Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
MELAHIRKAN


__ADS_3

Sudah dari malam, Ratu Raisa merasakan kontraksinya. Ia mengaduh dan menangis merasakan perutnya yang berputar. Pergerakan janin di dalamnya membuat wanita itu mengerang menahan sakit.


"Ratu ... Ratu ... hiks!" Rosa sang kepala pelayan menangis melihat ratunya kesakitan.


Sedang Kaisar Henry berada di belakang tubuh istrinya, ia menjadikan dadanya untuk bersandar, tangannya juga tak berhenti mengelus perut besar Ratu Raisa, untuk meringankan sakit.


"Sayang, operasi saja ya!' pinta pria penguasa itu.


Ratu Raisa menggeleng pelan. Ia akan merubah sejarah kelahiran pertama yang dioperasi caesar. Lalu ia ingat jika ada satu operasi caesar yang berhasil bahkan bukan dari ahli kandungan melainkan oleh seorang penjagal babi.


(prosedur operasi caesar pertama yang berhasil menyelamatkan nyawa bayi maupun ibunya baru terjadi pada tahun 1580-an. Uniknya, operasi ini disebut dilakukan bukan oleh ahli kandungan tapi oleh seorang tukang jagal atau penyembelih babi bernama Jacob Nufer. sumber. kumparanMom.com.).


"Aku ingin melahirkan normal Kaisar," ujarnya lirih.


Delapan dokter sudah siap. Mereka telah menyiapkan segala alat untuk mengoperasi perut sang ratu dan mengeluarkan bayinya.


"Aarrrgghh!" Ratu Raisa kembali mengerang.


"Ratu," panggil Kaisar lirih.


"Rosa ... buatkan aku air madu," pinta sang ratu dengan wajah pucat.


"Baik Ratu!" sahut semua maid.


Nyaris para maid panik dan hampir bertabrakan satu dan lainnya. Ratu Raisa terkekeh melihat tingkah para maid semenjak pertama jiwa Geisha masuk ke dalam tubuh Raisa.


Satu gelas air madu tersaji, Ratu Raisa menenggaknya hingga tandas. Janinnya sedikit tenang, walau dua menit kemudian wanita itu kembali mengerang kesakitan.


Kaisar Henry terpaksa meninggalkan sang ratu. Adanya laporan pajak dan beberapa kerja sama. Marquez Dominggus tak bisa menghandle sendirian tugas itu. Karena ada beberapa keputusan yang Kaisar Henry sendiri yang putuskan.


"Uuhhhh!" keluh Ratu Raisa makin tak bisa bergerak.


Ia berjongkok lama agar semua janin berada di posisinya. Jiwa Geisha kembali menuntun tubuh yang ia tempati. Sebagai ahli akupuntur dan juga hafal beberapa syaraf agar bisa membuat lahiran normal, tetapi rasa sakit luar biasa dirasakan oleh jiwa Geisha. Otot-ototnya seperti mau putus, pinggangnya mau patah. Mulut rahimnya terasa panas seperti diberi cabai yang banyak.


"Tuhan ... ini sakit sekali!" teriaknya putus asa.


"Ratu, coba kami periksa kembali pembukaannya jika memang ingin melahirkan normal," ujar dokter.


Rosa membantu ratunya untuk naik ke atas ranjang. Kakinya dibuka lebar, bajunya disingkap hingga terlihat bagian bawahnya. Dokter memasukan jarinya, tentu saja Geisha merasa geli. Rupanya dokter jaman dulu belum secanggih Dokter ketika di jamannya dulu.

__ADS_1


"Masih jauh Ratu!' sahut dokter itu.


"Siapkan air hangat!" titah sang ratu sudah tak tahan rasa sakit.


Di jaman ini tentu belum ada induksi untuk mempercepat proses persalinan. Maka mau tak mau, Ratu Raisa menciptakan metode water birth sebelum waktunya. Air hangat dapat merangsang proses kelahiran.


Para maid lagi-lagi mulai panik. Mereka mengambil bak besar dan mulai mengisinya dengan air hangat. Ratu Raisa merabanya dengan tangan. Masih terlalu panas, ia tak mau bayinya lahir langsung matang. Ia berjalan keliling bak.


"Apa yang Ratu lakukan?" tanya para dokter. "Kita operasi saja itu lebih cepat!"


"Tidak!" tolak sang ratu.


Selama setengah jam ia berputar mengelilingi bak. Wanita itu meraba air yang mulai hangat, ia masuk dalam bak dan mulai berendam.


"Siapkan air panas lagi!" titahnya.


