Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
THE HORTON'S QUARTO IN ACTION


__ADS_3

"Lisad ... wawas!" pekik William.


Batita itu berlari hendak melompat. Para maid harus tahan napas melihat tingkah empat anak kembar kaisar mereka. Princess Elizabeth juga tak mau kalah. Batita cantik itu juga berlarian entah apa yang dikejar.


Ratu Raisa hanya mengawasi saja selama bermain di taman bermain mereka. Setelah Princess Elizabeth terjatuh kemarin rupanya tak membuat gadis kecil cantik itu kapok.


"Princess ... hati-hati!" peringat para maid.


"Don woli aunty ... am otey!" sahut gadis kecil itu santai.


Semua berlarian, memanjat tangga perosotan. Richard berteriak ketika menurunkan tubuhnya. Semua maid harus bersiap di bawah perosotan agar pangeran mereka tidak terjerembab ke tanah.


"Wawas!" pekik Richard marah.


Tubuh bayi itu terbang sedikit ke udara. Para maid langsung menangkapnya. Batita itu marah-marah.


"Bialin aja sih! Atuh mau jatuh!' lanjutnya.


"Baby!' peringat sang ibu.


"Mommy ... Lisad mawu jatuh tayat Liz," rajuk Richard.


"Sayang, aunty kan sayang sama kamu, dia nggak mau kamu terluka," sahut sang ratu memberi pengertian.


"Prince,"


Wajah para maid begitu sedih, akhirnya pangeran Richard meminta maaf pada para maid. Tak lama datang Raja Darly bersama putrinya. Bayi cantik itu mengamuk di istana karena ingin bermain bersama putra dan putri mahkota.


"Wiiin!" pekik Princess Anna ketika melihat sang ratu yang tersenyum lebar padanya.


Bayi itu berlari Ratu Raisa segera menghampiri bayi aktif itu dan langsung menyambarnya ketika nyaris terjatuh. Bayi itu terpekik di udara karena sang ratu mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Kau ingin bermain sayang?" tanya sang ratu.


"Yes!" jawab Princess Anna tegas.


"Yang Mulia!" Raja Darly memberi salam dengan menekuk kakinya.


"Raja Darly, mana Permaisuri Rencyta?" tanya Ratu Raisa.


"Permaisuri tidak ikut karena kehamilan kembarnya Ratu," jawab pria itu.


"Apa jadi janin yang ada di rahim Permaisuri kembar?" tanya Ratu Raisa takjub.


"Benar Yang Mulia," jawab Darly begitu bahagia.


"Baiklah, Raja. Tinggalkan putrimu di sini. Nanti aku yang akan mengantarkannya," ujar Ratu Raisa sambil memberi perintah.


"Hamba tersanjung Yang Mulia," ujar pria itu menekuk kakinya.


Setelah Raja Darly pulang, semua anak masih bermain, kini tugas maid tambah berat dengan kedatangan bayi perkasa dari kerajaan Darly itu.


Princess Anna memang begitu berani dan kuat. Ratu Raisa mengamati bayi cantik itu ketika bergelantungan di tiang dan mengayun tubuhnya ke tiang lainnya.


"Sayang, ayo ikuti adik kalian!" perintah Ratu Raisa.

__ADS_1


"Ental baid na nayis!" cibir Princess Elizabeth.


Ratu Raisa terkekeh, para maid menyerah. Kini semua anak bergelantungan di besi. Ratu Raisa sangat puas dengan kekuatan tangan putra dan putrinya. Hingga matanya membelalak sempurna. Princess Anna sudah berada di tiang paling atas duduk menunggangi satu bilah besi. Semua anak mengikuti, Ratu Raisa mulai cemas dan meminta para pengawal menjaga di bawah besi.


"Sayang ... sudah yuk!" pinta wanita itu cemas.


"Huuaaa ... tolon!" tangis Princess Anna yang tiba-tiba ketakutan.


Para pengawal langsung naik dan mengambil semua keturunan penguasa itu. Princess Anna masih setia dengan tangisnya.


"Baby, tenang sayang, Mommy Queen ada di sini," ujar Ratu Raisa menenangkan bayi cantik itu.


"Maid ... mana susunya?" tanya Ratu Raisa.


(Susu bubuk pertama kali dihasilkan pada 1802 oleh seorang dokter Rusia, Osip Krichevsky. sumber Google).


