Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
MENUMPAS PEMBERONTAK 2


__ADS_3

Kembalinya Marquez Albert dari desa C membuat semua prajurit yang hendak berangkat bingung. Panglima besar itu meminta semua prajurit menunggunya.


"Panglima Marquez Albert tiba!" pekik Kasim.


Pria itu datang dengan baju besi dan jubah merahnya. Kadang Ratu Raisa selalu protes dengan baju yang dikenakan oleh panglima tampan itu.


"Yang Mulia, hamba ingin melaporkan sesuatu!' ujar pria itu sambil menekuk kaki ke lantai dan tubuh dibungkukkan.


"Berdirilah Marquez!" titah Kaisar.


Pangeran Richard yang selalu senang dengan kedatangan pria itu langsung berlari kearahnya, sayang laju larinya ditahan oleh salah satu pengawal hingga membuat pangeran tiga tahun itu marah luar biasa. Pangeran Richard memukuli prajurit hingga mengaduh. Batita itu dibawa keluar sampai terdengar teriakannya. Kaisar Henry sampai harus menghela napas panjang.


"Lanjut kan Marquez!" titahnya.


Tangisan pilu terdengar. Marquez Albert yang hendak membuka mulut tak tega mendengarnya. Ia membungkuk hormat dan langsung mendatangi di mana sang pangeran berada. Ratu dan tiga anaknya tengah berada jauh di taman belakang. Memang semua anak bebas berkeliaran di mana-mana.


"Tenang sayang, ini Paman Panglima bersamamu," bujuk pria tampan itu.


"Hiks ... hiks ... hiks!" batita itu memeluk erat Marquez Albert dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher pria itu.


Marquez Albert kembali menekuk kaki pada Kaisarnya. Lagi-lagi pria penguasa itu menarik napas melihat betapa manja seluruh anak jika melihat panglimanya itu.


"Yang Mulia lapor. Duke Simpson tengah membayar kumpulan perampok untuk menyerang istana kita!' lapornya.


"Kumpulan perampok?"


"The Powers dibayar satu kantung keping emas!" lanjutnya melaporkan.


Kaisar Henry turun dari tahtanya. Ia mengambil putranya dari gendongan sang panglima. Prince Richard tampak bergerak, Kaisar Henry menenangkan putranya dan batita itu merengkuh leher ayahnya dan terlelap di bahu pria penguasa itu.


"Kau lakukan apa yang ingin kau lakukan pada mereka Panglima. Aku menyerahkan seluruhnya padamu!" titah Kaisar Henry ketika duduk kembali di singgasananya.


"Terima kasih Kaisar!" sahut Marquez Albert.


Pria itu langsung membentuk tim, beberapa bangsawan ikut turut serta daerah paling Utara kekaisaran memang tidak bernama karena jauh dari perbatasan desa C yang masuk dalam pemerintahan kerajaan Darly.


"Jadi maksudmu, kau ingin meluas kekuasaan kerajaan Darly hingga paling pelosok itu?" tanya Duke Ferguson.


"Benar Yang Mulia! Dengan begitu mereka akan bekerja dan tak merampok. Kita akan membuat pemimpinnya sebagai kepala pemerintahan, tentu semua anak buahnya akan menurut pada atasannya bukan?" jelas Marquez Albert.

__ADS_1


"Setuju, tetapi The Powers lebih sering merampok, apa iya bisa bekerja?" tanya salah satu bangsawan.


"Kita bisa melatih mereka. Aku dengar rumor Bruno adalah sosok pemimpin cerdas dan sangat tajam melihat situasi. Aku yakin jika diberi kesempatan, mereka akan jauh lebih baik diantara desa lainnya!'


Semua mengangguk setuju. Marquez Albert akan mendatangi lagi kelompok itu di tempat persembunyiannya. Pria itu meminta semua prajurit tidak menyerang jika tidak ada tanda darinya.


"Tetap bawa senjata api. Mereka tentu tidak mau mati konyol tertembus peluru kan. Setelah perjanjian ini berhasil, tangkap Duke Simpson dan seret dia ke petinggi bangsawan Countess Diana Lorenzo!" titahnya tegas.


"Laksanakan Panglima!" sahut ajudan dengan sikap hormat.


Marquez Albert membawa empat mobil beserta beberapa perjanjian, setelah perbincangan yang cukup alot. Karena memang tidak semudah yang dikatakan pria itu untuk membujuk seorang perampok yang sangat terkenal itu.


Sedang di tempat lain. Para pemuda kehilangan pria yang kemarin datang menawari mereka pekerjaan dan selalu memberi uang.


"Sial! Mana dia?!" runtuk pemuda itu kesal.


"Kau sih pake mengancamnya dan merampas uangnya!" ledek salah satu teman mabuknya.


"Diam kau!" bentak pemuda itu.


