Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
WAFATNYA AYAHANDA RAJA HORTON


__ADS_3

Raja Horton jatuh sakit. Hal ini membuat semua kalangan sibuk termasuk Kaisar Henry.


"Ayah," panggilnya pada sosok tua yang berbaring lemah.


Ratu Raisa mengupayakan akupuntur pada tubuh pria itu. Tetapi, usahanya seperti sia-sia. Tubuh pria itu memang sudah terlalu tua. Kaisar Henry memegang tangan sang ayah. Ia ciumi dengan lembut.


"Ayah ... sehat Yah," pinta pria penguasa itu dengan suara getir.


Ratu Raisa menyerah, tak ada satu denyut nadi yang bisa ia sentuh. Mata wanita itu mengembun.


"Sayang," panggilnya putus asa.


Kaisar Henry menutup matanya. Ia sudah yakin jika ayahnya akan meninggalkan dirinya selamanya.


"Apa Ayah tak bisa bertahan?" tanyanya.


"Maaf sayang. Jantung ayah sudah lemah, tak ada satu nadi pun yang terpegang. Semua syarafnya juga sudah tidak bisa bekerja dengan baik," jawab Ratu Raisa setengah berbisik.


Istana mendadak mendung. Semua pegawai berdiam diri. Mereka hanya bekerja untuk makan para staf.


"Nak," panggil pria tua itu.


"Ayah .. Ayah, aku di sini," ujar Henry langsung mendekat.


"Ibumu datang sayang," ujar pria itu sudah berhalusinasi.


"Ayah ...," panggil pria penguasa itu.


"Aku masih membutuhkan dirimu," lanjutnya setengah memohon.


"Maafkan ayah sayang," pinta Raja Albert Horton lemah.


"Ayah," panggil Kaisar lirih.


Ratu Raisa memeluk suaminya. Raja Horton sudah berpulang lima detik lalu. Tanpa ada kesakitan yang berarti, pria tua itu pergi dengan tenang. Sir Alex menuju balkon dan mengumumkan berita duka itu.


"Telah beristirahat dengan tenang. Raja Albert Horton II, pada pukul 11.45 Am!"


Bendera kekaisaran diturunkan setengah tiang. Semua rakyat menangis. Di bawah kepemimpinan Raja Horton, seluruh rakyat makmur tak ada diskriminasi. Seluruh rakyat langsung memakai baju hitam tanda berduka yang dalam.


Kaisar Henry duduk dengan tatapan kosong. The Quarto's Horton's Emperor juga duduk dengan kepala tertunduk dengan linangan air mata di pipi. Sudah tidak ada lagi kakek yang menyayangi mereka. Sudah tidak ada lagi kakek yang akan membela mereka. Ratu Raisa harus berdiri di tengah dengan kepala tegak. Kini sang Kaisar tengah berduka, hati seorang anak laki-laki yang sedih telah kehilangan sosok ayah yang selama ini menjadi panutannya. Bahkan berkat plakat sang ayah, Kaisar Henry memiliki istri luar biasa sekarang.


Ratu Raisa memimpin pemakaman. Raja Horton ditaruh dalam peti bernuansa kayu mahoni yang di dalamnya dilapisi kain terbuat dari benang emas. Sang mendiang raja dikenakan baju kebesarannya. Begitu tenang dan damai menutup mata.

__ADS_1


Semua raja datang dengan wajah menunduk. Princess Anna sangat sedih kehilangan pria yang selalu menggelitik perut bulatnya itu. Bayi baru dua tahun itu kini dalam gendongan sang ayah, ibunya tengah hamil besar.


"Saya atas nama dari mendiang Raja Albert Horton II, memohon permintaan maaf sebesar-besarnya jika ada kesalahan ketika belia masih hidup. Saya sebagai istri dari Kaisar Henry yang tengah berkabung, akan memimpin upacara pemakaman!"


Peti bergerak, the Quarto's Horton's Emperor menangis memanggil kakek mereka. Kaisar Horton makin terisak. Setelah berpulangnya sang ibu, hanya sang raja yang selalu bersamanya. Ratu Raisa menghampiri suaminya, sebagai istri kaisar, ia harus jadi pondasi yang kuat bagi pilar yang tengah dilanda badai. Ia juga harus mengayomi empat anak kembarnya yang baru berusia empat tahun itu. Marquez Albert menangkan empat keturunan kekaisaran bersama Marquez Arthur.


Kini peti diletakkan di atas kereta kencana khusus yang ditarik delapan kuda terbaik. Seluruh rakyat menangis dan memanggil nama mendiang raja mereka sambil mengucap terima kasih.


"Thank you My King, thank you!"


