
Kelahiran putri pertama Marquez dan Marqueza Rorton lahir. Pria itu menangis ketika bayi yang mereka tunggu selama tiga tahun itu akhirnya kini bisa ia gendong.
"Puji Tuhan!" ujar Henry lega.
"Gara-gara anak itu Albert jadi seperti orang bingung," lanjutnya.
"Yang Mulia, Marquez menunggu putrinya setelah dua kali Marqueza keguguran," peringat Raisa.
"Iya, aku mengerti sayang," kekeh pria itu.
Kini the quarto's Horton's Emperor sudah berusia sepuluh tahun, sedang Princess Joana sudah enam tahun. Princess Anna dan Prince Layael sudah tujuh tahun. Sedang putri kembar dari Darly sudah mau lima tahun, begitu juga putra dari Raja Raymon menghadirkan kembali pangeran setelah putra mahkota Pangeran Rafael Raymon hadir bernama Prince Solomon Raymon.
Bayi cantik itu kini dalam gendongan Ratu Raisa. Wanita itu menciuminya dengan gemas karena begitu cantik dan bermata indah seperti ibunya.
"Kau cantik sekali sayang,"
"Mana bayinya!" pekik Princess Anna.
Putri raja itu masih bar-bar dan Putri Joana mengikuti jejaknya. Empat kembar mendekati bayi cantik itu dan bergantian menciumnya. Prince Anna dan Prince Joana juga menciumi bayi itu.
Kini pesta kembali dirayakan, Kaisar Henry dan Ratu Raisa yang menjadi orang tua baptis bayi cantik itu.
"Namanya adalah Marqueza Gabriella Cosemus Rorton," ujar Albert dengan tatapan bangga.
"Yang Mulia Gabriella," seru semua warga ketika bayi itu dipamerkan.
Raja Namont dan Raja Lucyfer masih setia sendirian. Mereka belum mendapatkan tambatan hati. Raja Lucyfer sudah pasrah, ia dulu memiliki banyak wanita yang bisa ia nikmati tanpa adanya pernikahan.
"Mungkin aku mendapat karmaku," ujarnya lirih.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Raja Namont.
"Tidak," geleng Raja Lucyfer cepat.
Namont berdecak, beberapa bangsawan mendekati keduanya dan memperkenalkan putri-putri terbaik mereka. Lucyfer memilih menyingkir, ia memang tak menyukai semua gadis bangsawan, pria itu ingin merasakan jatuh cinta. Raja Namont kelimpungan sendiri. Pria itu kesal dengan Lucyfer yang pergi meninggalkan dirinya.
"Jadi dia adalah calon sarjana hukum wanita pertama di dunia!" aku salah satu bangsawan bangga.
Raja Namont hanya tersenyum, gadis itu menekuk kaki hormat pada sang raja. Gaun yang dikenakan gadis itu masih bermotif kurungan ayam dengan pinggul ramping dan dada besar. Potongan dadanya juga begitu rendah hingga menyembulkan gundukan kenyal yang begitu menggoda.
Entah kenapa pandangan pria itu beralih pada sosok gadis yang sedang asik bermain bersama para penerus kerajaan. Tawanya begitu keras hingga membuat semua orang menoleh padanya.
"Duchess Marissa Mayer!" tegur staf protokoler.
__ADS_1
Gadis itu menutup mulutnya, Prince Layael tampak tak suka jika gadis yang ia sukai dimarahi.
"Jangan marahi dia!" tegur sang pangeran.
Staf protokoler hanya diam. Tentu ia tak mau berurusan dengan salah satu penerus kerajaan itu. Pangeran Layael memang sangat keras tabiatnya.
Namont tampak tertarik, ia pun perlahan mendekati gadis itu. Marissa ditarik ayahnya agar jangan buat gaduh.
"Ayah ... mereka lucu, jadi aku tertawa," ujarnya membela diri.
"Nak, kau ini seorang bangsawan. Jaga tabiatmu!' peringat sang ayah kesal.
Marissa hanya menunduk, ia sebenarnya kurang suka dengan acara kebangsawanan ini, gadis itu lebih suka berkumpul dengan rakyat biasa karena ia bisa bebas berekspresi.
"Semoga jodohku bukan bangsawan!" dumalnya pelan.
Sayang dumalan itu terdengar oleh Raja Namont, pria yang tadi ingin mendekati sang gadis langsung berhenti.
"Jika bangsawan saja dia tolak, apa lagi aku sebagai raja?" monolognya dalam hati.
