Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
PERNIKAHAN SANG PANGLIMA


__ADS_3

Duchess Laura begitu cantik dengan gaun pengantin warna broken white rancangan sang ratu.


Raisa benar-benar merubah mode pakaian di jaman itu. Sekarang menginjak tahun 1910, Princess Joana kini sudah mau satu tahun. Bayi itu sudah menarik apa saja yang dekat dengan tangannya.


Duchess Laura memakai gaun panjang dengan belahan di sisi kaki kirinya hingga paha dan memamerkan kaki jenjangnya. Gaun tanpa lengan dengan dada membentuk volume dan punggung terbuka. Gadis itu sangat cantik dengan layer tipis bertabur mutiara asli.


"Marquez Albert, aku menyerahkan putriku untuk kau cintai dan kau sayangi seumur hidupmu!" ujar Duke Thompson menyerahkan putrinya.


"Saya akan mencintainya semampu saya hingga ajal menjemput!" tukas Marquez Albert tegas.


Untuk pertama kalinya, seorang Duchess menikah dengan seorang Marquez. Walau banyak rumor miring tentang pernikahan beda kasta ini, tapi semua dibantah sang gadis dengan menanggalkan kebangsawanannya dan memakai gelar sama dengan sang suami nantinya. Bukti cinta Duchess Laura pada Marquez Albert.


"Baiklah, di hadapan Tuhan saya nikahkan kalian berdua. Silahkan untuk mempelai pengantin pria mengungkapkan janjinya!" titah sang kaisar yang menjadi pendeta mereka.


"Aku Albert Cosemus Rorton menikahi dan mencintai Laura Margareth Thompson sebagai istri dan berjalan seiring duka dan bahagia bersama selamanya!"


"Silahkan mempelai wanita!"


"Aku Laura Margareth Thompson menikahi dan mencintai Albert Cosemus Rorton sebagai suami dan berjalan seiring duka dan bahagia bersama selamanya!"


"Kalian sah menjadi suami istri di mata Tuhan dan kekaisaran!" ucap Kaisar Henry tegas.


"Silahkan kau cium istrimu Marquez!" lanjutnya..


Marquez Albert membuka layer dan mengecup bibir istrinya. Keduanya berciuman singkat dan saling berpelukan bahagia. Kini mereka diarak dengan menaiki mobil dengan kap terbuka. Semua rakyat tumpah ruah. Mereka menyaksikan pernikahan kedua yang lagi-lagi tak membedakan kasta. Marquez Albert begitu tampan dan rupawan, sangat pantas beristri Duchess Laura yang kini gelarnya berganti menjadi Marqueza. Sepasang suami istri itu melambaikan tangan mereka. Kini keduanya berada di kastil milik Marquez Albert. Pria itu tentu memiliki kediamannya sendiri.


"Kiss her commander!" (Cium dia Panglima!) suruh para warga.


Tentu saja Marquez Albert mencium bibir istrinya dengan rakus. Hal ini membuat Marqueza kelimpungan, ia meremas kemeja suaminya ketika kehabisan pasokan udara.


"Yang Mulia!" peringatnya ketika napasnya nyaris habis.


"Maaf, aku memang sudah tak sabar," kekeh pria itu.


Lalu Marquez Albert benar-benar membuktikan perkataannya. Pria itu langsung menggendong istrinya hal itu membuat semua warga bersorak-sorai.


Albert yang sudah tak tahan membawa masuk istrinya ke kamar pengantin. Sedang di istana Kaisar Henry menatap benda bulat di dinding. Pria itu mendengkus kesal. Mestinya Panglimanya memimpin pesta pernikahan itu.


"Dasar pria sialan!' gerutunya kesal.

__ADS_1


Pesta terus berjalan hingga malam, Panglima dan istrinya baru mendatangi pesta yang sebentar lagi akan berakhir itu.


"Mestinya kau tak perlu datang!" tegur kaisar kesal.


Marquez hanya tersenyum kikuk. Ia menggenggam erat tangan istrinya. Sungguh tadi ia memang tak mau datang. Tapi Laura marah dan mengatai dirinya tak tau diri karena membuat Kaisarnya menunggu dan memimpin pesta.


"Jangan salahkan aku jika Yang Mulia marah nantinya!" peringat wanita itu.


Laura memang harus menghentikan kegiatan ranjangnya jika ia masih ingin bangun. Pria itu benar-benar perkasa dan membuat seluruh tubuhnya remuk redam.


Benar perkataan sang istri. Kini Kaisar ngambek dan tak mau berbicara pada panglimanya itu.


"Yang Mulia," tegur sang ratu.


"Kau membelanya?' desis pria itu.


