
Empat pelayan memakai seragam warna pink membungkuk hormat di hadapan sang ratu.
"Mereka adalah kiriman dari Kerajaan Namont Ratu," ujar Rosa memberitahu.
"Pulangkan mereka!" titah Ratu Raisa.
"Aku akan mengurus sendiri anak-anakku!" lanjutnya.
"Maaf Yang Mulia, seusai dengan protokoler istana. Semua putra dan putri mahkota harus diurus oleh para pelayan!" sahut staf protokoler istana.
"Sir Jimmy!" panggil sang ratu.
"Yang Mulia!" pria itu membungkuk.
"Siapa Ratu di sini?" tanyanya..
"Hamba hanya menjalankan sesuai prosedur yang berlaku di istana ini Ratu!" sahut pria itu.
"Aku yang putuskan apa yang menjadi peraturan di istana Sir Jimmy!" tekan Ratu Raisa tak mau dibantah.
"Ini akan menyinggung kerajaan Namont, ratu!"
"Aku bilang, aku yang mengaturnya di sini Jimmy!" sentak Ratu Raisa tak bisa dibantah.
Empat pelayan dipulangkan. Kaisar Henry mendapat protes dari permaisuri Namont.
"Maaf kan hamba Kaisar. Empat bayi mahkota istana adalah simbol dari semua kerajaan. Hamba berhak tau dengan kepengurusan semua bayi yang akan menjadi pemimpin kerajaan ini!"
"Istriku jauh lebih baik mengurusi semua anak dibandingkan pelayan yang kau kirim Permaisuri Sandra!" sahut Kaisar Henry sangat tegas.
"Tak ada yang boleh membantah keputusan ratuku!" tekannya lagi.
Permaisuri Namont menutup teleponnya. Ia nyaris memaki pria paling berkuasa di negeri ini. Sungguh ia membenci Kaisar Henry dan istrinya itu.
"Sialan!" makinya pelan sekali pada akhirnya.
Sandra berjalan anggun, Raja Namont tengah berada di ruang kerjanya. Pria itu tak bisa melakukan apa-apa, Duchess Sandra sedikit menyesal menikah dengan pria yang ia pikir memiliki kekuasaan mutlak itu.
"Raja!" panggilnya merengek.
"Ada apa Permaisuri," sahut pria itu.
Permaisuri duduk di pangkuan suaminya, ia bergayut manja di sana. Raja Namont memeluk istrinya dan mereka berciuman.
"Sayang, Ratu menolak hadiah dari kita, padahal maksudku baik untuk meringankan tugasnya," adunya setelah melepas tautannya.
__ADS_1
"Aku sudah menduganya Permaisuri," sahut Raja Namont.
"Apa kita tak memiliki andil untuk tumbuh kembang para putra dan putri mahkota!?' tanya wanita itu dengan nada kesal dengan suaminya yang lemah dengan keputusan Kaisar.
"Bayi akan aman di tangan ibunya sendiri, permaisuri ," sahut Raja Namont mengingatkan.
"Kita bisa mengikuti perkembangan para putra dan putri mahkota setiap bulannya," lanjutnya menjelaskan.
"Mungkin sebaiknya kita mulai program hamil sayang. Kita berharap jika memiliki putra mahkota, agar kerajaan ini tetap milik kita!' ajak pria itu dengan suara serak.
Permaisuri Sandra langsung memagut bibir sang suami. Pria itu menggendong sang istri ke kamar dan memulai penyatuan berharap bibit-bibit unggul tumbuh di sana.
Sedang di istana. Horton. Ratu Raisa memandikan empat bayi kembarnya satu persatu. Beberapa maid termasuk Rosa membantu ratunya menyiapkan semua.
"Auauaauaaauuu!" celoteh para bayi.
"Halo Babies ... ini Mommy sayang ... say ... Mommy," Ratu Raisa mengajak empat bayi kembarnya bicara.
"Mamamamaam!" empat bayi mengikuti kata-kata ibunya.
Ratu Raisa begitu bahagia lalu menciumi Keempatnya. Kini mereka sudah bersih dan wangi. Kaisar Henry datang dan langsung mencium para bayi gemas.
"Ehek ... ehek ... oeee ... oeee!" bayi pun menangis.
"Aku susah payah menidurkannya," lanjutnya menghela nafas panjang.
"Aku gemas sekali sayang. Mereka semua mirip aku," kekeh pria itu.
"Mana cucuku!' teriak Ayahanda Raja Horton.
