Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
WAKTU YANG BERLALU


__ADS_3

The Quarto's Horton's Emperor sudah bersekolah. Mereka menempuh pendidikan khusus kerajaan, dididik untuk menggantikan kepemimpinan raja yang pasti akan turun tahta.


Princess Anna juga sibuk ingin sekolah. Putri galak itu memaksa ayahnya untuk mendaftarkan dirinya sekolah.


"Kamu belum waktunya sekolah Baby," ujar ayahnya memberi pengertian.


Bayi kembarnya juga sudah mulai usil. Padahal usianya belum satu tahun, tetapi mampu membuat satu istana kelabakan. Belum lagi putra dari Raja Jones, yang kini tengah merusak bunga di halaman.


"Baby!' sang ibu mengangkat bayinya itu.


'Kau akan dimarahi ratu sayang!' lanjutnya menakuti.


"Tidak akan Permaisuri!' bantah Ratu Raisa tegas.


'Jangan seperti itu menegurnya!" lanjutnya protes.


Wanita istri penguasa itu mengambil bayi tampan, lalu melihat tangan kecil Prince Layael Jones tampak memerah karena menarik paksa bunga-bunga itu.


"Lihat Baby, tanganmu apa tidak perih?" tunjuk sang ratu.


"No," geleng bayi itu.


Ratu Raisa mengobati tangan sang pangeran yang lecet. Barulah bayi itu terisak karena perih.


"Mommy ... hiks ... hiks,"


"Uuhh ... sayang," Leana mengambil putranya yang sok jago itu.


Akhirnya Prince Layael terlelap dalam gendongan sang ibu. Sedang Marquez Arthur bergandengan tangan dengan Duchess Laura, pria itu menerima perjodohan yang ditawarkan oleh ayah gadis itu.


"Lala!' panggil Princess Anna pada kekasih sang panglima.


Gadis itu tentu gemas dengan putri raja yang cantik, montok dan pemberani itu. Ia menggendong bayi dua tahun itu lalu mengecup pipi bulat Princess Anna.


"Yang Mulia ingin kemana?" tanyanya gemas.


"Anah!" tunjuk Princess Anna pada suatu tempat.


Duchess Laura memang sangat menyukai anak-anak, bahkan ia bercita-cita ingin punya lima puluh anak. Hal itu lah yang membuat Marquez Albert mau dijodohkan dengan sang gadis. Selain cantik, Laura juga baik dan ramah serta cerdas.


Raja Namont datang, pria itu masih setia dengan kesendiriannya. Banyak bangsawan menawarkan anak gadisnya pada pria penguasa itu. Tetapi, tak ada satu gadis atau wanita yang mampu menggoyahkan hati pria itu. Raja Lucyfer pun sama. Pria itu masih belum mendapatkan tambatan hatinya.


"Yang Mulia, maafkan hamba," Duchess Hilda menekuk kakinya ketika tak sengaja menabrak Raja Lucyfer.


"Tak masalah Baronetess," sahut pria berwajah bengis itu.


Sang raja hanya lewat begitu saja. Hilda menatap punggung lebar pria salah satu penguasa itu. Lucyfer sudah diangkat jadi raja sesungguhnya di wilayahnya. Ratu Raisa sendiri yang mengangkatnya setelah selama lima tahun ia menjadi raja bayangan.


"Ssshhh ... kenapa sakit sekali," keluh sang gadis meraba dadanya.

__ADS_1


Sang ibu Baronetess Imelda mengusap lengan putrinya. Semenjak ratu menghukum gadis itu dengan seratus cambukan. Hilda jauh banyak berubah.


"Apa aku tak mungkin jadi istri raja ibu?" tanyanya lirih.


"Nak, kita seorang baroness. Seorang Raja setidaknya menikah dengan Duchess," jawab ibunya.


"Tapi Raja Jones menikahi pelayan, Ibu," sahut gadis itu lirih.


"Mungkin karena ia beruntung," jawab sang ibu lagi.


"Jadi aku kurang beruntung?"


"Sabarlah sayang. Besok, ada sepupumu datang. Kau bisa menikah dengannya. Mungkin nasib kita hanya sebagai Baronetess abadi," ujar wanita itu menenangkan putrinya.


Raja Namont mendengar percakapan itu. Pria itu mulai menilai Hilda, tapi tak ada satu getaran yang ia rasakan untuk gadis itu.


"Jika aku memaksa. Kasihan dia," gumamnya pelan.


Pertemuan antar raja yang melaporkan hasil bumi dan pemberian pajak menjadi agenda rutin bagi semua kerajaan.


"Perkembangan wilayah makin luas. Bahkan Wilayah paling selatan yang dipimpin oleh Bruno kini menjadi kota distrik yang maju!" ujar Kaisar puas dengan semua laporan.


