Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 64. I LOVE YOU AKANG PERJAKA


__ADS_3

Syukuran kecil-kecilan berujung kaya mukbang, segala macem makanan dibawa.


Di sudut ibu Nilam, ia sibuk bertukar resep dengan cing Anjar, nyak Epi dan tante Hana, di sudut kak Syifa ia ngomongin cicilan kpr bareng mpok Aya, rupanya ia ingin juga meniru jejak Neta dan Jaka. Dan di sudut bapak-bapak, mas Syarif mengobrol santai dengan para lelaki, ada Jaka, cang Mu'in, bang Togar, bang Jeje dan kong Eman, sesekali gelak tawa menghiasi obrolan mereka. Rupanya kong Eman dan nyak Epi sudah baikan bersyarat.


Jaka menggerus rokok miliknya di asbak lalu beranjak mencari Shanneta, yang memilih rebahan bersama Aqis di lantai atas sambil nonton. Dan nyatanya siang ini, wanita hamil itu malah terlelap sambil ngelonin Aqis di tontonin tv yang menyala.


"Bisa ya tidur, padahal rame gini?! Bawaan little Jaka bukan ini teh, atau kebiasaan baru kamu?" Jaka terkekeh ia hampir menjiwir hidung Neta, namun diurungkan takut jika wanita ini ngamuk karena tidurnya terganggu. Ia mengambil selimut tipis milik Neta dan menyelimuti keduanya sebatas perut. Semenjak keluar bekerja apalagi hamil Neta jadi doyan tidur, dimanapun ia berada tak pernah melewatkan tidur siangnya.


Suasana ruko cukup sejuk tak seperti di kontrakan meski cuaca di luar terik nan panas. Mungkin karena lantai yang dilapisi keramik, luas ruangan dan banyaknya udara masuk dari pintu dan jendela yang terbuka.


Jaka ikut merebahkan dirinya di samping Neta meski tak beralaskan karpet tebal, sepertinya iman Jaka tak sekuat itu untuk tak mengganggu Neta, dibalikannya badan Neta agar menghadapnya, dan hobbynya akhir-akhir ini adalah menyentuh wajah cantik sang istri.


"Ck!" decakan Neta sepaket kibasan tangannya mengudara membuat Jaka tertawa kecil. Sekali dua kali Neta masih memejamkan matanya, tapi kali ketiga ia tak bisa untuk tak membeliak.


"Akang!" pukulnya di dadha Jaka lalu ia membalikan badan bermaksud agar Jaka tak lagi menganggunya.


Namun sayang, Jaka tak menyerah begitu saja, ia malah semakin menempelkan dirinya dan meraba bagian perut Neta.


"Akang nyebelin ih! Ganggu tau!" cebiknya kesal mencoba mengusir tangan Jaka.


"Bangun, itu tamu kamu biarin gitu aja di bawah..."


"Kan ada kamu yang nemenin, aku ngelonin Aqis, sambil belajar buat ngelonin anak kamu nanti..."


"Anak kita, masa anak aku sendiri..." balas Jaka meralat ucapan Neta yang kini tertawa renyah.


"Kurang ibu sama Wulan," ujar Neta.


"Iya. Mau telfon?" tawarnya diangguki Neta.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Kehidupan yang sudah berjalan lebih dari 3 bulan di ruko membawa semangat baru untuk Jaka, definisi sedikit namun berkah itu terasa berarti. Jam tidur malam yang teratur, Neta yang selalu menyambutnya di rumah adalah sebagian kecil berkah yang begitu ia syukuri sekarang.


Jaka membuka body motor konsumennya, "itu tuh kang kalo perjalanan jauh, suka mati sendiri..." keluhnya diangguki Jaka, "ngebul ngga bang, knalpotnya?"


"Iya bener kang, sebelumnya gitu dulu!" serunya.


Drrttt---drrttt---


Ponsel Jaka bergetar di dalam saku, tapi ia tak berniat membuka apalagi membalasnya cepat-cepat.


Bukan karena ia sombong namun jika sedang fokus bekerja ia tak mau diganggu dengan apapun itu. Sekitar 1 jam ia sudah selesai dengan pekerjaannya, suara halus motor matic itu membuat si empunya tersenyum puas.


"Wah, bener kalo udah sama ahlinya mah!" pujinya.


"Tapi sayang, disini cuma ampe jam 3 sore aja ya kang. Kadang saya ada waktunya abis ashar, atau magrib jadi keburu tutup kalo mau service motor," ujarnya.


"Saya punya bengkel pribadi, disitu bisa atur janji atau kalo mau datang langsung buka dari jam 3 sore sampe jam 11 malam. Jadi habis dari sini, saya di bengkel sendiri."


Ia tersenyum senang, "wah, hebat lah si akang! Siap lah kang, minta alamatnya kalo gitu kang?"


"Di ruko perumahan Berlian, pak. Depan banget jalan gede," sahut Opik.


