Kita pulang saja, oh ya bagaimana penyelidikan tentang orang tua dari Laura?" tanya David lalu bangkit dari kursi kebesarannya.
"Tuan Damian Stones dan Tania Jhonson benar-benar telah tewas di kecelakaan tunggal itu. Polisi juga menemukan jika semua murni karena mendiang Tuan Stones dalam keadaan mabuk!" jawab Arthur.
"Kau yakin itu?" tanya David masih setengah tak percaya.
"Saya akan selidiki lebih dalam lagi. Tapi kali ini akan saya lakukan secara independen Tuan!"
"Lakukan Arthur. Aku memberimu tugas itu penuh dan aku hanya percaya pada laporanmu!" tukas David tegas.
Arthur membungkuk hormat. Pria itu juga telah melakukan penyelidikan sendiri untuk mengungkap semuanya.
Di mansion Jhonson, Geisha sibuk di dapur. Hampir semua maid panik, walau itu sudah terbiasa. Tetapi jika anak majikan yang turun ke dapur pasti membuat semua pekerja panik.
"Nona, biar saya mengiris daging itu!" ujar salah satu maid ngeri melihat nonanya memegang pisau.
"Diam lah Maria! Jika kau seperti itu, aku benar-benar memotong tanganku!"
"Maria, tinggalkan Nona Geisha!" pinta Salma.
Masakan sudah siap. Jhonson begitu menyantap makanan dengan lahap. Geisha bahagia melihat masakannya habis di meja makan.
"Ini enak sekali sayang, sungguh!" puji pria itu.
Geisha tersenyum bahagia. Satu resep yang juga sangat disukai oleh suami dalam mimpinya.
"Kaisar ... apa Henry Ribery Hormer adalah dirimu?" tanyanya pada taburan bintang di langit.
Bersambung.
Uhuy ...
__ADS_1
next?