
"Duchess,"
Raja Namont melepas bibir yang hanya menempel saja di bibirnya. Sepasang mata cantik tampak berkaca-kaca. Namont dapat melihat cinta di mata indah itu.
"Bukan begitu cara ciuman yang benar," ujarnya lalu memagut perlahan bibir manis sang putri bangsawan.
Duchess Emanuella menghentakkan kakinya. Gadis itu pun pergi meninggalkan keduanya yang berciuman, sedang yang lain hanya fokus pada pesta yang berlangsung. Ciuman itu makin lama makin dalam dan menuntut. Duchess Marissa kehabisan pasokan udara mulai memukul dada sang raja.
"Yang Mulia ...," nafas Marissa terengah-engah.
Kening keduanya menempel, tinggi Marissa hanya sedada Raja Namont. Pria itu memeluk dan mengelus punggung sang gadis. Dari awal ia memang sudah tertarik dengan gadis keras kepala ini.
"Kenapa kau menciumku Yang Mulia?" tanya Raja Namont lirih.
Pria itu mengecup hidung mancung sang gadis. Kini tubuh mungil Marissa ia peluk erat. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang raja. Ia malu bukan main.
"Maaf Raja, aku lancang," jawabnya lirih.
"Apa benar kau mencintaiku?" tanya sang raja lagi.
Marissa tak dapat keluar dari pelukan hangat sang raja. Gadis itu malah makin menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan hangat itu.
"Yang Mulia Duchess?"
Raja Namont sangat menyukai cara Marissa yang malah menenggelamkan dirinya dalam pelukan. Pria itu yakin jika sang gadis kini malu luar biasa.
"Itu adalah ciuman pertamaku," cicitnya lirih.
"Ikut aku!" ajak sang raja.
"Yang Mulia!" rengek manja Marissa membuat hati Raja Namont berbunga-bunga.
Pria itu merangkul sang gadis dan menenggelamkan tubuh kecil Marissa dengan jubahnya. Kini mereka ada di taman bunga yang begitu indah. Kota gersang milik kerajaan Lucyfer berubah ditangan Ratu Raisa. Pemandangan indah ditemui di mana-mana. Bahkan sang ratu juga membangun taman emas, di mana semua bangku dan spot terbuat dari emas murni. Tak ada satu orang yang berniat mencuri karena memang mereka dijaga ketat oleh banyak petugas keamanan.
"Kemarilah!"
Raja Namont menarik tubuh sang gadis dan kini dalam pangkuannya. Pria itu kembali mencium bibir sang gadis. Tentu saja hal itu membuat Marissa terkejut.
"Balas ciumanku Marissa!" perintah sang raja kembali memagut dan memilin bibir yang kini menjadi candunya.
Pria ini tentu sudah sangat berpengalaman dalam hal ciuman. Bukan hal sulit mengajari seorang gadis yang baru melakukan ciuman pertama kalinya.
__ADS_1
"Aku tak tau Yang Mulia," jawab Marissa di sela-sela ciuman mereka.
"Buka mulutmu!' titah sang raja.
Marissa perlahan membuka mulutnya. Raja Namont tak sabar langsung meneroboskan lidahnya ke dalam mulut dan mengekplor seluruh rongga dan menggoda lidah sang gadis.
Perlahan Marissa mengerakkan lidah dan bibirnya, mulai membalas ciuman sang raja. Walau sedikit kaku, tapi hal itu membuat Raja Namont makin dalam mencium bibir sang gadis.
Keduanya mengakhiri ciuman mereka dengan kening dan hidung saling menempel. Lengan Marissa bertumpu pada bahu sang raja. Sesekali bibir mereka saling mengecup.
"Apa kita menikah sekarang?" tanya gadis itu polos.
Raja Namont terkekeh, rona merah langsung menyeruak di pipi halus sang gadis. Marissa merengek manja pada pria yang tadinya berseteru dengannya itu.
"Apa kau siap dengan semua protokoler yang ada?" tanya pria itu menatap lekat pada sepasang mata indah yang kini memandangnya penuh pemujaan.
"Asal aku bersamamu, aku siap," jawab gadis itu dengan rona di pipinya.
"Kau lucu sekali!" gemas pria itu kembali mengecup bibir sang gadis.
"Yang Mulia!" rengek Marissa manja.
"Baik lah, aku akan melamarmu sekarang dan jika Kaisar bersedia menikahkan kita. Kita akan menikah sekarang juga!" ujar pria itu.
