Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 37. MARAH


__ADS_3

~Neta~


Hawa hangatnya pagi kec. Kuta kabupaten Badung, Bali menyambut kedatangan si DJ cantik ini.


Kain kotak-kotak hitam putih, patung pahatan Wisnu Kencana, hamparan pasir pantai eksotik kelas dunia, turis dalam dan luar negri, glamour, destinasi wisata budaya, Tanah Lot, ayam betutu, tari kecak, Pura Ulun, yeahhh! Baliiiii ! ! ! Surga Dunia tak bertepi. One stop holiday!


...BANDAR UDARA INTERNASIONAL...


...I GUSTI NGURAH RAI...


Neta yang sudah melakukan penerbangan dan hanya istirahat saat di atas pesawat itu menyapukan pandangan mencari-cari sesuatu atau lebih tepatnya mencari seseorang, entah ia membawa papan atau mungkin seseorang yang sama-sama sedang mencarinya, pokoknya yang terlihat dengan gerak-gerik melambai atau celingukan akan ia perhatikan dengan seksama. Ini memang bukanlah kali pertamanya datang mengunjungi Bali. Pertama saat ia berlibur keluarga, kedua saat sama-sama panggilan kerja dan sekarang kembali ia mendapat panggilan tugas. Semoga besok, ia datang kesini untuk liburan bersama Jaka, semacam honeymoon may be.


Ia duduk di kursi tunggu bandara, merogoh tas dan ngubek-ngubek nyari ponsel. Tombol power ia nyalakan kembali setelah tadi sempat ia matikan saat penerbangan.


Sambil menunggu ponselnya hidup, kembali ia mengedarkan pandangan. Belum sempat ia menelfon atau ditelfon, sayup-sayup Neta mendengar namanya dipanggil.


"Kak Amber!"


"Kak!"


Secara otomatis ia menoleh dan menurunkan kacamata hitamnya lalu menenggerkan itu di kepala. Nampak olehnya, sesosok gadis dengan perkiraan usia belasan tahun, merasa tak asing karena sering ia lihat kala beraksi di Shangri-la, beberapa kali pula ia dan kawan-kawannya memberi tips untuk Amber saat sedang memutar musik.


Neta melambaikan tangan bukan tanda menyerah pada kamera melainkan memberikan kode pada gadis yang datang bersama seorang pemuda.


Adalah Alicia, anak seorang pejabat negri yang mampu memanggilnya hanya untuk acara sweet 17, di Bali pula...dan mengundang teman-temannya, Kelas!!! Cuma buat ultah doang sampe rayain di Bali pake nyewa DJ ternama. Neta tak peduli apa masalah dan darimana uang itu, ia bukan manusia dengan tingkat ke kepoan yang diatas normal, selama itu tidak membuatnya rugi dan bukan dirinya yang melakukan, ia tak peduli.


Gadis modis dengan barang branded di setiap jengkal tubuhnya itu melompat-lompat kegirangan mendapati sang dj idola datang menghadiri undangan di sela-sela jadwal DJ'nya.


"Kak Amber, ih seneng banget aku kaka bisa datang! Kata bang Sandi, kak Amber sibuk di Mocca, sampe aku susulin ternyata kata orang Mocca kaka udah resign dari sana, ngga remix lagu lagi disana..."


Neta tersenyum setengah nyengir, "iya, sekarang aku cuma ambil job di Shangri-la doang."


Jason namanya, pemuda bau kencur dengan gaya hedon ini dipanggil baby oleh Alicia. Badan boleh atletis ala-ala remaja namun Neta yakin ia tak lebih baik dari Jaka, jauh pake banget!


"Baby, bantuin kak Amber dong, bawain tasnya!" titahnya macam princess, mengingatkan ia pada....Jaka. Sedang apa Jaka sekarang, pasti lagi siap-siap ke bengkel...tuh kan kangen! Kemaren kan jam segini mereka lagi cipox-cipox ria.


"Langsung ke penginapan aja gimana kak? Biar kita anter?"


Neta mengangguk, ia pun sebenarnya cukup lelah karena jam tidur yang kurang.


"Aku bawain tasnya kak?" tawar Jason diangguki Neta, anggaplah pemuda ini adalah bellboy-nya.


Hal pertama yang ia lakukan adalah memberikan kabar pada Jaka.



*Aku udah sampe hotel, kamu udah mau ke bengkel cici kan? Semongkohhh*!



Chatnya tak terlihat dibaca, hanya centang 2 saja. Jaka memang jarang melihat ponselnya. Ketimbang liatin ponsel yang ngga penting-penting banget Jaka akan lebih memilih liatin Al-Qur'an.



Neta menaruh ponselnya begitu saja di kasur, hingga suasana nyaman penginapan membantunya untuk terlelap.


__ADS_1


°°°°°


Jaka sudah memutar kunci kontrakan, hingga suara mpok Aya sukses membuatnya menoleh, "Lah, Jak! Si Sanet kemane? Ke rumah mertua lo?"



"Kerja mpok,"



"Kerja?" mpok Aya malah balik bertanya, "lah bukannya kerja bareng elu, malem doangan? Masa iya kerja seharian, kagak kesian lu?" tanya mpok Aya.



"Neta punya side job di Bali, ultah anak pejabat..." Jaka sudah naik ke atas motor, sebentar ia diam karena rasa penasarannya mengecek notifikasi dan benar saja 2 notif dari Shanneta 30 menit yang lalu mengatakan jika ia sudah berada di penginapan, lantas Jaka memasukkan kembali ponselnya tak berniat membalas, karena sudah pasti istrinya itu sudah tidur.



