Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
NGIDAM 2


__ADS_3

"Apa perlu kucongkel matamu!"


Teriakan Ratu Raisa membuat semua kaget, bahkan Kaisar Henry ikut terkejut mendengar teriakan ratunya.


Ratu Raisa menatap nyalang pada satu-satunya perempuan di sana. Kaisar Henry langsung berdiri dan mendekati ratunya. Pria itu menggendong sang istri menuju kamarnya. Hal itu membuat semua kalang kabut. Mereka menatap Arretha Franklin. Wanita itu gelagapan ditatap sedemikian rupa oleh semua delegasi-delegasi negara itu.


"Aku tak melakukan apa-apa!" elaknya gusar.


Tentu saja wanita itu mengelak. Ia masih punya harga diri, Arretha tak mungkin mengatakan sebenarnya.


"Mungkin Ratu terlalu cemburu. Karena aku kan cantik," gumamnya sombong.


Di kamar, Kaisar Henry menghela napas panjang. Ratunya kini menangis dan ngambek tanpa sebab. Pria itu merebahkan diri di sisi istrinya.


"Sayang ... jangan begitu. Mereka adalah tamu-tamu kehormatan," ujarnya lembut.


Ratu Raisa membalikkan tubuhnya menatap sang suami. Ia mencium bibir suaminya dengan begitu rakusnya. Kaisar Henry sempat kerepotan membalas, namun selanjutnya ia memenangkan ciuman itu.


"Aku tak suka tatapannya memandangmu Kaisar," rengek wanita istri penguasa itu.


"Yang penting aku hanya memandangmu sayang," sahut pria itu lalu memberikan kecupan hangat di kening sang istri.


Perlahan, Ratu Raisa terlelap. Kaisar Henry berdiri pelan agar tak membangunkan sang istri, ia kembali mengecup ratunya dan membenahi selimut.


"Aku mencintaimu sayang," bisiknya yang membuat Ratu Raisa lebih lelap dalam mimpi indah.


"Rosa, jaga ratumu!" titahnya tegas.


"Baik Kaisar!" sahut Kepala pelayan sang ratu.


Pria penguasa itu kembali ke ruang utama. Kaisar Henry kembali duduk di singgasana. Beberapa delegasi menyampaikan review mereka. Kaisar Henry tampak mengangguk puas dengan apa yang ditawarkan para delegasi itu.


"Baiklah, karena wilayah kalian dekat dengan beberapa kerajaan yang ada di daerah ini. Aku akan meminta perdana menteri untuk mengurusnya!" ujar pria itu.


"Baron Dominggus!" pekiknya pada perdana menteri baru.


Pria mengenakan pakaian serba hitam datang dan membungkukkan badan.


"Bawa mereka menghadap Raja Namont!" titahnya.


"Baik Yang Mulia!" sahut Baron Dominggus.


Keempat delegasi itu diminta mengikuti perdana menteri. Arretha menatap pria yang duduk di singgasana dengan pandangan mesum.


"Oh gagah sekali dia!" pekiknya dalam hati.


"Mari Nona Franklin!" ajak Baron membuyarkan lamunan Arretha.


Wanita itu akhirnya pergi ke kerajaan Namont bersama tiga pria lainnya. Sementara itu Kaisar Henry kembali ke kamarnya.


"Pergi kalian!" usirnya pada para pelayan.

__ADS_1


Setelah semua pelayan pergi, Kaisar Henry masuk dalam selimut dan memberikan kehangatan cinta pada istrinya.


"Tutup tirainya!" pekik Ratu Raisa ketika pagi menjelang.


"Yang Mulia. Jika ditutup akan tidak sehat!" sahut Rosa melawan titah ratunya.


"Rosa ... aku benci matahari!" rengek Ratu Raisa.


"Maaf Yang Mulia.Tabib bilang kalau Yang Mulia harus banyak bergerak untuk kesehatan!" sahut Rosa.


"Ayo bangun!"


Rosa menarik tubuh ratunya yang disertai rengekan. Wanita berpakaian seragam khas pelayan itu membawa sang ratu ke teras kamar. Di sana banyak bunga-bunga cantik tengah bermekaran.


"Segar bukan?"


"Hooeeek!" Ratu Raisa muntah cairan bening.


"Pahit!" pekiknya kesal.


"Minum ini Yang Mulia!"


Rosa memberikan air madu pada ratunya. Ratu Raisa merasa tenang. Ia pun kini sedikit merenggangkan ototnya. Tidak bergerak berlebihan, hanya saja agar sang ratu keluar keringat dan itu menyehatkan dirinya dan juga janinnya.


