Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
WAKTU TERUS BERPUTAR


__ADS_3

Akhirnya Baronetess Hilda menikah dengan Raja Lucyfer, pria bengis itu menatap kesungguhan gadis yang ada di depannya. Hilda memang sudah jatuh cinta pada pria yang begitu tampan.


"Aku mencintaimu Yang Mulia, ketika pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu!' aku Hilda saat itu.


Baronetess Imelda tadinya meminta pengampunan pada Raja Lucyfer karena kelancangan putrinya, tak disangka. Pria penguasa itu malah menerima cinta Hilda tanpa menanggalkan gelar kebangsawanannya. Hilda menerima, satu bukti lagi cinta mampu mengalahkan ego. Hilda tetap sebagai Baronetess walau ia adalah seorang permaisuri raja.


"Menurut adat dari kebangsawanan, semestinya istri dari raja harus diberi pangkat Duchess," ujar Countess Diana Lorenzo.


"Terlebih Yang Mulia adalah seorang bangsawan, bukan seperti Permaisuri Leana Right awalnya," lanjutnya.


"Mestinya Permaisuri Leana juga bergelar Duchess bukan?" Countess Diana mengangguk.


"Tapi Permaisuri memilih gelar Countess dibanding Duchess karena kedudukannya sebagai pelayan pada awalnya. Aku seorang Baron, maka selamanya Baron tetap ada!" jelasnya panjang lebar.


Pernikahan lagi-lagi digelar. Kini tinggal Raja Namont yang sendirian. Pria itu terlalu banyak berpikir, Namont akhirnya kehilangan semuanya. Kini pasangan pengantin di arak di wilayah kerajaan Lucyfer, Hilda begitu bahagia. Gadis itu selalu merangkul lengan suaminya, ia tak mau dipisahkan oleh pria itu.


"Yang Mulia," panggilnya.


"Ada apa?" sahut Lucyfer.


"Jika suatu hari kau tak lagi mencintaiku dan mencintai wanita lain, aku harap saat itu juga kau langsung membunuhku Yang Mulia," pinta Hilda sungguh-sungguh.


'Jangan bercanda istriku!' tekan Raja Lucyfer tak suka.


"Tapi aku tidak bercanda Yang Mulia. Sungguh, aku tak sanggup jika kau malah meninggalkanku!" ujar gadis itu tak main-main.


"Atau jika kau tak mau membunuhku. Maka aku akan ... mmmppppfffhhh!'


Hilda terhenti ucapannya karena Lucyfer mencium bibirnya rakus. Pria itu tak mau mendengar perkataan sang gadis yang baru saja resmi jadi istrinya. Baru kali ini ia mendapatkan cinta begitu besar dari seorang wanita.


"Aku akan mencintaimu sayang ... aku akan mencintaimu!" sumpah Lucyfer.


Kaisar Henry menepuk bahu Raja Namont yang menatap kemesraan sepasang pengantin di singgasana mereka. Semua rakyat tampak bahagia.


"Aku bisa mencarikan gadis untukmu Raja," ledek Kaisar.


Raja Namont hanya bisa menghela napas panjang, pria paling berkuasa itu terkikik geli meninggalkannya.


"Ah ... kenapa Yang Mulia jadi terkontaminasi kelakuannya seperti Princess Anna dan Princess Joana ya?" gumamnya sebal sendiri.


"Yang Mulia Namont!' pria itu menoleh.


"Duke Mayer!" sahutnya.


"Perkenalkan ini putriku Duchess Marissa Mayer," ujar pria itu memperkenalkan putrinya.

__ADS_1


Raja Namont begitu nampak keengganan pada sang gadis ketika harus menekuk kaki padanya, bahkan matanya tak mau menatap wajah pria itu.


"Apakah kau dipaksa oleh ayahmu Duchess?" tanya pria itu.


Marissa tentu terkejut, gadis itu menormalkan sikapnya dan kini menekuk kaki dengan benar.


"Untuk apa kau memperkenalkan putrimu yang kurang sopan ini Duke?" tanya sang raja dengan nada tak suka.


"Maaf Yang Mulia," ujar pria tua itu malu.


"Jangan salahkan ayah hamba Yang Mulia!" sahut Marissa ketus.


Gadis itu tak suka jika sang Raja terus menerus menyalahkan ayahnya akibat kelakuannya yang tak sopan.


"Lalu aku harus menyalahkan siapa? Ibumu?" sindir Raja Namont.


"Jangan bawa-bawa ibuku!' sentak gadis itu menatap marah pada sang raja.


"Jaga sikapmu Nona, jika memang kau berat dengan gelarmu, kau bisa menanggalkan kebangsawananmu dan hidup sebagai rakyat biasa. Tak ada yang mencegahmu!" Raja Namont membalas tatapan sang gadis dengan pandangan menusuk.