Ratu Raisa menghela napas panjang lagi. Kini bayinya rewel dan tak bisa tidur. Sedang pelaku utama kini tengah mengobrol di taman belakang. Ratu Raisa harus menenangkan kembali empat bayi kembarnya.
Di taman Raja Horton hendak membuat pesta pembaptisan empat cucunya secara meriah termasuk memberikan nama pada mereka.
"Apa kau sudah menyiapkan nama, Kaisar?"
"Sudah Ayahanda Raja," jawab Kaisar Henry.
"Yang pertama Prince Richard Horton, yang kedua Prince Goerge Horton, yang ketiga Prince William Horton dan terakhir Princess Elizabeth Horton," lanjutnya.
"Nama-nama yang indah. Baiklah, aku yang akan memberi nama baptis mereka. Untuk pertama Richard Philip, yang kedua Goerge Samuel yang ketiga William Petrus dan keempat Elizabeth Maria!"
Kaisar Henry mengangguk setuju. Kini mereka beranjak ke ruang rapat dan memanggil perdana menteri membicarakan pesta baptis dan perkenalan para putra dan putri mahkota.
Sedang di kerajaan Namont. Permaisuri menatap punggung suaminya. Keduanya baru bercinta secara panas. Ia begitu puas dengan cara sang raja mencumbunya. Perempuan itu berkali-kali pelepasan.
__ADS_1
"Kau begitu perkasa Yang Mulia," ujarnya mengecup punggung suaminya.
Raja Namont membalikkan tubuhnya menghadap sosok cantik di depannya. Sungguh Raja Namont agak sedikit kecewa karena istrinya sudah tak suci lagi. Pria itu hendak bertanya, tapi takut melukai perasaan wanita itu. Maka ia menerima semua kekurangan istrinya.
"Mestinya kau jangan bangun dan merebah diri lebih lama, agar semua bibit yang kusemai masuk ke dalam sini," ujarnya mengelus perut istrinya.
'Kata siapa harus seperti itu?" tanyanya terkekeh tak percaya.
"Aku mendengar para dokter melakukan seminar bagaimana cara agar pembuahan cepat berhasil," jawab Raja Namont.
Sandra menggeleng. Ia bangkit dari ranjang, cairan merembes di selangkangannya. Ia diam saja, ia mengira buang air kecil, jadi buru-buru masuk ke dalam toilet dan membersihkan dirinya.
Namont tak bisa berkata apa-apa, istrinya terlalu keras kepala. Terkadang ia sedikit menyesal memilih putri salah satu bangsawan yang paling berpengaruh di istana kekaisaran itu. Selain tak memiliki kecakapan, Duchess Sandra hanya mengandalkan kecantikannya saja.
"Salahku sendiri terpesona dengan kecantikannya," ia menyalahkan dirinya sendiri.
Raja Namont memilih bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi yang lainnya. Ia tak mau mengganggu sang istri.
Terdengar bunyi telepon. Staf kerajaan mengangkatnya. Pria itu tampak mengangguk dan mencatatnya. Setelah itu ia langsung menuju Raja Namont setelah menutup sambungan telepon.
"Yang Mulia, ada undangan satu minggu ke depan. Kaisar meminta Raja menjadi ayah baptis dari pangeran William!" lapor pria itu membungkuk hormat.
"Baik, kau boleh kembali Sir Riley!".
Riley pun membungkuk lagi dan kembali ke tempatnya di sisi telepon. Pria itu bertugas untuk mengangkat telepon.
Sedangkan di istana Horton, beberapa pekerja menghias istana. Ratu Raisa mendorong empat bayi kembarnya ke taman belakang untuk menghirup udara segar.
(Stroller Bayi atau yang biasa disebut juga Kereta bayi untuk pertama kali ditemukan pada tahun 1733 oleh seorang arsitek Inggris bernama William Kent. sumber Kaskus).
Raja Horton menciumi cucunya. Pria itu malah menggendong Princess Elizabeth dan mengajaknya berjalan menyentuhkan kaki kecil putri mahkota ke daun-daun dan bunga-bunga. Raja Horton melakukan hal sama pada semua cucunya bergantian.
"Cepat besar ya sayang," ujarnya mengecup Richard, George, William dan Elizabeth.
Kaisar Henry mendatangi mereka setelah melakukan rapat pada para menteri dan staf. Ia juga langsung mencium empat bayinya dengan gemas.
"Kaisar," keluh Ratu Raisa ketika mendengar tangisan bayinya lagi.
Sedang pelaku utama hanya terkekeh, ia pun membantu sang istri untuk menenangkan empat bayi kembarnya.
Bersambung.
Untung ditolak tuh pelayan.
next?
__ADS_1