
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa kini Ratu Raisa sudah dalam proses persalinan. Sudah lima jam Kaisar Henry berada di dalam ruang persalinan Sedang empat kembar bersama para pelayan.
Tak lama tangisan kencang terdengar. Marquez Albert langsung berdiri mendengar tangisan itu. Seorang dokter keluar dan mengatakan jika Ratu melahirkan seorang putri raja nan cantik.
"Kita kehadiran seorang putri cantik!" pekik Sir Alex ketika mengumumkan kelahiran itu.
Semua rakyat bersorak, hanya ada berita sedih Ratu harus diikat rahimnya agar tak melahirkan lagi. Alasan usia dan juga rahim ratu yang bermasalah.
"Kami hanya ingin Ratu fokus dengan kesehatannya!" jelas Dokter.
Kaisar Henry tak keberatan, lima anak sudah cukup baginya. Kini ia memandangi putrinya yang sangat mirip dengannya itu. Setelah empat anak kembar pertama mirip ibunya, hanya Princess Elizabeth saja yang matanya berbeda karena sama dengan milik ayahnya.
"Halo sayang, ini putri kita," ujar pria penguasa itu menggendong bayi dan meletakkan di sisi sang ibu.
Kaisar Henry juga merebahkan dirinya. Ratu Raisa mengusap dagu pria yang ia cintai. Wanita itu tak mau menggantikan apapun momen ini.
"Aku bahagia sekali Yang Mulia," bisik wanita itu.
"Aku juga," sahut sang suami ikut berbisik.
Keduanya mengecup pipi bayi mereka yang tampak kemerahan, rambutnya yang lebat dan hitam, sama seperti ayahnya.
"Aku harap dia tak lebih bar-bar seperti Princess Anna," kekeh Ratu Raisa penuh harap.
"Aku tak masalah dengan itu sayang. Malah aku suka," sahut pria penguasa itu.
"Kau tau apa perbuatannya kemarin? Anak itu hampir tercebur kolam karena mengejar kupu-kupu!" lanjutnya.
"Astaga, Anna!" pekik Ratu Raisa tertahan.
"Untung Rosa melihatnya dan mampu mengejar anak nakal itu!'
"Yang Mulia, tutup semua kolam. Aku takut!" pinta wanita itu.
"Tenang sayang. Kini semua kolam diberi pagar besi keliling agar tak ada yang mendekat. Terlebih ada teratai terbesar di sana," sahut Kaisar Henry menenangkan istrinya.
Sore menjelang, Prince Richard, Prince Rayeen, Prince William, dan Prince Goerge melihat adiknya.
"Dia cantik sekali!" puji Prince William.
Prince Rayeen juga sudah sering datang dan bermain bersama empat kembar kaisar itu. Setelah kelahiran adiknya, bayi mau berusia tiga tahun itu kini dengan berani naik dan tidur di sisi Ratu Raisa bersama tiga pangeran Horton.
"Ah ... apa aku tambah anak lagi?" kekehnya ketika Rayeen memeluknya secara posesif.
"Iya sayang, bayi tampan itu juga mulai kritis terhadapku!" adu Kaisar Henry.
Pria penguasa itu membiarkan empat pangeran itu tidur di sana. Ia yakin sebentar lagi Princess Anna datang sambil berteriak.
"Baby!"
"Ah ... itu dia perusuh datang!" kekeh pria penguasa itu.
__ADS_1
Tiga putri menciumi bayi cantik satu persatu, sang kaisar sendiri yang mengangkat mereka.
"Mo bobo sama Queen!'
Akhirnya kasur besar itu penuh dengan bayi. Kaisar Henry begitu gemas.
"Sayang ... menyeliplah di sini," pinta sang istri merapatkan tubuhnya pada para bayi dan menyisakan ruang di belakang tubuhnya.
Kaisar Henry masuk dan memeluk erat wanita yang telah memberinya lima anak itu.
"Kau cantik dan wangi sayang," bisiknya mesra.
"Sayang," rengek wanita itu manja.
Kaisar Henry terkekeh, pria itu mengecup pelipis istrinya. Lalu ia keluar ruangan setelah melihat semuanya terlelap.
"Jaga Ratu dan anak-anak!" titahnya.
"Baik Yang Mulia!" ujar para maid langsung melaksanakan perintah.
Dua hari kemudian, ratu dan bayinya sudah berada di istana. Kini Raja Jones menjadi ayah baptis putri cantik itu. Entah berapa kali pria itu menciumi bayi itu hingga membuat putranya yang belum satu tahun marah padanya.
