
Hari pernikahan memang masih dua bulan lagi, tapi keduanya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Henry dengan pekerjaannya dan Geisha dengan kuliahnya. Undangan di sebar, Laisya kini tinggal di mansion orang tua Geisha, gadis itu bekerja sebagai maid. Ia tak mau tinggal secara gratis di sana, padahal Regina tak masalah jika gadis itu tinggal di sana.
"Mestinya yang kita rawat adalah Laisya bukan Laura," ujarnya pada sang suami.
"Sudah lah sayang. Laura sudah dihukum cukup lama dan akan keluar setelah dia tak bisa apa-apa!" seru David kesal.
Regina meminta maaf pada sang suami. Ia tau jika dirinya cukup keterlaluan, ia juga ambil porsi atas tindakan keponakan suaminya itu.
"Aku juga minta maaf karena tadi bersuara keras padamu," sesal pria itu.
Laisya kini bersama sahabatnya pergi ke kampus, kali ini David menyuruh mereka diantar supir. Keduanya pun menurut, sampai kampus. Mereka berpisah jurusan. Jika Geisha jurusan management ekonomi, sedang Laisya jurusan sekretaris, gadis itu akan menjadi bawahan sahabatnya nanti.
Tak terasa waktu pulang tiba, mereka kini pulang bersama-sama. Karena mobil belum datang, keduanya memilih menunggu di halte depan kampus.
"Lay!" gadis yang punya nama menoleh.
Seorang pria datang dengan wajah panik, Laisya mengenali pria itu. Ia adalah tetangga sang gadis.
"Ayahmu ... ayahmu!" ujarnya seperti hendak mengatakan sesuatu.
"Apa ... ada apa dengan Ayah?" tanya Laisya cemas.
Sejahat apapun orang tua, seorang anak tentu tak bisa mengabaikannya. Laisya pasti cemas dengan keadaan ayahnya.
"Ayahmu dirampok. Kini dia ada di rumah sakit!" terang pria itu.
"Jangan berbohong!" seru Geisha tak percaya.
"Dari kemarin kami menghubungimu!" sahut pria itu.
Laisya mengambil ponsel yang ia matikan dari kemarin. Gadis itu cukup kaget dengan banyaknya panggilan dari nomor ayahnya.
"Nyonya Brenda yang menelepon mu dari kemarin!" sahut pria itu.
Geisha mengikuti sahabatnya, mereka mendatangi rumah sakit. Rumah gadis itu kini diberi garis polisi. Beberapa barang berharga seperti televisi dan uang juga ponsel milik Rob diambil oleh perampok.
"Kami menduga jika pelaku marah dan hendak membunuh korban karena tidak mendapatkan apa-apa," jelas polisi ketika Laisya dan Geisha sampai di rumah sakit.
Laisya menangis melihat kondisi ayahnya. Pria itu dibalut perban. Rob menatap putrinya.
"Nak ... maafkan ayah," pintanya lirih.
"Jangan berkata apapun ayah. Pikirkan kesehatan ayah ... hiks!"
"Maaf ... ayah tak bisa mendampingimu ke altar ketika kau menikah nanti," ujar pria itu lagi.
"Ayah baik-baik saja ... ayah pasti baik-baik saja!" isak Laisya.
__ADS_1
Geisha hanya diam, ia juga ikut menangis dan menenangkan sahabatnya. Rob menggenggam tangan putri yang ia sia-siakan semasa hidupnya.
"Ayah pergi ya Nak," Laisya menggeleng kuat.
Genggaman tangan Rob lepas perlahan. Bunyi monitor membuat semua tim medis memberikan penanganan. Laisya dan Geisha dibawa keluar. Laisya menangis pilu memanggil ayahnya.
"Ayah ... hiks ... hiks ... ayah!"
Dua puluh menit, Laisya hanya terdiam menatap tubuh kaku yang kini diselimuti kain putih. Sepucuk surat ditinggalkan pria itu untuknya, seorang dokter yang memberikannya.
"Lay," panggil Geisha lirih.
David datang ke rumah sakit setelah diberitahu para pengawal yang mengikuti Geisha. Pria itu kini menenangkan dua gadis yang menangis dan saling berpelukan.
"Korban meninggal karena luka bacok yang mengenai hati," lapor dokter menjelaskan kematian Rob.
"Kita urus jenazah ayahmu Lay," ujar David lirih.
Laisya hanya mengangguk, ia memberikan sepucuk surat yang diberikan mendiang ayahnya.
"Itu surat untukmu, Nak," ujar David.