Kini keduanya berada di depan ayah sang gadis. Tentu Duke Mayer terkejut dengan apa yang ia lihat. Padahal baru saja sang putri enggan menatap Raja Namont. Kini malah gadis itu berada dalam rengkuhan pria itu.
"Aku hanya menyerahkan semua pada putriku Yang Mulia, jika pun dia nanti jadi istrimu, bersabarlah," jawab Duke Mayer haru.
Raja Namont kini berhadapan pada Kaisar Henry. Pria paling berkuasa itu hanya menggaruk kepalanya. Ia juga tak menyangka jika keduanya malah ingin dinikahkan sekarang juga.
"Kau mau menikah tanpa baju pengantin?" tanya sang Ratu pada putri bangsawan itu.
"Sama-sama baju kan?" sahut gadis itu cuek.
Ratu Raisa mengangguk membenarkan sahutan gadis itu. Maka, bunga yang dipegang oleh Permaisuri Hilda kini dipinjamkan pada Duchess Marissa Mayer, begitu juga layer penutup wajah. Bahkan sang ratu mendandani Duchess Marissa agar terlihat lebih segar dan cantik.
"Dihadapan Tuhan aku Kaisar Henry kembali menikahkan kalian, Raja Abraham Namont bersediakah engkau menjadi suami dari Duchess Marissa Mayer?" tanya Kaisar Henry yang kembali menjadi pendeta suci di pernikahan Raja Namont.
"Aku bersedia!" jawab sang raja begitu tegas.
"Duchess Marissa Mayer bersediakah engkau menjadi istri dari Raja Abraham Namont?" tanya Kaisar Henry lagi.
__ADS_1
"Aku bersedia!" jawab Marissa begitu tegas sambil menatap Namont dihadapannya.
"Dengan begitu kini kalian sah menjadi suami istri di hadapan Tuhan dan Kekaisaran Horton!" seru Kaisar.
"Pakaikan cincin di jari dan silahkan kau cium!"
Raja Namont menyematkan cincin yang memang selalu ia simpan di sakunya. Lalu ia membuka layer tipis dan mencium bibir sang istri lembut. Semua bertepuk tangan. Para rakyat begitu bahagia karena kembali terjadi pernikahan.
"Baru kali ini ada dua pernikahan di hari yang sama!" ujar salah satu warga begitu gembira.
"Iya, aku tak menyangka jika Raja Namont langsung menikahi Duchess Marissa, padahal mereka baru mengenal dan dijodohkan!" sahut salah satu warga lainnya.
"Hari ini sejarah besar terjadi di kerajaan Lucyfer dan Kerajaan Namont. Kedua raja menikah di hari yang sama pada waktu yang berbeda," catat petugas pencatat harian kerajaan.
Pesta makin meriah. Terlebih kini dua raja dan permaisuri bersanding di pelaminan. Banyak bangsawan terutama para gadis yang iri dengan keberuntungan dua gadis yang kini bersanding dengan dua raja tampan itu.
"Mestinya aku yang di sana!' dumal Duchess Emanuella kesal.
Gadis itu melirik ayahnya yang kini malah tertawa bahagia bersama Duke Mayer. Ia begitu kesal dengan sang ayah yang seperti tunduk pada mertua dari Raja Namont itu.
"Ihh!' gadis itu makin menghentakkan kakinya melihat sang ayah kini malah bersalaman dengan dua pasang pengantin.
"Kau kenapa?" tanya salah seorang gadis bangsawan.
"Mereka sama sekali tidak pantas!" jawab Emanuella kesal.
"Huh ... kukira hanya aku yang berpendapat sama. Apa bagusnya Hilda dan Marissa itu!" sahut gadis itu menyulut emosi Emanuella.
"Tapi sayangnya, mereka lah yang sekarang bersanding dengan raja!" celetuk salah satu di antara mereka.
'Kau tau a ... Yang Mulia Ratu!"
Emanuella nyaris menghardik ratunya. Raisa hanya menggeleng pada dua gadis yang kini menunduk.
"Kau tau kenapa Raja Lucyfer dan Raja Namont memilih dua gadis itu?" baik Emanuella dan satu gadis menggeleng.
"Cinta, ketulusan dan apa adanya," lanjut sang ratu lalu meninggalkan dua gadis bangsawan itu.
bersambung.
Yang pasti adalah hati yang memilih siapa yang terbaik.
__ADS_1
Terkadang alam menuntun manusia untuk memilih dan menolak jalan yang kita ambil. Namun hanya sedikit yang bisa melihat sela baik itu.
Next?