Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
KEMBALI


__ADS_3

Geisha terduduk dengan kepala bersandar di kepala ranjang rumah sakit. Ia menoleh kaca besar yang menampakkan pemandangan indah. Geisha Deborah Jhonson, delapan belas tahun kembali setelah nyaris satu bulan tertidur.


Air matanya tak berhenti mengalir, wajah-wajah orang-orang yang ia sayangi dan cintai sudah tewas dengan gelimang darah. Tanah kekaisaran yang ia bangun selama lebih dari dua puluh tahun hancur lebur di depan matanya.


"Ternyata aku hanya mimpi," ujarnya lirih.


"George, Richard, William, Elizabeth, Joana," panggilnya lirih.


Gadis itu mengusap perutnya yang rata. Masih teringat bagaimana ia mendapat morning sicknya selama tiga bulan. Ia masih merasakan sakit luar biasa ketika empat bayi kembarnya berputar di perutnya.


"Hiks ... hiks ... sayang .... anak-anakku," isaknya lirih.


"Sayang?" sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Geisha.


Regina duduk di pinggir ranjang, dokter menyatakan kesembuhan anak gadisnya. Ia begitu senang, bahkan Geisha boleh pulang saat ini juga.


"Sayang, kita pulang ya," Regina mengusap tangan lembut.


Geisha menatap ibunya, wanita yang beberapa bulan lalu selalu meminta mengalah pada sepupunya.


"Apa kabar Laura?" tanyanya lirih.


"Dia sudah dipenjara sayang. Ayahmu langsung memenjarakannya!"


Geisha tersenyum tipis, ia tidak tau harus bahagia atau sedih mendengar hal itu.


"Mama tau dari mana kalau Laura yang meracuniku?" tanya Geisha.


"Kamera cctv, sayang. Kau terjatuh setelah minum teh buatannya. Mama memeriksa dan ada kandungan racun di dalamnya," jawab Regina.


"Sayang, jangan kau pikirkan apa-apa lagi. Yang penting kau sekarang selamat dan kembali pada Mama," ujar Regina lalu memeluk putrinya sayang.


Geisha merasakan kasih sayang besar. sepertinya ibunya itu menyesal selalu membela keponakannya itu.


Sementara di penjara. Laura hanya diam mematung, ia tak menyangka semua perbuatannya langsung bisa dibuktikan oleh bibinya. Gadis itu lupa jika bibinya seorang dokter ternama. Laura juga lupa jika pamannya orang berpengaruh, seorang pengacara handal.


"Kenapa begini?" tanyanya lirih.


"Mestinya aku yang menikmati semua kekayaan dan kasih sayang Paman Jhonson," ujarnya bermonolog.


"Tidak ... ini tidak boleh terjadi. Paman harus menjagaku sesuai amanat ayah dan ibuku, aku harus meminta pengacara untuk menuntut itu!" ujar Laura.


Sementara itu, Geisha sudah kembali ke mansion orang tuanya, pada maid langsung menyambut nona muda yang baik hati dan tidak sombong itu.


"Nona ... Nona ... anda kembali!"


"Salma!" Geisha tersenyum melihat kepala pelayan yang mirip dengan Rosa.


Wanita bertubuh sedikit tambun itu memeluk anak majikannya, Regina tersenyum. Memang kedekatan Geisha dengan semua maid bukan hal aneh. Regina mengajarkan rendah hati pada putrinya.


"Akhirnya kau kembali Nona," ujar Salma menciumi wajah nona mudanya.

__ADS_1


"Salma!" rengek Geisha.


"Ah ... kami merindukan rengekan itu Nona," sahut salah satu maid sambil mengusap air matanya.


"Kau masak apa? Aku lapar," ujar Geisha manja.


"Nona, aku masak semua makanan kesukaanmu. Daging iris kecap, sup asparagus, kentang goreng, sosis goreng ...."


Geisha makan dengan lahap. Ia memang merindukan semua masakan enak itu.


Kesembuhan Geisha, menjadi berita yang sangat diminati para wartawan. Para dokter menyatakan jika putri salah satu pebisnis dan juga pengacara terkenal itu sudah sembuh setelah nyaris satu bulan koma.


"Tidak ada kerusakan di jaringan otot atau pun syaraf. Jika kaku itu biasa karena memang Nona Jhonson tak bergerak selama nyaris satu bulan!" terang dokter.


Geisha memakai dress putih kesayangannya. Gadis itu mulai menerima jika kejadian lalu hanya mimpi panjangnya. Tak ada kekaisaran Horton di peta bahkan sejarah tidak mencatat nama kekaisaran besar itu.


"Kaisar ... aku merindukanmu," gumamnya lirih.


