Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
DILAMAR


__ADS_3

Sampai di wahana bermain, Geisha termangu dengan semua design berwarna pink, warna kesukaan gadis itu. Bahkan semua pekerja mengenakan baju pink dan menyambut keduanya dengan ramah.


"Wahana mana yang hendak kau naiki sayang?" tanya Henry.


"Rollercoaster!" pekik gadis itu girang.


Geisha merasa sudah lama tak menaiki wahana itu. Gadis itu tak perlu mengantri karena semua lokasi permainan telah dibooking oleh Henry. Ia duduk berdua dengan kekasihnya.


"Apa kalian siap?" tanya petugas setelah memeriksa keamanan mereka.


"Siap!" pekik Geisha tak sabaran.


Perlahan benda itu bergerak. Geisha memegang erat pengaman yang melindungi dadanya. Hanya butuh hitungan detik, dua insan yang tengah dilanda cinta itu memekik keras setiap putaran dan tanjakan yang dilalui. Banyak foto mengabadikan kejadian ini.


Henry kembali ke masa kecilnya. Sedang Albert berada di dudukan paling belakang, pria itu setengah tertidur di wahana yang menurutnya membosankan itu.


Dua putaran telah dilalui. Geisha melompat kegirangan, ia mencium pipi Henry.


"Ayo ke wahana lain!" ajak gadis itu menarik tangan pria itu.


Henry menurut saja. Gadis itu menuju sebuah wahana yang memacu adrenalin. Albert kembali nyaris tertidur di wahana itu. Henry sampai meminta pria itu untuk tidak ikut naik wahana.


"Memangnya wahana ini kurang menantang?" tanya Geisha.


Albert mengganguk mengiyakan, pria itu tak tertarik dengan semua mainan yang mestinya membuat jantung berdebar itu.


Geisha ingat, di dalam mimpinya Albert memang tak memiliki rasa takut pada apapun. Bahkan, pria itu juga memenggal banyak kepala bangsawan yang terlibat kejahatan dan pengkhianatan kekaisaran. Albert termasuk panglima berdarah dingin.


Kini mereka memasuki rumah hantu. Geisha menggenggam erat tangan Henry. Pria itu memukul satu hantu yang muncul mendadak di mukanya. Albert memutar mata malas. Sedang Geisha memeluk Henry erat.


Ketiganya keluar, Geisha bernapas lega. Baru kali ini dia ketakutan seperti itu, apa karena ada pria tampan yang siap melindunginya makanya ia bersikap manja seperti itu.


"Ayo makan, aku sudah lapar!" ajak Henry.


Kini mereka makan di sebuah danau indah. Geisha kembali terpesona dengan pemandangan yang ia lihat.


"Bagaimana menurutmu sayang?" tanya Henry lalu merengkuh pinggul ramping gadis itu.


"Ini indah sekali!" puji Geisha.


"Duduklah," pinta pria itu..


Henry membawa gadis itu duduk. Ia bersimpuh di depan Geisha. Henry mengeluarkan kotak beludru warna merah dan membukanya. Sebuah cincin cantik bertahtakan berlian. Geisha menutup mulutnya.


"Geisha Deborah Jhonson, maukah kau menikah denganku!" pintanya dengan mata penuh permohonan.


Geisha mengangguk cepat. Henry lalu menyematkan cincin di jari manis Geisha. Pemuda itu langsung mencium bibir gadis pujaannya. Keduanya berciuman cukup lama. Hingga kehabisan pasokan oksigen.


Napas keduanya menderu. Rona bahagia terpancar di wajah Geisha. Netranya memejam, merasakan getaran dan desiran halus di seluruh pembuluh darahnya.


"Aku mencintaimu," aku Geisha.

__ADS_1


Henry tersenyum, ia juga sangat mencintai gadis itu.


"Aku juga mencintaimu," balasnya.


Kini keduanya makan saling menyuapi. Netra keduanya saling menatap dan menyalurkan sinyal-sinyal cinta.


Usai makan, Henry membawa gadisnya ke sebuah taman bunga yang indah. Geisha sangat senang dengan suasana itu.



Geisha Deborah.



Henry Ribery Hormer.


Mereka saling berpelukan dan berciuman. Momen kemesraan mereka memang begitu manis.


"Ini sudah malam, sebaiknya aku mengantarkanmu pulang sayang," ujar pemuda itu.


Geisha mengangguk, ia juga sudah cukup lelah hari ini. Gadis itu tak terasa teridur di dalam mobil. Henry menggendongnya ala pengantin ketika turun dari mobilnya.


Regina menyambut keduanya dengan senyum indah. Albert Hormer ada di sana, pria itu bertandang untuk melamar Geisha untuk menjadi menantunya.


