
Kehamilan Ratu Raisa membuat semua rakyat berpesta-pora. Kaisar Henry sangat senang dengan berita kehamilan istrinya.
"Sayang!" rengek Ratu Raisa memanggil suaminya.
Semenjak hamil wanita itu sangat manja dengan suaminya. Kaisar Henry begitu sabar menghadapi kemauan istrinya.
"Ada apa sayang," sahutnya sabar.
"Sayang, minta kerajaan Dirly mengirim buah pearnya sekarang!' pinta wanita itu.
Sir Anthony segera mengambil buah pear yang sudah ada. Wanita itu menolak, ia mau yang baru. Beruntung ajudan dari kerajaan Dirly ada di sana. Pria itu segera berlari buah yang diminta langsung berada di tangan sang ratu.
"Kupasin!" rengeknya lagi.
Kaisar Henry dengan sabar mengupas buah itu dan memotongnya kecil-kecil agar sang ratu mudah memakannya.
"Sudah Yang Mulia," tolaknya setelah memakan beberapa potong buah.
"Yang Mulia," rajuk Ratu Raisa lagi.
"Iya Ratuku," sahut sang kaisar lembut.
"Minta Chef memasak ayam madu," pinta wanita itu.
"Morcano!" teriak Kaisar.
"Siap Kaisar!" sahut pria itu.
Chef kekaisaran itu memasak apa yang diminta ratu mereka. Selama tiga bulan kedepannya, mereka akan melayani keinginan sang ratu yang ngidam.
"Duke Brixton tiba!" pekik Kasim.
Sosok pria gagah datang membawa banyak berkas di tangannya. Ratu Raisa mulai merengek dan memarahi pria itu.
"Singkirkan kertas-kertas itu!"
"Yang Mulia!" cicit Duke Brixton putus asa.
Kaisar Henry menghela napas panjang. Pria itu mengkodekan Duke Brixton agar segera menyingkir. Pria itu pun mengalah dan menyingkir dari sana.
"Yang Mulia, aku nggak mau jadi ratu!" rengek Ratu Raisa.
"Iya sayang, biar aku yang mengurusnya, ya," bujuk pria itu.
Ratu Raisa mengangguk, Kaisar meminta para pelayan membawa ratu mereka ke kamar. Pria itu pun berdiri setelah istrinya pergi bersama maid menuju kamar.
Pria itu mendatangi Duke Brixton dan memeriksa semua laporan. Ia mengangguk puas dengan.kinerja Raja Lucyfer.
"Rupanya Rajamu banyak belajar Duke!"
"Yang Mulia sedang berusaha Kaisar," sahut Duke Brixton sambil membungkuk hormat.
__ADS_1
"Besok-besok, kau langsung menemui ku. Istriku tengah mengidam jadi kita sesuaikan dengan moodnya ya!" pinta pria penguasa itu.
"Baik Yang Mulia Kaisar!" sahut Duke Brixton lalu membungkuk hormat.
Pria itu pun pergi setelah laporannya diberi stempel cap ratu. Raja Lucyfer hanya raja bayangan, kekuasaan dan keputusannya masih harus dengan persetujuan Ratu Raisa.
Beberapa tabib datang memeriksa ratu mereka. Kandungan sang ratu memasuki minggu ke lima.
"Yang Mulia jangan terlalu banyak tekanan, jangan telat makan jika tak ingin asam lambung naik," nasihat tabib itu.
"Tapi mual saya bagaimana. Ini sangat berat!" rengek sang ratu kesal.
"Kami mohon maaf Yang Mulia. Kami belum tau obat untuk menghilangkan rasa mual itu," ujar tabib dengan nada menyesal.
Raisa berdecak, ia lupa jika hidup di jaman yang belum maju ketika jamannya itu. Tabib pergi di sana Kaisar Henry selalu menemani sang istri.
"Yang Mulia, apa di sini ada mangga muda?" tanyanya.
"Mangga ada di wilayah bekas kerajaan Harley sayang. Aku akan menyuruh orang membawa mangga itu ke sini!"
Sir Anthony langsung mengerjakan apa yang dikatakan Kaisarnya. Butuh waktu delapan jam dengan menggunakan kereta api. Berpeti-peti mangga diturunkan di dekat gudang kekaisaran. Beberapa maid membawa mangga mengkal.
"Ratu, ini mangganya!" ujar Maid menyerahkan mangga.
Ratu Raisa bergerak menuju dapur. Rosa mengikuti wanita junjungannya, beberapa maid panik ketika ratu datang ke sana.
