
Ciuman itu berhenti, Geisha memutuskan ciuman itu. Henry tak rela, ia kembali memagut bibir yang sudah menjadi candunya. Sayang, Geisha memalingkan wajah dan mulai menangis.
"Sayang ... kenapa?" tanya Henry lirih.
Pemuda itu sudah mabuk dalam pesona gadis yang kini dalam pelukannya. Ia tak rela jika Geisha sampai lepas dari tangannya.
"Aku lapar," cicit gadis itu malu.
Henry terkekeh, ia pun meminta Albert menjalankan mobilnya. Mereka pergi ke sebuah restoran mewah milik pria itu.
Ketika sampai, Albert berjalan di belakang tuannya. Sedang Geisha digandeng oleh Henry begitu mesra. Tentu moment kedekatan mereka menjadi perhatian para awak media.
Semua tentu mengenal siapa sosok cantik yang digandeng oleh pemuda yang tengah naik daun dalam dunia bisnis. Sepak terjang Henry begitu membuka mata pebisnis lain jika pria-pria muda seperti dirinya mampu mengendalikan bisnis dengan baik, bahkan mampu mensejajarkan diri dengan para seniornya.
"Tuan Hormer, apa Nona Jhonson adalah kekasih anda?" tanya salah satu wartawan.
"Dia istriku!" jawab Henry tegas.
Geisha sedikit terkejut. Sayang tak ada cincin yang membuktikan ucapan pria tampan itu. Albert mencegah kerumunan wartawan dibantu oleh beberapa sekuriti. Henry menyembunyikan kekasihnya di balik tubuh besarnya.
'Kenapa sama rasanya dengan tubuh kaisar?' gumamnya bertanya dalam hati.
Mereka bertiga masuk dalam lift, para wartawan berteriak menanyakan cincin kawin mereka. Henry melupakan itu.
"Aku akan membelikannya setelah makan nanti!" ujarnya menatap sang gadis yang hanya menunduk malu.
Geisha tak bisa mengendalikan kinerja jantungnya yang dari tadi berdetak. Gadis itu hanya pasrah dalam gandengan pria yang sudah mengklaim dirinya.
Sebuah pemandangan indah dengan nuansa romantis. Henry membawa Geisha di roof top dengan pemandangan kota NY yang gemerlap dengan lampu-lampu gedung dan jalan raya.
"Wah ... indah sekali!" decaknya penuh kekaguman.
Geisha menuju pagar dan menghirup semilir angin yang membelai rambutnya. Henry mencopot ikatan rambut gadis itu. Gerai rambut kemerahan milik sang gadis jatuh ke punggung. Semilir angin membelai dan membuat helaian rambut Geisha berkibar. Henry merapikan rambut indah gadis itu ke belakang telinganya.
Pemuda itu memeluknya, lalu kembali memagut bibir manis sang gadis. Albert menunggu tuan mudanya berdiri di sudut tak terlihat, ia akan datang jika Henry memintanya ikut makan bersama.
Ciuman itu berhenti, Henry yang melakukannya. Napas keduanya menderu dengan kening dan hidung saling menempel.
"Bibirmu manis sekali sayang," pujinya dengan suara serak.
Kriuk! Bunyi suara perut Geisha yang membuat muka gadis itu merah padam karena malu. Henry tersenyum lebar. Pria itu harus menghentikan gairahnya yang tersulut dan nyaris memborbardir Geisha yang suci.
"Ayo kita makan, sebelum cacing di perutmu demo!" guraunya.
Geisha tak mampu menahan malunya. Tapi memang ia lapar luar biasa. Tadi ia hanya sarapan susu dan melewatkan jam istirahatnya di kampus.
__ADS_1
Geisha makan dengan lahap. Tak ada rasa malu lagi, gadis itu tak peduli dengan tablemaner para pengusaha makan. Henry tak keberatan dengan sikap gadis itu.
"Maaf, aku memang seperti ini," ujar gadis itu lalu bersendawa.
"Tidak masalah," sahut Henry yang juga bersendawa.
Keduanya pun tertawa lirih. Tak lama ponsel gadis itu berdering.
"Iya Ma, sebentar lagi aku pulang," ujar gadis itu menjawab orang di seberang telepon.
"Tidak perlu menyiapkan makan malam Ma. Aku sudah makan!" jawab Geisha lagi.
"......!"
"Oke Ma ... aku akan sampai dalam sepuluh menit ke depan!"
