Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB# 25. MENYADARI


__ADS_3

Jaka sudah kembali bekerja. Baginya, waktu adalah uang...tak ada hari libur di dalam kalender dirinya selain dari hari lebaran, atau moment darurat seperti sakit, terkadang orang sepertinya tak boleh manja jika hanya sekedar masuk angin, flu atau maag apalagi cuma penyakit M (males). Mem-push semangat dan ketahanan fisik demi mental sekuat baja. Ia bukan orang kaya yang masih bisa makan meskipun kerjaannya cuma ongkang-ongkang kaki sama gerakin telunjuk doang, atau bisa sawer-sawer duit di jalan abis itu masuk bui. Ia adalah tipe manusia yang mesti kerja keras bak kuda dipecut dan diseret.


Ting!


Brakk!


Grekk!


Suara berat alat-alat perkakas bengkel ia bersihkan dan rapikan kembali ke tempatnya semula, karena ci Olin tak akan mentoleransi kehilangan kecuali rusak karena pekerjaan...atau gaji mereka akan kena potong untuk mengganti kehilangan alat.


"Semangat Jak, cari cuan yang banyak. Biar bini lu ngga usah kerja lagi...bini lu cakep, takut di taksir orang di tempat kerja," goda ci Olin, sementara orang yang digoda melemparkan senyuman miringnya.


"Jaka udah ngga asik ci sekarang," Cebik Opik, jutek mirip emak-emak dicuekin lakinya pas lagi li biido.


"Ngapa lu?" tanya ci Olin yang keluar dari dalam ruangan kasir dan menyalakan kipas kecil ke arah wajahnya, ia menunggu Jaka dan Opik merapikan semua alat bengkel dan menutup rolling door dan pintu gesernya.


"Sekarang ngga bisa gue gandeng ke pasar malem buat gaet cewek rw sebelah, ci!" jawab Opik.


"Abisnya elu, cuci muka tuh pake air wudu...biar kinclong, bukan pake oli! Jadi cewek-cewek mau lirik...liat si Jaka, buktinya dapet bini cakep..." tukasnya dengan wajah nyinyir khas netizen budiarti.


"Elah ci, ucapanmu menyakiti hatiku, gini-gini gue ahli sorga!" jawab Opik menepuk-nepuk dadhanya.


"Prrett! Mana ada ahli sorga ngomel-ngomel mana bau bensin! Udah lah balik, otak lo ngga beres kebanyakan ngisep bau oli!" ujar ci Olin menerima kunci bengkel dari Jaka yang sudah menutup bengkel ketimbang Opik yang sejak tadi cuma berkoar ngga abis-abis mirip bebek.


Jaka menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, "udah balik Pik," tarik Jaka ke arah motor masing-masing.


"Jak, kapan nih anak Tarka pada ngumpul lagi?" tanya Opik.


"Paling ntar kalo mau 17an, lagian saya ngga bisa seaktif dulu, saya mau minta pak RW buat pilih ketua Karang Taruna baru, Pik."


Opik memasang helm di kepalanya, "loh! Jangan Jak, lo tuh udah bagus jadi ketua Tarka di RW kita, anak-anak pada nurut sama elu...lagian ide-ide lu tuh kreatif, RT, RW pada suka, warga juga..."


Sebelum benar-benar menghidupkan mesin motornya, Jaka mengirimkan pesan pada Neta untuk bersiap-siap, sebelum mereka jalan-jalan malam Jaka memutuskan untuk mengunjungi rumah Neta terlebih dahulu, siapa tau istrinya itu rindu rumah.


Neta yang memang tak sedang melakukan apa-apa selain ngitungin berapa kali iklan baris tentang jalannya sidang kasus polisi yang ditembak melintas selama ia duduk di depan tv. Sampe juling matanya, belum lagi pan tat yang terasa panas karena kelamaan duduk.


Ponsel yang ia taruh di depan meja tiba-tiba menyala, satu pesan dari Jaka masuk, memintanya untuk segera siap-siap dari sekarang. Jadilah Neta segera mematikan televisi dan mandi.


Jaka membuka pintu kontrakannya, karena rumah yang tak begitu luas aroma parfum mahal milik Neta yang barudan disemprotkan menyambut penciumannya dan menciutkan bau bengkel di tubuhnya, gadis itu kini sedang duduk di depan cermin yang sengaja ia turunkan dari kamar biar bisa ngaca lebih jelas waktu bikin alis, ya walaupun make upnya cuma tipis-tipis aja, karena pada dasarnya Shanneta udah cantik dari sononya.

__ADS_1


"Katanya abis isya?" tanya Neta.


Jaka menyambar handuk yang tersampir di pintu kamar, "ke rumah kamu dulu...ketemu ibu sama yang lain."


Ah iya! Kenapa ia bisa lupa masih punya keluarga?! Ngomongin rumah, mendadak hatinya jadi rindu rumah, rindu kasur tebal nan empuk dan kamar mandi dengan pintu rapat.


"Mau pake motor saya atau mobil kamu?" tanya Jaka.


