
Shanneta menghela nafasnya, mematut penampilan di depan cermin, enak dipandang seperti biasanya. Ia tertawa jumawa karena memuji kecantikan diri sendiri.
Hanya dengan sentuhan kalung choker hitam, maka semuanya selesai. Blazer dongker membalut dalam an tube top (kemben/tank top super minimalis) coklat bata, dipadu rok lipit sepaha berwarna senada dengan blazer menjadi tampilan paripurna si DJ sekelas Shanneta, sesuai dengan rumor yang beredar jika ia bisa menyamai para DJ ternama Indonesia lainnya di jajaran DJ fresh nan berbakat.
Warna rambutnya telah berubah kembali menjadi hitam beraksen brown, ia sengaja totalitas. Penampilan pamungkasnya hari ini anggap saja salam perpisahannya pada dunia per-DJ'an. Dan setelah ini ia akan mengundurkan diri dari Shangri-la.
Langkah sepatu jingle hitam menapaki ruangan acara bergaya semi outdoor, dengan tema one stop dancing. Balon gold dan hitam menjadi warna dominan menggantung dan tertempel cantik membentuk curve pintu masuk dan hiasan di tiap sudut ruangan, kursi yang telah ditata rapi dengan di sudut kanan kiri pemandangan Kuta beach. Acaranya memang diselenggarakan di sebuah villa dekat dengan kawasan pantai.
...❤ SWEET 17 ALICIA ❤...
Acara yang isinya didominasi para remaja tanggung ini bak menggambarkan kebebasan para generasi muda jaman sekarang, ia tebak mereka mungkin kalangan berduit dari gaya berbusana, gaya hidup dan bicara saja sudah lain. Mungkin ia juga begitu dulu, tapi kenapa sekarang Neta begitu muak melihatnya, seakan dunia hanya mereka saja isinya.
Kerlap-kerlip lampu berteman angin malam menyapu kulit Shanneta, beginilah kehidupan glamour nan nakal yang akan ia tinggalkan, ia memejamkan matanya sekedar menghayati suasana ini. Siapa tau nanti bakalan kangen.
Suara mc beradu dengan deburan ombak yang bergulung dilatari penampilan eksotik malam hari. Sang empunya acara hadir sepaket outfit bak princess bersama senyuman yang tak pernah luntur mengingat hari ini adalah hari spesial untuknya.
Ramainya acara tak menjadikan resah teralihkan, Neta berulang kali melirik ponsel yang ia simpan di tas miliknya. Tas yang senantiasa ia taruh di sampingnya.
Jaka benar-benar murka padanya, sampai sekarang ia tak membalas ataupun membaca pesan darinya sejak pertama pesan dikirimkan.
Masih ada waktu beberapa belas menit sebelum ia memulai aksinya, Neta pilih untuk mengirim pesan.
Maafin aku, aku ngaku salah. Jangan diemin aku. Aku ngga suka dicuekin.
Lama ia menunggu hingga batre ponselnya hanya tinggal 10 persen.
Ya udah, aku kerja dulu. Besok aku usahain buat ngomong sama yang punya hajat biar dikasih tiket balik malem biar pas kamu pulang aku udah di rumah.
Salam sayang dari jauh,
Lantas Neta memotret dirinya sendiri dan ia kirimkan pada Jaka dengan caption #miss you 😘
Hingga suara corvetti menembak udara diiringi tepukan tangan dan nyanyian happy birthday mengejutkannya. "Geblek! Kaget gue..." gumam Shanneta mengelus dada, ia mematikan ponselnya dan menaruh baik-baik dalam tas.
Ditengah keramaian dan suka cita mungkin hanya Neta yang saat ini merasa hambar, tapi ia kesampingkan itu demi sebuah kata profesionalitas. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah taste bermusik dan popularitas, perasaan.
Pesta semalam suntuk bak dunia tak memiliki jam malam untuk para muda mudi yang dibuai nikmat dunia.
Jaka menghela nafas di tempatnya, besaran rasa marah yang menggantung tetap kalah dengan semua kata-kata manis Shanneta, tepat pukul 7 malam ia yang sudah memakai jaket bersiap untuk mencari rupiah di Shangri-la membaca terlebih dahulu pesan dari istrinya.
Sebuah pesan bergambar masih berputar hijau aga sedikit lama, efek dari kuota atau memang hapenya saja yang sudah tak *support*, hingga sebuah foto wanita tercantik setelah ibu Sri terpampang nyata membuat gejolak rindu semakin meluap-luap.
Jaka mungkin terlambat, karena saat ia menjawab, pesannya hanya centang satu. Ia usap tengkuknya dengan thesahan lelah tanda sedikit menyesal kenapa harus terlambat menjawab, mungkin disana Shanneta tak akan bisa bekerja dengan tenang seperti dirinya tadi siang.
*Opik benar, tidak seharusnya ia begitu*.
Pasangan menikah adalah partner hidup, bagaimanapun itu bukan salah Neta sepenuhnya, sikap istri itu bagaimana bimbingan suaminya. Karena kembali, Shanneta masih dalam proses belajar tidak seharusnya ia malah meninggalkannya, tak ada seorang manusia (perempuan) yang langsung menjadi sosok istri sempurna macam Khadijah atau Aisyah, apalagi untuk seorang Shanneta yang tak tau apapun.
"Uhuu! Adek gue nih!" seru Sandi, tatapannya dan Wening tak lepas dari benda pipih yang menampakkan instastory si empunya hajat.
