
Albert bersalaman dengan David, dua pria pebisnis itu baru saja menandatangani kontrak kerjasama. Sebuah keuntungan besar akan diperoleh keduanya selama kerjasama terjalin.
"Ini putra saya, Henry Paulus Hormer," ujar Albert memperkenalkan putranya.
"Jadi dia yang akan menggantikan anda Tuan?" David menyambut uluran tangan Henry dan menjabat erat tangan besar itu.
"Kau tampan sekali Nak!" pujinya.
"Anda terlalu berlebihan Tuan," sahut Henry dengan senyum datar.
"Apa putrimu sudah bisa menggantikanmu Tuan Jhonson?" tanya Albert.
"Dia masih kuliah, aku tak bisa memaksa anak keras kepala itu. Terlebih kemarin, dia baru saja kena musibah," jawabnya.
"Hmmm ... apa sudah sampai pada sidang putusan?" tanya Albert sedikit tahu kasus yang menimpa rekan bisnisnya itu.
"Ada perkembangan baru dan masih diselidiki lebih lanjut," jawab David lagi.
"Yang penting putrimu kini sudah kembali setelah koma selama nyaris satu bulan," ujar Albert.
David mengangguk, keduanya pun melanjutkan makan siang bersama. Henry lebih banyak diam. Pemuda itu masih baru berkecimpung di dunia bisnis. Ia banyak belajar dari sang ayah yang mengajarinya langsung.
Ponsel David berbunyi, rupanya sang putri meneleponnya. Geisha sedang berada tak jauh dari perusahaan sang ayah.
"Kemarilah Nak, Ayah juga baru mau makan siang," suruh pria itu.
".......!"
"Tidak sama sekali sayang. Kau langsung datang ke restoran dekat kantor Ayah ya," pinta pria itu lagi.
"Apa putrimu juga hadir Tuan?" tanya Albert.
'Benar Tuan, aku akan memperkenalkan kalian nanti," jawab David.
Henry merasa debaran di dadanya. Entah kenapa, ia begitu sangat antusias ingin bertemu dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya itu. Ia sangat ingin mencari cela gadis itu dan membandingkan dengan Sonia, gadis yang ia incar selama ini.
Mereka sampai di sebuah restoran bertaraf internasional. Begitu mewah dan indah. Henry mengangguk melihat bangunan yang menjadi salah satu pundi penghasil uang pada keluarga Jhonson itu.
"Nanti putriku datang. suruh ia langsung ke ruang exclusive ya!" titah David.
"Baik Tuan!" sahut salah satu pelayan.
Henry dapat menilai jika sang putri pebisnis ini tentu dikenali semua pegawai ayahnya. Pemuda itu langsung menai jika Geisha sosok manja dan arogan yang hanya bisa meruncingkan kukunya.
Mereka duduk, buku menu diberikan. Setelah memilih, mereka tinggal menunggu saja pesanan datang. Tak lama, Geisha muncul, Henry terkejut dengan penampilan gadis yang diluar ekspektasinya.
__ADS_1
Geisha memakai baju oversize dipadu celana jeans belel, memakai topi dengan rambut dikuncir kuda. Memakai ransel biasa. Beberapa pelayan langsung membungkuk hormat pada gadis itu.
"Nona ... selamat datang!" sambut manager dengan wajah ceria.
"Halo, Daniel ... kita ketemu lagi ... kapan-kapan kita adu panco ... oke!" kekeh gadis itu.
Henry tak percaya dengan apa yang ia lihat. Gadis dengan setelan bermerek dan berjalan anggun juga arogan yang memandang rendah orang lain, seketika musnah dari pikiran Henry.
"Ayah, maaf aku terlambat," ujarnya lalu mengecup pipi pria cinta pertamanya.
Geisha belum melihat Henry, gadis itu hanya terfokus pada ayahnya saja.
"Tidak masalah sayang," ujar David.
"Henry!" sahut pria itu ketika memperkenalkan diri.
Dua pasang mata saling menatap, Geisha tentu ingat mata kelam milik suami di mimpinya itu. Gadis itu menggeleng pelan, satu titik bening jatuh. David melihat itu.
"Sayang, kau kenapa?" tanyanya khawatir.
Geisha menggeleng cepat. Ia menenangkan dirinya, karena jantungnya seperti mau melompat keluar karena begitu kencang berdetak.
