Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
THE HORTON'S QUARTO


__ADS_3

Rakyat tumpah ruah di pinggir jalan. Horton's quarto baru saja dibaptis, kini keempatnya diarak bersama ayah dan ibunya menaiki kereta kuda berlapis emas. Bayi-bayi menggemaskan itu bermata amber seperti ibunya. Hanya Princess Elizabeth yang bermata gelap seperti sang ayah.


Kaisar Henry menggerakkan tangan kecil bayinya ke arah semua warga. Beberapa warga melempar boneka ke arah kereta. Ratu Raisa sigap menangkap boneka-boneka itu agar tak mengenai bayi-bayinya.


"Prince! Princess!" panggil para warga.


Kini Kaisar Henry dan Ratu Raisa berada di balkon. Sepasang suami istri itu saling berciuman atas permintaan rakyatnya.


"Kiss her King!'


Kecupan bibir terjadi, semua bersorak, empat bayi tampak tenang dengan mata memejam. Dua pangeran tampak menguap karena mengantuk. Semua tentu meleleh melihat kelakuan lucu bayi-bayi itu.


"Ouuuh so sweet!"


Kini keempat bayi ada di kereta dorong mereka, Kaisar Henry memamerkan bayi-bayinya.


"Mereka tampan dan cantik ya," puji Raja Raymon.


Raja Raymond, Raja Darly datang bersama istri mereka. Kedua raja itu telah menikah satu tahun lalu, namun belum ada tanda jika istri mereka hamil. Raja Namont baru menikah enam bulan lalu tentu belum memiliki anak. Raja Jones malah belum beristri.


"Selamat atas kehadiran putra dan putri mahkota!" seru mereka mengangkat gelas berkaki.


"Silahkan menikmati pesta saudaraku!" ujar Kaisar Henry.


Sandra menatap bayi-bayi dalam kereta dengan tahapan tak suka. Ingin sekali ia mendorong kereta-kereta itu ke luar dan menjatuhkan semua bayinya. Mendapat tatapan jahat seorang wanita, empat bayi menangis. Ratu Raisa langsung membawa mereka pergi ke kamar dibantu oleh para maid.


"Maaf, mungkin mereka kelelahan," ujar Kaisar Henry.


"Tak masalah Yang Mulia!" sahut keempat pria di sana.


Para permaisuri Raja tengah asik menikmati hidangan yang enak. Sandra mendekati mereka.


"Apa kalian tak masalah dengan para pangeran dan putri kaisar?" tanyanya.


"Masalah di mana?" tanya permaisuri Darly.


"Masalah jika bukan putra kalian yang akan memimpin kerajaan kalian," jawab Sandra.


"Oh, Raja Raymon telah menjelaskan ketika menikah dulu. Jika putra atau pun putri yang dilahirkan kemungkinan tak akan menjabat jadi raja karena kerajaan ini tunduk pada pemerintahan tertinggi," jawab permaisuri Darly.


"Kau ... maksudku, Yang Mulia tak masalah?"


"Tidak, aku tak masalah. Karena aku hanya ingin semua keturunanku bahagia," jawab permaisuri Darly diikuti anggukan permaisuri Raymond.


"Tapi sebagai keturunan langsung, mestinya putra dan putri kalian memiliki hak atas kepemimpinan kerajaan ayah mereka," ujar Sandra coba menghasut.


"Aku yakin Kaisar Henry pasti bijaksana untuk memberikan porsi pada keturunan asli kerajaan," jawab Permaisuri Raymond.


Sandra mendekus pelan. Ia rupanya tak berhasil menghasut para istri raja untuk memboikot pangeran dan putri yang baru lahir dua minggu lalu itu.

__ADS_1


"Sial!" makinya kesal.


Raja Jones memilih berkeliling istana, banyak bangsawan hadir termasuk Hilda dan ibunya. Pria itu mendatangi keduanya.


"Bagaimana, kalian seperti betah bekerja di sini?" tanyanya.


"Benar Yang Mulia, kami betah. Selain gaji yang besar, semua fasilitas kami dapatkan,"


Raja Jones mengangguk. Tadinya ia ingin meminta Hilda menjadi istrinya. Tapi ia tak merasakan getaran pada gadis itu. Pria itu melangkah. Menatap sebuah jendela di sana Ratu Raisa tengah bermain bersama bayi-bayinya.


"Apa masih ada gadis seperti Ratu?" tanyanya bergumam.


Pria itu membalikkan badan ketika jendela kamar ditutup oleh salah satu maid. Ketika ia berbalik, tak sengaja bertabrakan dengan pelayan yang membawa nampan.


Bruk!