"Busettt! Gegayaan amat pake acara ultah di Bali, emang gaji pejabat segede apa ya?!" gumam Mpok Aya keheranan.



"Kalo gitu saya permisi mpok, assalamu'alaikum."



Berbeda dengan sekarang, rasanya bekerja tak berga irah untuk Jaka, sejak datang hingga mengerjakan sesuatu ia beberapa kali tak fokus dan harus mengulang mempreteli bagian motor lainnya.




"Heem, sorry bang...ini mesti di cek satu-satu biar ngga masalah lagi," alibinya santai untuk meyakinkan konsumen.



Motor itu akhirnya beres, ci Olin yang sadar akan sikap Jaka keluar dari meja kasir.



"Kenapa Jak? Ada masalah?" tanya nya.



"Engga Ci," jawabnya singkat membereskan peralatan.



"Lain kali fokus Jak."



Opik melihatnya, selama mengenal Jaka ia belum pernah melihat Jaka seperti kehilangan otak begini.



Opik, dengan gerakan mengambil sapu bukannya menyapu dengan benar ia justru menyenggol Jaka, "coy, kenape lo? Berantem ma bini?!" bisiknya mengganggu seperti nyamuk, tapi justru tebakan Opik tepat sasaran.

__ADS_1



"Engga," Jaka menggelengkan kepalanya kaku.



"Nih coy, menurut pengalaman pribadi nyak ma babeh gue...kalo bini ngambek kasih barang," ujar Opik.



Jaka menaikkan alisnya singkat dan memilih meneruskan pekerjaannya, gimana mau ngasih lah wong bininya aja ngibrit ke Bali. Yang ada disini ia yang ngambek.



"Nikah ya begitu Jak. Menyatukan dua orang, dua karakter berbeda, dua keluarga, dua pemahaman dan dua jiwa yang beda. Itu kenapa Allah ngasih lelaki jadi nahkoda, karena kalo dua-duanya ya udah belah aja tuh bahtera!" jelasnya panjang kali lebar, nan berat bervolume, mirip-mirip penasehat cinta tapi ia sendiri pacar saja tak punya.



"Emang kalo gue telisik yee, rada susah juga sih married...nyatuin dua pemahaman dan sifat berbeda, apalagi kalo lagi beda pendapat, baik menurut kita belum tentu perfect menurut dia, kita sebagai lelaki mesti sabar dan ngerti. Sabar, ngga boleh sampe keluar kata-kata lak nat apalagi sampe do'ain yang ngga bener, lah kalo bininya nurut kalo bandel ya? Ni mulut ngga ada remnya?!" Opik bahkan sudah mengangguk-angguk karena ucapannya sendiri, setan apa yang merasuki Opik hingga bisa bicara seperti pakar cinta? Dan demi apa?! Ucapan Opik barusan membuat Jaka tersentak sejenak mengingat ucapannya saat tengah diliputi emosi.



"Heh, Pik! Lo ngoceh terus, tuh liat! Bungkus bekas sparepart lo berantakin lagi, mata lo liat kemana?" tunjuk ci Olin pada sampah yang hanya Opik bawa kesana kemari terkesan lebih berantakan.



Langit yang masih terlihat manis dengan biru, kuning, putih dan sedikit warna peach menjadi suguhan indah waktu menuju sore, biasanya orang-orang akan memenuhi pantai Kuta saat ini untuk bersiap mengabadikan sunset in Shangri-la (surga).


Alicia sempat menawarkan Shanneta untuk ikut dengannya menikmati sunset indah hari ini, namun Shanneta menolak ddngan alasan harus siap-siap. Ia akan melihat langit sore dari kamarnya saja. Shanneta bersumpah, ia akan melihat sunset di Bali bersama Jaka nanti. Maka keindahan ini akan ia simpan sampai nanti saatnya tiba.


Kepulan asap kopi Bali menyeruak memanjakan penciuman, "Hm, Jaka...kamu lagi apa sekarang?"


Neta cukup sadar dengan tidak dibalasnya pesan, ia tau Jaka marah. Ia terlalu excited hingga lupa meminta pendapat Jaka.


"Gue yang salah, berasa kaya masih single. Gue kira Jaka bakalan fine-fine aja gue pergi, toh ini cuma ke Bali, selama ini Jaka ngga pernah larang-larang gue..." ia kembali menyeruput kopi itu, setidaknya mengurangi kecemasan dan rasa tak nyaman di dada. Shanneta selalu menganggap apapun enteng, ia akui itu, ternyata setelah menikah masalah kecil pun akan jadi besar, apa yang dianggapnya bukan hal besar nyatanya menyakiti Jaka.


Tak menyerah, Shanneta kembali memberikan pesan, sekalipun ia tau akan kembali merasakan pahit pesannya tak akan dibalas Jaka.


Jaka, aku lagi liat sunset dari kamar. Next aku pengen liat sunset sama kamu di pantai


Ngga sabar sampai waktunya tiba😍


Aku siap-siap dulu ya, mau cari cuan😚


Neta menjatuhkan ponsel di ranjang begitu saja dan mulai bersiap-siap untuk acara ulang tahun.


Tiitt...


Baterai ponsel Neta menunjukkan warna merah dan surut. Hanya menyisakkan 15 persen.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2