Henry langsung sigap. Albert telah selesai makan dari tadi. Kini keduanya turun ke lobi. Tak di sangka, Sonia sedang masuk ke restoran bersama para model lainnya.
Henry sama sekali tak melirik Sonia. Padahal gadis itu sudah memasang senyum yang indah. Netranya menatap gadis cantik yang berada di sisi pria yang beberapa waktu lalu memandangnya penuh pemujaan.
Senyum Sonia pudar seketika. Terlebih betapa mesra dan cintanya pria yang menatap gadis itu.
'Siapa gadis itu?' tanyanya gusar dalam hati.
"Tuan Hormer," panggilnya dengan suara lembut.
Geisha langsung menatap tak suka pada sosok yang memanggil Henry seperti itu. Gadis itu ingin mencakar muka polos sosok yang tak dikenalinya itu.
"Nona Sonia!" sapa Henry datar.
"Kenapa anda tak melihat lagi debutku?" tanyanya nyaris tanpa suara.
Bagaimana tidak, gadis di sisi Hormer memandangnya dengan tatapan membunuh. Geisha memang langsung menyerang siapapun yang ingin mencoba mendekati Henry terutama jika dia adalah perempuan.
"Tuan!" Albert membuka pintu mobil yang diantarkan oleh petugas Velvet.
Henry menggandeng Geisha dan mengajaknya masuk mobil. Sonia hanya berdiri mematung, ia sampai ditegur oleh beberapa rekan modelnya.
Sepuluh menit, Geisha sampai di mansion mewahnya. Henry diminta turun oleh gadis itu, tentu saja pemuda itu sangat senang.
"Selamat malam Nyonya, saya mengantar pulang Nona Jhonson dengan selamat," sapanya lalu tersenyum indah.
Regina terpesona menatap senyum indah itu. Ia melirik putrinya yang tengah memasang muka ditekuk. Regina mengernyit keningnya.
"Ada apa denganmu sayang?" tanyanya, "kau tak mungkin cemburu dengan Mama kan?"
__ADS_1
"Bukan Ma. Tadi ada wanita cantik menyapa dia!" jawab Geisha masih cemburu.
"Dan dia menyapanya dengan manis!" lanjutnya menuduh.
Geisha kesal langsung menepis genggaman tangan Henry tentu hal itu tak bisa dibiarkan. Pemuda itu menarik dan memeluk kekasihnya itu.
Geisha yang sedang kesal, membuat gerakan mengunci lawan dan hendak membanting Henry ke lantai.
Regina nyaris terpekik, sayang lawan Geisha bukan lawan sembarangan. Bukan Henry yang terjatuh, pemuda itu membalik kuncian dan membanting tubuh gadis itu tentu dalam dekapannya.
"Lepaskan!" teriak Geisha kesal.
"Tidak!" tolak Henry tegas.
"Aku membencimu!" teriak Geisha lagi, gadis itu benar-benar cemburu.
"Oke ... oke ... maafkan aku. Besok-besok aku tak akan menyahuti sapaan semua wanita terhadapku!" ujar Henry merayu kekasihnya.
"Maaf ... maaf, oke!" pintanya.
Regina tercenung di sana. Ia tak menyangka jika Henry mampu menenangkan anak gadisnya yang tengah merajuk itu. Wanita itu sendiri mengaku tak mampu menenangkan putrinya jika sudah marah apa lagi merajuk, kecuali ayahnya.
"Sayang, aku pulang!" sebuah suara yang selalu membuat Geisha nyaman.
"Ayah!"
Gadis itu melepas pelukan Henry dan berlari menyambut lalu memeluk ayahnya erat. Jika sudah begini Regina harus mengalah, suaminya itu pasti akan mendahulukan putrinya.
"Kenapa sayang, ada apa?" tanya David lembut.
Geisha hanya menggeleng. Henry mengangguk memberi salam pada pria itu. David sangat tahu apa yang terjadi, banyak pengawal dan anak buah yang mengawasi putrinya dan pasti akan melaporkannya.
"Pulang lah Nak, terima kasih telah mengantar Gei dengan selamat," ujarnya.
"Baik Tuan, selamat malam!"
David mengangguk. Henry pun pamit pada Regina. Sedang Geisha menyembunyikan mukanya di dada sang ayah. Henry tersenyum.
"Aku tidak akan merebut sebagai cinta pertamamu itu sayang, tapi aku pastikan jika aku adalah pelabuhan terakhirmu," janjinya dalam hati.
Bersambung.
Uhuy ... baper ... othor baper .... ada yang kek Henry nggak yah ðŸ˜
next?
__ADS_1