
Lima puluh pasang bangsawan yang diragukan gelarnya itu kini tengah protes di hadapan Ratu barunya.
"Aku tidak terima jika tanahku diambil paksa! Kau mau mencuri apa?!"
"Siapa yang mencuri di sini?" tanya Ratu Raisa menggebrak meja hingga berbunyi keras.
"Duke Brixton!"
"Yang Mulia, sertifikasi tanah mereka palsu semua!" lapor Duke Brixton lalu memberikan salinan berkas asli.
"Ini lihat, salinannya saja ada tanda kerajaan!" tekan Ratu Raisa.
Wanita penguasa itu melempar salinan itu di meja. Semua orang yang mengaku bangsawan itu saling lirik.
"Yang Mulia Ratu, Countess Diana Lorenzo hendak melapor!" seru Kasim di depan pintu.
"Suruh masuk!" teriak Ratu Raisa.
Seorang perempuan bergaya rambut bouffant, gaya rambut dengan ciri atas tinggi dan ujung rambut mengembang. Gaya modern yang sedang hit di masanya. Wanita itu menekuk kaki dan menunduk kepalanya hormat.
"Apa laporannya Countess?!" tanya Ratu Raisa.
Kaisar Henry masih setia di sisi Ratunya, pria itu tak bergeming dari sana hanya memandang datar semua orang termasuk wanita cantik yang baru datang.
"Hamba melaporkan semua silsilah kebangsawanan yang benar Yang Mulia Ratu!" ujarnya.
Semua pria dan wanita yang mengaku bangsawan lupa dengan sosok wanita yang baru datang ini. Countess Diana Lorenzo adalah wanita bertangan besi dari wilayah kerajaan Jones. Wanita berusia tiga puluh tahun adalah pemegang silsilah kebangsawanan turun-temurun. Wanita itu adalah keturunan kelima pemegang catatan kebangsawanan.
"Dari semua catatan yang hamba teliti dan periksa. Semua orang yang ada di ruangan ini hamba pastikan bukan bangsawan kecuali Yang Mulia Ratu, Kaisar, Duke Brixton, Viscount Hugrid dan Marquez Dovanos!" jelas wanita itu lalu menyerahkan satu buku tebal di mana itu adalah pohon keluarga bangsawan.
"Itu tidak benar!" teriak seorang wanita mengaku duchess.
"Apa bisa buktikan Viona?" sentak Countess Diana.
"Ayahmu seorang pelaut dan ibumu seorang wanita penghibur!" lanjutnya marah.
"Aku anak adopsi mereka," sahut wanita bernama Viona itu.
"Hah ... apa lagi kau mengatakan anak adopsi. Sungguh keterlaluan sekali jika mengaku keturunan bangsawan!" cibir Countess Diana sengit.
"Diam!" bentak Ratu Raisa marah hingga semuanya menunduk takut.
"Perdebatan kalian membuatku pusing!" lanjutnya.
__ADS_1
Ratu Raisa mengurut dahinya. Tak ada yang berani bersuara. Beberapa prajurit siap mengusung pedang jika ada yang berani bersuara.
"Apa hukuman bagi orang-orang yang mengaku bangsawan ini Countess?" tanya Ratu Raisa pada akhirnya.
"Mereka dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan seluruh keturunannya!" jawab wanita itu.
"Duke Brixton! Lakukan hukuman bagi semua orang ini!" titah Ratu Raisa tegas.
''Ini tidak benar!" teriak semua bangsawan palsu itu.
Mereka semua diseret keluar dari ruangan. Tak peduli wanita atau pria, namun ada seorang wanita hamil di sana yang tunduk pada hukuman, ia mengikuti para prajurit yang menyeret suaminya.
"Hentikan perempuan itu!" titah Ratu Raisa.
Beberapa prajurit menahan sang wanita hamil. Ia malah memberontak.
"Tolong, biarkan aku ikut hukuman itu. Aku juga menikmati uang hasil dari pencurian ini!"
"Nyonya, anda sedang hamil!" ujar staf istana.
"Tidak apa-apa, anakku ikut makan uang curian itu. Kami pantas dihukum!" teriaknya menangis.
"Biar aku yang menghukumnya!" teriak Ratu Raisa yang membuat ibu hamil itu terdiam.
"Bawa dia ke tengah lapangan!" lanjut Ratu Raisa kesal.
Siapa sangka dramanya itu malah diamini ratunya. Kini ibu hamil itu berjalan sambil menunduk dengan derai air mata.
'Nak ... kita akan sama-sama sakit sayang. Sebisa mungkin Ibu akan melindungimu,' gumamnya lirih.
