
Prasangka Ratu Raisa diutarakan pada sang suami. Wanita itu begitu khawatir dengan keselamatan putra dan putrinya.
"Tenanglah sayang. Semua masih praduga bukan. Jangan berlebihan, aku takut nanti malah kamu yang disalahkan oleh semua orang," ujar pria penguasa itu menenangkan istrinya.
"Setiap ada Permaisuri Sandra datang. Empat bayi kita gelisah Yang Mulia. Bayi tentu sangat peka pada orang-orang di sekelilingnya," ujar wanita itu.
"Tenanglah sayang. Jangan membuat ketakutanmu menjadi kenyataan," ujar pria itu lagi.
Kaisar Henry akhirnya meminta Marquez Albert membentuk mata-mata di istana Namont.
"Ratu curiga akan gerak-gerik Permaisuri Sandra, setiap wanita itu datang, empat bayiku menangis dan gelisah," ujar pria itu.
"Hamba akan mengirim mata-mata ke sana Yang Mulia!" sahut Marquez Albert.
"Lakukan secara tenang dan tersembunyi, Marquez!" titah Kaisar Henry tegas.
Marquez Albert mengangguk hormat. Pria itu pun memilih beberapa prajurit dan pelayan yang terpercaya dan bekerja di istana Raja Namont untuk menjadi mata-mata. Sementara itu pelayan bernama Leana tengah sibuk menyiapkan kudapan untuk semua pegawai staf istana. Gadis itu baru masuk menjadi pelayan setelah melalui latihan ketat. Gadis itu masuk seleksi ketika ratu membuka lowongan kerja untuk pelayan istana. Semenjak ditinggal ayahnya begitu saja setelah kematian sang ibu. Leana berpindah tempat dari kerabat satu ke kerabat yang lain.
Setelah sepuluh tahun terombang-ambing hidup dalam keluarga yang tak menginginkan dirinya. Gadis itu mencari pekerjaan dan bertepatan dibukanya lowongan menjadi pelayan istana.
Siapa sangka, ia lolos bersama seratus anak gadis lainnya. Leana bisa tinggal di istana tanpa harus pusing berpindah tempat atau tiba-tiba diusir begitu saja.
"Leana, kau dipanggil oleh Ratu!" suara Madam Audrey mengagetkan gadis itu.
"Ba-baik Madam," sahutnya.
Gadis itu menunduk ketika melewati wanita bertubuh tambun dan berkulit gelap itu. Madam Audrey adalah salah satu kepala pelayan yang mengurusi dapur. Semua pelayan akan punya kesempatan menjadi kepala pelayan. Leana yang baru saja masuk tentu belum memiliki keinginan menjadi kepala pelayan.
"Saya pelayan Leana menghadap Ratu!" ujar gadis itu bersimpuh ketika sampai di depan pintu sang ratu.
Pintu terbuka, Rosa menyuruh Leana masuk. Gadis itu pun berdiri dengan kepala menunduk.
"Kau adalah salah satu gadis yang lolos ketika perekrutan pelayan bukan?" tanya Ratu Raisa lembut.
"Benar Ratu," jawab gadis itu masih setia menundukkan kepalanya.
"Rosa bilang kau memiliki nilai tinggi ketika menjawab soal-soal, katakan padaku, apa kau bersekolah?" tanya Ratu Raisa.
"Hanya sampai tingkat pertama Ratu," jawab Leana tetap menunduk.
"Pandang lawan bicaramu Leana!" pinta Ratu Raisa.
__ADS_1
"Hamba tak berani Yang Mulia!" sahut Leana takut.
Ratu Raisa mendekati gadis itu. Leana seketika ketakutan setengah mati. Wanita istri penguasa itu memeluknya dengan lembut. Leana tentu terkejut, tapi pelukan sang ratu menenangkan hatinya.
"Jangan takut padaku Leana. Aku tak akan sembarangan menghukum orang jika dia tak bersalah," ujar Ratu Raisa mengelus punggung gadis itu yang gemetar.
"Hamba hanya takut kebablasan Yang Mulia," cicit gadis itu lirih.
"Tenanglah, kau pasti bisa membatasi diri," sahut Ratu Raisa mengurai pelukannya.
"Kamu ternyata cantik, Leana," pujinya ketika mengangkat dagu sang pelayan.
"Lebih cantik Yang Mulia Ratu!" sahut gadis itu merendah.
Raisa tersenyum, ia sangat yakin gadis itu menjadi seorang yang besar nantinya. Terlihat dari binaran mata Leana yang cemerlang.
"Kau bisa kembali dan mendongkrak dirimu menjadi lebih baik Leana. Ada pelatihan sebagai kepala pelayan para pangeran dan putri kaisar. Kau bisa mulai pendidikannya dari sekarang!" titah Ratu Raisa.