"Astaga!" pekik Raja Jones marah.


"Apa kau tak lihat jalan?!" sentaknya.


"Ampun Yang Mulia! Saya tak sempat menghindar karena. tak melihat!' ujar pelayan itu langsung menyembah.


Pelayan itu bergetar ketakutan, ia meyakini hukuman cambuk akan ia dapatkan.


"Lihat pakaianku!' sentak Raja Jones marah.


"Ada apa ini!" seru Raja Horton, ayah dari Kaisar Henry.


Baju kebesarannya basah. Tubuhnya terasa lengket akibat minuman yang tumpah di bajunya.


"Ampuni saya Yang Mulia!" pelayan itu masih bersujud meminta pengampunan.


"Kau bersihkan dulu bajumu di kamar Yang Mulia!" suruh Raja Horton.


"Kau bawa Yang Mulia Jones ke kamar tamu. Di sana banyak baju kebesaranku yang pasti muat di tubuh Raja Jones!" titahnya pada maid yang bersujud.


"Baik Yang Mulia!" sahut maid itu lalu berdiri.


Raja Jones mengikuti gadis pelayan itu menuju kamar tamu. Gadis itu segera mengambil baju warna hitam juga celananya.


"Apa Yang Mulia Raja hendak membersihkan diri juga?" tanya pelayan itu masih setia menundukkan kepalanya.


"Bantu aku melepas bajuku!" titahnya.


Dengan takut-takut, gadis itu bergerak melepas semua atribut kerajaan dan meletakkannya pada baki beralas beludru hitam.


Gadis itu terpana menatap dada berotot milik Raja Jones. Pria itu memang sudah berumur. Tetapi, masih gagah dan berwajah tampan.


Raja Jones penasaran dengan wajah pelayan. Jika dilihat, alis dan bulu mata lentik tebal dan hitam juga rapi. Pria itu yakin jika pelayan ini memiliki paras cantik.

__ADS_1


"Tatap aku!" seketika pelayan itu mengangkat wajah.


Benar saja, sepasang mata beriris hijau menatapnya, hidung mungil dan mancung, bibir merah muda alami. Pipi chubby dan dagu yang terbelah.


"Cantik," pujinya bergumam.


Sedang sang pelayan menatap mata hazel milik sang raja langsung terhipnotis. Gadis itu semakin ingin menatap mata yang begitu indah itu.


Entah kenapa tubuh keduanya saling mendekat. Tangan Raja Jones terangkat, ia merapikan riapan rambut sang pelayan.


"Yang Mulia!" cicit sang gadis lalu memutuskan pandangannya.


Wajah pelayan itu kembali tertunduk. Tangannya salin memilin. Ia menunggu perintah Raja tampan itu.


"Siapa namamu?" tanya pria itu.


"Leana Right Yang Mulia!" jawab gadis itu.


"Siapkan air hangat!" titah pria itu.


Dengan sigap, Leana menyiapkan air hangat. Butuh waktu dua puluh menit, Raja Jones memilih merebahkan dirinya di kasur. Tampak Leana mondar-mandir ruangan itu.


"Air hangat sudah siap Yang Mulia!" ujar gadis itu.


Raja Jones membuka celananya, Leana tentu memalingkan muka. Pria itu tak tahan, ia sangat ingin bercinta dengan gadis cantik itu.


"Leana!" panggilnya.


Leana tak berani bergerak sebelum sang raja mendekapnya erat. Raja Jones membenamkan bibirnya dan menaut bibir dingin sang pelayan.


"Yang Mulia!" panggil pelayan itu lirih.


"Balas ciumanku Lea!" pinta Jones kembali meraup bibir manis gadis itu.


"Hamba tak bisa Yang Mulia," ujarnya menahan tubuh sang raja yang mulai memeluk erat dirinya.


"Lea, aku menginginkanmu,' ujar Jones dengan suara serak.


"Yang Mulia, hamba mohon ...," pinta gadis itu lirih.


Raja Jones menghentikan aksinya. Ia menatap gadis yang matanya sudah basah. Pria itu melayangkan ciuman mesra di kening sang gadis.


"Maafkan aku," ujar pria itu.


Raja Jones masuk kamar mandi dan menenangkan dirinya yang terbakar gairah. Sedangkan Leana menahan tangisnya, ia sungguh ketakutan jika melayani sang raja. Sebagai pelayan ia tak bisa menuntut apa-apa. Gadis itu telah menyiapkan semua pakaian sang raja. Ia hanya menunggu dengan duduk di kursi kecil untuk memakaikan baju Raja Jones.


bersambung.


Uh ..

__ADS_1


next?


__ADS_2