Jaka merogoh saku celana demi mengeluarkan dompet, dari sana ia mengambil kartu namanya.


...BAROKAH MOTOR...


Jl. Perum. Berlian no. 34 Tomang, Jakarta Barat.


Telp. 021- 355271XX


Ia menerima kartu nama Jaka, "oke kang sip lah!"


Jaka turun dari motornya, menggeser pintu lipat ruko hingga mentok ke ujung, ia menggeser sedikit peralatan kerja yang dirasa menghalangi langkah, dua sepeda motor masih dalam proses perbaikan dan rencananya hari ini harus diselesaikan, namun sebelumnya ia memilih untuk makan dan istirahat terlebih dahulu.



"Istirahat dulu deh Pik," pintanya pada Opik, yeah! Teman seperjuangannya itu ikut bekerja disini juga.



"Siap bos!" Opik langsung menyambar showcase berisi minuman dingin berbagai merk. Mungkin inilah keunggulan bengkel Jaka, para pelanggan yang datang tidak harus melipat bibir saat menunggu motornya diperbaiki, mereka bisa memesan minuman hangat ataupun dingin, juga mie instan dan roti bakar, karena disini tersedia itu.



"Assalamu'alaikum!"



"Wa'alaikumsalam," jawab Neta, perut yang bertambah besar di usia kandungan 23 minggu ini mulai membuatnya risih.



"Masak apa?" Jaka mengecup pucuk kepalanya sekilas seraya melintas menuju kamar mandi.



"Soto ayam, cobain dong kang. Dapet resep dari cook-pad."



Jaka memutar kran air hingga keluarlah air bersih dari sana, "emangnya belum neng cantik cobain rasanya?"


__ADS_1


"Udah, kalo kata aku sih udah. Tapi ngga tau kalo kata akang..." Neta kembali menyendok kuah soto dengan sendok kecil dan merasakan untuk kesekian kalinya, khawatir rasanya aneh.



"Ya udah aja. Kalo kata neng udah enak menurutku juga enak." Jawab Jaka keluar dengan wajah setengah basah.



"Bang Opik di bawah?" Jaka mengangguk.



"Mau makan dulu? Sekalian aja sama bang Opik..."



"Iya."



"Pak Jefry ada telfon engga?" tanya Jaka mencomot emping dari toples plastik yang ikut tersaji di meja makan bersama soto ayam, nasi hangat dan lauk lainnya.



"Belum, kan dia tau mesti ambil motor jam berapa..." balas Neta terlihat begitu sibuk membereskan wadah kotor dan mencucinya di wastafel, membuat Jaka gemas melihat Neta. Neta yang dulu manja, Neta yang tak bisa apa-apa, kini sedang sibuk menjadi ibu rumah tangga sekaligus manager bengkelnya.



"Kalo anak aku ada manggil engga nih?" selorohnya mendekati Neta lalu membungkuk di depan perut istrinya, tangan lebar itu mengusap perut buncit yang terhalang dress rumahan, hingga membuat yang di dalam sana merespon.



"Shh, geli ih!" aduh Neta, Jaka kemudian tertawa kecil melihatnya, "dia tau ayahnya datang!"



"Hm, iyalah ampir tiap malem kamu tengokin!" Neta mendorong kepala Jaka pelan.



"Engga juga ah,"



"Iya,"



"Engga neng."




"Nah, kata Wulan kapan ibu kesininya?" tanya Jaka.



"Kemaren ibu bilang ke akang kapan?" Neta balik bertanya.



"Lusa. Mungkin aku harus jemput di terminal, kasian bawa banyak barang pesenan kamu," kini Jaka beralih mengambil piring.



"Bang Opik ! Naik, makan dulu bang!" teriak Neta ke arah bawah.



"*Siap Net*!" jawabnya dari bawah.



"Iya ih, akang jemput. Pesenan kerupuk kulit aku banyak, bukan pesenan aku aja sih pesenan temen-temen. Entar kalo continue---harus pake kurir dari Garut ke Jakarta dong?" Neta ikut duduk di kursi samping Jaka.



"Kita tanya dulu ibu, kalo memungkinkan datengin mentahan dari Garut, mendingan bawa mentahnya aja. Nanti disini kita proses sambil mix rasa produksi sendiri, packing sendiri." jelas Jaka.



"Dan voalah! Jadi pengusaha kerupuk kulit asgar!" tawa Neta. Tak adanya kesibukan membuat Neta jadi gemar mainan sosmed di rumah, untuk sekedar menyapa teman-teman dan kenalan, ataupun saking gabutnya ia iseng-iseng posting makanan, saat secara tak sengaja ia memposting oleh-oleh kerupuk kulit dari ibu Sri beberapa teman termasuk kak Syifa ikut ngiler liatnya.



"Kalo gitu mau kujadiin usaha aja kang, temen-temennya kak Syifa di bank juga ada yang mau!"



"Boleh. Setuju tuh!" angguk Jaka.