Sedang Henry menatap mata amber milik Geisha. Hidung mancung. bibir sedikit tebal dengan belahan dagu samar. Kulit putih rambut kemerahan. Entah kenapa ia merasa familiar dengan wajah cantik di depannya.
"Ck ... dia cantik sekali!" dumal Henry dalam hati.
"Putriku masih terlalu kecil untuk menikah Tuan," ujar David sedikit berat melepas putrinya.
Geisha tak mampu berkata apapun. Gadis itu berubah menjadi pendiam. Terkadang David sedikit sedih melihat putrinya tak seperti dulu lagi yang ceria dan cerewet.
"Mereka bisa berpacaran kan? Agar mereka saling mengenal," ujar Albert.
"Bagaimana sayang?" tanya David.
Geisha menatap Henry yang memandangnya datar. Sama seperti pertama ketika ia menatap suami mimpinya pertama kali.
"Kita jangan terlalu memaksanya, Tuan," ujar David.
Albert menghela napas panjang. Sungguh ia sudah menyukai putri dari rekan bisnisnya itu. Ia sangat berharap jika putranya mau meluluhkan hati sang gadis begitu juga ayah dari Geisha.
Makan siang berakhir. Beberapa pelayan restoran mengerumuni nona muda mereka memberi bingkisan cantik.
"Kami sangat senang dengan kesehatan anda Nona," ujar salah satu dari mereka.
"Tapi ini pasti mahal," ujar Geisha terharu.
__ADS_1
Gadis itu tak sungkan memeluk pegawai ayahnya itu. Henry sangat terkejut, satu lagi sikap yang ia tuduhkan tadi terbantahkan.
Begitu banyak karyawan yang menyenangi gadis cantik itu. Albert menunggu mobilnya di lobi.
"Ayah, aku mau ke mall dulu. Mama menungguku," ujar gadis itu pamit.
"Turuti ibumu sayang," pinta David lalu mengecup kening putrinya.
Geisha mengangguk hormat pada Albert. Wajah mertua dalam mimpinya tercetak jelas di sana. Geisha memilih untuk berlari meninggalkan tempat itu. Beberapa pria berpakaian hitam-hitam mengikuti gadis itu.
"Kau mengawal putrimu diam-diam?" tanya Albert.
"Benar Tuan, hidupnya masih terancam setelah beberapa penemuan polisi!" jawab David.
Entah kenapa Henry tiba-tiba bergerak dan meninggalkan tempat itu tanpa pamit. Albert tersenyum tipis, ia sangat paham dengan peringai putranya.
"Loh ... kenapa putramu?" tanya David bingung.
"Ah ... dia tidak tahan untuk pipis," jawab Albert asal.
David mengangguk tanda mengerti. Kini keduanya berpisah dan pergi ke perusahaan masing-masing. Albert mengejar sosok gadis yang tadi dijodohkan dengannya. Entah kenapa hatinya tergerak untuk melindungi gadis itu.
"Nona Jhonson!" panggilnya.
Geisha menoleh. Ia terkejut melihat Henry sudah ada depan matanya, padahal gadis itu yakin jika ia berjalan sangat cepat.
"Tuan Hormer?" sahutnya dengan kening berkerut.
"Nona,"
Pemuda itu sedikit terengah. Ia tak menyangka jika laju gadis itu begitu cepat dan gesit, ia nyaris kehilangan Geisha tadi. Dua mata berbeda saling memandang cukup lama. Tangan Henry bergerak, membenahi riapan anak rambut milik Geisha.
Jantung keduanya tampak berdetak sangat cepat. Napas besar dan menderu terdengar di telinga masing-masing.
"Aku seperti melihatmu Nona," ujar Henry begitu lembut.
Geisha mengigit bibirnya, ia nyaris berteriak jika Henry adalah suami dalam mimpinya, ingin sekali ia mengatakan jika mereka dikarunia empat anak kembar dan satu anak perempuan yang terkenal bar-bar dari bisa bicara hingga menikah.
"A—ku juga seperti mengenalmu Tuan," cicit gadis itu.
Tubuh keduanya perlahan saling mendekat, Henry merengkuh pinggang ramping milik Geisha. Sama pertama kali ketika Henry mencium pertama kali di mimpi gadis itu.
Henry yang sudah jatuh dalam pesona Geisha bergerak dan mencium bibir yang dari tadi sangat ia idamkan.
Bersambung.
__ADS_1
Eh ... first kiss Geisha 😍
next?