Kini para medis mengurus surat kematian, para polisi masih sibuk menyelidiki kasus perampokan di rumah Rob.
"Aku tak sanggup Tuan," sahut Laisya lirih masih terisak.
"Dear my pretty girl,
Maaf Nak, sebenernya ayah berbohong padamu soal ingin menjualmu tadi pagi. Ayah tau jika perampok itu akan datang dan akan memperkosamu.
Nak, mereka adalah teman-teman satu judi dan satu mabuk ayah. Makanya Ayah berbohong agar kau pergi dari rumah.
Nak ... hanya itu yang bisa ayah lakukan untuk menyelamatkanmu.
Ayah mencintaimu Nak ... sungguh Ayah mencintaimu.
Salam sayang.
Ayahmu. Rob"
Laisya menangis pilu. Geisha memeluk sahabatnya erat. Tak menyangka pengorbanan seorang ayah untuk putrinya.
Laisya pun jatuh tak sadarkan diri, bertepatan datangnya Henry dan Albert. Kini Laisya dirawat, sebuah infus tergantung dan menusuk di lengan kanannya.
"Nak, kami akan menguburkan jenazah ayahmu," ujar David dengan suara berat.
"Aku ingin ke peti ayah Tuan," pinta gadis itu.
__ADS_1
"Nak, kamu sedang tak baik-baik saja!" peringat David.
Geisha hanya mengangguk, gadis itu tak bisa berkata apa-apa. Ia kini dalam pelukan calon suaminya.
Regina datang membawa baju formal untuk dipakaikan di jenazah, sebuah peti berwarna coklat disediakan. Para petugas pemulasaraan yang mengurus jenazah pria malang itu.
Berkat surat dari Rob, semua penjahat tertangkap, lima orang terduga dan juga beberapa senjata tajam sebagai barang bukti.
Rob ternyata juga memberinya gaun pengantin yang sederhana untuk gadis itu. Tetangga sang gadis, Nyonya Brenda mengantarkannya.
"Nak, ayahmu telah menyiapkan ini lama. Ia ingin melihatmu memakai pakaian pengantin ini sayang,"
Laisya kembali menangis, ia mencabut infusnya dan memakai gaun itu. Brenda mendandani gadis itu dengan mahkota bunga yang juga telah disiapkan sesuai permintaan pria yang kini terbujur kaku di dalam peti.
Laisya berjalan dengan bahu bergetar, peti mati masih terbuka. Sosok pria dengan wajah pucat terbaring di dalamnya dengan pakaian formal pemberian dari Regina.
"Ayah ... aku cantik kan?" tanyanya lirih.
Semua mengusap air mata mereka. Regina memeluk suaminya, ia yang biasa mendandani mayat tak kuasa menahan kesedihannya.
Entah kenapa Albert maju mendekati gadis yang kini memegang pinggiran peti sambil menangis. Pria itu menggenggam tangan sang gadis. Geisha tersenyum melihat itu, dugaannya tepat. Laisya lebih dulu menikah dari padanya.
Laisya terkejut, ia coba melepas genggaman tangan besar itu. Albert menahannya, netra birunya menatap gadis itu tajam dan penuh ketegasan.
"Tuan Rob, aku Albert Cosemus Rorton ingin mengambil putrimu Laisya Almira Rob Diensel sebagai istriku!"
"Tu-tuan," cicit Laisya.
Henry menghela napas panjang, walau sedikit kesal karena didahului menikah oleh asisten pribadinya, tapi pemuda itu senang Albert membuka hati untuk sosok gadis yang butuh pendamping setelah kepergian ayahnya yang tragis.
Pernikahan dadakan pun terjadi, di depan peti Rob yang masih terbuka. David. mendatangkan pendeta, Albert ikut hadir di sana menyaksikan pernikahan Albert, ajudan sang putra.
"Kalian telah resmi jadi suami istri!" ujar pendeta. "Kau boleh mencium istrimu!"
Albert mengecup bibir istrinya lembut. Laisya hanya bisa menutup bibirnya rapat, itu ciuman pertamanya.
Taburan bunga memenuhi makam yang basah. Albert menggenggam erat tangan sang istri.
"Kini semua sedih, bahagia, tawa dan tangismu adalah sedih. bahagia, tawa dan tangisku juga. Berbagilah denganku istriku, sekarang dan selamanya, aku akan mendampingimu!" janji Albert pada istrinya.
Bersambung.
Ah ... ada air mata.
happy wedding Albert.
Next?
__ADS_1