Jika sudah begitu Ratu Raisa menyerah, tentu ia hanya bisa menghela napas dan menatap panglima besar itu dengan pandangan menyesal.


"Maaf, aku tak bisa membantumu,"


"Yang Mulia, aku minta maaf. Jika memang salah. Aku siap dihukum!" ujar Marquez Albert menghadap sang Kaisar yang masih ngambek padanya.


"Kau tidak salah Panglima," ujar pria penguasa itu akhirnya.


"Kau berhak menikmati hari pengantinmu. Pulanglah, pesta sudah selesai," perintahnya.


"Terima kasih atas kebaikan Kaisar!" ujar Marquez Albert senang.


Akhirnya pesta selesai, semua tamu mengucap selamat atas pernikahan sang panglima. Raja Namont dan Raja Lucyfer masih dalam perjalanan dari wilayah yang dulu meminta bergabung menjadi bagian kekaisaran.


Kaisar Henry menatap empat anak kembarnya yang sudah mulai besar itu. Usia mereka memang baru tujuh tahun.


"Aku menunggu kalian besar dan masing-masing menikah dan memiliki pasangan. Aku akan membawa ibu kalian bermesraan lagi seperti awal kami menikah," gumam pria itu..


Lalu Henry menuju kamar putrinya. Princess Joana Emanuella Horton, pria itu mencium gemas putrinya yang bar-bar sama seperti Putri Anna.


"Hai jagoan ... kau tadi memecahkan guci pemberian Kaisar Shi Luan Ho," kekehnya. "Kau tau harganya mampu membeli delapan ekor kuda dengan standar grade A!"


"Ehek ... ehek!" rengek bayi itu.

__ADS_1


Kaisar Henry menepuk bokong putrinya pelan. Ia memang sangat gemas dengan anak perempuan bungsunya itu.


Ratu Raisa menatap tubuhnya yang sedikit berlemak di bagian perut dan lengannya. Sudah lama ia tak berlatih beladiri semenjak menjadi istri yang diakui kaisar.


"Apa aku harus melatih otot-ototku lagi?" tanyanya sambil menekuk lengan ala binaragawati.


Kaisar Henry masuk dan menatap istrinya yang tengah menatap otot lengan dan bisepnya.


"Apa yang kau lakukan Ratu?" tanyanya heran.


"Ah ... Kaisar ... ototku sudah kendur, sepertinya aku sudah lama tak berlatih," jawab Ratu Raisa mengeluh.


Kaisar Henry membalik tubuh sang istri agar menghadapnya. Pria itu memeluk erat wanita yang dulu sempat ia abaikan.


"Terima kasih kau datang dan mengacung pedang saat itu," ujar pria itu dengan nada sedikit menyesal.


"Oh ... ayolah sayang ... kejadian itu sudah lama sekali!" rengek Ratu Raisa lalu mengalunkan lengannya di leher sang kaisar.


Ratu Raisa mencium bibir yang langsung disambut suaminya. ciuman berlangsung lama dan makin dalam. Kaisar Henry menuntut dalam ciuman itu.


Kini keduanya beradu kenikmatan dalam satu selimut, tiga jam saling mencumbu dan memberikan seluruh cinta pada pasangannya. Ratu Raisa begitu puas dengan apa yang dilakukan suaminya, ia sampai pelepasan hingga tiga kali.


"Aku mencintaimu istriku!" pekik pria itu meluncurkan cairannya.


Walau tak lagi bisa menyemai rahim sang istri. Tapi Ratu Raisa selalu berdoa jika janin-janin itu tumbuh lagi di rahimnya.


Sang Kaisar terkapar dan kini mendengkur halus di sisi sang istri. Ratu Raisa membelai wajah pria yang selalu dicintainya.


"Jika sesuatu saat jaman berganti dan aku kembali pada tubuhku yang asli. Aku hanya ingin menikah dengan pria sepertimu Kaisar," harap wanita itu dalam hati.


Ratu Raisa menenggelamkan tubuhnya dalam rengkuhan sang suami. Ia mengigit ****** coklat pucat milik suaminya, netra Kaisar Henry terbuka.


"Kau sengaja sayang?" Ratu Raisa mengangguk.


Kini, untuk ketiga kalinya mereka kembali bersatu. Menerjang gelombang cinta nan dahsyat dan mendaki bukit kenikmatan. Lalu keduanya terkapar bersimbah peluh dengan napas terengah. Ratu Raisa benar-benar puas dan terlelap di pelukan suaminya yang hebat.


bersambung.


Dan othor masih jomblo dan polos menceritakan hal ini 🤭🤣😤😭

__ADS_1


next?


__ADS_2