Tangisan Kaisar Henry pecah, ia memeluk istrinya, begitu juga empat anaknya. Sungguh, Ratu Raisa menahan air matanya. Tapi, sebagai seorang perempuan, air mata itu akhirnya mengalir. Tangannya menjulur mengelus kepala sang suami dan mengecup begitu juga yang ia lakukan pada empat anaknya.


Semua rakyat melempari kereta pembawa peti dengan tangkaian bunga mawar. Tangis sedih mengiringi kepergian sang raja hingga ke peristirahatannya yang terakhir.


Perlahan peti diturunkan. Kaisar Henry tak tahan, ia memeluk erat istrinya. Sedang anak-anak ditangani oleh Marquez Albert dan beberapa maid, Rosa ada di sana.


"From the dust too the dust!" ujar Pendeta menebar tanah ke udara.


Peti sudah ditimbun dengan tanah. Kaisar Henry sudah mulai tenang. Ia kini bisa menabur bunga di atas pusara ayahnya, begitu juga dengan istri dan empat anaknya. Para raja dan permaisuri juga menaburkan bunga. Kini makam itu penuh dengan bunga. Ungkapan bela sungkawa dari berbagai negara. Berita meninggalnya Raja Horton menjadi berita utama di koran.


"Huueek!" Ratu Raisa mendadak mual.


"Sayang ... jangan sakit ... aku mohon," pinta pria itu ketakutan.


"Mommy istilahat saja, aku lihat Mommy dari kemarin sibuk dan tak tidur-tidur," ujar George yang disertai anggukan tiga saudaranya.


"Maafkan aku sayang. Aku melimpahkan semua pekerjaan padamu," ujar kaisar menyesal.


"Jangan berkata apapun, sayang. Yang Mulia juga harus makan, dari kemarin Kiasar tak memakan sedikit pun,"


"Baiklah, kita makan bersama ya,"


Kini mereka makan di meja makan. Walau tidak bernapsu, semua memaksa makan agar tak jatuh sakit. Namun Ratu Raisa memuntahkan semua makanan yang masuk ke dalam perutnya.


Hal itu membuat empat anak dan suaminya menangis. Ratu Raisa kembali muntah air bening yang begitu pahit di mulutnya.


Albert, ayah dari ratu juga sangat khawatir, pria itu sudah pensiun, kini istrinya juga menatap sang putri dalam keadaan cemas.


"Yang Mulia!' pekik para maid khawatir terlebih Rosa.


"Sayang,"


"Mama dan Papa sebaiknya istirahat, pinta Ratu Raisa.

__ADS_1


"Rosa!"


"Hamba Yang Mulia!' Rosa datang dengan wajah tertunduk.


"Bawa ayah dan ibuku ke kamar mereka!" perintahnya.


Akhirnya sepasang suami istri tua itu dibawa ke kamar mereka. Ratu Raisa menenangkan kedua orang tuanya agar tak terlalu khawatir.


"Ayo Ratu!" ajak Kaisar Henry masih terisak.


"Mungkin aku terlalu lelah sayang," ujar Raisa menenangkan suaminya.


"Aku mau tidur sama Mommy!"


George naik ke tempat tidur dan memeluk ibunya. Hal itu diikuti oleh semua saudaranya. Kaisar Henry juga merebahkan diri di sana. Para maid keluar dan menutup pintu. Suasana berkabung masih terasa. Namun pekerjaan dan roda kehidupan masih terus berjalan.


Para tabib dan dokter masuk ke istana. Para dokter wanita ingin memeriksa sang ratu.


"Yang Mulia, selamat! Yang Mulia tengah mengandung!"


"Kau bercanda Dok!' sanggah Kaisar Henry tak percaya.


"Benar Yang Mulia, Ratu Raisa tengah mengandung. Maaf Yang Mulia, kapan terakhir haid?"


"Sekitar tiga minggu lalu," jawab wanita istri penguasa itu.


"Diperkirakan usia kandungan Yang Mulia juga sekitar tiga minggu," ujar dokter itu.


Kini setelah kabar duka diberitakan, Sir Alex kembali mengatakan kehamilan ratu mereka. Semua rakyat pun menyambut berita gembira itu.


"Rupanya Tuhan begitu baik pada kita. Kita tak boleh bersedih terus menerus, Tuhan mengganti kedukaan dengan kegembiraan!" ujar salah satu warga.


"Ya, kita harus berpesta, kebetulan semua hasil pertanian panen besar. Kita bisa menyambut kabar itu dengan pesta besar!"


Walau nyaris seluruh warga memakai baju berwarna hitam. Mereka menyambut calon keturunan putra maupun putri kaisar. Mereka senang banyak penerus untuk menggantikan kepala wilayah-wilayah Kekaisaran.


Bersambung.


RIP Raja.


Selamat Ratu!


Next?

__ADS_1


__ADS_2