Mendadak Jadi Ratu

Mendadak Jadi Ratu
BERKUDA


__ADS_3

Cup!


Sebuah kecupan membuat keduanya terkejut. Rosa langsung menunduk malu, ia membungkuk hormat dan hendak lari dari hadapan sang bangsawan tampan itu.


"Mau kemana!" tangkap Marquez Albert memeluk gadis itu.


"Yang Mulia," cicit Rosa.


"Aku belum puas Rosa!"


Marquez Albert mengangkat dagu sang pelayan cantik itu. Lalu bibirnya menyapu bibir sang gadis dengan penuh kelembutan. Rosa membalas tautan sang bangsawan dengan perlahan sungguh ini adalah yang pertama baginya.


"Rosa," panggil Marquez Albert.


Kening dan hidung mereka saling menempel. Napas keduanya saling menderu. Marquez Albert memagut lagi bibir yang terasa manis itu. Rosa menghentikan ciumannya setelah tangan Marquez Albert meremas dadanya.


"Yang Mulia,"


"Baiklah Rosa," sahut pria itu, "maaf."


Rosa membungkuk hormat dan langsung berlari meninggalkan Marquez Albert. Ia lupa dengan pitcher air nya. Sedang sang panglima tertinggi itu mengusap bibirnya perlahan. Ia terkekeh sendiri, karena ia begitu mahir memainkan indera pengecapnya itu.


nnn


Pagi menjelang, empat bayi sudah didandani Ratu Raisa dengan baju kaus lengan panjang celana ketat. Pangeran Richard, Goerge, Wiliam dan Putri Elizabeth juga memakai baju lengan panjang dan celana kaos panjang sama dengan ayah dan ibunya. Ternyata Kaisar Henry juga akan berkuda bersama Pangeran Richard sebagai pewaris tahta kekaisaran.


Raja Darly datang bersama anak dan. istrinya. Princess Anna juga sudah ribut ingin naik kuda. Bayi itu marah-marah.


"Nait!"


"Sabar sayang," sahut Raja Darly menghela napas panjang.


Bukannya diam, bayi itu malah memukul ayahnya. Hal itu langsung berhenti ketika Kaisar Henry mengambil alih bayi cantik nan galak itu.


"Kau bersama Raja Darly ya sayang," pinta kaisar pada putranya.


Pangeran Richard mengangguk, ia menurut pada sang ayah. Dalam gendongan kaisar Princess Anna tenang dan sabar menunggu.


"Hai galak!" Ratu Raisa gemas dengan bayi galak itu.


Wanita itu menciumi sekaligus mencium suaminya. Kaisar Henry menatap istrinya sedikit kesal.


"Jangan menggodaku Ratu!" peringatnya.


Ratu Raisa terkikik geli. Akhirnya semua menaiki kuda terbaik yang dimiliki oleh kekaisaran Horton.


Prince Rayeen juga tenang di pangkuan sang ayah yang memacu pelan binatang berkaki empat itu.

__ADS_1


"King!" pekik Princess Anna ketika Kaisar Henry mulai memacu kudanya.


Kuda yang ditunggangi sedikit mengangkat kaki, hal itu membuat Putri bar-bar itu tergelak.


"Tenang sayang," pinta Kaisar Henry yang gemas dengan kelakuan putri dari salah satu rajanya itu.


Mereka memacu kuda mengitari lapangan pacu kuda. Semua bayi terpekik ketika kuda melompati rintangan. Sedikit kesulitan awalnya namun setelah itu kuda jadi terbiasa.


Mereka berkuda sekitar empat putaran saja. Anak-anak sudah mengantuk bahkan Princess Anna sudah tertidur dipangkuan sang kaisar. Marquez Albert mendekati Kaisarnya dan mengambil bayi cantik itu dari pangkuan sang kaisar. Princess Anna tak ragu merangkul leher Marquez Albert erat dan meletakkan kepalanya di ceruk leher pria itu.


"Kemarikan anak nakal itu Marquez!" pinta Raja Darly yang gemas dengan ulah putrinya itu.


"Dia sudah terlelap, jangan diganggu!" titah Kaisar Henry.


Raja Darly hanya mendengkus pelan. Sang kaisar memanjakan putrinya. Semua anak di tidurkan dalam satu kamar yang dijaga banyak prajurit.


Marquez Albert tak menemukan Rosa diantara para pelayan ratunya. Ia bahkan sampai mencari di bagian dapur dan kamar pelayan. Sampai-sampai para pelayan terkejut dengan kedatangan bangsawan ke area itu.


"Yang Mulia!" semuanya bersimpuh di lantai.