Ia terus mengusap perutnya yang besar. Banyak warga mencaci ratu mereka yang begitu kejam karena menghukum ibu yang tengah mengandung.
"Hukuman cambuk bagi para pendusta dan pencuri tanah kerajaan!" pekik Kasim.
Semua pria dibuka baju atasannya. Mereka disuruh berlutut. Algojo melayangkan cambuknya.
Celetar! Bunyi pecutan terdengar memekak telinga. Bunyi itu berbarengan dengan teriakan kesakitan para pria.
Para wanita tak dibuka bajunya. Mereka menangis bahkan ada yang langsung pingsan mendengar jeritan para laki-laki. Semua masyarakat mulai takut berbicara karena tak satu petugas istana berusaha menolong atau mengobati para wanita yang pingsan.
"Mereka mencuri dan banyak membunuh warga tak bersalah karena perebutan lahan yang bukan milik mereka. Hukuman cambuk sangat ringan dibanding hukuman pancung!" teriak staf istana pada warga.
Seratus cambukan selesai dilakukan. Dua puluh lima pria sudah tak sadarkan diri dengan punggung penuh luka cambuk. Mereka digotong begitu saja dan di bawa masuk ke sebuah ruangan tak jauh dari sana. Kini giliran para wanita yang dihukum seperti suami-suami mereka. Sang ibu hamil menitikkan air matanya. Ia meringkuk melindungi sedemikian rupa agar cambuk itu benar-benar tak menyentuh perutnya.
__ADS_1
'Nak ... tahan ya ... huuuuu ... hiks ... hiks!"
"Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Kaisar tiba!" pekik Kasim.
Ratu Raisa menatap semua wanita yang berlutut di sana. Tampak bahu gemetar dan bahkan ada yang dibaringkan tertelungkup karena pingsan.
"Ampuni kami Ratu ... ampun!" pekik sang ibu hamil tak tahan.
"Ampuni kami Yang Mulia ... hiks ... hiks!"
Begitu pilu dan menyayat, hingga semua warga memilih membalikkan badan mereka tak tega. Semua ikut menangis, mendengar jeritan pilu seorang ibu untuk melindungi anak yang masih dalam kandungannya.
"Hamba mohon ampuni kami Yang Mulia ... hamba siap mencium kaki Yang Mulia jika memberikan ampunan ini!" pekiknya dengan derai air mata.
Ratu Raisa memegang pecut yang ada di tangan algojo. Ia menyentak kuat di udara, seakan menulikan teriakan minta ampun itu.
Celetar! Bunyi pecutan terdengar sekali. Celetar! Kembali suara pecut terdengar begitu nyaring hingga membuat semua orang menangis akhirnya bersimpuh pada sang ratu.
"Ratu ampuni kami Ratu ... kami akan menurut apapun keputusan Ratu. Baik tentang tanah, tambang atau apapun itu!" teriak para masyarakat.
"Katakan lebih keras!" teriak Ratu Raisa kembali melecutkan cambuk ke udara.
"Kami menjunjung tinggi keputusan Ratu demi kemaslahatan kerajaan ini!" teriak para masyarakat.
"Yang Mulia Duke Brixton beri plakat pada Ratu jika kami tunduk pada kepemimpinan beliau asal kesejahteraan kami tetap dikedepankan!" ujar salah satu warga.
Duke Brixton mencatat itu dan langsung menuju petugas istana membuat plakat atas nama rakyat.
"Bawa mereka dan obati semua yang terluka!" titah Ratu Raisa.
"Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia!" teriak semua warga bersujud menyembah ratu mereka.
Semua wanita digiring ke dalam ruangan. Ibu hamil mengusap perutnya penuh kelegaan. Kaisar Henry telah membawa ratunya ke dalam. Di ruangan utama Ratu Raisa menangis diperlukan suaminya.
"Sayang ... tenangkan dirimu," ujar pria penguasa itu menenangkan istrinya.
Sungguh Raisa tadi juga nyaris menangis mendengar ratapan wanita hamil itu. Hatinya lebur mendengar sayatan pilu seorang ibu untuk melindungi janin dalam perutnya. Ia bukan wanita yang kejam.
"Aku tak sejahat itu Kaisar ... hiks ... hiks ... aku tak sejahat itu!" isaknya.
"Iya ... aku tau sayang ... kau hanya menggertak mereka agar mau menurut pada perintahmu. Siapa sangka berkat jeritan seorang ibu, semua warga akhirnya tunduk pada ratu mereka," ujar Kaisar Henry salut dengan pikiran istrinya.
Bersambung.
__ADS_1
Di mana otak cerdas dibutuhkan pada waktu yang tepat. Hasilnya pasti memuaskan.
next?