Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
1 September 1939


__ADS_3

Sing ... Duaarr! Bunyi ledakan bom memekakkan telinga. Bunyi desing pesawat tempur yang begitu rendah membuat semua orang lari ketakutan.


"Semua bertahan di pagar perbatasan!" teriak Richard memberi komando.


Semua panglima memperkuat amunisi, dari laut, udara dan terakhir darat. Polandia memang berjarak lebih dari 200km dari kekaisaran Horton. Tetapi bunyi desing pesawat yang melintas tak jauh dari wilayah yang kini dikepalai George sebagai kaisar membuat semua mulai ketakutan.


"Ratu mengungsilah!' pinta Henry pada istrinya.


Raisa menolak, ia siap mati bersama suaminya. Tak ingin ia melepaskan barang sedetik pun bersama suaminya.


"Sayang ... kasihan mereka ... banyak anak kecil!" pekik Princess Anna pada suaminya.


"Buka gerbang dan biarkan mereka bersembunyi di bungker-bungker yang ada!" pinta wanita itu memohon.


"Kau juga harus mengungsi sayang!" pinta William.


Anna menggeleng, ia merengkuh tangan suaminya. Netranya mengembun, William memeluk istrinya. Semua anak mereka ikut bertempur, dua anak perempuan Anna dan William masih berusia belasan tahun, tapi mereka sudah bisa mengendalikan pesawat tempur.


'Aku mau mati bersamamu," ujar Anna mengecup bibir suaminya.


Sepasang suami istri itu akhirnya membuka pagar dan membiarkan semua masuk, beberapa tentara menggiring mereka masuk bungker-bungker khusus yang memang disediakan untuk bersembunyi. Para dokter, ilmuwan dan juga para ahli diminta untuk mengungsi.


"Kalian harus hidup untuk membangkitkan kekaisaran ini!' ujar Henry.


"Tidak Yang Mulia!" tolak mereka semua.


"Kami mau mati bersama Yang Mulia!"


"Ayah!" pekik Richard dengan napas terengah-engah.


Raja Henry menatap putranya, Ratu Raisa tengah menolong beberapa pengungsi yang datang bersama para medis.


"Raja Henry dan Permaisuri Elizabeth tewas," lapor Richard dengan mata basah.


Henry nyaris melorot ke lantai. Putrinya tewas di negeri orang. Elizabeth juga seorang prajurit, tentu ia maju ke medan perang dan membantu para warganya.


"Mana George?"


"George!" panggil Richard.


George datang bersama ibunya. Permaisuri Luly tengah membantu para maid di dapur memasak. Sedang putra mahkota ikut dengan Raja Namont Pangeran Charles Henry Horton memang sengaja diungsikan sebagai penerus kekaisaran. Bocah berusia delapan tahun itu bersama dengan istri Namont dan istri Jones. Mereka diungsikan karena anak mereka masih kecil.


"Mom," Richard menatap ibunya.


Raisa merasa ada berita buruk terjadi, Henry mendekatinya dan membisikkan berita itu.


"Jangan bercanda sayang!" pekik Raisa tak percaya.


"Apa ini Yang Mulia?" tanya George gusar.


"Adikmu Elizabeth gugur di medan perang Kaisar," jawab Henry lemah.


George terdiam. Ia menggeleng tak percaya, negara yang dipimpin oleh adik iparnya itu termasuk negara paling kuat. Ia tak percaya jika negara kerajaan itu sudah nyaris hancur karena tewasnya raja berikut permaisurinya.

__ADS_1


"Yang Mulia, wilayah Utara milik Bruno tengah diserbu oleh pengungsi!" lapor Marquez Albert.


Pria itu kini ikut andil untuk mempertahankan kekaisarannya. Kaisar George tak berlarut-larut dalam kesedihan begitu juga Raisa. Mereka kembali membantu para pengungsi, masuk dalam bungker yang disediakan.


"Jangan khawatir, makanan di dalam itu bisa untuk dua tahun, kami akan terus mensuplai makanan itu. Berdoalah agar mereka tak menyerang kita dari segala penjuru!" teriak Henry menenangkan para pengungsi.


"Terima kasih Yang Mulia!" seru mereka.


Langit mendadak pekat, bau mesiu di mana-mana. Semua tentara terus mendesak musuh yang hendak menerobos masuk. Tak ada ampun, semua dibom jika tak mau memutar balik.


"Laut kita juga di serang, Raja Namont tengah mengusir beberapa kapal perang musuh dan membom kapal selam yang mencurigakan!' lapor Marquez Albert.


"Raja Lucyfer juga memperkuat armada lautnya!" lapor Arthur.


"Negara D dijarah para warganya yang panik setelah presidennya mati bunuh diri!" lapor Richard.


"Minta Raja Jones membantu Raja Darly memblok semua pengungsi di perbatasan!" titah George.


"Yang Mulia ... ada yang ingin melahirkan!" pekik salah satu perawat.