"Mana Rosa?" tanyanya.


"Rosa pulang kampung Yang Mulia, ibunya tengah sakit. Ratu telah memberinya ijin!!' jawab salah satu di antara mereka yang masih bersimpuh.


"Baik, terima kasih!" sahut pria itu.


"Apa yang telah dilakukan Rosa sampai Marquez Albert datang kemari?"


"Apa gadis itu membuat kesalahan?" lanjutnya.


"Aku harap kalian menjauhi Rosa sebelum dia menyelesaikan masalahnya!" perintah salah satu maid.


Sementara di halaman istana Kaisar Henry menerima sebuah hadiah lima ekor kuda dari kerajaan Arab Saudi. Kuda-kuda dari negara itu memang sangat terkenal dengan kuda terbaik di dunia.


"Sir Anthony, berikan lima peti emas untuk kerajaan Arab Saudi!" titah sang kaisar.


Lima peti emas diangkut dengan sebuah truk kayu yang tadi untuk mengantar kuda. Tak ada yang mengetahui keberadaan peti-peti itu karena ditutupi oleh jerami.


Kuda-kuda diberi vitamin dan diistirahatkan di istal. Beberapa pekerja sudah mengurusi kuda-kuda cantik itu.


Sore menjelang istana kembali sepi karena semua raja, permaisuri dan para pangeran dan juga putri raja sudah pulang.


Usai makan malam, semua anak telah terlelap, Marquez Albert meminta ijin pada kaisar untuk pergi ke sebuah daerah yang telah lama tak diperiksa.


"Kau ingin pergi ke daerah M?" tanya sang kaisar.


"Benar Yang Mulia!" sahut pria itu.

__ADS_1


"Pergilah, sekaligus periksa, aku dengar ada beberapa pemberontak ada di sana!" titah Kaisar Henry.


Marquez Albert membungkuk hormat, ia membawa delapan pengawal untuk ikut bersamanya.


Marquez Albert pergi dengan mengendarai kudanya, ia tak begitu nyaman menggunakan mobil. Selain ia tak banyak bergerak, dengan kuda ia bisa melintasi hutan dan menembus beberapa aliran sungai dangkal dan beberapa bukit. Ia melewati jalur belakang untuk sampai di desa di mana Rosa tinggal.


Pagi menjelang Ratu Raisa mengajak empat bayi kembarnya ke sebuah daerah. Mereka akan memanen strawberry. Dengan menggunakan mobil mereka sampai di sebuah perkebunan strawberry. Karena dataran tinggi, tempat itu sedikit berkabut.


"Mommy ... dingin!" ujar George mengeratkan sweater tebalnya.


"Sebentar lagi kabutnya turun tak begitu terasa sayang," ujar sang ratu.


Sekitar seratus pengawal menjaga keamanan sekitar. Adanya Ratu dan empat anak kembar pewaris kerajaan seluruh warga berduyun-duyun memenuhi lokasi.


"Ratu!" panggil mereka mengelu-elukan wanita penguasa itu.


Ratu Raisa melambaikan tangan dan menyuruh empat anaknya juga melambai pada mereka. Semua warga begitu terharu dan berteriak memanggil nama mereka.


Semua anak begitu antusias memetik buah. Bahkan Princess Elizabeth memakan buah merah itu.


"Manis sekali!" pujinya.


"Terima kasih Yang Mulia!" sahut semua pekerja.


Setelah memanen, ratu kembali pulang ke istana bersama empat pewaris tahta. Semua warga melambaikan tangan. Para pekerja membagikan buah secara gratis sebanyak satu mika ukuran sedang untuk satu orang.


"Ratu Raisa memang yang terbaik. Selama beliau memimpin, kami selalu bisa merasakan buah enak dan mahal seperti ini," puji salah satu warga terharu.


"Hei cepatlah!" teriak salah satu warga yang mengantri tak sabaran.


Akhirnya antrian itu habis. Hasil panen sebagian sudah disimpan untuk dijual ke berbagai daerah.


"Yang Mulia Ratu Raisa dan The Quarto's Horton's Emperor tiba!" pekik Kasim.


Empat batita memilih berjalan memutar, mereka mengerjai Kasim yang bingung karena yang masuk hanya sang ratu saja. Sedang Ratu Raisa terkikik geli melihat kasimnya kebingungan.


Kaisar Henry hanya bisa menghela napas melihat empat turunannya dan juga sang istri yang suka sekali usil itu.


"Sayang!" peringatnya.


"Maaf My King!" sahut George.


bersambung.


Hmm kelakuan anak-anak memang beda.


Next?

__ADS_1


__ADS_2