Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
MENUMPAS PEMBERONTAK


__ADS_3

Marquez Albert dan delapan prajurit memasuki desa C secara perlahan. Berita tentang terbentuknya pemberontakan sudah santer terdengar. Entah apa tuntutan mereka, padahal pembangunan begitu merata di semua wilayah.


Marquez Albert menghentikan laju kuda dan memberi kode mengangkat sebelah tangannya agar semua berhenti.


Lalu pria tampan itu turun dari kudanya diikuti seluruh prajurit. Marquez Albert melihat pergerakan beberapa pemuda yang sedang duduk menghadap api unggun.


"Bagaimana, apa kau sudah mengumpulkan para pemuda?" tanya seorang pria dengan umur sekitar tiga puluhan. Marquez menyipitkan mata demi mengenali pria itu.


"Duke Simpson?" gumamnya pelan.


Lalu dengan gerakan tangan, Marquez Albert meminta semua pengawal menyebar. Satu orang disuruh kembali ke istana dan melaporkan apa yang terjadi dan meminta bantuan pasukan.


"Kau tau semua pemuda bekerja di pabrik tekstil, anggur dan pabrik olahan susu milik Kekaisaran," jawab pemuda yang tengah duduk. "Mereka menolak bergabung!"


"Dasar bodoh!" hina Duke Simpson marah.


"Apa mereka tau jika mereka diperbudak?!' lanjutnya.


"Jika negeri ini kaya, kita tak perlu bekerja keras. Kekaisaran semestinya memberi kita uang percuma, karena itu adalah hak kita!"


"Aku tidak tau. Mungkin aku bodoh yang mau mengikutimu. Aku rasa ucapanmu itu tak masuk diakal!" sahut pemuda itu.


"Justru kaulah yang paling pintar. Kau menolak diperbudak oleh kekaisaran. Mestinya para petinggi negeri memberikan kita fasilitas terbaik dan memberikan sebagian keuntungan pada para pemuda " sahut pria itu membodohi pemuda yang masih bingung dengan keputusannya.


"Percayalah, jika kita bisa membentuk pemberontakan ini, kita bisa menguasai semua toko dan pabrik. Mereka harus memberi kita upah setiap bulanya sebagai bagi hasil!" lanjut pria itu.


Marquez Albert menganga. Ia setengah tak percaya dengan pikiran Duke Simpson yang membodohi pemuda yang sepertinya malas belajar dan malas untuk tahu. Terlebih lagi, pemuda itu malas bekerja.


"Mereka sudah mengolah hasil bumi kita. Sudah sewajarnya mereka membagi hasil keuntungan pada kita!" lanjut pria itu.


Lalu datang empat pemuda berpakaian kucel. Mereka seperti baru bangun tidur dan terlihat belum mandi. Marquez Albert menggeleng tak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Kalian ini bagaimana. Mestinya kita menyusun kekuatan agar bisa menggerakkan pemberontakan ini!' dumal Duke Simpson marah.


'Oh ... ayo lah Tuan. Kau tau jam berapa kami tidur?' ujar pemuda itu sambil menguap.


"Astaga!" pekik Duke Simpson menutup hidungnya.


"Kau belum sikat gigi!?" tanyanya lalu mengumpat perut Duke Simpson mendadak mual.


"Ah jangan banyak omong. Sekarang mana uang yang kau janjikan itu!" todong pemuda itu tak peduli.


"Bekerja saja belum, kau sudah minta upah?!" tanya Duke Simpson tak percaya.


"Tuan bangsawan!" bentak sang pemuda lalu mencengkram kerah pria itu.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara dan segera beri kami uang. Kau tau kalau kami malas bekerja!" tekan pemuda itu.


"Bu-bukan seperti itu!" ujar Duke Simpson menenangkan sang pemuda.


"Kita—kita memang harus sedikit bekerja jika ingin uang banyak!" lanjutnya gugup.


"Cepat!" sentak pemuda itu tak peduli.


Akhirnya, karena tak sabaran. Pemuda itu mengkode kan kawan-kawan yang tadi bersamanya untuk merogoh sakunya.


"Ini dompetnya!" ujar salah satu pemuda menyerahkan dompet pria itu.


Sang pemuda yang tadi mencengkram kerah Duke Simpson melepas cengkramannya hingga pria itu jatuh terduduk ke tanah.


Brug! Aduh! Pekik pria itu kesakitan. Pemuda itu mengambil semua uang yang ada di dompet pria itu dan melempar dompet itu.


"Kita bersenang-senang dengan ini!" seringainya.


Empat pemuda tertawa meninggalkan Duke Simpson yang terpekur di tanah. Pria itu mengumpat panjang pendek.


"Anak sialan!" Duke Simpson mengambil dompet yang tadi dilempar dan meletakkannya di saku.


