Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
PERGANTIAN KAISAR


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Kaisar kini menangguhkan kedudukannya pada salah satu putranya. Pangeran Richard tadinya menjadi salah satu putra mahkota dan menjadi pengganti sang Kaisar.


"Aku menyerahkan mahkota ini pada adikku Yang Mulia Kaisar!" ujar Pangeran Richard tegas.


Prince George terkejut, memang selama menjadi pangeran. Dirinya yang paling vokal berurusan dengan kekaisaran. Prince Richard menjadi salah satu panglima terbaik, bahkan menikah dengan putri dari Marquez Albert yakni Marqueza Gabriella Cosemus Rorton. Anak Marquez ada sepuluh dan Gabriella adalah satu-satunya putri miliknya. Princess Elizabeth menikah dengan kerajaan di luar kekaisaran Horton. Putri cantik itu menikah dengan Putra mahkota Inggris, yang bernama sama dengan ayahnya. Kini pangeran itu sudah menjadi raja dan mereka datang hari ini ketika pengangkatan kaisar.


Prince William menjadi penguasa di wilayah bekas kerajaan Harley, setelah meninggalnya Duke Albert dan istrinya. Wilayah itu dipimpin sementara oleh sang ratu hingga putranya siap menjadi pemimpin, Princess William menikah dengan Princess Anna. Sedang Princess Joana bertunangan dengan Prince Layael.


Ratu Raisa menatap bangga pada putranya. Kaisar Henry menyerahkan mahkota pada Pangeran George.


"Tapi aku belum menikah," ujarnya menolak. "Kakak yang pantas mendapat mahkota ini!"


"Dik, aku yakin di tanganmu kekaisaran ini makin kuat, kau paling banyak menuang prestasi mengentaskan kemiskinan ketika pademi cacar air melanda Kekaisaran Horton!" tukas Richard.


"Terimalah Nak!" suruh sang ibu dengan penuh ketegasan pada putranya.


"Baiklah, dengan atas nama rakyat di seluruh wilayah kekaisaran, aku menerima penobatan ini!" tukas George pada akhirnya.


Kini pemuda berusia dua puluh dua tahun itu menjadi kaisar. Pemegang kekuasaan tertinggi di wilayahnya.


Kaisar Henry kini mengganti gelar menjadi Ayahanda kaisar, sedang Ratu masih dipegang oleh Raisa, istrinya.


"Jika kau menikah, aku harap istrimu menjadi ratu sayang," harap Raisa pada putranya.


"Tidak Mom. Mommy tetap jadi Ratu dan istriku nanti akan jadi permaisuri!" tukas George tegas.


"Sayang, putramu tak membiarkan aku pensiun!" keluhnya mengadu pada sang suami.


Henry tersenyum, memang akan sulit mencari pengganti sang ratu. Kegeniusan Raisa begitu berpengaruh pada jalannya roda pemerintahan kekaisaran. Banyak pemikiran dari Raisa yang begitu mengubah cara pandang dan pikir seseorang, terlebih mereka sudah menerima perkembangan jaman.


Jiwa Geisha hanya menghitung tahun. Pengangkatan George di tahun 1924. Wanita itu telah menelisik jaman, ia menyuruh putranya Richard yang kini menjadi panglima tertinggi, sedang sembilan anak dari Marquez Albert juga menjadi panglima di berbagai instansi militer milik kekaisaran.


"Tahun 1917 kemarin, kerajaan Rusia mengalami kehancuran akibat perang Rusia-Jepang. Reformasi yang digagas gagal dan membuat Raja Nikolas II mundur," gumam Raisa dalam hati.


"Lalu di tahun sekitar 1933-1945 akan ada pembantaian besar-besaran yang dinamai Holocaust,' lanjutnya.


"Richard!" panggilnya pada sang putra.


"Ya Mom,"


"Apa kau sudah membeli pesawat tempur milik Rusia yang kemarin dilelang?" tanya sang ratu.

__ADS_1


"Sudah Yang Mulia,' jawab Richard.


Ratu Raisa mengangguk. Ia memang suka sekali melihat dan memberi saran bagaimana memperkuat pertahanan dari serangan musuh.


Bahkan ketika perang Rusia dan Jepang beberapa tahun lalu, sang suami mengirim dua puluh pesawat tempur untuk membantu walau saat itu kalah karena Rusia ternyata juga tengah bergejolak di negaranya karena Raja Tsar Nicholas II begitu otoriter.


Ratu Raisa juga terus membuat gudang penyimpanan makanan dan juga menyiapkan banyak obat-obatan. Raisa sudah membekali kekaisaran dengan banyak persiapan agar ketika terjadi perang. Semua sudah siap. Bahkan bungker-bungker bawah tanah tempat bersembunyi juga sudah siap.


