
Ratu Raisa mendatangi klinik di mana Sonya di rawat. Wanita yang pernah dekat dengan Kaisarnya itu sedang melamun.
"Yang Mulia Ratu Raisa tiba!" pekik Kasim memberitahu.
Semua orang membungkuk hormat dan menekuk kaki. Ratu Raisa berjalan begitu anggun, ia mengenakan mode busana terobosan baru. Sebuah mini dress dengan rok rampel selutut dengan sepatu tumit tinggi. Dandanannya juga tak begitu mencolok dengan rambut digerai.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya ketika ada di ruang perawatan Sonya.
"Lukanya sudah lumayan kering, Yang Mulia Ratu!" jawab salah satu tabib.
"Mau apa kamu?" desis Sonya bertanya.
Wanita itu masih berpikiran jika sang raja yang menolongnya. Sonya begitu sinis pada wanita penguasa itu.
"Jaga bicaramu Nona!" tegur Viscount Corry.
"Aku hanya bicara pada Raja yang menolongku!" tekan Sonya begitu angkuh.
Ratu Raisa sangat geram melihat kesombongan Sonya. Ingin sekali ia melempar wanita itu ke kandang buaya atau kandang singa yang lapar.
"Tapi yang nenolongmu adalah Yang Mulia Ratu, Nona!" seru Viscount Corry kesal.
"Aku tak percaya!" sahut Sonya tak mau ambil pusing.
Ratu Raisa sepertinya tak mau berlama-lama di sana dan pergi meninggalkan wanita itu. Wajahnya yang kesal tertangkap oleh Kaisar Henry.
"Ratu?" panggilnya.
"Kenapa dengan wajahmu?" kekehnya bertanya.
"Itu mantanmu, bersikeras ingin menemuimu!" jawab Ratu Raisa ketus.
"Yang Mulia!' peringat protokoler istana.
Kaisar Henry langsung diam ketika mendengar jawaban ketus istrinya. Ia yang tak mau lagi ada perempuan lain di istana kecuali ratunya. Pria itu langsung mengambil sikap.
"Marquez Albert!"
"Yang Mulia!" sahut pria yang punya nama.
"Usir Sonya dari istana. kembalikan dia ke keluarganya!" titah Kaisar Henry.
"Baik Yang Mulia!" ujar Marquez Albert.
Pria itu membungkuk hormat dan langsung melaksanakan tugas yang diberikan. Sonya yang tengah tidur dibangunkan oleh para pelayan.
"Anda harus pergi dari sini!"
__ADS_1
"Apa-apaan ini. Aku begini gara-gara perempuan itu. Jika saja dia tak merayu Raja. Akulah ratu kalian sekarang!" teriak Sonya tak tau diri.
Para maid membawa tubuh wanita itu. Tak peduli tengah lemah atau apa. Perintah Kaisar begitu keras.
"Kalian mau bawa aku ke mana!" teriaknya.
"Yang Mulia Raja ... tolong aku ... bukankah kita saling mencintai dulu!" lanjutnya.
Kaisar Henry begitu berang. Ia memang salah membawa Sonya ke dalam istana dan membiarkan rumor yang beredar. Ia mengamini jika Sonya adalah selirnya.
"Aku memastikan jika aku tak memiliki hubungan apapun dengannya!' ujar Kaisar Henry begitu tegas.
"Tidak ... kau bohong Raja ... kau mencintaiku. Tapi perempuan itu menghasutmu agar membuangku bukan?" tunjuk Sonya begitu berani.
"Jaga sikapmu di hadapan Ratu kami!" teriak salah satu staf istana tak suka.
"Penguasa kami sekarang seorang Kaisar. Panggil dengan Yang Mulia!" bentaknya.
Kaisar Henry mulai geram, ia mengambil pisau dan menorehnya di pergelangan tangannya.
"Yang Mulia!' pekik Ratu Raisa terkejut melihat apa yang dilakukan suaminya.
"Aku bersumpah, jika hanya ada satu wanita yang aku cintai dan itu hanya istriku Ratu Raisa Deborah Horton!" sumpah Kaisar Henry di mengangkat lengan yang ia toreh dengan pisau.
Sonya diseret oleh beberapa pengawal. Tanda darah Kaisar mereka jika sumpahnya tadi benar dan perkataan Sonya adalah bohong. Raisa langsung menarik lengan suaminya dengan derai air mata.
"Karena aku benar-benar mencintaimu Ratu!" jawab Kaisar Henry tanpa ragu.
Ratu Raisa menutup luka sang kaisar. Memberi beberapa tusukan akupuntur dengan jarumnya. Darah berhenti, beberapa tabib membawa peralatan jahit yang sudah di rendam alkohol 100%.