"Don't!"
"Sayang, kemarikan bayi cantik itu. Kau mengganggunya!" dumal sang istri.
"Aku gemas sayang," ujar sang raja.
"Hei ... kau berani padaku bayi!" tantang Raja Jones pada putranya.
"King!' adu bayi tampan itu.
"Ah ... dasar pengadu!" gerutunya pelan.
Kini Prince Salomon berada di tangan Kaisar Henry. Bayi itu tampak tenang di sana, bahkan tertidur pulas di sana.
Princess Joana sudah berada di tangan ibunya. Raja Jones mengambil alih putranya yang galak itu dari tangan Kaisarnya.
"Selamat menikmati pesta!" perintah Kaisar.
Semua pun larut dalam hiruk pikuk pesta. Hingga malam menjelang, akhirnya pesta pun usai. Semua telah pulang dan para penghuni istana sudah terlelap kecuali para penjaga.
Marquez Albert merenungi nasibnya yang belum mendapatkan tambatan hati. Rosa ternyata pulang kampung untuk menikah, sebentar lagi wanita itu akan meninggalkan istana. Sebuah tradisi jika pelayan menikah, mereka harus meninggalkan istana.
"Apa aku harus menerima perjodohan yang dilayangkan oleh salah satu bangsawan tadi?" tanyanya bermonolog.
"Marqueza Lilian cantik, pintar. Tapi aku tak suka dengan gayanya yang sombong itu!' lanjutnya masih bermonolog.
"Terlebih, ia tak mau didekati oleh para bayi!" lanjutnya.
"Aku yakin, perempuan itu tak mau punya anak!" tuduhnya tak beralasan.
__ADS_1
"Apa dengan Duchess Briana?" ia lagi-lagi menggeleng cepat.
Pria itu merasa haus, ia memilih mengambil sendiri air di dapur.
"Rosa?" panggilnya pada sosok wanita yang sudah tak mungkin dimilikinya.
"Yang Mulia,' ujar wanita itu membungkuk hormat.
"Kau sedang apa?" sebuah pertanyaan bodoh keluar dari mulut sang Marquez.
Albert mengutuk dirinya yang sangat bodoh itu.
"Saya hendak mengambil air dan membuat kudapan Yang Mulia!' jawab wanita itu.
Marquez mengangguk, pria itu berlalu begitu saja setelah mengambil air yang memang ia butuhkan.
Pagi menjelang, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, Rosa pun mundur dari kepala pelayan dan pergi dari istana. Wanita itu pergi dengan hati berat, tapi sudah keharusan bagi dirinya pergi dari istana setalah menikah.
Satu kuda coklat datang dan berhenti di depan istana, sosok gadis dengan celana jodhpur dan atasan kaos lengan panjang. Ia melepas pengaman kepalanya. Beberapa pengawal mengambil kuda dan mengikatnya di tempat khusus kuda.
"Duchess Laura Hill tiba!" pekik Kasim.
"Hormat Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Ratu!' gadis itu menekuk kaki memberi hormat.
"Tegakkan tubuh Duchess!" titah sang kaisar.
Duchess Laura memberi map dan beberapa berkas sebagai laporan dari ayahnya. Gadis itu ditugaskan sang ayah memberi laporan keuangan dan pajak yang diberikan pada kekaisaran.
"Ini bagus sekali!" puji Ratu Raisa.
"Apa ini hasil hitunganmu Duchess?" tanyanya.
"Ampun Yang Mulia, saya hanya sedikit saja membantu ayah saya,' ujar gadis itu.
"Baiklah, aku menerima laporan ini. Kau pergilah memutari istana, nanti kami panggil setelah selesai memeriksa semua!" titah Ratu Raisa lagi.
Gadis itu kembali menekuk kakinya. Ia pun berjalan mengelilingi istana bersama Sir Anthony. Marquez Albert tengah melatih beberapa prajurit. Duchess Laura menatap pria tampan itu.
"Astaga ... dia tampan sekali!' pujinya dalam hati.
"Dia adalah Marquez Albert, Yang Mulia!' sahut Sir Anthony.
"Apa dia memiliki kekasih?" tanya sang putri bangsawan langsung.
"Setahu saya belum Yang Mulia!' jawab. Sir Anthony.
Duchess Laura mengangguk, ia akan kembali nanti dan meminta ayahnya untuk pria itu menjadi tunangannya.
"Aku akan bersuami seorang panglima besar!" ujarnya penuh harap.
Bersambung.
__ADS_1
Next?