Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MAGHFIRAH KAMOJANG MUBARAQQAH


__ADS_3

...Tasyakur bin nikmat dan Aqiqah...


...Maghfirah Kamojang Mubaraqqah...


...Kami yang berbahagia...


...Perjaka Barokah & Shanneta Amber...


...Semoga bisa menjadi putri yang sholeha ❤...


Selembar foto balita mungil nan lucu tercetak diatas dus nasi kotak dengan isian nasi, sayur, lauk tahu--tempe--perkedel, gule dan sate kambing, plus buah, air mineral dan camilan sebagai pelengkap.


Acara Aqiqah putri kecil Jaka dan Neta berlangsung sederhana namun tak mengurangi kebahagiaan dari kedua keluarga.


Jaka mengecup kening Fira, putri kecilnya yang kini sedang berada dalam buaian selepas rambutnya di gunting secara sembarang oleh ibu-ibu pengajian dan para tetangga yang hadir.


"Neng, dedek mau 'nen kayanya..." Jaka melihat putri kecil yang kini bergerak gelisah dengan mulut yang mangap-mangap dan menjulurkan lidah layaknya mencari sumber kehidupan. Namun sepertinya istri ex dj'nya itu justru tengah lahap menyantap menu makan sore...Yeap! Semenjak melahirkan dan menyuusuii Fira, nav suu makan Neta cukup besar.


Bayi gembul itu sangat tak sabaran, sadar jika sang ibu tak jua memberikan sumber makanannya, ia menangis kencang meski tengah dalam buaian sang ayah.


Mungkin Fira adalah titisan Celine Dion, suaranya begitu keras memecah gendang telinga. Namun hasilnya, sang ibu kini mendekat.


"Iya dek...iya sebentar!" Neta mempercepat suapannya dengan tenaga kuda lalu minum dengan cepat, "neng jangan rusuh gitu, nanti keselek!" ia boleh menjadi ibu tanggap nan siaga, tapi tidak sampai membahayakan dirinya sendiri.


Segera Neta meraih baby Fira dari tangan Jaka, lalu membawanya ke dalam kamar agar lebih leluasa mengeluarkan cadangan makanan baby Fira, sebagai ayah siaga...Jaka mengekori Neta ke kamar, meninggalkan keluarga dan kerabat yang masih berada di luar kamar.


Neta bersiap dengan cengkramannya pada bantal saat mulut mungil Fira melahap rakus mainan Jaka. Jaka harus rela hati jika sekarang mainan favoritnya itu jadi milik putri kecilnya.


"Akang---" panggilnya panik, namun sebelum Neta nyeroscos lebih berisik lagi, Jaka sudah menyerahkan breast pad ke arah Neta, membuat si neng cantik ini terkekeh nyengir, Jaka memang suami dan ayah siaga.


"Masih sakit neng?" tanya nya melongokan kepala ke arah putri kecilnya yang begitu kuat menye sap, mungkin terlampau haus.


Neta mengangguk, "masih. Dedek ngi sepnya kuat kang, ininya aku lecet..."


"Mau akang olesin lagi pake minyak zaitun?" sebenarnya Jaka cukup malas melakukan hal ini, karena terkadang ia harus menahan haz rat liar dalam dirinya yang datang dengan tak sopan tanpa permisi. Namun melihat Shanneta yang kesakitan, ia sungguh tak tega.


Neta mengangguk, "nanti pas dedek bobo aja, kang."


"Kang, nanti bisa anter besek ke Shangri-La? Buat bang Sandi sama Wening, sekalian buat pak satpam juga," pinta Neta.



"Boleh," jawabnya mengangguk.



Jaka bersiap-siap untuk pergi ke Shangri-la, ia meminta pada ibu untuk memisahkan 5 buah hampers Aqiqah untuk dibawa, sementara Neta bersama keluarganya di rumah.



Tidak dengan motor bututnya ataupun motor milik Neta, namun Jaka membawa si jazzy merah. Sebagai seorang yang penghasilannya jauh berkali-kali lipat dari sejak menjadi OB, Jaka jelas sudah berubah, namun tidak menjadikannya lupa akan Shangri-la.

__ADS_1



Ia mengecup Fira yang berada si pangkuan Wulan, rupanya anaknya itu begitu manja. Meski tertidur, ia harus berada dalam gendongan atau pangkuan.



Neta menyerahkan hampers yang tersusun rapi di dalam tas-tas kain pada Jaka, "mau aku taro di bagasi apa akang yang bawa ke bawah?"



"Biar aku aja. Neng cantik jangan bawa-bawa yang berat dulu," jawabnya seraya menerima tas-tas itu, Shanneta ikut mengantarkan Jaka ke bawah.



*T\*\*itt*!



Suara alarm mobil berbunyi ketika Jaka memencet tombol remotenya, ia kemudian membuka pintu bagasi dan memasukan tas-tas hampers ke dalamnya.



Jaka menggosok-gosok telapak tangannya, "nervous euy! Udah lama ngga ke Shangri-la!" ucapnya membuat Neta tertawa kecil.