"Dia harus bangun, sayang," ujar Regina.


"Sayang, bangun!" ujar wanita itu lalu mengecup putrinya.


Gadis itu terbangun dan terkejut karena dirinya ada di mansion. Geisha tertunduk malu, gadis itu kini berada di belakang tubuh ayahnya. David terkekeh melihat tingkah anak gadisnya.


Kini mereka makan malam bersama. Setelah makan, mereka kembali berbincang dan Albert kembali meminta Geisha untuk menjadi menantunya.


"Jadi, kembali saya meminta untuk Nona Jhonson menjadi istri dari putra saya, Henry Ribery Hormer!'


"Bagaimana sayang, apa kau menerima pinangan itu?" tanya Regina haru.


Geisha mengangguk, gadis itu tak mampu berkata-kata lagi. Ia terlalu bahagia.


"Apa arti anggukkanmu sayang?" tanya Henry gemas pada kekasihnya itu.


"Ayah," rengek sang gadis manja.


"Jawablah sayang, Henry ingin dengar dari mulutmu," kekeh David.


Geisha menetralkan degup jantungnya yang seperti melompat keluar. Ia menghela napas berkali-kali.


"Iya, saya bersedia," ujar gadis itu lalu menyembunyikan wajahnya di bahu David.


Semua tertawa lirih melihat kelakuan manja Geisha. Tanggal pernikahan pun ditetapkan tiga bulan mendatang.


"Aku ingin semuanya bernuansa putih!" pinta gadis itu ketika ditanya seperti apa konsep pesta pernikahannya.

__ADS_1


Geisha mengingat jelas bagaimana, Raja Henry ketika di dalam mimpinya. Geisha memakai gaun putih yang indah dengan layer bertabur mutiara asli bercampur permata indah.


"Aku ingin bertema bunga lili dan mawar segar, dan kelopak mawar yang bertaburan di sepanjang karpet merah," ujarnya mendeskripsikan suasana pesta saat itu.


"Aku akan mewujudkannya sayang!" janji Henry.


Geisha mengangguk, ia yakin jika kaisar Henry adalah pemuda yang kini menatapnya penuh cinta.


Persiapan pernikahan pun dilakukan, keduanya tampak sibuk. Geisha harus menyelesaikan cepat semesternya. Gadis itu ingin semuanya selesai sebelum ia menikah nanti.


"Jadi kau akan menikah?" tanya Laisya pada sahabatnya itu.


Geisha mengangguk membenarkan, ia dapat melihat Duchess Laura di diri sahabatnya itu. Ia sangat yakin jika Laisya Almira ini adalah jodoh untuk Albert.


"Aku akan mengenalkan mu dengan pria yang begitu tampan. Aku jamin kau pasti langsung menyukainya!" sahut Geisha semangat.


"Ah ... jangan. Aku hanya gadis miskin. Aku yakin calon suamimu adalah pria kaya dan tampan," terka Laisya.


"Aku yakin jika kalian berjodoh!" sahut Geisha yakin.


Laisya hanya mencebik, dua gadis itu memang lain kelas tapi selalu dekat, bahkan Laisya berkali-kali mengingatkan sahabatnya tentang Laura, saudara misan Geisha.


"Aku berdoa semoga kau berbahagia hingga ajal menjemput kalian," doanya penuh harap.


"Thanks Sis!"


Keduanya berpelukan, Laisya akan menjadi pengiring pengantin sahabatnya itu. Henry menjemput calon istrinya.


"Kenalkan ini sahabatku, Laisya!" Henry hanya mengangguk saja tanpa senyum.


Geisha mencebik kesal.


"Aku ingin mengajaknya bersama, ia jadi pengiring pengantinku!"


Pria itu mengangguk. Laisya duduk di depan bersama Albert. Geisha terkikik geli melihat sahabatnya seperti terpaku.


"Astaga, apa pria itu patung es?" bisik Laisya ketika turun.


"Tapi dia tampan kan?" bisik Geisha lagi.


"Memang, tapi nanti aku pulang sendiri ya. Bisa mati duduk aku jika ikut kalian," bisik Laisya.


"Mari Nona Almira!"


Albert membuka pintu untuk gadis itu. Dua mata berbeda saling menatap. Jantung keduanya berdebar ketika mata mereka saling mengunci.


Geisha kembali ditemukan di masa pertama ketika Marquez Albert bertemu dengan Duchess Laura. Pria itu langsung setuju dijodohkan oleh ayah dari Duchess Laura.


"Eehem ... dia masih single Albert," ujar Geisha memberitahu.


Bersambung.

__ADS_1


Next?


__ADS_2