
Henry makin sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk. Pemuda itu ingin menyelesaikan semua urusan sebelum hari pernikahannya.
Beberapa designer gaun pengantin datang silih berganti, tentu saja mereka ingin menjadi bagian pesta pengusaha ternama itu. Perusahaan milik Hormer jauh lebih besar dibanding perusahaan Jhonson, makanya David menyetujui perjodohan bisnis ini. Selain mampu menaikan saham perusahaan, kerjasama antara kedua perusahaan besar itu akan menguntungkan kedua belah pihak.
Chris yang mendengar pernikahan mantan kekasihnya tak terima, pria berusia dua puluh tujuh tahun itu tak percaya jika Geisha mampu berpaling secepat itu darinya.
"Gei!" panggilnya pada sang gadis.
Geisha sangat cantik dengan mini dress warna hijau dengan sepatu kets, gadis itu mendobrak mode bajunya yang feminim dipadu dengan unsur tomboi.
"Gei!"
Chris mencekal lengan gadis itu. Tentu saja Geisha bukan gadis lemah yang hanya bisa menurut. Ia menepis kuat lengan besar yang mencekalnya.
"Gei ... please we need to talk!" seru pria itu.
"We are enough Chris!" bentak Geisha kesal.
"Kita sudah putus!" lanjutnya.
"Kau memang sengaja bukan ... kau memang selingkuh dari awalnya!' sahut Chris ikut berteriak.
"I don't care about your oponion!" ketus Geisha tak ambil pusing.
"Gei ... you can't do this to me!" seru Chris tak terima.
Geisha menatap tak percaya pria yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Dalam mimpi gadis itu, Chris tak ada sama sekali. Geisha masih ingat orang-orang dalam mimpinya itu.
"Jadi maksudmu, perbuatanmu kemarin tidak masalah?" desisnya.
"Aku hanya terbawa ... ayo lah, kau tak selugu itu kan!" seru Chris putus asa.
"Iya, aku memang tak selugu itu. Tapi, aku sudah tak mencintaimu lagi semenjak kau lebih percaya Laura dibanding diriku!" sahut Geisha tegas.
"Gei .. aku waktu itu ...."
"Cukup Chris. Aku sudah tekankan sekali lagi padamu. Kau sudah tak ada artinya bagiku!" potong Geisha tegas.
Chris yang putus asa lalu menarik mantan kekasihnya. Geisha langsung mengunci lengan Chris dan membantingnya ke aspal.
Brug!
"Aawww!" pekik pria itu.
Geisha menendang lengan Chris yang masih mencekal tangannya hingga terlepas. Beberapa bodyguard hanya melihat saja. Jika soal berkelahi, jangan ikut campur jika Geisha terlibat di dalamnya. Mereka akan kena imbas gadis itu. Kekuatan Geisha mampu mengalahkan sepuluh pria bertubuh besar seperti mereka.
__ADS_1
"Jangan macam-macam denganku Chris!" sentak Geisha.
Chris bangun dari aspal, tubuhnya terasa ngilu dan sakit sebelah kiri karena menghantam aspal begitu keras. Chris memang tak mengenal dekat Geisha.
"Gei ... aku masih mencintaimu," ungkapnya setengah memohon.
Henry yang datang dengan mobil mewahnya, melihat bagaimana kekasihnya membanting pria ke aspal. Henry langsung keluar dari mobil yang masih berjalan dan berlari ke arah keduanya. Kampus sudah sepi. Hanya beberapa penjaga yang ada di sana.
"Apa yang kau lakukan pada calon istriku!" bentak Henry marah.
Tak ayal perkelahian terjadi. Chris bukan lawan sepadan untuk Henry yang tinggi dan tubuhnya jauh lebih besar dan kuat. Albert segera menahan laju tuan mudanya sebelum Henry membunuh Chris.
Beberapa bodyguard Geisha mengambil Chris yang sudah terkapar di aspal dengan wajah babak belur.
"Sayang!"
Geisha langsung memeluk calon suaminya. Gadis itu terisak di dada Henry. Pemuda itu membalas pelukan sang kekasih hati. Ia mencium pucuk kepala Geisha dengan lembut.
"Sudah ... tenanglah sayang," ujar Henry.
Pemuda itu membawa kekasihnya masuk dalam mobil. Hari ini mereka harus fitting gaun pengantin.