"Kangen kerja lagi ngga?" tanya nya.




"Ya udah atuh neng cantik masuk. Jangan kelamaan di luar. Pamali, masih wangi..." dengan usilnya Jaka menarik tangan Neta, mendekatkan wajahnya ke arah leher Neta dan menye sap aroma tubuh istrinya hingga Neta kegelian, "tuh! Masih wangi!"



Puk Puk ! Neta menyarangkan kepalan-kepalan tangannya pelan di dadha Jaka, "modus ah!"



"Ya udah, masuk. Akang pergi sebentar. Mau nostalgia dulu," ujarnya terkekeh.



Dilihatnya bangunan yang ada di depannya, bangunan yang masih berjaya di antara kehingar bingaran malam.


Di pojok pos satpam sana, pak Uus masih setia dengan rokok yang mengepulkan asap putih, usia tua tak menjadikannya pensiun dari pekerjaannya saat ini, dan mungkin akan terus seperti ini sampai raganya tak sanggup lagi memegang amanah. Atau mungkin anak-anaknya sudah mampu untuk menanggung beban hidupnya dan sang istri.


"Pak Us," Jaka menyapa setelah sebelumnya menekan tombol remote mobil dan mengambil tas-tas kain dari dalam bagasi.


"Jaka?!!" alisnya berkerut di kejauhan lalu mendekat.

__ADS_1


"Ya Allah, Jaka?!" ia berseru setengah tak percaya melihat Jaka sekarang.


"Beda lah! Udah jadi bos katanya?!" tembak pak Uus melihat Jaka dari atas hingga bawah.


Jaka tersenyum tipis, "engga lah pak. Masih sama-sama cari uang toh-toh'an...apalagi sekarang punya si kecil, harus meres keringet lebih lagi," tawanya renyah.


"Wahhh, udah lahiran?! Cepet amat Jak, ngga berasa gue udah aki-aki?!"


"Selamet ya Jak. Ngga ada kabar, belum nengok anak lu Jak,"


Jaka kembali mengulas senyum tipisnya, "ngga apa-apa pak. Minta do'anya aja biar jadi anak soleha," balas Jaka, ia menyerahkan dua tas kepada pak Uus, "buat bapak sama pak Asep."


"Waduhhh, apaan nih? Makasih Jak! Moga anak lo jadi anak soleha!"


"Aamiin. Kalo gitu saya masuk dulu pak, mau ketemu pak Sandi..."


"Oh, silahkan. Ada barusan baru aja dateng. Sekali lagi makaaih ye Jak!"


Jaka mengangguk sopan lalu masuk ke dalam club malam, kondisinya masih sama saat ia pertama masuk dan terakhir keluar, hanya orang-orangnya saja yang berbeda, entah ia yang tak pernah menghafal wajah-wajah di bawah temaram lampu disko.


Matanya mengedar ke arah meja bartender, dimana Sandi biasa berada bersama Wening. Namun kini Wening sedang berada di atas podium.


Ia berjalan ke arah meja bartender dan menghampiri seseorang, yang ternyata sedang bersama orang lain dan Jaka mengenalnya.


"Pak."


Ia dan Widi sontak menoleh, "Jak? Ya Ampun!" ia celingukan ke arah belakang badan Jaka. Widi cukup terkejut melihat Jaka, sudah cukup lama tak bertemu, ditambah pertemuan terakhir mereka diwarnai dengan ketegangan dan permusuhan.


"Neta?" tanya Sandi.


"Jagain Fira di rumah," jawab Jaka, Sandi menepuk jidatnya sampai lupa jika Neta kini sudah jadi emak baru, padahal tempo hari ia sendiri yang mengantarkan hadiah untuk bayi gembul yang mirip Shanneta bersama istrinya ke ruko Neta.


"Buat abang, Wening sama....pak Widi," Jaka menaruh tas tas kain di atas meja bartender dan mendorongnya ke arah Sandi dan Widi.


"Wahhh, thanks Jak! Bilangin makasih juga buat Neta," jawab Sandi senang menerima tas hampers. Sementara Widi yang terlihat salah tingkah dan terkesan tak ingin melihat Jaka, kini justru terlihat mengulurkan tangannya, "selamat....buat lo sama Amber, sorry gue belum sempet nengok bayi lo sama Amber."


Jaka menyambar tangannya, "makasih."


"Kalo gitu saya pamit pak, soalnya cuma ijin sebentar sama Neta."


Jaka pamit undur diri dari sana, dan melangkah pulang, sementata Widi membuka tas hampers dengan wajah bayi kecil di dalam sebuah card yang ditempel juga dalam bingkisan hampers berisi sisir, handuk kecil, minyak aromatherapy dan mug kecil, ia terkekeh kecil nan gemas, "bayi lo cantik Net, kaya ibunya.


.


.


.


.


Sesuai janjiku waktu itu ya, nama anak Jaka itu kuambil dari kata Kamojang yang artinya Gadis cantik dari tanah sunda.

__ADS_1


__ADS_2