"Apa yang kau lamunkan sayang?" tanya sang suami.


Raisa membalikkan badannya. Wanita itu menatap sang suami yang begitu sangat ia cintai. Sejak pertama ia melihat Henry, Raisa sudah jatuh cinta pada pria yang memberinya lima anak itu.


"Aku hanya menatap semua anak-anak kita. Sebentar lagi pernikahan Joana," ujarnya lirih.


"Iya, mereka cepat sekali besar ya," sahut Henry mengangguk.


"Ya, Putri bar-bar mu bahkan kini tengah mengandung," sahut Raisa.


"Ya, Princess Anna memang subur, baru menikah beberapa bulan, kita sudah dibuatnya jadi kakek dan nenek," sahut Henry terkekeh.


Kaisar George memegang kendali kekuasaan begitu sangat bijak dan berani. Pelabuhan besar bertambah, arteri militer diperkuat.


"Menikahlah dengan salah satu putri kami," pinta mereka.


Dua belas gadis bangsawan menekuk kaki mereka. gaun pendek yang mereka pakai begitu modern dan menentang fashion di jamannya. Bahkan warna-warna terang dan begitu berani sangat mendominasi, walau hitam dan putih tetap menjadi warna favorit. Riasan-riasan mereka juga tidak mencolok.


Kaisar George hanya bisa menghela napas panjang. Ia menoleh pada ibunya.


Ratu Raisa mengerti jika putranya belum bisa memilih. Wanita itu hendak memilihkan satu gadis yang menarik perhatiannya.


"Sayang," Henry menghentikan sang istri.


"Biar putra kita yang memilih dengan hatinya," lanjutnya.


Ratu Raisa akhirnya menyerahkan semua pada sang putra. Kaisar George menolak semuanya. Ia memang belum siap untuk menikah.


"Yang Mulia," semua kecewa atas keputusan Kaisar mereka.


"Jangan paksa putraku Duke Raul!" peringat Henry tegas.


Semua bangsawan pun diam. Para gadis digiring keluar. Mereka sangat kesal pada kaisar yang malah tak tertarik pada mereka.

__ADS_1


"Apa matanya bermasalah?" tanya salah satu menyindir.


"Ssshhh ... pelankan suaramu!" bisik salah satu gadis lagi.


"Padahal kita sudah bergaya habis-habisan seperti keinginan Ratu. Mereka menyukai gadis sederhana, sedikit berani dan pintar!" sahut lainnya lagi.


"Mungkin Kaisar George memiliki kriteria lain?" sahut gadis lainnya.


"Hei ... jangan bergosip!" sentak staf protokoler.


Delapan gadis langsung terdiam. Mereka memilih berjalan cepat dan meninggalkan istana.


Sore menjelang, kaisar yang baru saja diangkat keluar dari ruang rapat. Ayah dan ibu mereka sudah menyerahkan penuh semua keputusan pada putranya. Hanya Ratu Raisa yang sesekali membantu pekerjaan sang kaisar.


"Kaisar!" Prince Richard membungkuk hormat.


"Oh ... ayo lah Kak!" protes George kesal.


Richard terkekeh, tapi memang demikian harus ia lakukan. Sang adik sudah menjadi Kaisar, maka sebagai bawahan. Richard harus menekuk kaki dan membungkuk hormat.


"Apa kenapa mukamu kusut setelah keluar dari ruangan itu?" tanya sang kakak yang menjadi panglima dan tangan kanan sang kaisar.


"Tadi kau begitu memukau ketika semua ide keluar dari otakmu?" lanjutnya terkekeh.


George memutar mata malas. Pemuda itu memilih duduk di sofa, ia menepuk sebelahnya agar kakaknya duduk. Richard sangat paham apa yang diinginkan adiknya.


George merebahkan kepalanya di pangkuan sang kakak. Richard akan memijit kepala sang adik pelan. Itulah kebiasaan George. Bukan hanya George, William dan Elizabeth pun sama. Mereka begitu manja pada Richard.


"Aku ingin kembali kecil seperti dulu," keluh George.


"Tapi kau sudah besar sekarang," sahut Richard.


"Kak ... jika dunia berganti ... aku tak mau berpisah denganmu. Aku juga tak mau lahir dari perempuan lain selain Mommy," ujar George.


Richard menghela napas. Ia mengangguk setuju. Ia tak mau menukar apapun. Jikapun kehidupan berganti, pemuda itu ingin lahir dari perempuan yang sama dan dari benih pria yang sama. Ayah dan ibu mereka.


Bersambung.


Udah gede aja mereka.


Next?

__ADS_1


__ADS_2