Pria itu mundur teratur, sebenarnya Raja Namont bisa saja memaksakan dirinya untuk mengambil paksa gadis itu dalam pernikahan, tetapi ia tak mau.
"Mungkin dia bukan jodohku," ujar pria itu lalu pergi mencari Raja Lucyfer.
Lucyfer memilih menaiki kuda dan berjalan-jalan menyusuri halaman istana yang makin lama makin indah dengan banyak spot-spot cantik. Pria itu yakin jika ada campur tangan sang ratu untuk membuat taman indah ini.
"Ck ... sialan!" makinya pada diri sendiri.
Pria itu memacu kudanya. Hingga ketika di kolam besar dengan banyak bunga teratai di atasnya. Ia melihat wanita tengah memberi makan pada ikan di kolam yang berpagar besi itu.
"Apa di sini dulu kolam tempat Princess Anna nyaris tercebur?" gelengnya pelan mengingat kelakuan bar-bar salah satu putri raja itu.
Lucyfer turun dari kudanya. Pria itu penasaran dengan kolam yang sangat cantik itu.
"Apa ada ikannya?" tanyanya mengagetkan pelayan.
"Ah .. Yang Mulia!' gadis itu langsung menekuk kaki dan membungkuk.
"Tegakkan dirimu," pinta pria itu.
"Benar Yang Mulia, ini ada ikannya, " lanjut sang pelayan menjawab.
Hilda yang tengah berjalan-jalan menatap dua insan yang sedang berduaan di taman. Ia kembali menekan dadanya yang berdesir, setelah perjodohan dengan sepupunya kemarin gagal. Gadis itu selalu mengikuti Raja Lucyfer ketika pria itu datang berkunjung. Gadis itu jatuh cinta pada sang pria penguasa itu.
__ADS_1
"Kenapa sakit sekali," keluhnya sambil mengusap dada.
Hilda menatap kaca besar yang menutupi aula tengah di mana pusat pesta berada. Ia menatap dirinya yang terkesan biasa saja, memakai mini dress sederhana.
"Apa ini karmaku karena dulu mencoba menggoda kaisar?" cicitnya.
Satu tetes bening mengalir di pipinya, kembali ia melihat sepasang manusia yang kini tengah berduaan saja. Perlahan, Hilda menjauh dari tempat yang membuatnya makin sakit.
Gadis itu memilih pergi ke danau perak yang sedikit jauh dari istana. Langit mulai merah, lampu-lampu taman pun mulai dinyalakan. Banyak penjaga dan kesatria berseliweran di sana. Gadis itu duduk di sebuah batu besar sambil memandangi air danau yang tadinya biru berubah keperakan akibat menggelincirkannya sang surya ke barat.
"Raja Lucyfer," panggilnya lirih.
Angin berhembus lembut menyapu wajah manis Hilda. Gadis itu menekan rasanya, mencoba membunuh benih cinta yang makin liar.
"Sakit!' ia memukuli dadanya pelan.
"Ibu ... ini sakit sekali," isaknya lirih.
Imelda yang tengah berada di tengah pesta tampak mencari putrinya. Wanita itu begitu takut, semenjak Hilda dihukum cambuk, ia melarang putrinya berpergian atau berjalan sendirian tanpa dirinya.
"Hilda?"
Wanita itu nyaris berteriak memanggil nama putrinya, tapi ia takut menjadi pusat perhatian. Sementara itu Raja Lucyfer telah selesai berbincang dengan pelayan itu.
Pria itu memilih menaiki kudanya lagi dan pergi ke kolam di mana Hilda berada. Ketika kudanya makin dekat, ia mendengar suara wanita yang terisak.
"Ada yang menangis?" tanyanya heran.
Sosok gadis tengah menangis dengan melipat kaki dan menenggelamkan kepalanya di dengkul.
"Ibu ... sakit sekali ibu ... kenapa cinta ini sakit sekali!"
Raja Lucyfer makin penasaran, dari suaranya ia mengenal siapa gadis itu.
"Hah!" pekik Hilda berteriak kencang.
Raja Lucyfer memilih bersembunyi di balik batu dan ingin mengetahui apa yang diresahkan oleh sang gadis.
"Raja Lucyfer ... aku mencintaimu!"
Lucyfer pun terkejut mendengar pengakuan itu.
Bersambung.
__ADS_1
Wah ... bakalan marah nggak ya Lucyfer?
Next?