"Apa kita perlu menjemput temanmu itu?" Geisha mengangguk.
Albert tentu tahu di mana rumah gadis yang menjadi pengiring pengantin nona mudanya itu. Pria itu kemarin mengantarkannya.
"Ada apa Lay?" tanya Geisha.
Laisya menggeleng cepat. Gadis itu diam sepanjang perjalanan, Geisha sedikit khawatir dengan sahabatnya itu.
"Hei ... kau tidak bisa bersamaku jika ketakutan seperti ini!" ujar Geisha menyadarkan sahabatnya.
"Gei ... ayahku Gei," cicit gadis itu.
"Ada apa dengan pria brengsek itu?" tanya Geisha geram.
"Dia ... dia ... hiks ... ingin menjualku ... hiks," isak Laisya.
Gadis itu lalu memeluk Geisha dan menangis pilu. Laisya hanya hidup berdua dengan sang ayah semenjak kecil. Ibunya entah pergi kemana. Sepanjang hari pria bernama Rob itu mabuk-mabukan dan berjudi. Laisya termasuk gadis genius, ia mendapat beasiswa kita kuliah. Ia juga bekerja paruh waktu di sebuah kafe.
"Kurang ajar!' maki Geisha geram.
Ayah dari Laisya jauh berbeda dengan ayah dari Duchess Laura di dalam mimpi Geisha. Sosok Duke Thompson, pria itu sangat lembut dan penuh ketegasan. Sedang Neil sangat kasar dan pemalas. Hanya karena tempat tinggal, Laisya menahan diri hidup bersama ayahnya.
"Gei ... apa aku boleh menginap di rumahmu, atau jadikan aku maid mu. Aku mohon!" pinta Laisya ketakutan.
__ADS_1
"Sudah tenanglah!" ujar Geisha.
Sedang di tempat lain, Chris dibawa ke rumah sakit. Pria itu harus mendapat perawatan. Sang ayah datang dengan wajah marah.
"Siapa yang melakukan ini pada putraku?" tanyanya pada salah satu pengawal yang mengantarkan Chris.
"Tuan Muda Hormer," jawab pria itu lalu membungkuk hormat.
"Oh ... dia anak dari Albert Hormer?" gumam pria itu.
"Ck ... kita akan bertemu lagi Albert. Aku pastikan kau membayar semuanya setelah kau merebut Celia dariku!" geramnya dengan tangan terkepal.
Sementara di tempat lain, Albert telah mendapat laporan jika putranya menghajar seorang pria, mantan kekasih dari calon menantunya.
"Siapa yang dia hajar?" tanyanya.
"Tuan Christian Stuart, putra dari Tuan Niel Stuart," jawab pria ajudan dari Albert.
"Baik terima kasih, Jack ... kau boleh kembali!'' titah pria itu.
Pria bernama Jack itu membungkuk hormat. Albert duduk di kursi kebesarannya. Pria itu sangat mengenal siapa Niel Stuart.
"Ternyata kita dipertemukan lagi setelah sekian lama Niel," monolognya.
"Mestinya kau sudah mengikhlaskan jika Celia lebih memilihku dibanding dirimu," lanjutnya. "Rupanya sifatmu menurun pada putramu!"
Sedang di tempat lain, David mendengar laporan jika dari Arthur tentang perkelahian Henry.
"Jadi dia Chris yang mengkhianati putriku?!" geramnya menahan emosi.
"Benar Tuan dan semua itu karena hasutan Nona Laura Stones!' jawab Arthur.
"Anak itu!" umpat David kesal.
"Baik Arthur kau boleh kembali!' titah pria itu..
Arthur membungkuk hormat, meninggalkan tuannya yang kini berdiri memandang pemandangan dadi kaca anti peluru.
"Apa yang kau ajari pada putri kalian Stone!" geramnya.
Sayang yang pria itu marahi sudah meninggal dunia. Ia telah mendapat laporan jika Laura mendapat perundungan di penjara. Pria itu tak peduli, selama gadis itu berada di tahanan. David akan merasa tenang.
Sedang di butik ternama, Geisha mendapat gaun dalam mimpinya. Ia begitu cantik dengan balutan indah dan mewah itu. Henry juga sangat tampan dengan balutan tuxedo hitam, baju yang sama ketika pernikahan mereka dalam mimpi sang gadis.
Bersambung.
__ADS_1
Wah ... ada masalah baru nih.
Next?