Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 21. INGINKU... (JAKA)


__ADS_3

Selama beraksi diatas podiumnya Amber merasa seperti sedang diawasi mata-mata dari intel. Dari sudut sana mata Jaka memang selalu mengawasi meski ia tengah bekerja dengan khusyuk.


Tapi ya namanya juga Amber, ia tak peduli yang penting ga ganggu konsentrasinya. Yang jelas baginya, ia harus membuat suasana malam ini di club malam menjadi panas, membara dan bergelora, yeahh..itu sudah menjadi tugasnya. Hingga lagu terakhir yang ia persembahkan adalah lagu yang sedikit mendayu untuk pendinginan suasana menuju pagi menjelang.


Amber turun dari podium, bergabung dengan circle manusia lak nat yang satu frekuensi dengannya seperti biasa.


"Minum apa Am?" tanya Virgo seraya mengocok minuman yang sedang ia mix.


"Emhh, gue mau----" Neta mengetuk-ngetuk dagunya mencoba memilih jenis minuman yang akan ia minum.


"Teh manis hangat," jawab Jaka membuat Virgo, bang Sandi bahkan Neta sendiri sontak menoleh padanya.


Mata Neta memperingatkan Jaka untuk tak ikut campur, namun Jaka tak peduli.


"Neng Amber ngga ingat? Ibu nitipin neng Amber sama saya?" dan demi apapun ucapan Jaka membuat bang Sandi, Virgo sang bartender terkejut,


"Weww! Ada angin apa nih tante Nilam nitipin anaknya sama...lo kenal dia, mber?!" tunjuk bang Sandi mencibir pada Jaka.


Neta berdecak dan meloloskan nafas kasar, alisnya menukik tajam pada Jaka, ia turun dari kursi dan menarik Jaka agar menjauh dari sana.


"Jaka! Kamu apa-apaan sih, kamu ngapain nyamperin?!" tanya nya sewot.


"Saya cuma mau kamu berenti minuman kaya gitu, mber...sedikitnya itu mengandung alkohol, dan ingat?! Setetes saja kamu minum---ibadah kamu ngga akan diterima selama 40 hari," jawabnya datar. Neta memalingkan wajahnya ke samping tak mau berdebat.


"Ada per-tanggung jawaban saya sebagai imam di setiap sikap yang kamu ambil di akhirat nanti,"


Mendadak langkah Neta terhenti, ia bergidik ngeri, kalo udah ngomongin akhirat bawaannya pengen langsung tobatan nasuha.


"Ck!" Neta berbalik meninggalkan Jaka disana, ia benci jika Jaka sudah mengeluarkan dalil begini, andai saja ia manusia yang tak memiliki hati, Neta jadi geram sendiri dibuatnya! Argghhhh---kenapa harus peduli sih! Dadanya naik turun, ada gejolak amarah di sana, tapi harus marah pada siapa?!


Ia kira memilih Jaka adalah solusi, tapi nyatanya ia malah masuk ke dalam pusaran masalah baru, dan kenapa ia sering sekali membawa perasaan sekarang, perasaan tak enak hati, perasaan takut Jaka marah, perasaan harus menghargai Jaka.


Dammmnnn! Jaka punya sihir apa cobak! Padahal dia tuh ngga ngapa-ngapain, ngga gombal, juga ngga ngasih dia barang-barang mewah, tapi Neta berasa kaya punya beban kalo bandel.


"Lo kenal Jaka, mber?" tanya Sandi.


"Kenal," ketus Amber kini berjalan menuju lokernya.


"Eh, mau kemana? Ini jadi ngga, biasanya red wine?!" teriak Virgo, "mumpung gue belum pergi,"

__ADS_1


"Ngga jadi! Seketika jadi inget dosa!" ketusnya menggerutu hampir hilang ditelan pintu menuju ruang staff. Ujung-ujungnya ia malah meneguk air mineral dari botol miliknya.


Neta memilih mengambil tas miliknya dan memutuskan untuk pulang, "bang Ndi, Go..gue balik lah, udah beres kok!" matanya jatuh tertumbuk di jam tangan miliknya yang menunjuk pukul 1.30 dini hari.


"Oke deh! Bye mber!"


Amber mengangkat tangannya di udara membalas salam keduanya. Ia berjalan menuju mobil dan duduk disana sejenak.