Beberapa maid langsung berlarian. Ratu Raisa mengusap perutnya perlahan dengan kaki yang terbuka lebar. Sesekali ia mendesis karena menahan sakit.


"Aarrrgghh!" erangnya kemudian.


Wanita itu merasakan pelebaran di mulut rahimnya. Ia nyaris mengangkat panggulnya.


"Aarrrgghh!' pekiknya.


"Ayo Yang Mulia!' teriak para maid memberi semangat.


Para dokter hanya bisa terbengong saja. Mereka tampak tak bisa melakukan apa-apa. Ratu Raisa mengatur napasnya. Ia kembali mengejan kuat, hingga ....


Slup! Satu bayi keluar begitu saja dari mulut rahim sang ratu.


"Bayinya lahir ... bayinya lahir!" pekik Rosa.


"Ambil cepat dan potong ari-arinya!" teriak Raisa terengah-engah.


Salah satu dokter langsung mengambil bayi itu dan melakukan apa yang diperintahkan oleh sang ratu. Bayi pertama menangis kencang ketika diangkat dari dalam air. Para dokter tentu tau apa yang mesti mereka lakukan. Butuh waktu dua puluh menit, bayi kedua lahir.


"Tambah air panasnya satu gayung!" pinta Ratu Raisa dengan napas tersengal.


"Ratu ...," Rosa mengusap peluh di dahi ratunya dan menyiduk air panas dan memasukkan dalam ember.

__ADS_1


"Tambah dua ciduk lagi!" pinta sang ratu sambil mengumpulkan tenaga.


"Ratu!" pekik Kaisar Henry datang dengan wajah kaget.


Pria penguasa itu keluar ruangan langsung menuju klinik setelah diberi kabar jika sang ratu telah melahirkan dua bayi laki-laki.


"Ini bayi-bayinya Kaisar," ujar Dokter memperlihatkan bayi-bayi tampan itu.


"Sayang,"


Kaisar Henry langsung duduk di pinggir ember. Ratu Raisa langsung mengejan, bayi ketiga lahir dengan mudah. Selang lima menit lahir bayi terakhirnya berjenis kelamin perempuan.


"Semua sehat dan tak ada kelainan apapun!' jelas dokter dengan senyum lebar.


Kini Ratu Raisa sudah ada di kamarnya, tiga bayi laki-laki dan satu bayi perempuan. Sir Anthony langsung mengumumkan kelahiran itu pada seluruh masyarakat. Seluruh warga langsung menyambut gembira berita bahagia itu. Ada tiga putra mahkota dan satu putri kaisar yang akan melanjutkan kepemimpinan.


Kerajaan Dirly, Kerajaan Namont, Kerajaan Jones dan kerajaan Raymon menyambut calon raja yang akan menggantikan mereka kelak. Semua baru menikahi para putri bangsawan untuk mendapat keturunan. Tetapi sayang, hingga Ratu Raisa melahirkan, istri mereka masing-masing belum ada tanda-tanda hamil. Bahkan Raja Jones belum menikah di usianya yang ke empat puluh tahun.


"Itu sudah sebuah kesepakatan dari Awal jika seluruh putra mahkota akan menggantikan kita sebagai raja," sahut Raja Namont ketika ia mendengar berita kelahiran itu.


"Kenapa begitu Yang Mulia?' tanya sang istri gusar.


"Bagaimana jika aku hamil dan memiliki anak laki-laki? Apa keturunan raja langsung tak bisa menjadi raja?" lanjutnya.


"Bisa, putra kita akan bisa jadi raja. Namun jika tidak, kita nikahkan putri kita pada para putra mahkota agar tak kehilangan tahta ini!' jawab Raja Namont.


Sang permaisuri diam. Wanita yang baru dinikahi setengah tahun lalu itu tampak kesal bukan main. Ia menikah untuk menjadikan dirinya wanita paling dihormati karena menjadi istri raja. Sayang, ada wanita yang jauh lebih tinggi kedudukannya dari dirinya.


"Aku harus melahirkan seorang putra, agar kerajaan ini tetap menjadi milikku!' tekad wanita itu dalam hati.


"Ratu Raisa," gumamnya pelan.


"Bagaimana jika aku mengirim para pelayan untuk merawat anak-anakmu, lalu membunuh mereka perlahan?" seringai licik tercipta di bibir sang permaisuri.


"Aku akan menghancurkanmu wanita serakah!' sumpahnya lagi dalam hati.


Bersambung.


Eh ... 😱

__ADS_1


next?


__ADS_2