Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 50. AKANG JAKA SI KETUA TARKA


__ADS_3

Rasanya ia sudah baik-baik saja untuk kembali ke kontrakan, sudah cukup lama juga ia berada di rumah ibu, sampe-sampe Indonesia aja udah dijajah lagi sama budaya k-pop.


Neta yang mantap untuk memulai hidup bersama Jaka dari nol, persis slogan SPBU, mengemas sisa barang-barangnya termasuk alat DJ miliknya, khawatir dijual ibu buat bayar arisan presto. Masa iya, nanti dia mau muter-muter tutup panci?!


"Yakin mau pulang sekarang? Ngga mau tinggal disini aja?" tanya ibu Nilam, rasanya jika Neta kembali ke kontrakan, dunia persilatan terasa sepi, kaya lagi mengheningkan cipta.


"Iya bu, soalnya Jaka masih sibuk ngurusin acara 17an di sana. Ngga bisa terus disini, kasian bolak-baliknya. Masa Jaka disana aku disini. Ngga mauuuuu, maunya aa!" jawabnya merengek menggelayuti lengan Jaka lalu tertawa, padahal mah ia sendiri yang ngga bisa jauh dari Jaka. Bucin, buluk-buluk tapi cinta.


"Haha, amit-amit ih!" cibir Syifa tertawa seraya bergidik. Untung saja Jaka kuat iman, melihat istri konyolnya begini mah udah kaya nasi aking, makanan sehari-hari.


"Ampun! Punya anak begini amat, maaf ya Jak." angguk ibu Nilam.


"Nanti aku balik lagi kesini buat bawa motor," imbuh Jaka, karena kali ini mereka pulang dengan membawa mobil Neta.


"Pake aja motor punyaku, motormu biar ditinggal disini aja buat hiasan garasi, siapa tau nanti ada rencana mas Syarif buat bikin garasi jadi museum, motor kamu jadi barang pertama yang dipajang, toh motorku juga nganggur, sayang jarang dipake," usul Neta. Emang bini minus akhlak.


Jika Jaka adalah lelaki dengan tingkat sabar yang rendah, mungkin sudah ia lempar Neta ke tumpukan sampah di Bantar Gebang, "buat sementara, aku pake motorku aja ya? Motor neng cantik nanti aku bawa, kalo kita udah fix punya ruko. Kalo dibawa sekarang, nanti mau disimpen dimana? Lebih aman disini..." balas Jaka, kini Neta tak lagi mendebat sewot level mak lambe turah ucapan Jaka.


"Bu, aku pulang ya," pamit Neta.


Ibu Nilam mengangguk, "hati-hati kalo gitu. Akur-akur, jangan banyak bantah suami, Net." Bu Nilam menepuk-nepuk punggung tangan putri bungsunya sedang mewanti-wanti agar Neta tidak lagi berbuat ceroboh, mungkin jika Syifa---ia tak akan sekhawatir ini, namun berbeda dengan Shanneta yang harus selalu ia ingatkan, kaya waktu solat, sehari 5 kali.


"Iya bu," kecupan sayang.. Neta berikan untuk ibu, "makasih ibu selalu ada buat aku, maaf aku belum bisa bahagiain ibu."


Seketika haru menyeruak di ruang hati, pasalnya ini adalah moment langka, Neta bisa berucap seperti itu. Apakah Jaka berhasil meruqyah putrinya? Kalau iya, terimakasih banyak untuk Jaka.


"Bunda makasih udah bantuin aku sama Jaka. Thanks selalu jadi kaka terbaik! Nanti ku kasih reward lah sertifikat dari pak lurah! The best sister in the year," peluk Neta, kali ini dengan penuh kesadaran jika keluarganya begitu berarti dan sayang padanya selama ini.


"Dasar koplak!"


Syifa terisak ringan namun juga tertawa, "ah udah ah! Ngga biasanya tau, kamu tuh! Adek kaka satu-satunya, apa sih yang engga buat kamu?!" Syifa jelas sedang memeluk erat adiknya, pelukan yang selama ini tak pernah ia rasakan bisa seerat ini, rupanya adik nakalnya itu sudah dewasa, sudah bisa bersikap bijak dan menjadi seorang istri, ia pikir Neta hanya bisa mengacau saja mirip si masha.


"Mas," Neta salim takzim pada mas Syarif yang kali ini ikut merasakan haru jika adik ipar nakalnya kini sudah sadar.