Ia merebahkan badan di jok mobil dan menyetel pemutar musik di dalam sana, menumpahkan semua rasa lelahnya malam ini hingga tak sadar ia tertidur.


Jaka keluar dari club malam saat waktu menunjukkan pukul 3, ia sempat mencari-cari Neta di setiap ruangan club, namun Sandi mengatakan jika Neta sudah keluar sejak tadi.


Maka kini matanya jatuh pada sebuah mobil merah yang masih terparkir cantik di pojokan tempat parkir club, kaca jendela yang berwarna gelap membuat Jaka menempelkan wajahnya demi melihat isi di dalamnya. Suara musik klasik sayup-sayup terdengar dari dalam, pertanda jika Amber ada di dalam sana.


Tangan lelaki itu membuka handle pintu mobil yang ternyata tak dikunci oleh si empunya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah cantik, lelah nan damai Amber. Sungguh jam kerja ini tak cocok untuk Shanneta.


"Cantik, tapi galak, bandel..." Jaka terkekeh sendiri. Untuk sejenak Jaka memilih ikut merebahkan dirinya di sandaran jok mobil, jakunnya sampai naik turun karena menelan saliva membayangkan sesuatu yang terasa sulit ia ungkapkan. Pandangannya menyapu seluruh tampilan dashboard mobil Neta, boneka dashboard kecil bugs bunny yang tersenyum seraya membawa wortel dan bunga matahari bergoyang menghiasi ruang mobil si red jazzy saat ada guncangan terjadi, pegharum mobil bikin aroma dan suasana mobil jadi nyaman...sebenarnya gadis ini menyukai keindahan dan kerapihan namun sayangnya ia malas.


Pikiran Jaka menembus masa depan yang belum pernah terbayangkan oleh Jaka bahkan mustahil ia raih, ia mendengus seraya tersenyum miring, lucu sekali otaknya bekerja!


Sungguh inginnya adalah di jam seperti ini Shanneta tengah tertidur nyaman di rumah menunggunya, bukan lelah bekerja. Tapi jika mengingat gaya hidup Neta, jelas saat ini ia tak akan mampu memenuhi semua kebutuhan mewah Neta. Rasanya pun begitu egois jika ia melarang Neta bekerja dan memaksanya hidup sederhana. Ia hanya orang baru yang bahkan tak diharapkan kedatangannya oleh Neta.


Melarang, dan memerintah Shanneta adalah bad idea, yang ada gadis ini akan pergi, sangat mampu untuk pergi!


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 lebih sepuluh menit. Jaka memutuskan untuk membangunkan gadis ini.


Guncangan-guncangan kecil di bahu dan sentuhan di pipi Neta bak bisikan syetan, Neta sempat tersentak kaget dibuatnya.


"Amber..."


"Amber..."


"Astagfirullah!"


BUGH! Neta memukul Jaka, "kaget tau! Apa sih," gerutunya.


"Mau pulang atau masih mau disini?"


Neta menggeliat manja meregangkan otot-ototnya, "jam berapa ini?" ia melirik jam di pemutar musik.

__ADS_1


"Jam 3," guman Neta.


"Masih kuat bawa mobil?" tanya Jaka, pasalnya ia pun harus membawa motor miliknya.


Neta mengangguk, "kuat lah. Hampir tiap hari juga gini, ya udah kamu keluar...jangan sampe timbul fitnah!" usirnya membuat Jaka menggelengkan kepala dan tertawa kecil, padahal gampang saja kalo sampe digerebek orang, wong tinggal ngeluarin buku sakti keduanya, beres!



Neta duduk dengan menempelkan dirinya di punggung Jaka, tangannya bahkan sudah menelusup ke dalam saku jaket samping kiri dan kanan Jaka.


Malam ini ia benar-benar mengantuk, "aku ijin meluk gini ya, ngga kuat ngantuk banget," pintanya menyentil hati Jaka. Tak ada jawaban dari mulut Jaka namun Neta sudah melakukannya.



Taukah gadis ini, posisi begini bikin Jaka nyut-nyutan. Jaka sampai menghembuskan nafas panjang, baru kali ini ia merasa gugup begini hingga....



*Ckit*,



*Dugh*!



"Awww! Jakaaaaa!"



*Plok*! !


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2