Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
RUTINITAS


__ADS_3

Empat bayi tengah berjalan tertatih ke manapun mereka mau. Para maid mengikuti mereka begitu juga pengawal. Kaisar Henry tengah membangun sebuah taman bermain khusus untuk semua anak-anak. Kini tengah diuji kelayakannya oleh para ahli.


"Kita lapisi tanah dengan busa empuk jadi jika mereka jatuh tidak terlalu sakit," ujar ahli.


Taman seluas 100m² dilapisi dengan karpet tebal dan empuk agar tidak membahayakan para anak-anak. Karpet itu akan dilepas jika usia para anak kaisar sudah besar.


"Ini mau dipasang apa?" tanya Ratu Raisa ketika melihat para pekerja mengukur luas taman.


"Kami ingin melapisi dengan karpet tebal untuk keamanan putra dan putri mahkota Ratu!" jawab beberapa ahli.


"Tidak perlu!" larang sang ratu.


"Biarkan mereka jatuh agar mereka tau rasanya sakit. Dengan begitu mereka belajar untuk berhati-hati!" sahut sang ratu.


"Tapi Ratu ...,"


"Jangan pasang!" teriak Ratu marah.


Hal itu membuat kaisar mendekati ratunya.


"Ada apa?" tanya pria penguasa itu.


"Aku melarang mereka memasang karpet tebal untuk melapis tanah!" sahut sang ratu kesal.


"Turuti apa kata Ratu!" titah sang kaisar.


Akhirnya mereka tak jadi melapis tanah dengan karpet tebal. Semua harus alami. Hanya saja cat yang melapisi benda sangat aman untuk anak-anak.


Hanya butuh seminggu taman bermain sudah rampung. Richard, George, William dan Elizabeth langsung berlari menaiki ayunan dan jungkat-jungkit.


"Hahahahaha!" gelak tawa terdengar riuh.


Raja Horton, ayah dari Kaisar Henry menatap haru, ia bisa melihat cucunya lahir. Pria itu akhirnya tinggal di istana karena tak mau berpisah dengan empat cucu kembarnya itu.


"Terima kasih sayang, kau memberikan keturunan banyak pada kekaisaran ini!' ujar pria itu.


"Sama-sama Ayahanda Raja!' sahut Ratu Raisa.


Empat bayi berkumpul mereka tengah mengobrol. Raja Horton tampak penasaran dengan apa pembicaraan mereka.


"Shad ... beuenahabbenshsnhwhdnhbsuhbusbuessss!" ujar William.


"No! peushdbebebsnshwhshsbsheunuuus no!" geleng Richard sambil menggerakkan jari telunjuknya mengatakan tidak.


"Iasjsnshe nsnehnensbdbejeuuneusudbsunwwjsbwb weesss!" sela Elizabeth.


Raja Horton tampak pusing mendengar percakapan bayi itu. Mereka baru satu tahun, tentu belum banyak kata yang bisa diucapkan.


"Apa yang kalian bicarakan Nak!" keluhnya.

__ADS_1


"Grandpa!" pekik mereka lalu berhamburan memeluk kaki Raja Horton.


"Babies," panggil sang raja lalu menyamakan tingginya.


Ratu Raisa memilih pergi ke dapur dan membuat kudapan sehat bagi semua anak-anak.


Kaisar Henry mencari keberadaan sang istri. Semua maid tengah menunggu di luar dapur. Pria penguasa itu langsung tau jika ratunya ada di sana.


"Ratu ... kenapa tak kau suruh maid yang mengerjakannya?"


Ratu Raisa menoleh ia memberikan senyum indah. Semua maid memilih membalikkan tubuh mereka ketika sang kaisar memeluk istrinya. Kaisar Henry mencium pipi sang istri.


"Kau tengah buat apa?" tanya sang kaisar mesra.


"Aku sedang membuat puding," jawab Ratu Raisa.


(pada era Revolusi Industri Pada tahun 1837, bubuk custord untuk vla baru ditemukan oleh Alfred Bird. sumber sweetrip.id).


"Sepertinya enak," sahut Kaisar Henry mulai menciumi tengkuk istrinya.


"Sayang, ini dapur," cicit sang ratu malu.


"Maaf sayang. Aku tak tahan!" ujar sang Kaisar lalu menggendong istrinya.


"Lanjutkan pekerjaan Ratu!" titahnya tegas.


Di kamar Kaisar, keduanya menyatu dalam gelora cinta. Ratu Raisa begitu panas melayani sang suami dengan gaya baru.