"Motor kamu aja, males ambil mobil lagian macet.."


"Walahhh, mau pada kemana nih? Jalan-jalan berdua nih Jak?" mpok Aya yang berada di sana ambilin jemuran menyapa.


"Iya mpok."


"Mau ke rumah aku mpok."


"Oh, iyee...salam buat keluarga yee, mau nginep di sono Shanet?"


"Iya mpok. Jalan dulu ya mpok, assalamu'alaikum," Jawab Jaka.


"Wa'alaikumsalam."


Neta tak banyak bertanya dengan keputusan Jaka ini yang sebelumnya tak bilang terlebih dahulu, apapun itu alasannya Neta iya saja.


"Ya? Coklat keju.." jawab Neta parau lalu berdehem. Neta tak sedetik pun mengalihkan matanya dari gerakan yang Jaka buat, spechless! Yang jelas itu yang kini Neta alami.


°°°°°°


"Auntyyyy!" teriak Aqis, beberapa hari ia tak melihat sang tante kali ini tante dan om'nya membawa roti bakar dan jajanan kesukaannya.


"Aduh, kenapa harus repot-repot Jaka..." Kak Syifa tersenyum membenahi kerudungnya keluar dari kamar.


"Katanya Neta, ibu suka rasa coklat keju...kebetulan tadi lewat..." jawab Jaka membuat ibu Nilam tak bisa untuk mengulas senyumannya, ia sampai sempat berpikir pemuda sesopan Jaka, apa benar telah menghamili putrinya? Dilihat dari sudut manapun pemuda ini tak memiliki wajah dan watak penjahat kela amin. Ibadah saja terlihat begitu rajin, kini ia ragu dengan image Jaka selama mengenalnya.


"Makasih Jaka,"


Bukan lagi di ruang tamu, kini obrolan itu terjadi di ruang tengah, sudut yang lebih hangat dan dalam di rumah ini.


"Ngga kerja, Jak?" tanya mas Syarif.

__ADS_1


"Baru pulang mas. Kalo jadwal jum'at cuma di bengkel, Shangri-la tutup," balasnya sopan penuh dengan keramahan meskipun wajahnya terkesan datar-datar saja kaya tembok.


"Neta, suami kamu bikinin minum...masa kamu malah sibuk nyemil sendiri? Ngga tau malu!" pelotot ibunya.


"Biasanya juga ngambil sendiri," gumam Neta keceplosan.


"Apa?!" bukan hanya ibu, tapi Syifa dan Syarif pun ikut terkejut. Sontak saja tangan ibu terulur menjewer putri bungsunya itu hingga ia mengaduh.


"Awww--awww! Bu ih! Kuping aku copot ini nanti!" Neta mengusap-usap kupingnya.


"Astagfirullah Neta, kamu tuh istri macam apa? Masa iya suami bikin minum sendiri. Apa jangan-jangan...." Syifa menyipitkan matanya, mendekatkan wajahnya pada adiknya itu, pasalnya ia tau bagaimana Shanneta yang tak bisa apa-apa dan manja.


"Dosa kamu! Jangan-jangan di rumah Jaka yang urus semuanya?" tukas ibu dengan nada sengitnya, menembak dengan tepat ke sasaran.


"Ampunnn! Gini nih kalo cewek ngga bisa apa-apa. Malu ibu sama Jaka, sama keluarganya!" tangan ibu Nilam sudah greget pada putrinya itu membuat Neta refleks berlindung ke arah Jaka.


"Ibu ih. Galak! Lagian suami aku juga fine-fine aja, ya Jaka ya?!" ia meminta pembelaan dari Jaka.


"Ngga apa-apa ibu, saya belum haus. Biar nanti kalo haus saya ambil sendiri saja." Ucap Jaka.


"Eh engga usah. Biar Neta yang bikin..." Syarif kali ini meminta adik iparnya itu yang membuat.


Jaka tersenyum tipis melihat Neta kini beranjak ke arah dapur. Ia meloloskan nafas panjangnya, memang benar! Ia tak bisa apa-apa. Malu sih, tapi....


Jaka menghampiri dirinya yang sedang berada di dapur, "saya ngga suka kopi yang terlalu manis...cukup 2 sendok teh saja gulanya."


Neta membalikkan badannya, "udah keburu masuk 3 sendok teh...sayang kalo kebuang,"


"Ngga apa-apa, lain kali bisa diingat selera saya." Jaka langsung menerima kopi itu dan mencobanya, "biar di tutup dulu kopinya..."


Neta menunduk, ditatapnya cincin dari Jaka yang tersemat di jarinya, "Jaka, maafin aku."


Sadar akan wajah redup Neta, Jaka menaruh cangkir kopi dan meraih Neta, "ngga apa-apa, satu sendok teh gula ngga akan bikin saya langsung kena diabetes kan? Kecuali kalo saya minumnya sambil liat si neng cantik ini,"


Gadis itu menggeleng, "kamu ngga pinter gombal Jaka," keluhnya membuat Jaka terkekeh.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2