Leana membungkuk hormat, gadis itu tidak memiliki ambisi apapun. Yang terpenting ia bisa keluar dari rumah dan tak lagi ketakutan diusir malam hari atau mengunci pintu rapat-rapat agar paman atau sepupu prianya tak masuk kamarnya.
Leana kembali ke dapur. Gadis itu ditugaskan menjadi pelayan yang memasak membantu Chef Morcano.
Sedang di istana Jones. Raja Jones tengah duduk termenung, wajah cantik dengan iris hijau telah membuatnya terus memuaskan diri di kamar mandi dengan sabun. Pria itu sangat menginginkan Leana.
"Bagaimana aku mengambilnya, apa bisa dijadikan selir saja walau belum memiliki istri?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Jika Raja Jones yang pusing dengan pasangan hidup. Di kerajaan Raymon dikejutkan dengan kehamilan sang permaisuri. Setelah menikah dua tahun akhirnya mereka akan segera dikaruniai anak.
"Puji Tuhan!" pekik Raymon mencium kening Permaisuri Rencyta Reagen.
Kasim memberitahukan kehamilan sang permaisuri yang disambut gegap gempita para rakyat yang tinggal di kerajaan itu. Hal itu membuat Permaisuri Sandra tambah kesal.
"Sialan ... kenapa dia hamil!" runtuknya kesal.
Permaisuri yang marah memukuli bantal dan memvisualisasikan bantal itu sebagai Permaisuri Rencyta. Hal itu berimbas pada sang Permaisuri Rencyta yang tiba-tiba pusing.
"Yang Mulia, kenapa kepalaku berdenging?" tanya wanita itu yang memegang kepalanya.
"Sayang, kau istirahat lah. Tadi bukannya dokter mengatakan jika kau harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran?" pinta pria itu mengingatkan.
Rencyta mengangguk, ia pun merebahkan diri. Rasa sakitnya berkurang tak separah tadi. Sementara itu istri dari kerajaan Darly sangat senang dengan berita bahagia itu.
__ADS_1
"Aku juga ingin hamil Yang Mulia," pinta sang permaisuri bernama Angela.
"Sabar lah sayang," sahut Raja Darly.
Mereka sudah satu tahun menikah tapi tanda-tanda hamil belum dirasakan oleh Permaisuri Angela.
"Kita baru satu tahun menikah, sedang Raja Raymon telah tiga tahun baru dikaruniai anak sekarang," ujar pria itu menenangkan istrinya.
Berita kehamilan permaisuri Rencyta menjadi berita kebahagiaan bagi kekaisaran, akan ada putra mahkota atau putri mahkota baru hadir di kekaisaran ini.
"Yang Mulia pembangunan pelabuhan sudah mencapai 97%!" lapor salah satu staf.
"Siapkan pesta pembukaan sekaligus menyambut kedatangan putra atau putri mahkota Raymon!" suruh Kaisar Henry.
"Baik Yang Mulia!" sahut staf itu membungkuk hormat.
Ratu Raisa senang mendengar kabar hadirnya bayi di kerajaan Raymon. Setelah tiga tahun pernikahan mereka, kehadiran buah hati tentu akan membuat keduanya berbahagia.
"Hadiahkan kain sutra pada Permaisuri Rencyta sebagai ucapan selamat dariku!" titah sang ratu.
"Baik Ratu!" sahut Rosa lalu mengerjakan perintah ratunya.
Rosa keluar di sana ada Marquez Albert. Keduanya saling tatap, Rosa yang pangkatnya jauh lebih rendah tentu harus menekuk kaki pada pria tampan itu.
"Yang Mulia,"
"Mau kemana Rosa?" tanya Marquez Albert.
"Mau mengambil kain sutera untuk dihadiahkan pada Permaisuri Rencyta atas perintah Ratu Raisa," jawab Rosa masih menundukkan kepala.
"Kalau begitu pergi dan laksanakan tugas Ratu!" perintah Marquez Albert.
Rosa membungkuk hormat, ia melewati tubuh besar pria itu. Bau harum pohon jati tercium di penciuman kepala pelayan yang masih gadis itu. Marquez Albert juga mencium wangi vanila yang lembut keluar dari tubuh kepala pelayan.
Deg! Deg! Deg! Jantung salah satu mendadak berdetak cepat, aliran darahnya berdesir aneh. Sepasang mata menatap tubuh yang melewatinya dengan perasaan yang berkecamuk.
"Ah ... ada apa denganku?" tanyanya gelisah.
Bersambung.
eh ... spasa tuh yang gelisah?
__ADS_1
next?