"Biarkan Princess Anna dengan kami Yang Mulia!" pinta para maid.


"Tidak!" tolak sang ratu tegas.


Karena permaisuri Rencyta tengah mengandung, wanita itu tak bisa menyusui putrinya. Susu formula satu-satunya air susu yang menggantikan ASi nya. Walau harganya sangat mahal, tentu bukan masalah bagi seorang raja yang membelinya.


Bayi itu masih lapar, kini semuanya makan, usai makan para bayi tidur. Kaisar Henry tengah di ruang rapat mendengar laporan keuangan kekaisaran mereka.


Rapat selesai setelah dua hari berlangsung. Kaisar Henry keluar bersama Marquez Dominggus. Pria itu akan memberikan laporan keuangan pada masyarakat di sebuah koran.


"Ratu!" panggil pria penguasa itu.


"Sayang, minumlah dulu," Ratu Raisa mendudukkan sang suami di sebuah kursi empuk.


"Apa putri bar-bar itu datang?" tanyanya tentang Princess Anna.


"Iya sayang," jawab Ratu Raisa tersenyum.


"Apa tingkahnya kali ini?" tanya pria penguasa itu.


"Naik ke atas besi dan menangis karena tak bisa turun Kaisar,"


Jawaban sang istri membuat Kaisar Henry tertawa lirih. Ia gemas dengan putri yang belum dua tahun itu. Begitu berani dan sangat tangkas, padahal usianya belum dua tahun.


"Apa putra dan putri kita mengikuti tingkahnya?" tanya Kaisar Henry lagi.


"Tentu saja Kaisar, mereka menangis bersama," jawab sang istri.


"Dan mereka begitu karena suruhanmu kan?" terka sang suami lalu memeluk istrinya.


Ratu Raisa tak menjawab, tapi ekspresi wajahnya menandakan semuanya. Kaisar Henry tak pernah melarang istrinya melatih fisik anak-anak mereka.


"Jangan terlalu berbahaya ya," pintanya.


Ratu Raisa mengangguk. Ia belum tau minat semua anak-anak, kembar empat itu bisa semua yang dilatih oleh sang ibu.


"Besok apa boleh aku membawa mereka berkuda?"


"Asal didampingi, tak masalah sayang!" sahut Kaisar Henry.

__ADS_1


Sore menjelang, Ratu Raisa mengantar princess Anna pulang ke istananya. Bayi itu menangis kuat ketika wanita itu pulang.


"Besok main lagi baby," ujar sang ibu Permaisuri Darly.


"Baby tidak kangen Mama kah?" bayi cantik itu mengangguk.


Permaisuri Darly membawa putrinya ke dalam istana.


"Yang Mulia Ratu Raisa tiba!" pekik Kasim.


"Mommy!" teriak empat batita berlarian menghampiri nya.


"Babies!"


Akhirnya malam menjelang, Ratu Raisa menciumi empat bayinya. Aksi mereka memang membuat semua sport jantung hari ini.


"Kalian memang luar biasa terlebih jika Princess Anna ada bersama kalian. Besok aku mau Prince Rayeen ikut serta meramaikan menunggang kuda!' gumamnya bermonolog.


"Ratu!" panggil Rosa.


"Rosa ada apa?"


"Saya hendak mengajukan cuti Ratu, ibu hamba sakit keras," jawab Rosa.


"Pergilah, aku beri cuti satu minggu!" sahut Ratu Raisa.


"Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia Ratu!" Rosa membungkuk hormat.


Gadis berusia dua puluh delapan tahun itu pun bergegas ke kamar lalu bersiap. Besok pagi ia akan berangkat ke kampung halamannya.


"Ah ... air minum habis,"


Gadis itu membawa teko kaca, pergi ke dapur mengambil air.


"Rosa!"


"Astaga!" gadis itu kaget setengah mati.


"Maaf, bisa kau buatkan aku makanan. Aku lapar!' pinta Marquez Albert.


Pria itu baru saja pulang dari bekas kerajaan Harley. Ada beberapa penyusup yang mengganggu.


"Ini Yang Mulia,"


Rosa menaruh makanan tak sengaja dua tangan bersentuhan. keduanya saling menatap. Debaran melanda jantung mereka berdua.


Marquez Albert mengusap pipi sang pelayan karena instingnya sebagai laki-laki.


Cup!


bersambung.


Eh.


next?

__ADS_1


__ADS_2