Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 36. BELUM APA-APA SUDAH RINDU KAMU


__ADS_3

Diam membisu, begitulah Jaka selama perjalanan menuju Shangri-la malam ini. Baru saja tadi pagi ia dibuai mesra lantas sekarang Neta menghempaskannya hingga ke dasar laut. Berkali-kali ia melafalkan kalimat istighfar, ternyata ikhlas memang sulit. Kenapa Neta gemar sekali memancing kekesalan, apakah itu semacam hobby?


Shanneta masih ngoceh-ngoceh seraya merapatkan tubuhnya memeluk Jaka, angin malam cukup dingin menyentuh kulitnya malam ini.


Sepertinya posisi begini akan menjadi posisi ternyaman Neta mulai sekarang, menumpukan segala keresahan di pundak suami, dengan begini ia dapat menghirup aroma Jaka dengan rakus, untuk bekalnya 3 hari ke depan. Sepertinya ia akan merindukan Jaka, tapi Neta adalah sosok gadis yang cuek bebek dan tak menghiraukan perasaannya sendiri, ia sosok yang realistis dan tak menye-menye, ada uang dan sesuatu yang harus dikejar, Neta tersenyum-senyum geli mengingat sebentar lagi adalah waktunya.


°°°°°°°


Jika biasanya Jaka akan memilih menyapa Neta hanya untuk sekedar memberinya minum saat turun podium, malam ini Jaka terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tentunya pikiran kesal terhadap sang istri.


Neta dan bang Sandi mengobrol panjang tentang teknis penerimaan job.


"Thanks bang, lumayan lah buat tambah-tambah..." Neta menerima nomor sekaligus tiket, akomodasi gratis dari anak sang pejabat.


"Lagian pake keluar dari Mocca, emang kenapa sih? Apa yang gue lewatkan?" tanya bang Sandi, Wening sedang berada di podium sekarang menggantikan Shanneta.


"Ada misskom yang ngga nemu titik penyelesaian antara gue sama Widi, dah gitu aja!" jawab Neta tak ingin membahas lagi masalah itu.


"Wah sayang banget. Bukannya si Widi bestie lo," tawa Sandi mengacak rambut Neta, baginya gadis ini sudah seperti adiknya.


"Udah end, bang...titip laki gue ya!" tunjuk Neta pada Jaka yang tengah membawa nampan ke meja pelanggan.


Tatapan Sandi nyalang melihat sosok pria culun itu, ia sempat tak percaya saat Shanneta menyebut jika cleaning service itu adalah suaminya. Seorang Shanneta yang pemilih, bahkan beberapa juragan minyak dan juragan empang saja ia tolak setengah mamposss.


"Lo, kenapa ngga cerita dulu sih waktu itu, dasar konyol! Main ambil keputusan grasak-grusuk," Sandi meneguk sisa minuman di dalam gelasnya di antara keramaian bar, sebagai manager ia tak mau hanya duduk saja di belakang laptop dan ruangan sendirian.


Neta ikut menatap suaminya itu dengan nanar, merasakan flashback saat pertama kali bertemu di meja yang sekarang sedang Jaka layani dari tempatnya, tapi sedetik kemudian ia menatap Jaka dengan sorot tatapan lain, "ngga penting bang, gimana sejarah gue dulu ketemu Jaka...tapi yang jelas, sekarang gue dah terima dan bersyukur...Allah udah kasih seseorang yang sayang sama gue. Bagi gue materi atau siapa dia itu ngga penting. Oh iya, gimana tempat yang gue minta itu bang?"


Sandi kembali menghabiskan hingga tetes terakhir dan beralih menyesap rokok ditangannya, "lo mau buka usaha apa?"


Neta melemparkan senyuman ke arah Jaka yang masih sibuk mondar-mandir tanpa mau menatap balik ke arahnya, "mau buka bengkel," jawab Neta.



"Huwaakk! Kok Ember sih yang kerja sambil liburan. Bang San, gue juga pengen kali!" Wening merengut.



Neta tertawa renyah, "rejeki anak soleh, tau!"



Sandi menepuk-nepuk puncak kepala Wening, "lah, emang si Alicia nya kepengen DJ Amber, fans berat katanya. Masa gue kasih DJ Wening, kan ngga lucu, minta nasi rames gue kasih mie instan?!" jawab Sandi membuat Neta kembali tertawa renyah.



"Dih jahat! Nyamain gue sama mie instan!" cebik Wening.


__ADS_1


"Udah bagus mie instan, daripada cimol?!" sahut Neta semakin membuat Wening cemberut.