"Oh ... sayang ... ini enak sekali, aku langsung bisa masuk ke dalam sini!" erang sang Kaisar.


"Oh ... kaisar!" lenguh sang ratu yang ambruk di dada sang suami. Ia kelelahan.


Sementara di taman bermain. Raja Horton mendengkus keras karena mendengar kabar jika putranya membawa sang ratu ke kamar.


"Anak sialan!" gerutunya kesal.


Dua jam saja keduanya bercinta. Ratu Raisa harus segera melayani anak-anaknya sebelum mereka kelaparan.


"Mommy dali mana?" tanya Richard marah.


Bayi tampan itu melipat tangannya di dada sambil mengerucutkan bibirnya. Ratu Raisa tentu gemas melihatnya. Ia mencium salah satu putranya hingga tergelak.


"Mommy ... me too!" teriak tiga bayi lainnya.


Ratu Raisa pun menggelitik bayi lainnya dengan semburan di perut para bayi. Tentu gelak tawa terdengar. Lalu mereka kelelahan dan terlelap sehabis makan.


"Kalian menggemaskan sekali!"


Ratu Raisa sampai geregetan melihat paha bayinya yang montok. Hendak ia gigit tapi takut mereka terbangun dan sulit untuk ditenangkan lagi.

__ADS_1


"Dasar bayi pemarah ... entah dari siapa yang menurun sifat itu?" keluhnya.


Ratu Raisa pergi keluar dari kamarnya. Ia melihat suami dan juga ayah mertuanya tengah berbincang. Lalu tiba-tiba melintas di otak pikiran dari Geisha.


"Andai Papa dan Mama ada di sini. Aku akan lebih berbahagia," gumamnya sambil tersenyum.


"Sayang ... kemarilah!" panggil Raja Horton.


Ratu Raisa mendekati mereka dan duduk di sebelah suaminya.


"Sayang, kau harus menyiapkan empat anakmu sebagai pemimpin. Richard pasti mengantikan suamimu, lalu adik-adiknya akan memimpin beberapa wilayah besar seperti wilayah dekat pesisir, wilayah ayahmu berada dan wilaya sebelah perbatasan dekat negara D!" tekan Raja tegas.


Ratu Raisa agak sedikit keberatan, usia anak-anak masih terlalu dini untuk mengenal hal-hal berat. Ia ingin semua anaknya tumbuh kembang seperti usianya.


"Maaf Yang Mulia Ayahanda. Bukan aku membantah perintah, aku rasa jika putra dan putriku masih terlalu kecil untuk belajar terlalu berat. aku takut mereka akan takut dan malah menolak pelajarannya," sahut Ratu Raisa beralasan.


"Tapi mereka adalah calon pemimpin Ratu!" ujar Raja Horton mengingatkan.


"Iya, benar. Tapi biar ia tumbuh kembang seperti biasa anak-anak pada umumnya," sahut Ratu Raisa keras.


Raja Horton tampak menghela napas. Kaisar Henry tak berkata apapun. Ia menjadi sosok netral di sini. Ia sangat yakin jika istrinya tau apa yang terbaik bagi putra dan putrinya.


Sore menjelang, anak-anak sudah wangi dan rapi. Kini saatnya mereka maka. puding buatan ibunya. Mereka sudah diajari makan sendiri. Walau masih berantakan tapi makanan di piring mereka habis tanpa sisa.


"Mommy ... gih!" pekik Elizabeth merasa kurang.


Satu puding dan vla susu terhidang. Bayi cantik itu memakannya dengan lahap. Vla susu tampak mengotori wajahnya.


"Mommy ni enak ... thank you!' sahut empat bayi begitu manis.


"Sama-sama sayang,"


Para maid membersihkan mulut dan tangan anak dengan lap basah yang bersih. Empat bayi diturunkan mereka langsung berlarian di taman hingga para maid ikut mengejarnya.


Ratu Raisa hanya mengamati saja semua anak-ananya yang berlarian. Jika hendak terjatuh para maid sigap menangkap mereka.


"Biarkan mereka jatuh!" titah Ratu Raisa yang membuat semua maid tambah bingung.


"Aku ingin melihat bagaimana anak-anak menyikapi jika saudaranya jatuh,"


Baru selesai sang ratu bicara. Princess Elizabeth terjatuh. Semua menutup mulut karena Ratu Raisa menutup mulutnya.


"Mommy ... hiks ... hiks ...."


"Pistel ... al yu otey?" tanya Richard khawatir.


bersambung.


next?

__ADS_1


__ADS_2