"Yang Mulia, katakan saja apa yang harus kami lakukan. Biar kami yang mengerjakannya!"
Semua maid menunduk takut. Ratu Raisa mengikat gaunnya, mengambil apron dan memakainya.
"Kupas mangga itu dan iris tipis-tipis!" titahnya. "Yang lainnya bersihkan udang!"
Semua mengambil pisau dan mengupas mangga. mengirisnya tipis-tipis. Sedang yang lain membersihkan udang.
"Potong-potong seperti korek api!" lanjutnya memberi perintah.
Ratu Raisa mengambil minyak zaitun dan menuangkannya di wajan. Bawang Bombay ia tumis, ia memasukan kaldu yang ia buat sendiri. Setelah tercium bau harum, potongan mangga dan udang ia tumis, diberinya sedikit bubuk cabai. Semua maid meneteskan air liurnya ketika mencium aroma itu.
"Sudah selesai!" pekik ratu senang.
Gaunnya kotor karena jelaga begitu juga wajahnya. Ia mengambil piring indah dan menaruh hasil masakannya di sana.
"Rosa, sini!"
Rosa mendekat, Ratu Raisa mengambil sendok dan menyulangkannya ke mulut kepala pelayannya.
"Yang Mulia," cicit wanita itu ketakutan.
"Ah, biar aku saja. Mungkin kau takut aku racuni," cebik wanita penguasa itu.
"Bukan begitu Yang Mulia ... hamba ...."
__ADS_1
Ratu Raisa langsung sedih, hormonnya tak stabil selama ia hamil. Rosa panik melihat air mata sang ratu yang begitu sedih.
"Sudah lah, buang saja makanan itu," ujar sang ratu lirih.
Ratu Raisa pun pergi menuju kamarnya dengan langkah gontai. Sungguh Rosa takut bukan main. Bukan apa-apa, sang ratu hendak menyuapinya tadi. Hal itu membuat ia takut dengan protokoler istana yang pasti akan menghukumnya.
"Yang Mulia,' panggilnya.
Ratu Raisa terus berjalan dengan pandangan menerawang. Sang kaisar melihat ratunya menitikkan air mata langsung berang. Ia akan menghukum siapa saja yang membuat istrinya sedih.
"Ratu!' panggilnya cemas.
"Aku mau istirahat. Tolong jangan ganggu aku," pinta sang ratu lirih.
Kaisar menyuruh Rosa untuk pergi, ia menuntun istrinya ke kamar dan membiarkannya beristirahat. Makanan yang dimasak ratu diletakkan di atas nakas.
"Apa ini?" tanya Kaisar Henry.
'Ratu Raisa yang memasaknya Yang Mulia!" jawab salah satu pelayan.
Kaisar Henry menyuap makanan itu. Rasa asam, manis pedas dan gurih jadi satu.
"Ini enak sekali!" pujinya.
Ia pun duduk di sana dan menghabiskan masakan istrinya. Usai makan dan minum dalam cawan emas. Pria itu pun pergi menuju singgasana. Di ruang utama hadir beberapa tamu dari berbagai negara yang ingin mengajukan kerjasama pembangunan rel kereta.
"Kaisar Henry datang!" pekik Kasim.
Semua menekuk kaki dan membungkuk hormat ketika pria penguasa datang. Pria itu mengucap terima kasih dan meminta semua tamu duduk.
"Hormat Yang Mulia, kami dari delegasi negara A memperkenalkan diri. Nama saya Andrew Smith!"
"Saya delegasi negara B. Nama saya Brian Dixon!"
"Saya delegasi negara D, Nama saya Arretha Franklin!'
Mereka memperkenalkan diri. Arretha menatap pria yang duduk di kursi kebesarannya. Wanita itu langsung tertarik dengan sang kaisar.
"Katakan!" ujar Kaisar Henry datar.
Mereka pun memberikan keinginan kerjasama untuk pembangunan rel kereta api. Sir Anthony dan Marquez Albert berdiri di sana.
Arretha masih menatap lekat pria yang duduk di singgasana. Ketampanan Kaisar Henry, memang sangat tampan, tubuh kekar dan berkharisma.
"Apa aku perlu mencongkel matamu!" sebuah bentakan mengagetkan semuanya.
Di sana Ratu Raisa berdiri dengan marah menatap seorang wanita yang memandang suaminya sedemikian rupa.
bersambung.
Wah ... alamat kena damprat.
__ADS_1
Next?