__ADS_1
"Edyan! Emang Amber ngga kaleng-kaleng taste musiknya, gue akuin gue aja kalah, ngiri gue bang!" timpal Wening lalu kemudian ia meneguk jack daniel. Jaka yang tak sengaja melintas dapat melihat siluet penampilan apik istrinya.
"Eh Jak, sini! Bini lo liat!" Sandi melambaikan tangan dan menarik ujung kemeja Jaka dengan kasar tanpa permisi saking excitednya menunjukkan DJ Amber di acara anak muda.
Leku kan tubuh Neta yang terkespos sukses membuat Jaka mengkhayalkan ciu man pertamanya bersama Neta pagi itu.
"Dia ada kabarin lu ngga?" tanya Sandi bertanya singkat namun matanya masih menatap tak berkedip pada layar pipih.
"Ada pak,"
*Ck, istri nakal. Mau main-main kamu neng cantik*...
Jaka kembali berdecak kesal karena Neta malah menyedekahkan kulit mulusnya di depan anak-anak bau kencur yang pasti bakalan ngiler liat si DJ cantik nan sexy.
"Woahhhhh!"
Seruan menikmati suasana dan lagu begitu menggema.
Alicia tersenyum, ia memang tak salah memilih Amber.
"Kak Amber! Makasih banyak ih, pada suka tau!" ia melebarkan senyumannya menyapa sang penghidup suasana.
"Sama-sama, happy birthday Alicia. Nih!" Neta menyerahkan sebuah kotak berpita untuk gadis yang berulang tahun, ia sudah menyiapkannya tadi siang sebelum acara.
"Wah, thanks kak Amber!" serunya senang.
"Kak Am, selfi yuk! Mau kupamerin di sosmed, oh iya nanti temen-temenku pengen kenalan katanya,"
Neta sebenarnya sudah lelah mengingat ini sudah pukul 2 malam tapi ia iyakan saja.
__ADS_1
"Oh iya kak, besok kita vacation sdkalian hunting oleh-oleh dari jam 8 pagi aja yuk!" ajak Alicia.
Kebetulan sekali, gadis itu membahas masalah besok.
"Alicia, ini loh sebenernya aku pengen ngomong...kan gini ya..." ia merayu anak 17 tahun itu meng-acc permintaannya untuk mendapatkan tiket pulang cepat dengan jurus andalannya seperti yang ia lakukan terhadap Jaka dulu dengan alibi kepentingan mendadak di Jakarta.
Neta dapat tersenyum lega, pagi ini ia akan pulang. Rindu yang semakin menumpuk bercampur dengan rasa bersalah sudah tak dapat terbendung lagi. Mungkin dari sekarang ia harus memikirkan padanan kalimat yang cocok sebagai permintaan maaf, apakah harus ia joget-joget sambil telan jank di depan Jaka biar dimaafin? Neta bergidik geli membayangkannya.
Segera ia angkat tasnya, karena di luar sana Jason dan Alicia sudah menunggunya.
Meski dirasa tak bisa sampai di Jakarta saat Jaka pulang dari Shangri-la, setidaknya Neta sudah berusaha secepat mungkin demi mengejar Barokah-nya.
Tepat di pukul 3 pagi, ia diantar Alicia dan Jason ke bandara I Gusti Ngurah Rai.
"Aduh, sorry jadi repotin. Padahal aku udah pesen taxi, ngga perlu sampe dianterin. Kasian kalian belum tidur," ujar Neta.
"Santai aja kak, ngga apa-apa kok Gue udah biasa bergadang buat mabar..." ujar Jason menggosok hidungnya seraya tersenyum melihat Neta dari kaca spion mobil.
"Dia mah udah biasa bergadang kak, hoammm!" Alicia menguap, menopang kepala ke samping kiri dengan tangannya.
"Aku sih karena kepengen nganterin kaka pulang aja jadi ikut, oh iya sisa pembayaran udah aku transfer kak tadi isya." Alicia menoleh ke jok belakang.
"Sip!" Neta mengokei, dengan ini ia akan punya cukup tabungan untuk hidupnya ke depan bersama Jaka.
Mobil hitam itu melesat diantara jalanan kota yang hampir sepi. Anak jaman sekarang, usia 17 tahun sudah seperti bisa menggenggam dunia dalam tangannya.
"Yaaa...kecepetan sih sebenernya, emang kak Amber ngga pengen belanja-belanja dulu gitu keliling Bali?" gadis itu menampakkan wajah merengut khas childishnya jika keinginan tak terpenuhi.
"I'm so sorry..." Neta nyengir.
"Ya udah deh ngga apa-apa..." ketusnya merengut.
"Gini deh, nanti di Jakarta kita janjian kalo mau hangout bareng, dengan senang hati aku temenin!" Neta coba merayu gadis manja itu.
"Asikk!" serunya.
Gerakan pundaknya naik turun halus menghela nafas seraya menatap jalanan kota, dia akan datang kembali kesini bersama sang cinta, Shanneta tersenyum.
Tapi binar senyum itu tak berlangsung lama. Hanya berselang sepersekian detik cahaya menyilaukan menyerang ketiga pasang mata, hingga mobil hitam merk teranyar dunia itu kini terpelanting ringsek dan terseret sejauh beberapa puluh meter.
BRAKKKKK!
Sreettttt! Ckittt!
Grekkkk!
Degupan jantungnya melambat. Ini sungguh terlalu lelah, hingga sepasang mata yang terbayang sosok imam idaman kini meredup.
Cinta, aku pulang....
.
.
.
__ADS_1
.
.