Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
AKHIRNYA


__ADS_3

Persidangan Laura berjalan. Semua bukti lengkap, hakim telah mendapat keputusan mereka untuk menghukum Laura dengan tingkat kejahatan level satu. Pembunuhan berencana dengan sangsi hukuman mati atau penjara paling ringan seumur hidup.


"Saudari terdakwa Laura Jhonson!" sahut hakim.


Gadis berusia tujuh belas tahun menunduk pasrah. Gadis itu menyerah kalah, harapan dengan gelimang harta, sampai ia mampu menjadi sosok pembunuh. Laura bersiap menanti kematiannya.


Hakim membacakan segala macam berita acara yang selama persidangan berlangsung. Sikap koorperatif Laura dijadikan acuan hakim untuk meringankan hukuman.


"Kami putuskan saudari terdakwa dengan hukuman delapan puluh lima tahun penjara!" putus hakim mengetuk palu.


Laura terkekeh mendengar hukuman itu. Dengan penjara selama itu mengatakan jika ia akan hidup di terali besi seumur hidupnya. Walau tak merasa puas, David menerima keputusan itu.


"Kami akan memberikan waktu pada terdakwa selama tujuh hari untuk melakukan banding!" putus hakim lalu mengetuk palu.


Laura menatap paman yang dulu menyayanginya kini menatapnya penuh kebencian. Satu titik air mata penyesalan jatuh.


"Aku membenci putrimu Paman!" bisiknya lirih. "Aku berharap dia tak bahagia selamanya!"


"Aku memastikan putriku bahagia Laura!" tekan David.


"Kau akan kubuat menderita di dalam sana!" lanjutnya dengan seringai sadis.


Laura terdiam, ia lagi-lagi lupa jika pamannya itu seorang pengacara dan orang memiliki pengaruh tinggi. Pria itu bisa melakukan apapun dan tak akan bisa tersentuh hukum.


"Hei ... dia mengancam ku!" teriak Laura.


"Tangkap dia!"


Gadis itu meronta, ia berteriak memaki David dengan kata-kata kasar. Menyumpahi pria itu. David mengepal tangan kuat, seperti sumpahnya, ia akan membuat Laura menderita dalam penjara.


Persidangan akan dilanjutkan jika ada banding dari pihak terdakwa. Tetapi, kekuasaan David Jhonson membuat pengacara dari keponakannya itu tak akan melayangkan banding.


David kembali ke perusahaannya, pria itu duduk dengan menghela napas lelah. Regina datang ke kantor suaminya dengan membawa makanan.


"Kau lelah sayang?" pria itu mengangguk.


Regina duduk di pangkuan suaminya. Mengusap peluh pria yang ia cintai itu. Menatap netra yang terpejam, lalu mengecup bibirnya.


David langsung membalas ciuman itu. Tangannya menahan tengkuk istrinya yang hendak menjauhkan mukanya.


"Mom, Dad ... ups ... sorry!"


Geisha mendatangi kantor ayahnya atas perintah sang ibu. Kampusnya cukup dekat, gadis itu hanya berjalan kaki ke sana. Geisha memang jarang memakai mobil pribadi, gadis itu lebih suka pakai kendaraan umum.


"Masuk sayang!" kekeh Regina.


Wanita itu berdiri dari pangkuan suaminya, David sedikit merengek. Ia memonyongkan bibirnya. Regina mencium cepat, David hanya bisa menghela napas panjang.


Geisha tersenyum lebar melihat kejadian romantis tadi. Sudah lama ia tak menyaksikan ayah dan ibunya bermesraan. Regina seorang dokter umum yang terkenal, ia juga menguasai akupuntur. Kebersamaan mereka berdua sangat jarang terjadi akibat kesibukan masing-masing. Tetapi untuk putri mereka, keduanya selalu kompak.


"Ayo makan sayang!" ajak Regina pada putri dan suaminya.

__ADS_1


Kini mereka makan dengan tenang. Usai makan, David memberitahu tentang jalan persidangan.


"Laura dihukum delapan puluh tahun penjara!"


"Kenapa bukan hukuman mati!" sungut Regina kesal.


"Ini gara-gara anak itu bersikap kooperatif di persidangan," jawab pria itu.


"Sudahlah Ma, yang penting dia sudah dihukum berat atas perbuatannya," ujar Geisha menenangkan ibunya.


Regina hanya bisa mendengkus kesal. Ia sangat membenci putri dari adik iparnya itu. Padahal, ia dulu begitu menyayangi Laura bahkan mendahulukan gadis itu dibanding putrinya sendiri.


"Ayo kita ke spa sayang. Mama kepalanya pusing," ajaknya sedikit mengeluh.


"Ikuti Mamamu sayang!" perintah David lembut pada putrinya.


Geisha mengangguk, walau ia tak begitu suka dengan hal-hal itu. Gadis itu menurut perintah ayahnya.


