
Sonia berlenggak-lenggok di catwalk. Gadis itu mengenakan dress buatan seorang perancang yang baru saja muncul. Gadis itu sedikit kesal, karena lagi-lagi debutnya sebagai model harus kembali menjadi peraga busana perancang yang baru saja menetaskan karya mereka.
"Ck ... kapan aku bisa bawa baju dari perancangan ternama?" keluhnya.
Tinggi gadis itu memang sangat bagus, terlebih tubuhnya yang kurus sangat cocok dipakaikan dengan pakaian apapun.
Namun dewi fortuna belum menyambangi gadis itu. Beberapa pengamat mode juga belum meliriknya sebagai model yang bagus.
Dua jam sudah ia berlenggak-lenggok di jalur catwalk. Perancang memberi senyum lebar debutnya berhasil dengan baik. Bahkan rancangannya masuk nominasi. Beberapa selegram dan selebriti membeli gaun ciptaannya.
"Huff ... lelah sekali,' ujarnya lalu mendaratkan bokongnya di sofa.
Gadis itu diberi satu gaun sebagai hadiah ucapan terima kasih. Sonia mengingat jika pria yang selama ini mendekatinya tak muncul duduk di antara penonton. Biasanya Sonia menemukan pemuda itu dengan senyum dan pandangan memujanya.
"Manager!" panggilnya.
"Ada apa?" sahut pria gemulai yang tengah merapikan dandanannya.
"Apa Tuan Hormer sudah kau hubungi?" tanya Sonia.
"Sudah tadi," jawab sang manager.
"Lalu?"
"Apa yang lalu?" tanya pria itu kesal.
"Kenapa dia tak datang?" tanya Sonia.
"Mana kutahu! Aku hanya menyampaikan pesan jika ada debut fashion baru launching hari ini. Aku juga berharap pria itu menggelontorkan dananya untuk event-even kita selanjutnya!" jawab pria itu sengit.
Sonia berdecak, memang banyak pebisnis yang mendukung acara ini sebagai wadah mencari proyek baru dan mendapat nama. Fashion merupakan bisnis yang sangat diminati dan menjamur kemana-mana. Banyaknya designer baru membuat para pebisnis berlomba-lomba menanam saham di salah satu perancang itu.
"Apa boleh aku menghubunginya?" pinta Sonia.
"Dan membuat skandal yang akan menjadikan nama agensiku hancur?" desis manager itu.
"Bukankah itu biasa?"
"Jika pebisnis itu yang memulainya, mungkin iya. Tapi jika kita atau kau duluan yang memulai ... maka aku tak mau bertanggung jawab!" sahut pria itu ketus.
Sonia terdiam, ia hanya bisa pasrah akan nasibnya ke depan. Sedang di tempat lain, Henry mulai menjalankan misi mendekatkan diri dengan ayah dari Geisha.
Geisha yang baru berusia delapan belas tahun tentu sang ayah sangat protektif menjaganya. Terlebih Geisha adalah putri semata wayang keluarga Jhonson.
"Selamat siang Tuan!" sapa Henry.
"Selamat siang Nak. Duduk lah!" perintah David.
Henry duduk di depan pria itu. David memeriksa semua berkas yang dibawa oleh sang pemuda yang duduk dengan gaya elegan dan sangat berkarisma.
__ADS_1
David berdecak dengan gaya pemuda di depannya. Tetapi Henry begitu tenang menghadapi calon mertuanya itu. Tak ada catatan dan koreksi di berkas yang dibawa oleh Henry. Semua perhitungan dan reviewnya sangat bagus dan menunjang bisnis yang mereka lakukan.
"Bagus sekali! Bahkan dia bisa mengurai apa yang harus diperbuat jika ada human error atau nature error!" pujinya dalam hati.
David segera membubuhkan tanda tangannya. Henry tersenyum puas, pemuda itu sudah menang satu langkah untuk mendapatkan tempat di hati pria yang duduk di depannya.
"Terima kasih Tuan," ujar Henry lalu menjabat tangan David.
Albert membungkuk hormat pada pria itu. David menghela napas panjang setelah dua pria tampan itu pergi.
"Jika begini, aku tentu tak mau kehilangan anak ini!" ujarnya.
"Aku pastikan perjodohan itu terjadi, sepertinya putriku juga pasti setuju," monolognya.
Persidangan Laura kembali digelar. Kali ini pembaca pledoi dari terdakwa. Namun, bukti yang memberatkan sangat membuat gadis itu tak bisa lepas dari jerat hukum.
"Berita acara dari terdakwa kami tolak!" putus hakim.
"Bukti pembelian racun atas nama terdakwa bahkan semua cctv menyatakan upaya pembunuhan terhadap korban Nona Jhonson sudah memenuhi berkas acara!" lanjut hakim.