Raisa dan beberapa dokter mendatangi ibu yang sudah mengerang kesakitan. Ibu itu langsung membawa ibu itu ke rumah sakit.


Suasana masih mencekam. Langit sedikit terang, Tentara kekaisaran mampu mendesak musuh untuk menjauhi wilayah mereka.


"Kita sedikit aman!" seru Richard membuat para pengungsi dan rakyat lega.


Semua kembali seperti biasa, tentara masih bersiaga, pesawat tempur banyak datang dan pergi, mereka bergiliran beroperasi.


"Apa masih banyak pengungsi yang masuk wilayah seluruh perbatasan?" tanya sang Kaisar.


"Masih Kaisar, semua wilayah perbatasan dipenuhi pengungsi, mereka ingin menyelamatkan diri dan masuk ke bungker yang kita buat!' jawab Albert.


Suara sirine memekik telinga, para pengungsi mulai panik. Pesawat-pesawat tempur mulai diluncurkan. Kembali terjadi suara tembakan.


"Yang Mulia ada pasukan besar menerobos masuk negara D!" pekik Arthur.


"Blokade langsung! Pasang seribu anak panah beracun dan juga bom molotov!" titah George.


Arthur membungkuk hormat, pria itu langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh kaisarnya.


"Yang Mulia, semua perbatasan dipenuhi oleh pengungsi!" teriak Albert.


"Usir mereka!" titah George.


"Kedatangan mereka malah membuat musuh datang!"


"Ada prajurit terluka!" teriak beberapa orang.


"Princes Leonel Horton terluka!" pekik salah satu prajurit.


Leonel adalah putra William satu-satunya. Raisa langsung berlari menyambut cucunya yang baru berusia lima belas tahun.


"Pesawatku meledak, beruntung aku bisa keluar dari pesawat sebelum meledak!" ujar Leonel.

__ADS_1


Raisa menyembuhkan luka-luka cucunya. Langit kembali gelap. Bunyi desingan bom memekakkan telinga. Semua panik, terdengar teriakan-teriakan.


Sementara di tempat lain, para dokter sangat terkejut dengan keadaan pasien yang tiba-tiba gelisah dan terserang kepanikan hebat.


Regina dan Jhonson menatap kaca besar di mana semua dokter sibuk memberi penanganan pada sosok yang sudah selama nyaris sebulan tidur dengan tenang.


"Suamiku,"


Regina membenamkan seluruh wajahnya di dada sang suami. Ia geram, ia bersumpah pada mendiang adik sepupu yang menitipkan putrinya yang tidak tau diri itu.


"Aku bersumpah Tania!" ujarnya geram. "Putrimu akan menderita di penjara!"


Semua dokter masih panik dengan kondisi pasien. Mereka langsung melakukan observasi.


"Jika dilihat dari rekap jantung dan pembuluh darah, sepertinya pasien mengalami mimpi buruk," ujar salah satu dokter.


Sementara di tempat lain, Raisa meraung melihat beberapa pesawat meledak di udara. Puing-puing itu jatuh di wilayah tempat di mana William dan istrinya berada.


"Putraku!'


Duar! Sebuah dentuman besar memekakkan telinga asap membumbung tinggi. Wanita itu merosot ke tanah, hanya sepuluh menit ia mendengar kabar jika William dan istrinya tewas terpanggang di dalam rumah.


Leonel kembali mengudara setelah merasa sehat, sudah lebih dari sepuluh pesawat ia ledakkan di udara. Sayang pesawatnya pun kena tembak. Seperti dua saudarinya, Leonel gugur di medan perang.


Tentara musuh masuk dengan tank-tank lapis baja. Membombardir semua yang ada. Perang sudah memasuki hari ke lima.


"Kaisar Raja Jones dan Raja Darly tewas dibunuh para pengungsi yang rakus!" lapor Arthur.


"Bunuh mereka!" teriak George kalap.


Raisa menatap tank-tank baja mulai masuk. Kerajaan Lucyfer hancur, Raja dan permaisuri gugur di medan perang bersama semua keturunannya.


"Kaisar ... kerajaan Namont juga hancur!"


"Tidak!" George kalap.


Pria penguasa itu mengambil senjatanya. Raisa mulai mencari keberadaan suaminya. Kini tanah kekaisaran Horton penuh dengan darah. Raisa berteriak melihat mayat-mayat putra, putri dan cucu-cucunya bergelimpangan di tanah dengan darah yang menggenang.


"Ratu!" teriak Henry.


"Kaisar!" pekik Raisa.


Henry ditembak di kepala dan jatuh ke jurang, Raisa berlari dan melompat menyusul suaminya.


"Suamiku!"


Geisha terbangun, semua ruangan berwarna putih. Ia menatap sekeliling.


"Nona anda sadar!" pekik Dokter kegirangan.


Bersambung.


Next?

__ADS_1


__ADS_2