
Seorang gadis kini berhadapan dengan pria paling berkuasa di kekaisaran Horton. George menerima perjodohan yang dilayangkan oleh Raja Lucyfer. Lucyfer memiliki seorang putri cantik dan dua putra. Salah satunya akan menjadi raja menggantikannya sedang yang satu menjadi panglima kerajaan miliknya. Duke Brixton sudah pensiun lama, ia hanya melatih anak rajanya menjadi panglima terkuat sama kuat dengan Pangeran Richard.
Permaisuri Hilda tampak mengusap air matanya, ia tak percaya putrinya yang memang sulit bergaul bahkan Princess Lucilda Lucyfer terpaut delapan tahun usianya dengan Kaisar George.
"Kalian sah menjadi suami istri!" ujar Henry yang kembali menjadi Pendeta menikahkan salah satu putranya dengan putri raja Lucyfer.
"Silahkan sematkan cincin dan cium istrimu," pinta Henry dengan suara tercekat.
Pria itu selalu terharu. Semua anak ia yang menjadi pendetanya, bahkan belum lama Princess Joana ia juga yang menikahkan dengan Prince Layael yang sebentar lagi akan menjadi Raja.
George menyemat cincin bermata biru di jari manis istrinya. Ia pun mengecup pelan kening Princess Lucilda.
Kini keduanya diarak dengan menggunakan mobil kap terbuka. Semua rakyat begitu bahagia, seluruh keturunan telah menikah, bahkan kini Prince William telah memberikan keturunan baru seorang pangeran tampan yang baru saja lahir dua minggu lalu. Bayi merah itu sekalian akan dibaptis oleh Kaisar George.
"Kiss her your magesty!" pekik salah satu warga.
George menempelkan bibirnya pada bibir sang istri. Riuh tepuk tangan dan sorak-sorai semua warga begitu bahagia melihat moment romantis itu.
Lucilda atau biasa dipanggil Luly, hanya tersenyum hambar, ia sangat yakin jika sang kaisar tak mencintainya. Sekian banyak gadis bangsawan yang disodorkan, Kaisar George tentu memiliki kriteria seorang istri sendiri. Tetapi waktu itu semua bangsawan menuntut kaisar segera menikah, lalu Raja Lucyfer menawarkan putrinya yang tak pernah tampil di muka umum, Kaisar George langsung setuju.
'Ah ... mungkin karena aku tak pernah hadir setiap jamuan teh para gadis bangsawan,' gumamnya, 'terlebih kami tak saling kenal.'
Kini keduanya duduk di singgasana, Ratu Raisa menatap putranya yang seperti terpaksa menjalani pernikahannya, sedang sang permaisuri hanya diam dan mengurai senyum basa-basi.
"King George!" peringat wanita yang masih berkuasa itu pada putranya.
George akhirnya tersenyum walau terpaksa. Ratu Raisa hanya menggeleng melihat keengganan putranya.
Pesta berlangsung hingga malam hari, Luly duduk di pinggir ranjang empuk yang dihias begitu indah, matanya mengedar memandangi semua sudut ruang yang memang begitu mewah dan membuat nyaman di mata. Gadis itu sudah menyiapkan baju untuk suaminya, ia hanya menunggu dan bergantian memakai kamar mandi.
George keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat ada wanita yang duduk di ranjangnya. Sejenak pria penguasa itu lupa jika dirinya baru saja menikah. Lalu tersadar ketika melihat cincin di jari manisnya.
"Kau sudah selesai Yang Mulia?" tanya Luly polos.
__ADS_1
"Hmmm," sahut George hanya berdehem saja.
Luly tampak menatap suaminya tak mengerti, akhirnya ia pun mengangkat gaun pengantinnya begitu saja dan menyeret sebagian ke kamar mandi. Tak lupa gadis itu membawa baju ganti. George menatap baju yang disusun di pinggir ranjang. Pria itu akhirnya memakainya juga piyama yang dipilihkan sang istri padanya.
Tak lama Luly sudah segar. Gadis itu tak peduli dengan suaminya yang sudah berbaring dengan mata terpejam. Luly melihat sang suami yang tidur di tengah kasur, menandakan jika dirinya hanya ingin tidur sendiri.
"Cis ... kau pikir aku mau tidur denganmu?" desisnya mencibir pria yang memejamkan matanya.