"Putusan akan diambil satu minggu dari sekarang!"
Palu diketuk tiga kali semua berdiri dan hakim pun pergi. Penasihat hukum hanya pasrah, semua saksi dan bukti memberatkan kliennya. Satu-satunya upaya adalah meminta hakim memberi keringanan karena usia Laura yang masih sangat muda.
"Saya akan mengupayakan hukuman sekurangnya dua puluh lima tahun penjara," ujar pria itu.
Laura hanya bisa terdiam. Satu penyesalan memang datang, bahkan ia menyesal kenapa Geisha tidak mati saja agar dia bisa tenang menghadapi hukumannya walau nanti ia berhadapan dengan peluru yang akan menewaskannya.
Sementara di tempat lain. Geisha sudah kembali ke kampusnya. Gadis itu kembali mengasah otaknya yang ternyata masih saja cemerlang.
Henry datang menjemput gadisnya itu. Pemuda itu sudah berdiri menunggunya di koridor kampus. Semua gadis tentu histeris melihat sosok tampan. Beberapa di antaranya mencoba menggoda Henry.
Pemuda itu melihat Geisha keluar dengan wajah ceria. Tawa gadis itu membuatnya makin terpana.
"Tu-tuan," cicitnya.
"Halo sayang! Aku datang menjemputmu," sapa Henry lalu menarik pinggul sang gadis dan mendaratkan ciuman di kening Geisha.
"Gei ... siapa dia?"
Geisha kaget, Chris datang juga ke kampusnya. Pria itu membawa buket bunga yang sangat cantik. Pandangan cemburu langsung dilayangkan Chris pada Henry.
"Hai ... aku tunangan gadis yang kau panggil Gei ini!" sahut Henry begitu percaya diri..
"Gei, dia bohong kan?" tanya Chris tak percaya.
"Aku tak peduli kau percaya atau tidak Tuan. Geisha sudah menjadi milikku!" tukas Henry lalu membawa Geisha bersamanya.
"Hei ... jangan paksa gadisku!"
__ADS_1
Chris menarik lengan Geisha. Gadis itu tentu tak siap dan nyaris jatuh jika saja Henry tak merangkulnya.
"Kau yang kasar Tuan!" seru Henry mulai emosi.
"Sudah ... ayo!"
Geisha tak mau ada keributan, ia mengajak Henry berlalu dari sana. Chris tak terima. Mereka baru putus satu bulan lalu. Ia tak percaya jika cinta Geisha sudah tidak ada lagi.
"Gei ... please! Be wise ... don't do this! It is not funny!" seru Chris.
Geisha berhenti, gadis itu lalu berbalik dan menghadap mantan kekasihnya itu Henry tentu tak mau jika Geisha bersama pria lain.
"Biar aku hadapi dia dulu,'' Geisha meminta pengertian Henry.
Henry akhirnya melepas kekasihnya. Ia terus berada di sisi Geisha dan akan bertindak jika pria yang ada di depannya itu macam-macam pada kekasihnya.
"Kita sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi Chris. Jadi aku berhak memilih siapapun bukan?" sahut gadis itu.
"Gei ... aku tau kau marah, aku tau kau masih kesal denganku karena ciuman itu!" ujar Chris putus asa.
"Tapi yakinlah, aku tak memiliki rasa apapun pada Laura. Ciuman itu terjadi begitu saja?!"
"Lalu bagaimana dengan kepercayaan?" tanya Geisha.
"Kau lebih percaya pada Laura dan membelanya!" Chris terdiam.
"Cukup Chris. Aku tak mau lagi berhubungan denganmu. Kunjungilah Laura, dia pasti membutuhkan dirimu!" pinta Geisha.
"Gei ... aku masih mencintaimu ... bukan Laura Gei!" pekik Chris.
Geisha tak peduli, gadis itu masuk ke dalam mobil mewah milik Henry yang dibukakan pintunya oleh Albert.
"Apa kau menyesal meninggalkannya?" tanya Henry melihat Geisha yang hanya diam dan menyusutkan air matanya.
"Aku kesal karena dia begitu egois!" teriak Geisha akhirnya tak mampu menahan diri.
Henry memeluknya erat. Geisha menumpahkan semua kekesalannya di dada Henru, lalu gadis itu tenggelam dan merasa nyaman di sana. Geisha kembali merasakan pelukan suami dalam mimpinya. Dua netra bertemu.
Dalam khayal sang gadis kembali bertemu dengan Kaisarnya.
"Kaisar,"
"Ratu,"
Bibir keduanya pun bertemu dan menyalur pada sebuah kerinduan yang dalam.
bersambung.
Ah ... othor masih jomblo.
__ADS_1
Next?