"Jika begini. Aku tak bisa mendapat satu pabrik pun untuk aku kuasai. Kenapa juga semua bangsawan itu bodoh!" dumalnya pelan.


Duke Simpson berjalan menuju mobil yang tadi ia kendarai. Rupanya mendekati para pemuda dengan mengimingi mereka uang malah menjadi bumerang bagi dirinya.


Kendaraan itu bergerak ke arah berlawanan. Marquez Albert mengikuti dari pinggir hutan, pria itu sangat hapal dengan rute yang diambil oleh Duke Simpson.


"Oh ... ternyata dia mendatangi wilayah perbatasan desa C dengan wilayah tak bernama,' gumamnya.


Pria itu turun dari kudanya. Hanya dengan mengikat di ranting pohon rindang. Kuda yang ia beri nama Arron itu tenang memakan rumput di sana.


Panglima yang memiliki kekuatan di atas rata-rata itu menyelinap di antara semuanya. Ia mencoba melihat apa terkaan pria itu benar, jika Duke Simpson mendatangi perampok terbesar yang pernah ada "The Powers".


Di sana ada sekitar dua ratus orang tengah berlatih. Terdengar teriakan orang yang tengah bergulat, bunyi pedang yang beradu hingga memercik api, terlihat betapa keras dan kuatnya pemegang pedang.


"Tuan Bangsawan .... ada perlu apa kau kemari!?" tanya sang ketua perampok.


Bruno Alves Power. Pria berusia empat puluh delapan tahun. Pria dengan wajah bengis dengan banyak codet di wajah. Pria itu dikelilingi wanita-wanita seksi tanpa busana yang asik menempelkan tubuh mereka pada sang pria yang begitu gagah.


"Aarrrgghh!" pekik salah satunya, wanita itu mendapat pelepasannya.


"Ini seribu keping emas!' Duke Simpson melempar satu kantung besar warna hitam.


Bruno langsung berdiri, semua wanita yang menempel diminta olehnya untuk menjauh.

__ADS_1


"Ambil itu!" titahnya pada salah satu anak buahnya.


Beberapa orang mengambil kantung itu dan menyerahkannya pada sang ketua. Bruno membuka simpul dan menuangkan isinya. Kepingan emas jatuh berhamburan.


"Ketua ... ini benar-benar emas!" teriak anak buah yang tadi mengambil kantung.


"Kau bisa dapat lebih jika berhasil meruntuhkan istana Horton!" ujar Duke Simpson datar.


"Istana Horton?"


"Ya ... istana ... kau tau kan. Apa isi dari istana?" jawab Duke Simpson tersenyum miring.


"Emas batangan, berlian, kain sutra dan banyak lainnya! Kalian bisa hidup enak seumur hidup kalian jika berhasil meruntuhkan istana itu!"


Bruno terdiam, ia pernah mendengar jika istana Horton dipimpin oleh raja yang sangat adil dan bijaksana. Pria itu belum tau seberapa besar istana itu sekarang.


"Hanya menghancurkannya?" tanyanya menyelidik.


"Ya kalau kau bisa mengambil kekuasan di istana itu. Kau pasti jadi raja. Bayangkan raja!" seringai Duke Simpson begitu licik.


"Baiklah. Aku minta tambahan lima ratus keping emas lagi!" ujar pria itu setuju.


"Jangan khawatir, aku memberimu kendaraan roda empat yang tak pernah kau miliki!"


Bruno penasaran, ia keluar mengikuti langkah Duke Simpson. Semua orang langsung mengelilingi kendaraan itu.


"Wah ... ini bagus sekali!" pekik salah satunya.


"Menjauh kalian dari sana!" bentak Bruno yang langsung tergiur melihat apa yang ia dapatkan.


"Kau mau berkeliling?" tawar Duke Simpson.


Tak mau basa-basi pria itu berjalan menuju mobil, ia menoleh pada pria bangsawan itu. Duke Simpson membuka pintu, lalu meminta Bruno masuk.


Perlahan kendaraan roda empat itu bergerak. Berberapa anggota menaiki kuda mengikuti laju mobil.


Marquez Albert tersenyum miring. Otaknya sudah bisa mematahkan tujuan Duke Simpson menyuap Bruno.


"Aku bisa membayarmu lebih dari itu Bruno, bahkan kalian akan hidup layak di tempat ini!" gumamnya.


Pria itu kembali ke kudanya. Ia memacu hewan itu untuk berlari lebih cepat. Panglima tampan itu tak jadi menemui Rosa. Ada hal yang lebih penting dari sekedar perasaan.


"Sudah saatnya membasmi pemberontak!" teriaknya kencang sambil memacu tali kekang agar Aaron berlari lebih kencang lagi.


Bersambung.

__ADS_1


Wah ...


next?


__ADS_2