"Kerja bagus Yang Mulia!" lanjutnya lalu berdiri dan memberi hormat pada semua raja yang hadir di sana.


"Terima kasih atas sanjungannya Kaisar!" ujar mereka juga ikut berdiri dan membungkuk pada kaisar mereka.


Pesta meriah diadakan para rakyat, kemakmuran sebuah negara jadi sorotan dunia. Terlebih kini banyak wilayah yang ingin bergabung jadi bagian dari kekaisaran.


Dua pria datang membawa berkas. Mereka melaporkan wilayah mereka, keuntungan, juga beberapa tambang yang menguntungkan Kekaisaran.


"Bagaimana jika kalian membentuk negara!" saran Kaisar Henry.


"Jujur, wilayah kalian sangat jauh dari kekuasaan kami. Saran saya adalah kalian membentuk negara dan berdikari. Saya akan mengirim kerjasama untuk pembangunan rel kereta api dan juga jalan raya besar antar negara. Buat perbatasan yang tegas untuk pembagian wilayah per provinsinya!" lanjut sang kaisar.


"Kami tidak punya keahlian," ujar salah satu dari mereka.


"Saya yakin kalian bisa!" ujar pria penguasa itu, "Akan saya kirim beberapa ahli untuk membantu kalian!'


Akhirnya mereka pun pulang, Kaisar Henry meminta Raja Namont untuk membantu keduanya membentuk negara baru.


"Baik Yang Mulia!"


"Jika kau butuh bantuan, kau bisa membawa Raja Lucyfer untuk membantumu!" saran sang kaisar.


"Saya tidak keberatan Yang Mulia!" sahut Raja Lucyfer senang.


"Baiklah, aku juga tak mungkin bekerja sendiri. Raja Lucyfer, kita bawa beberapa ahli untuk mengerjakan beberapa tugas, seperti pemetaan wilayah dan pembagian provinsi!"


Raja Lucyfer mengangguk. Mereka pun pergi menggunakan kereta api dan akan naik mobil ke dua wilayah itu.

__ADS_1


Sementara itu Marquez Albert duduk berduaan dengan sang kekasih di taman belakang mereka saling menggenggam tangan. Duchess Laura begitu bahagia mendapatkan pria yang ia inginkan.


"Yang Mulia, apa kau mencintaiku!" tanya sang gadis menatap pria pujaannya.


"Jujur, belum Yang Mulia," jawab Albert tegas.


"Oh," sahut Duchess Laura.


Gadis itu tersenyum miris, ia melepas genggamannya. Hal itu membuat Marquez Albert mengerutkan dahi.


"Kenapa kau lepaskan tanganmu?" tanyanya gusar.


Pria itu kembali menggenggam tangan sang gadis, ia menariknya hingga membuat tubuh gadis itu dalam pangkuannya.


"Yang Mulia!" pekik tertahan sang Duchess begitu terkejut.


Marquez Albert langsung menyambar bibir tunangannya. Ciuman pun terjadi, dua pasang mata menatap kemesraan sepasang kekasih itu.


"Ck ... kapan kita bermesraan seperti itu Raja?" tanya Permaisuri Rencyta kesal.


Wanita itu menatap sang suami yang kini lebih sering menggendong putra dan putrinya yang masih berusia dua dan tiga tahun itu.


"Kau lebih menyayangi keturunanmu," gerutunya kesal.


"Kau menggerutu pada siapa Yang Mulia?" sebuah suara mengagetkan sang permaisuri.


"Ah ... maafkan aku Ratu!" ujar perempuan itu.


Ratu Raisa menatap apa yang dilihat oleh sang permaisuri itu tadi. Ia pun tersenyum, sang kaisar pun kini lebih sering bersama putra dan putri mereka ketimbang berduaan dengannya.


"Aku juga sama ... Kaisar lebih sering mencium lima anaknya dari pada menciumku!' adunya.


"Oh ... astaga Yang Mulia?" Ratu Raisa mengangguk membenarkan.


"Apa semua suami sama?" tanya sang permaisuri.


"Permaisuri Leana, Permaisuri Darly juga mengeluhkan hal yang sama," lanjutnya.


"Tapi, itu lebih baik Yang Mulia," sahut Ratu Raisa mengerti.


"Dari pada ada gadis yang menarik perhatian suami kita?" lanjutnya.


"Akan kucincang wanita itu jika berani menggoda suamiku!" sahut Rencyta galak.


Dua wanita saling menatap, lalu keduanya pun tertawa lirih, seakan setuju dengan ide sadis yang baru saja melintas.


Bersambung.


bener banget. Habisi pelakor tanpa jejak!

__ADS_1


next?


__ADS_2