"Wahhh! Makan nih, tau aja gue laper!" seru Opik naik ke lantai atas.

__ADS_1



"Bang Opik ke kamar mandi dulu ah! Bau oli! Cuci tangan, cuci muka, mandi kembang sekalian!" cibir Neta.



Opik berdecak, "ini bumil emang ngeselin. Ini abis kerja di bengkel lah bukan gali kubur!" balasnya masuk kamar mandi.



"Periksa lagi dedek kapan?" tanya Jaka sudah lahap menyendok nasi ke mulut.



"Besok,"



"Pik, besok bengkel buka sendiri dulu ya. Saya anter Neta periksa kandungan dulu," ucap Jaka.



"Iye!"



"Kapan sih lahirannya? Lama amat," ujarnya kini meraih piring.



"Baru juga mau jalan 6 bulan. Masih 3 bulan lagi..."



"Gue kirain besok," kekeh Opik menyendok nasi.



"Dikira anak kucing lahiran cepet!" sarkas Neta mencebik.



Neta menutup laptopnya, pembukuan bulan ini sudah selesai ia hitung. Perlahan namun pasti keuntungan mulai merangkak.


"Biar sedikit tapi berkah," gumamnya.


"Halahhh! Selesai kerjaan hari ini! Gue mau ngapel lah!" Opik meregangkan otot-ototnya, untuk Opik, Jaka dan Neta hanya memberikan jam kerja sampai jam 8 saja, keduanya tak sampai hati jika harus memforsir Opik untuk kepentingan bengkel.


"Gue cabut ya Jak, Net!"


"Yo bang!"


"Ya Pik,"


Bagi pekerja sibuk, terkadang memeriksakan kendaraan menjadi hal yang langka dan sulit mengingat jam buka bengkel pada umumnya, jadi tak heran jika pelanggan Jaka disini mulai berdatangan lewat dari isya. Malam ini saja masih duduk 3 orang menunggu kendaraan yang sedang diperbaiki.


Neta senantiasa menemani Jaka di sana setiap malamnya.


Kali ini Jaka tengah bercengkrama dengan para pelanggan seputar perawatan motor yang tentulah tidak ia mengerti, daripada cuma bengong nyimak, ia memilih memindahkan channel televisi yang menempel di atas dinding mencari saluran tv yang menayangkan acara seru.


Berulang kali ia memencet tombol remote namun tak ada acara yang menurutnya asik, hingga jarinya diam di salah satu channel tv yang tengah menayangkan acara aktivitas pengejaran dan razia polisi 89.


Ia cukup tertegun dan tersentak saat melihat bangunan juga seluk beluk yang sangat ia kenali tengah diadakan razia dadakan oleh sejumlah aparat berseragam coklat itu.


"MOCACCINO," gumamnya.


Beberapa orang digelandang dan diperiksa karena kedapatan mengonsumsi zat adiktif dan minuman keras ilegal. Meskipun disamarkan dan di blurkan ia tau jika mereka yang tengah diperiksa adalah orang-orang yang Neta kenal.


"Astaga! Ck--ck!"


Mungkin jika Neta tidak bertemu dengan Jaka, saat ini ia ada disana. Membuat ibu malu, membuat dirinya sendiri terjerumus ke lembah kemaksi atan.


Sadar akan Neta yang membeku di tempat dengan ekspresi nyalang, Jaka mendekat, "kenapa?"


"Itu kang, Mocaccino digerebek polisi! Kayanya disegel juga!"


"Ha? Terus Wening? Widi?" tanya Jaka.


"Itu!" tunjuk Neta ke arah orang-orang yang digelandang dan digiring masuk mobil polisi.


"Astagfirullah," gumam Jaka ikut menyaksikan berita itu.


"Kalo seandainya waktu itu aku ngga kejar kamu, mungkin aku ikutan disana sekarang. Kalo seandainya dulu aku kekeh ngga kejar ridho kamu, mungkin aku sekarang lagi terjerumus bareng mereka. Kalo seandainya waktu itu aku ngga Mengejar Barokah aku bakalan nyesel..." imbuh Neta.


Jaka melemparkan senyuman penuh makna, "Allah masih sayang neng cantik." Jaka mengusap tangan Neta lalu memindahkan channel tv, "istirahat dulu. Udah selesai kan urus pembukuannya? Nanti aku nyusul ke atas,"


Neta mengangguk, "iya. Aku ke atas dulu." ia menarik laptop dan membawanya ke lantai atas, sepanjang menapaki anak tangga Neta menolehkan kepala ke belakang, melihat Jaka yang sedang kembali bekerja seraya bercengkrama dengan pelanggannya penuh cinta.


"Makasih kamu sudah sabar dan memperjuangkan aku. Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan untuk Mengejar Barokah. I love you akang Perjaka..." Neta kembali menapaki anak tangga dengan hati penuh sukacita meski sedikit kepayahan karena perut yang membuncit.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2