Luly mengambil banyak selimut dan ia melangkah ke sofa panjang dan merebahkan dirinya di sana. Gadis itu memunggungi tempat tidur yang dikuasai George sendiri.
George membuka mata dan melihat istrinya yang tidur di sofa dengan punggung menghadap padanya. Pria itu bukan tidak mendengar umpatan istrinya tadi.
"Huh ... dipikir aku mengharap dia tidur denganku begitu?" dengkusnya kesal.
George tak peduli, ia menutupi wajahnya dengan selimut dan memejamkan matanya. Lima menit, George malah kepanasan, ia membuka selimut tebalnya. Mesin pendingin ruangan bekerja dengan baik bahkan suhunya sangat nyaman.
"Enak sekali dia tidur di sana!" gerutunya kesal.
Luly tertidur lelap, selimutnya sedikit melorot hingga menyingkapkan piyama dan menampakkan perutnya yang sedikit berotot.
"Hah!" dengkusnya kesal.
Posisi Luly makin berantakan, seluruh selimutnya melorot ke lantai, gadis itu menggeliat dan ...
Brug! George sampai menutup mulut karena terkejut melihat istrinya jatuh ke lantai yang ditutupi selimut. Bukannya terbangun, Luly malah menarik selimut dan tetap tertidur di lantai.
George tadinya memilih tak peduli, tapi ia berpikir jika nanti istrinya sakit. Malah ia yang repot sendiri.
George perlahan menggendong istrinya dan membawanya ke tempat tidur. Baju yang tersingkap di bagian perut memperlihatkan bagian otot perut Luly. George merabanya, sang gadis menggeliat.
"Mommy, geli!" igaunya.
George menatap wajah istrinya. Hidung mancung dan alis tebal laksana kepakan sayap. Jika semua gadis bangsawan mencukur alisnya dan melukis indah alis, Luly membiarkan alisnya, bulu mata lebat dan lentik wajah Raja Lucyfer tercetak di rupa Luly, cantik tapi bengis. Tak sadar George mengusap bibir tebal yang tadi hanya sekedar ia tempel saja dengan bibirnya.
__ADS_1
"Cium ah!" ujarnya lalu mengecup kembali bibir itu.
George membenahi rambut Luly yang berantakan, ia kini memagut pelan bibir istrinya, lambat laun, pagutannya makin dalam, bahkan lidahnya masuk dan menggoda lidah pasif di dalamnya.
Netra gelap itu terbuka, menatap manik amber milik sang kaisar. George melepas tautannya, kini tubuhnya menidih tubuh sang istri.
"Yang Mulia," cicit gadis itu.
George melanjutkan ciuman. Luly hanya pasrah, gadis itu sendiri bingung dengan apa yang terjadi. Namun, ia merasakan semua pembuluh darahnya berdesir dan membuatnya merinding.
Napasnya mulai habis, dada Luly terasa sesak, ia memukul pelan dada sang suami agar menghentikan ciumannya. George melepas pagutannya.
"Yang Mulia ... uhuk ... uhuk!" Luly sampai terbalik karena nyaris kehabisan napas.
Napas keduanya menderu, netra amber George menatap tajam iris gelap milik sang istri, bahkan tangan pria itu mulai menjamah dan meremas gundukan itu hingga membuat Luly melintingkan tubuhnya laksana busur panah.
"Yang Mulia,' panggilnya dengan suara merajuk manja.
"Permaisuri," bisik George lalu mengigit cuping istrinya.
Malam itu, George melakukan ritualnya pengantin dan menjilat ludahnya sendiri. Pria itu tak mau jika istrinya tak tidur bersamanya. Setelah menyemai bibit di rahim istrinya.
"Maafkan aku," ujar sang kaisar pada Luly, istrinya.
"Untuk apa?" tanya Luly yang kini tak mau melepas sedikitpun pelukannya dari sang suami.
"Karena tadi mengabaikanmu," jawab George.
""Aku juga minta maaf," sahut Luly dengan suara serak.
"Aku tahu, kau tadi mengumpat ku bukan?" Luly hanya merengek ketika sang suami menepuk bagian sensitifnya.
Keduanya kembali melakukan ritual mereka. Malam ini mereka begitu liar dan panas lalu terlelap setelah menyemburkan cairan cintanya.
__ADS_1
Bersambung.
Dan othor yang polos dan suci ini ... menceritakan hal tersebut ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤ðŸ¥²ðŸ¤£ðŸ¤£