Kini mereka di spa terbaik milik ibunya. Geisha mendapat treatment khusus untuk menghilangkan trauma gadis itu.


"Aku baik-baik saja Ma,"


"Aku tau sayang. Tapi, beberapa malam kemarin Mama mendapatkan dirimu menangis dalam tidurmu dan mengigau," jelas Regina.


"Katakan Nak. Apa yang kau rasakan?" lanjutnya bertanya.


Geisha masih diam, ingin ia menceritakan mimpinya ketika ia terbaring di rumah sakit. Tetapi, ia ragu apakah sang ibu percaya pada kisahnya.


"Ma ... Mama percaya nggak kalau aku bermimpi jadi ratu?" Regina menatap putrinya.


Geisha pun menceritakan mimpinya dari awal hingga akhir. Gadis itu menangis pilu ketika mengingat semua anak, menantu dan cucunya tewas bergelimang darah dan suaminya ditembak hingga jatuh ke jurang.


"Oh ... sayang!"


Regina memeluk putrinya. Ia mempercayai semua kisah yang diceritakan Geisha.


"Mama, percaya tidak jika Herny Hormer adalah suamiku di dalam mimpi?" Regina masih setia menatap putrinya.


"Berarti dia jodohmu Nak," jawabnya.


"Mama," rajuk Geisha dengan rona di pipinya.


Regina tersenyum, ia akan mengatakan agar sang suami menerima perjodohan yang dilayangkan oleh rekan bisnisnya itu.


Usai memanjakan diri mereka. Regina membawa sang putri ke mansion mereka. Satu hari penuh Geisha tak diberi kabar pria itu. Hatinya begitu gelisah, entah berapa kali dirinya hendak mengirimkan pesan singkat atau menelepon pemuda yang telah menawan hatinya. Tetapi selalu urung ia lakukan.


"Kenapa dia nggak ngasih kabar sih!" gerutunya kesal.


Sedang di tempat lain, Henry begitu sibuk dengan segudang pekerjaannya. Pria itu sampai lupa menghubungi kekasihnya.


"Tuan, kenapa anda tidak memberi kabar pada Nona?" tanya Albert di sela kesibukan mereka.

__ADS_1


"Ah ... aku nyaris lupa!"


Henry lalu menelepon kekasihnya. Geisha yang tengah melamun terkejut dan nyaris melempar ponselnya.


Gadis itu ingin sekali tak mengangkat ponselnya, ia masih marah. Tetapi rasa rindu mengalahkan semuanya. Gadis itu mengangkat telepon.


"Sayang, maaf ... aku sangat sibuk hari ini!' ujar pria itu langsung dari ujung telepon.


"Kenapa tak mengabariku dari tadi?" tanya Geisha kesal.


"Kau tau aku merindukanmu!" lanjutnya dengan suara kecil.


"Aku juga merindukanmu sayang," sahut Henry dengan senyum lebar.


"Siapa yang merindukanmu?" sungut Geisha masih marah.


"Apa benar kau tak merindukanku?" tanya Henry di ujung telepon.


"Aku merindukanmu!" teriak Geisha lalu memutuskan sambungan telepon.


Gadis itu menutup semua mukanya dengan selimut. Ia malu bukan main. Ponselnya kembali berdering. Henry ingin melakukan sambungan video call.


Geisha mengangkatnya, muka memerah karena malu langsung terlihat. Henry memilih pergi ke ruangan rahasianya. Ia ingin menatap lama wajah kekasihnya itu.


"Hai ... aku merindukanmu," sahutnya lalu mengecup layar ponselnya.


Geisha merona, ia juga merindukan Henry. Akhirnya sambungan itu berakhir karena Geisha terlelap. Henry menatap netra cantik yang terpejam.


"Setelah ini aku akan melamarmu sayang. Bersiap lah menjadi istriku dan melahirkan anak banyak dariku!" ujarnya sebelum mematikan sambungan telepon.


Pagi hari menjelang, gadis itu terbangun dengan malas. Ibunya menarik tangan gadis itu.


"Mama ... aku masih mengantuk!" rengeknya.


"Bangun sayang, kekasihmu menunggu di bawah,' ujar Regina.


Geisha menatap tak percaya pada ibunya. Regina tersenyum, ia mengangguk. Geisha langsung mandi dengan kilat dan memakai dress cantik pembelian pemuda itu.


"Sayang, kau sudah rapi?" tanya David.


Geisha mengangguk. Matanya tak lepas dari sosok tampan yang juga menatapnya penuh pemujaan.


"Sarapan dulu, baru kalian boleh pergi!" titah David.


Usai sarapan mereka berdua pun pergi, David menjelaskan agar memulangkan putrinya pukul tujuh malam.


Henry tentu menuruti permintaan pria itu. Ia membawa gadis itu menikmati wahana bermain sesuai janjinya tadi malam. Sekaligus melamar Geisha.


Bersambung.


Next?

__ADS_1


__ADS_2