Hingga malam menjelang, Duke Simpson yang mereka tunggu tak juga datang. Akhirnya mereka pun pulang, uang yang kemarin mereka rampas habis menenggak miras dan bermain bersama kupu-kupu malam.


"Jika dia jodohku. Aku pasti mendapatkannya!" gumamnya dalam hati.


Mobil melaju di jalanan aspal. Sebuah perbatasan dijaga ketat oleh prajurit dari kerajaan Darly. Mereka tentu mengenali Marquez Albert.


"Kalian harusnya berkeliling agar orang asing tak masuk ke sini tanpa pemeriksaan!" ujarnya setengah memberi perintah.


"Kami hanya bertugas berdua saja Yang Mulia. Jika kami pergi memeriksa, tak ada yang menjaga pos depan!' lapor prajurit penjaga batas.


"Kalau begitu beri laporan pada Rajamu. Biar aku suruh delapan prajurit menjaga perbatasan dan sebagian mengelilinginya!"


Prajurit pergi melapor pada raja untuk meminta tambahan penjaga. Ternyata Raja Darly sudah membentuk tim untuk menjaga perbatasan.


"Kalian cari sepuluh prajurit yang kutugaskan itu!" titahnya.


Marquez Albert terus melajukan mobilnya hingga menuju gerbang tinggi lima meter. Mestinya ada yang berjaga di atas gerbang itu, tapi sepertinya para anak buah dari The Powers sedang sibuk atau apa.


Pintu gerbang dibuka oleh para prajurit. Hanya dalam waktu lima menit, dua ratus anggota perampok kini harus bersimpuh dengan tangan di atas. Para prajurit menodong mereka dengan senjata laras panjang. Kaisar Henry melengkapi persenjataan tentaranya dengan laras panjang dan pendek. Bahkan ia akan membeli beberapa alat perang seperti tank dan rudal. Pria penguasa itu benar-benar menguatkan pertahanan negaranya dengan membangun tentara yang kuat dan persenjataan yang canggih.

__ADS_1


Marquez Albert berhadapan dengan kepala perampok. Untuk pertama kalinya Bruno menundukkan kepala ketika hendak menantang tatapan super tajam milik lawan bicaranya sekarang.


"Kau bisa baca kan?" tanya Marquez Albert setengah meledek pria seram itu.


Muka Bruno memerah, tentu ia tak bisa membaca lancar. Namun demi gengsi ia menarik map dan membukanya. Beberapa tulisan tertera ia membaca pelan bahkan sedikit mengeja. Marquez Albert mencibir pria bertampang seram yang mendadak lucu di mata panglima tampan itu.


"Aku bisa mengajarimu hingga tak terlihat ... maaf, bodoh!" tekannya di kata-kata terakhir.


Muka Bruno lagi-lagi merah padam. Pria itu ingin sekali mencabut seluruh gigi putih milik panglima yang ketampannya menjadi sangat mengerikan di pandangan Bruno itu.


"Aku sudah tua. Mana bisa belajar otakku tak mampu menampung semuanya,' ungkapnya jujur dengan nada pelan.


Sebagai ketua perampok yang begitu disegani seluruh anak buahnya. Pria itu memiliki banyak strategi dalam merampok. Terbukti sampai sekarang pria itu tak tertangkap polisi.


"Kau sebenarnya pintar Bruno!" puji Marquez Albert jujur.


"Hanya saja kau tak menggunakan kepintaranmu di jalan yang benar!' lanjutnya.


"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Bruno akhirnya menyerah kalah.


"Kau akan. menjadi pemimpin sesungguhnya di daerah kekuasaan mu ini!" ujar Marquez Albert lagi.


Pria itu menjelaskan rencananya. Bruno mendengarkan dengan seksama, perlahan ia mulai mengerti bahkan kini ia mulai memberikan pendapatnya. Tentu saja Marquez senang mendengar semua usulan pria itu.


"Jadi apa kau masih ingin meneruskan rencana Duke Simpson?" tanya Marquez Albert ingin tahu.


"Dari mana kau tau pria bangsawan itu kemari?" tanya Bruno tak percaya.


"Kau lupa dengan julukanku Bruno! Bahkan kau lupa istana mana yang dikatakan pada Duke Simpson untuk kau rampok hartanya!' ujar Marquez Albert pria itu berdiri dan pergi meninggalkan pria itu dan anak buahnya yang sudah lega karena tak ditembak oleh para prajurit.


"Ketua!' panggil mereka semua.


"Tenang saudaraku, Kita sebentar lagi akan hidup makmur. Tempat tinggal kita akan mengikuti jaman dan kita akan kembali sekolah dan belajar bersama!" ujar Bruno pada semua anak buahnya.


Bersambung.


Ketika semua bisa dikalahkan dengan perencaan yang matang dan penuh perhitungan. Peperangan tak akan terjadi dan menimbulkan banyak korban.


Next?

__ADS_1


__ADS_2