Setelah sedikit berolahraga, wanita itu dibantu mandi oleh para pelayan. Lalu tak lama ia pun keluar dari kamarnya berjalan-jalan di teras belakang sambil memandang bunga yang bermekaran.


"Bagaimana Yang Mulia, segar kan?" Ratu Raisa mengangguk setuju.


"Mana Kaisar?" tanyanya.


"Antarkan aku!" pinta sang ratu.


Mereka pun membawa sang ratu ke ruang penting. Ada tulisan sangat penting di depan pintu. Ratu Raisa mengelus perutnya, ia tidak bisa masuk sembarangan ke dalam jika tak ingin mengganggu sang suami.


"Sudah lah Nak. Ayahmu sibuk. Kita kembali ya!' ujarnya pelan pada janin di dalam perutnya.


Baru saja Ratu Raisa membalikkan tubuhnya, pintu terbuka di mana Kaisar Henry yang membukanya.


"Ratu?!" panggilnya.


"Kaisar ... aku dan bayimu merindukanmu!"


Ratu Raisa memeluk suaminya dan menangis. Wanita itu benar-benar merindukan sang suami, seakan-akan tak pernah berjumpa sekian lama.


"Ratu,"


Kaisar Henry membalas pelukan istrinya. Ia sangat paham jika wanita hamil itu suka bertingkah aneh dan seusia mood.


"Aku lapar," rengek Raisa.


"Ayo kita makan!" ajak sang suami.

__ADS_1


Ratu Raisa merangkul erat lengan suaminya, mereka berjalan ke ruang makan. Di sana banyak makanan menggugah selera dan semuanya sehat untuk kandungan sang ratu.


"Makanlah sayang,"


Mereka pun makan dengan tenang. Ratu Raisa kembali mual dan berlari menuju wastafel dekat sana dan memuntahkan semua makanan yang tadi dimakannya. Kaisar Henry sedih, ia memijit tengkuk sang ratu.


"Ratu!"


"Hiks ... hiks ...!" Raisa menangis.


Wanita itu benar-benar kelelahan dengan rasa mualnya. Ia ingin sekali menotok syaraf itu Tetapi itu tidak mudah dan sangat beresiko.


"Ayo sini sayang," ajak Kaisar Henry.


Ratu Raisa lemah mengikuti langkah suaminya. Sang kaisar memangku istrinya, ia mengambil kentang dan ********** dengan sendok, lalu menyuapi istrinya.


Ratu Raisa memakan makanan dari tangan suaminya. Hingga hidangan habis, tak ada satupun makanan yang dikeluarkan lagi dari perut wanita istri kaisar itu.


"Oh ... ternyata janinnya ingin makan dari tangan Yang Mulia Kaisar!" seru semua pelayan dan juga staf istana.


"Apa masih mual sayang?" Ratu Raisa menggeleng.


Kini keduanya kembali berjalan-jalan di taman. Kaisar Henry benar-benar melayani istrinya. Setelah merasa cukup, keduanya kembali ke kamar mereka.


"Istirahatlah,"


Kaisar Henry meninabobokan ratunya hingga terlelap. Pria penguasa itu sedikit lelah meladeni istrinya yang tengah hamil itu. Tetapi, ia membayangkan diri jika ada di posisi sang ratu.


"Aku pasti tak akan sanggup," gumamnya lalu kembali mengecup kening sang istri.


Trimester pertama Ratu dilewati banyak drama, para tabib selalu menciptakan vitamin untuk perkembangan keturunan kaisar mereka.


"Yang Mulia, detak jantungnya lebih dari satu!" pekik Tabib ketika memeriksa denyut nadi sang ratu.


"Aku tau," sahut Ratu Raisa santai.


"Di perutku ada setidaknya tiga atau empat janin," lanjutnya.


"Kalau begitu kita siapkan ruang operasi dan opium untuk Ratu melahirkan nanti!" seru kepala tabib.


"Beri pengumuman pada rakyat jika putra atau putri mahkota lebih dari satu!" perintah tabib.


Staf yang ditunjuk langsung keluar dan membacakan pengumuman itu. Rakyat begitu antusias mendengar pengumuman itu. Kaisar Henry langsung mendatangi istrinya.


"Apa benar anakku lebih dari satu?!" Ratu Raisa mengangguk dengan senyum lebar.


Kaisar langsung memeluk istrinya, melihat hal itu semua orang yang ada di ruangan keluar dan menutup pintu.


"Aku bahagia sayang!" ujar Kaisar Henry.


"Aku juga!" sahut Ratu Raisa.

__ADS_1


Bersambung.


Next?


__ADS_2