Sepasang mata gelap yang memandangnya penuh cinta.Geisha mengingat malam-malam panas yang ia lalui bersama pria itu dalam mimpinya. Bagaimana ciuman pertama dan ciuman-ciuman selanjutnya.


Seluruh aliran darahnya berdesir, ia masih bisa merasakan betapa lembut bibir pria yang menjadi suaminya dalam mimpi itu ketika menjelajahi setiap inci kulitnya.


"Sayang!" lamunan Geisha buyar seketika.


"Ya Ma?" sahutnya.


"Sayang, Chris datang. Apa kau mau menemuinya?" Geisha mengerutkan kening.


"Untuk apa?" tanyanya.


"Aku akan menemuinya," ujarnya.


"Apa perlu Mama temani?" Geisha menggeleng.


Regina mengantarkan putrinya ke ruang tamu. Di sana sosok pria tampan langsung berdiri dan hendak mendekati gadis itu.


"Duduklah dengan santai Tuan Hemsworth!" perintah Geisha.


Gadis itu duduk.di sebuah kursi roda. Dokter meminta gadis itu tak terlalu banyak bergerak karena selama nyaris satu bulan tak bergerak, Geisha masih harus diperiksa secara menyeluruh.


"Untuk apa kau datang Tuan Hemsworth?"


"Aku menjengukmu, apa itu dilarang? Aku langsung ke sini setelah mendengar kesembuhanmu," jelas pria itu.


"Terima kasih atas perhatianmu, seperti yang kau lihat aku baik-baik saja," ujar Geisha datar.


Chris terdiam, ia begitu menyesal dengan semua perbuatannya, bahkan ciuman itu tidak disengaja. Pemuda itu terbawa arus.


"Gei, aku minta maaf. Aku mohon beri aku kesempatan," pintanya lalu berlutut di depan mantan kekasihnya itu.


"Kau tau ... aku lelaki normal. Aku terbawa dan terpancing," lanjutnya membela diri.

__ADS_1


Geisha mengangguk setuju, bahkan dulu di mimpinya. Sang suami nyaris diambil perempuan tak tau diri.


"Aku memaafkanmu ...."


"Sayang ...."


"Tapi aku tak mau kembali bersamamu!" lanjut Geisha tegas.


"Gei ...," panggil Chris putus asa.


Geisha menatap mata pria di depannya. Gadis itu tak merasakan debaran di dadanya. Ia tak lagi memiliki rasa pada Chris.


"Maaf ... aku tak lagi mencintaimu," ujarnya.


"Ijinkan aku membuatmu jatuh cinta lagi padaku!' sahut Chris.


Geisha menatap sebuah gengsi di mata pria itu. Gadis itu yakin, jika Chris ingin membersihkan diri dan ingin dialah yang memutuskan hubungan ini.


"Aku tidak mau!" tolak Geisha tegas.


"Aku sudah tak mau berhubungan lagi denganmu!" lanjutnya lagi.


Chris menatap gadis di depannya. Ia sangat tahu watak keras mantan kekasihnya itu. Jika sudah tidak, maka seumur hidup Geisha akan bilang tidak.


"Gei," pinta Chris memohon.


"Pergilah Chris, kau tau ayahku adalah seorang pemarah, ia akan menghajarnu jika aku menceritakan kejadian sebenarnya," ancam Geisha sekaligus mengusir pria tampan itu.


Chris menunduk, walau dalam hati ia tak mau menyerah. Ia akan berusaha membuat Geisha jatuh cinta lagi padanya.


Geisha menatap mobil Maserati terbaru milik Chris. Hatinya memang sedikit sakit melihat tatapan egois pria itu.


"Aku tak akan mau jatuh ke dalam pelukan pria yang salah," gumamnya.


"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" tanya Regina.


Geisha mengangguk, wanita itu pun membawa putrinya kembali masuk ke kamarnya yang mewah.


"Ma, apa ini semua baru?" tanya Geisha melihat suasana dan seluruh perabotan.


"Iya sayang. Mama menyingkirkan semua benda yang pernah disentuh oleh Laura!" jawab wanita itu kesal.


Geisha menghela napas panjang. Gadis itu menatap ibunya.


"Mama lupa, kenapa dia begitu," ujarnya.


"Aku tau, tapi mestinya dia tau diri. Kau putriku, aku mendahulukan dia dibanding dirimu. Mestinya dia mengucap terima kasih, bukan mau menyingkirkanmu!"


Penjelasan sang ibu tak bisa disahuti Geisha. Perkataan ibunya benar. Semestinya, sebagai orang luar yang diberi kasih sayang, harusnya tau diri dan berbuat baik pada pemberi kasih sayang.


Bersambung.

__ADS_1


Ah...


next?


__ADS_2