"Jika ayah dan ibumu telah mengajarimu tata krama bangsawan, tapi kau bertingkah seperti manusia liar. Maka kau tak pantas menjadi putri mereka!' lanjutnya begitu keras.


Marissa menangis, kesalahan fatal ia menantang seorang raja yang tentu telah banyak memakan asam garam kehidupan. Raja Namont tentu sangat bisa menang dari gadis keras kepala seperti Marissa.


Raja Namont memilih meninggalkan keduanya, Marissa menangis dan meminta maaf pada sang ayah.


"Maafkan aku ayah ... hiks ... hiks,"


"Sudahlah, mungkin Raja benar. Ayah akan menanggalkan gelar bangsawan ini dan menjadi rakyat biasa agar kau tak tiap hari berbenturan dengan protokol bangsawan," ujar pria itu pasrah.


"Tidak ayah ... tidak!" tolak Marissa.


"Aku janji akan berubah Ayah ... aku janji," lanjutnya.


"Berusahalah Nak. Tadinya ayah ingin menjodohkanmu dengan Raja Namont tapi sikapmu yang begitu kasar seperti tak terdidik, ayah jadi malu sendiri," ujar pria itu.


Marissa diam, Mayer meninggalkan putrinya yang kini menunduk menyesal. Para bayi tentu diungsikan di tempat lain agar tak mengganggu jalannya pesta.


Kini gadis itu menatap Raja Namont yang tengah bersalaman dengan Raja Lucyfer yang begitu bahagia. Pria itu memang sudah tua untuk ukurannya. Marissa baru berusia dua puluh tiga tahun.


"Dia tampan juga," gumamnya.


"Eh ... apa yang kau pikirkan Marissa!" keluhnya dalam hati.


Tapi netranya terus menatap wajah pria yang tadi begitu garang dan tegas kini tersenyum kikuk di sana. Lagi-lagi gadis itu terpesona.

__ADS_1


"Ah ... kenapa dia jadi tampan sih!" dumalnya kesal.


"Siapa yang tampan?" tanya sebuah suara begitu penasaran.


"Raja Namont," jawab Marissa spontan tanpa tau siapa yang bertanya.


"Memang Raja Namont tampan," sahut suara itu setuju.


Marissa menoleh, tampak Ratu Raisa berdiri di sisinya. Mata amber sang ratu mampu menghipnotis netra gadis itu. Marissa tak berhenti menatapnya dengan mata membulat. Gadis itu mendadak kaku tak dapat bergerak. Kharisma sang ratu memang luar biasa.


"Kejarlah dia Yang Mulia!" suruh sang ratu lalu menepuk bahu sang gadis.


Marissa tersadar ketika Ratu Raisa meninggalkannya. Matanya mengedar mencari keberadaan Raja Namont, tiba-tiba gadis itu merasa kehilangan pria itu.


Ia marah ketika ada gadis yang berpakaian begitu seksi mendekati pria itu. Marissa begitu percaya diri dan langsung mengalungkan lengannya ke lengan sang raja.


Raja Namont tentu terkejut dengan perlakuan Marissa. Tapi memang ia butuh bantuan gadis itu sekarang.


"Sayang, ada keperluan apa Duchess Emanuella denganmu Yang Mulia?" tanyanya penuh kelembutan.


Netra Raja Namont menatap netra sang gadis. Pria itu tak mampu berkata apapun. Sedangkan Duchess Emanuella sangat kesal.


"Justru aku yang bertanya padamu, kenapa kau begitu berani merangkul lengan Yang Mulia raja?" sahutnya kesal.


"Aku dijodohkan dengan Yang Mulia Raja Namont jika kau ingin tau!' jawab Marissa begitu tegas.


Raja Namont hanya diam, ia membiarkan apa yang ingin dikatakan Marissa.


"Jangan membohongi kami Yang Mulia!' sanggah Emanuella tak percaya.


"Duchess Emanuella Lobirth!" sentak Duchess Marissa Mayer.


"Kau tau kekuasan ayahku jauh lebih berpengaruh dibanding kekuasaan ayahmu. Wilayah kekuasaan ayahku jauh lebih menguntungkan kerajaan dibanding luas kekuasaan milik ayahmu!" jelas Marissa begitu berani.


"Dan tak hanya itu!' lanjutnya.


"Aku mencintai pria ini!"


Marissa menjinjit dan mencium bibir sang raja. Walau ini adalah ciuman pertamanya, tapi gadis itu harus cepat mengambil tindakan agar sang raja tak menjadi milik orang lain.


bersambung.


Wanita itu kadang harus nekat jika ingin menggapai apa yang ia inginkan.


Next?

__ADS_1


__ADS_2