"Oleh-oleh ah! Ngga mau tau," jawab Wening diokei Neta, lantas gadis itu menghampiri Jaka yang sejak tadi sore lebih banyak diam, bahkan sekarang saja ia akan pergi, Jaka tak bicara sepatah katapun, hanya tatapan getir saja yang ia lemparkan pada Neta.



"Jaka, kok kamu diem? Ya aku tau kamu orangnya datar, tapi biasanya nyautin kalo aku ngomong. Bilang hati-hati kek, atau pesen apa gitu," tanya Neta mengernyitkan dahi, melihat sikap aneh Jaka. Oke, ia tau suaminya ini memang manusia triplek, tapi kemana Jaka yang hangat seperti tadi pagi?



"Hati-hati," tukas Jaka cepat membuat senyuman Neta redup.



Shanneta sadar akan sikap berbeda yang Jaka tampilkan, "kamu marah ya?"



"Menurut kamu, saya harus gimana? Dengan tanpa meminta ijin terlebih dahulu kamu ambil job itu, ya udah. Itu artinya saya memang tak memiliki tempat disini..." dimanakah aku dan neng cantik seperti biasanya yang kembali berganti saya---kamu.



"Jaka kok ngomongnya gitu, oke kalo aku salah, aku minta maaf. Aku salah karena ngga ngomong dulu mau ambil side job selain Shangri-la, tapi aku janji setelah ini aku..."




"Pensiun...." gumam Neta getir, karena Jaka sudah melengos berlalu.



°°°°°°



"Jaka aku pergi ya,"



"Ya."



Hati Neta kembali mencelos mendapatkan kembali dinginnya Jaka, ia meloloskan beberapa kali nafas beratnya ingin berteriak.


__ADS_1


Tangan lentiknya meraih lengan besar Jaka yang tertutup jaket, mengusapnya turun dari siku hingga ke telapak tangan, "aku bakalan kangen datarnya kamu, assalamu'alaikum," ditariknya tangan Jaka ke arah wajahnya dan menempelkan telapak tangan itu ke pipi mulusnya, demi merasai kehangatan tangan Jaka sebagai bekalnya disana.



"Wa'alaikumsalam." Tenggorokan Jaka sampai tercekat melepas Shanneta masuk ke dalam bandara dengan membawa tas besar berisi pakaian.



Langkah Shanneta semakin menjauh dari Jaka hingga hilang di pandangan.



*Saya tak ikhlas, neng cantik*.



~Jaka~


Deru angin subuh memang dingin, tapi seharusnya ia sudah biasa dengan ini. Seolah semuanya terasa menyakitkan sekarang, apa memang benar kata neng cantik, jika Jaka lebay sekarang.


Lelaki itu refleks menatap ke arah perutnya, ia tersenyum miring melihat ke tempat dimana tangan Neta sering melingkar erat menghangatkan dirinya. Bahkan telinganya saja masih bisa mendengar suara cerewet Neta beradu dengan deru angin sekarang meski ia tau ini hanya halusinasinya saja.


Sebesar itu perubahan yang Neta beri untuk hidup Jaka. Jakunnya naik dan turun menelan rasa tak nyaman di dada.


Ia membuka sepatu yang di beberapa bagian sudah ada retakan, entah itu sobek atau hanya lipatan saja yang jelas memang sudah lama dipakai Jaka bekerja.


"Loh, Jak. Bojomu mana?" tanya Joko, pemuda ini baru saja keluar rumah. Seperti biasa, bila di jam-jam segini dengan stelan sendal jepit dan tas selempang kecil hitamnya, itu artinya Joko akan ke pasar membeli bahan-bahan baso.


"Shanneta ada kerjaan di Bali," jawabnya, Joko terlihat terkejut, terkejut karena Dewata adalah definisi pulau impian untuk sebagian orang.


"Woah! Apik tenan yo! Keliling Indonesia, Bali gitu loh!"


"Saya masuk dulu, Jok."


Tak ingin berlama-lama membicarakan Neta yang cuma bisa bikin ia kembali merasakan getir, Jaka memutuskan untuk masuk ke dalam. Ia benar-benar lelah hari ini. Jaka menaruh kunci motor di meja, lalu membuka satu persatu kancing kemejanya.


Belum ada 2 jam Neta pergi, tapi perubahan itu semakin terasa.


Biasanya Neta akan langsung mengeluh, mengomel sampe naro barang dimana-mana terus rebutan kamar mandi, atau ia yang dengan menggemaskannya menjatuhkan badan seenak udel di kasur sambil mengeluh tentang betapa melelahkannya hari-hari yang ia jalani.


...Aku rindu kamu.......


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2