"Mas bersyukur kamu punya Jaka. Kelakar kamu yang ngga tau tempat tuh kurangin," kekeh mas Syarif.


Neta mengangguk mantap menatap kakak iparnya itu, "tenang mas, aku kan baik, kalem orangnya. Itu sih, aku banget lah pokoknya!" jawabnya menimbulkan decihan jelas dari semuanya.


"Nanti kaka kabarin kapan pihak bank acc," ucap Syifa diangguki Neta dan Jaka.


Jaka ikut pamit dan salim takzim pada semuanya. Hari ini, ia membawa Neta pulang ke rumah yang sama namun dengan kondisi dan perasaan berbeda.


__ADS_1



Dari arahnya, Neta memperhatikan beberapa orang berjajar di jalan. Lebih tepatnya anak-anak remaja, "itu mereka---" telunjuknya diangkat ke arah depan.



"Jualan air mineral?" tembak Jaka menyunggingkan senyuman miring, Neta mengangguk.



"Anak-anak Tarka. Udah mulai cari tambahan dana buat 17an, lumayan buat konsumsi panitia, sama tambah-tambah dana cadangan." Jelasnya memancing anggukan paham dari Neta.



Jalanan yang sudah tak asing ini sudah masuk ke dalam kawasan RW 09, memang biasa jika 1 sampai 2 bulan sebelum agustusan para anak Tarka disebar untuk menjadi relawan pencari sumbangan, entah itu berjualan air mineral, atau membantu di tempat cucian motor dan umkm setempat.



"Idih, berarti kamu ngerjain anak-anak ih, hu man trafick ing!" hardik Neta menghakimi.



"Ya engga lah neng. Toh uangnya buat mereka juga, ngga semua buat kas Tarka, dilakukan secara sukarela dan bergiliran. Malah mereka tuh suka rebutan, kalo udah deket 17an gini jadi ajang cari uang jajan dadakan."




"Jadi gini, udah tradisi disini kalo mendekati 17an pihak Tarka sama kecamatan setempat minta umkm manapun buka lowongan buat anak-anak Tarka, tujuannya buat kumpulin dana tambahan acara 17an sekaligus pengalaman kerja. Dengan catatan uang yang mereka dapet tidak semua untuk kas Tarka tapi sebagian besar buat uang jajan mereka sendiri. Nah dari pengalaman itu juga, toko-toko, minimarket yang ada di daerah sini kalo buka lowongan kerja asalkan ada surat pengantar dari rw sama ketua Tarka ya gampang buat kerja," jelas Jaka, Neta berohria, "oh, semacam training tak resmi---semacam bantuan orang dalam juga."



"100 buat neng cantik."



"Terus kalo gitu, kenapa kamu malah kerja di Shangri-la? Disini kan banyak umkm sama toko-toko," tembak Neta.



Jaka menghela nafasnya seraya tersenyum, "sudah rejekinya di Shangri-la."


__ADS_1


Jaka memutar stir dan membuka kaca jendelanya, terdengar riuh anak-anak yang memang terlihat happy-happy saja berjualan di pinggir jalan begini, bahkan beberapa lainnya asik dengerin musik sambil nunggu kardus berisi air mineral, "yang botol satu!" ucap Jaka sedikit memanjangkan leher ke arah luar kaca mobil.



"Kang Jaka?!" saat Sinai menyodorkan sebuah botol berlabelkan Aqu B.



"Weheyyy! Kang Jaka gaya, pake mobil euy! *Si* *Motor engkong* kemana, kang?" seru mereka.



"Wey kang!! Kemaren masih kurus kendaraannya, sekarang udah gemuk gini!"



Jaka mengulas senyuman atas seloroh anak-anak itu, seraya menerima sebotol air mineral dan menyerahkan selembar uang 5 ribu. Sinai melirik Neta yang ada di samping Jaka, "mpok," sapanya mengangguk dalam.



Neta tersenyum ramah.



"Widihhh! Bener kata si Pudin, bini akang cantik abis!" seru Okie tertawa tanpa tedeng aling-aling.



Jaka tertawa renyah mendengarnya sementara Neta mengulas senyum merona, lebih tepatnya bangga, "cantik soalnya perempuan," balas Jaka.



"Kalo gitu saya duluan Ki, Nai--" ia juga menyalakan klakson pamit pada anak lain, "Yo!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2