Mereka ada di ruangan istirahat, Raisa menjahit luka di pergelangan tangan suaminya. Untuk torehan itu tak melukai pembuluh darah besar. Setelah diberi antiseptik dan dibungkus perban. Ratu Raisa mengecup luka sang suami.
"Sayang ... jangan lakukan hal itu lagi," pintanya.
"Kau tau kan aku melakukan ini karena apa," sahut Kaisar Henry dengan pandangan memuja.
"Aku mencintaimu Ratu ... demi Tuhan," lanjutnya bersungguh-sungguh.
"Aku percaya Kaisar, aku percaya!" sahut Ratu Raisa lalu mengecup bibir suaminya dengan berani.
"Sayang ... jika saja tak ada tugas besar menanti. Kau pasti aku bawa ke ranjang kita dan menikmati cinta," sahut Kaisar Henry dengan suara serak.
Ratu Raisa tersenyum, jiwa Geisha kembali tenggelam karena cinta dari tubuh yang ia tempati itu.
"Sekarang waktunya kita bekerja sayang. Kerajaanmu butuh penanganan!' ajak Kaisar Henry.
Ratu Raisa pun mengikuti suaminya. Satu minggu sesuai janji wanita itu untuk menentukan sikap kepemimpinannya. Ia telah mendengar dan belajar banyak pada sifat tanah yang ada di kerajaan Lucyfer.
__ADS_1
Dengan menggunakan mobil. Mereka mendatangi kerajaan yang baru seminggu dilumpuhkan.
Ratu Raisa mendatangi pangeran Lucyfer terlebih dahulu. Wanita itu melihat seluruh kulit pria itu mulai membaik.
"Bagaimana keadaanmu Yang Mulia?" tanya Ratu Raisa perhatian.
Kaisar Henry yang selalu ada di sisi istrinya sampai berdecak mendengar perhatian ratunya. Sang Ratu tersenyum dan mengelus lengan suaminya.
"Keadaanku baik Ratu!" jawab Pangeran Lucyfer.
"Katakan kenapa kau melakukan ini pada kerajaanmu Yang Mulia?" tanya Raisa.
"Aku bodoh Ratu," aku Pangeran Lucyfer lemah.
"Jujur, aku tak bisa baca tulis. Dulu Aku malas belajar padahal orang tuaku begitu keras. Tetapi aku lebih keras dari mereka," lanjutnya bercerita.
"Lalu Glory datang, ia memberiku kenikmatan yang mestinya kulakukan pada pasangan sahku. Tetapi, aku malah menikmatinya dan menambah selir untuk memuaskan kebutuhan biologisku," lanjutnya lagi.
"Glory menghasut untuk membunuh ayah ibuku yang menentang keras perbuatanku. Melalui racun yang kutuang ke mulut kedua orang tuaku dan menyaksikan mereka mati secara perlahan ...."
Napas besar terdengar. Pangeran Lucyfer menangis pilu, ia memanggil orang tuanya.
"Aku anak tak berguna Ayah ... huuu ... ibu ... aku anak durhaka. Aku pantas mati!"
Ratu Raisa tak berkata apapun, hatinya sedikit kesal mendengar cerita pria bodoh yang menangisi kebodohannya itu. Sungguh ingin ia lempar pedang agar pria itu bunuh diri saja.
"Tenang lah Yang Mulia!" pinta Duke Brixton memohon.
Pria itu ikutan sedih, ia hanyalah prajurit yang tak memiliki pengaruh pada kerajaan waktu itu. Semua setuju dengan dibunuhnya raja dan ratu terdahulu. Glory menjadi pembisik sang pangeran dalam setiap keputusannya.
"Yang Mulia Ratu, ada pergolakan di distrik selatan. Perebutan tanah kembali terjadi!" lapor salah satu Marquez.
"Duke Brixton!"
"Saya Ratu!"
"Mana para menteri yang kau buat?"
"Sudah ada delapan orang maju kini tengah mengurusi pertanahan. Tak ada satu warga yang memiliki surat sah kepemilikan. Tanah adalah milik kerajaan!" jelas Duke Brixton panjang lebar.
"Tangkap semua pejabat yang menduduki seluruh tanah milik kerajaan. Periksa data dan surat kepemilikan!" titah Ratu Raisa.
"Baik Yang Mulia!" sahut Marquez Hazard.
Ratu Raisa kini duduk di singgasana utama. Kaisar Henry ada di sisinya. Pria penguasa itu hanya membantu memberi saran pada sang ratu. Semua keputusan berada di tangan wanita yang kini menjadi pemimpin itu.
Bersambung.
__ADS_1
next?