Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 44. JAKA LAH TEMPATNYA UNTUK PULANG


__ADS_3

Shanneta sudah tampak bersih dan cantik sekarang, udah ngga mirip orang gila lagi. Baju kurang bahan dan kurang akhlaknya sudah berganti dengan kaos barong berwarna putih, semua itu berkat bantuan Jaka. Beruntung tas berisi peralatannya dikembalikan pihak berwajib hingga ia kini bisa bersolek meski hanya memoleskan bedak dan liptin, sedikit mirip manusia lah! Ketimbang sebelumnya.


"Kamu mandi deh, udah hampir 2 hari kamu disini belum mandi...masih ada kan kaos gantinya?" tanya Neta, perempuan ini mengeluarkan alat mandi pribadi dalam tasnya dengan sebelah tangan dan menyerahkan pada Jaka. Sekarang punyaku---punyamu juga ceritanya.


"Iya," balas Jaka setelah menaruh ponsel Neta untuk di isi dayanya. Ponsel yang memang telah padam sebelumnya sengaja Neta masukkan ke dalam tas di bagasi membuatnya aman dari kerusakan tragedi kemarin, termasuk dompet dan peralatan lain miliknya.




Hati orangtua mana yang tak sakit saat melihat dan mendengar kondisi anaknya begini secara langsung. Begitupun ibu Nilam dan bu Sri.



Tampak di layar ponsel kedua ibu itu menitikkan air matanya terlebih ibu Nilam saat melihat Neta tak berdaya hanya bisa berbaring di ranjang, ingin duduk pun harus dibantu Jaka.



"Ibu susul ke Bali ya bareng Syifa?" ia menyeka air hidungnya dengan tissue. Jaka memegangi ponsel di samping Neta agar istrinya itu bisa mengobrol bebas dengan keduanya lewat sambungan vicall.



"Pindah aja gimana Net? Biar kita gampang jenguk terus gantian nungguinya sama Jaka?" tanya Syifa. Mendengar namanya samar disebut, Jaka ikut dalam obrolan tersebut, "ngga apa-apa kak. Ngga usah khawatir, Shanneta juga sudah baikan, hanya menunggu kondisinya stabil biar bisa dibawa pulang. Kalo dipindah khawatir nanti repot urus-urus adminnya," jawab Jaka.



"A, dirawat istrinya baik-baik. Buat neng Neta, udah neng ngga usah kerja lagi, biar aa aja yang kerja," sahut ibu Sri dari layar sana.



"Iya bu, do'ain ya biar aku cepet sembuh. Maaf udah bikin semuanya khawatir."



Obrolan mengalir begitu lama, dengan didominasi obrolan Neta, Aqis dan Wulan ditimpali ibu Nilam dan Sifa. Hingga kehadiran karyawan rumah sakit yang mengantarkan cemilan sore hari datang menghentikan obrolan Neta beserta keluarga.



"Baik-baik disana. Kalo sudah pulang, kabari biar dijemput di bandara."



°°°°°°


Diantara dinginnya malam Kuta Bali, dan sepinya suasana rumah sakit, Neta hampir tersadar karena rasa tak nyaman di sekujur badannya, percayalah posisi yang hanya bisa berbaring terlen tang begini membuatnya panas punggung. Tulang belikat kanan yang retak begitu terasa sakit saat ia menggerakannya apalagi kaki yang patah diselubungi gips, udah persis nasi lemang. Luka robekan cukup panjang dan bikin ngeri pasti akan butuh waktu lama untuk sembuh. Neta menolehkan kepalanya ke samping, dimana hawa terasa dingin. Tak ada deru nafas Jaka atau gerakan bikin hangat, dimana Jaka?



Neta menjernihkan penglihatan dan mengedarkan pandangan sampai ia mengangkat kepalanya sendiri dan menemukan punggung tegap yang sedang duduk dibawah beralaskan kain membelakanginya, bersimpuh sambil melafalkan beberapa ayat suci dan bait do'a.



Mengadukan seluruh beban hidup dan memanjatkan harapan hanya pada yang memiliki hidup. Shanneta semakin dibuat luluh oleh lelaki itu, bukan ketampanan fisik yang sifatnya sementara.



*Perjaka Barokah, lelaki yang tampan dari dalam, bersama sikap tanggung jawab dan dewasanya, aku mencintaimu*....



Ia masih menatap dengan hati yang sudah lunak dan kagum ke arah Jaka yang sudah beranjak menarik kain, "Neng cantik mau apa? Haus, atau mau pi pis?" ia melipat dan memasukkannya ke dalam tas kembali.



Neta menggeleng, "cuma pegel aja, kelamaan tidur."

__ADS_1



Jaka menyugar rambut yang masih basah, mungkin oleh air wudhu.



"Masih jam setengah tiga, tidur lagi aja," Jaka kembali duduk di kursinya. Sudah masuk 3 malam Jaka harus tidur di kursi atau terkadang ia merebahkan dirinya di bawah ranjang Neta hanya beralaskan kain.



"Jaka. Aku mau pulang, kasian kamu tidurnya di lantai sama kursi terus,"



Jaka menyunggingkan senyumnya, "kamu kan tau kasurku di kontrakan, jadi tidur gini bukan masalah lagi buatku. Yang penting kamu sehat dulu, nanti kita pulang." Jaka berkata seraya menyodorkan sebotol air mineral pada Neta.



"Besok jadwalnya cek jahitan sama pen kan? Semoga ada kabar baik, sekarang neng cantik tidur aja lagi. Aku kelonin," Tangan cukup dingin itu menyusuri garis wajah dan mengusap lembut kening Neta menghantarkan Neta untuk kembali mengistirahatkan badannya.



°°°°°


Sedikit ada perkembangan dari Neta, ia dapat bangun dan duduk di kursi roda meskipun masih terbatas. Tapi setidaknya tak melulu berbaring di ranjang.



Putaran kursi roda itu mengarah ke dalam ruang CT Scan dan ruang kerja dokter yang menangani Shanneta.!



"Bisa pulang ke Jakarta,"




"Padahal aku tuh mau datang kesini sama kamu buat honeymoon, tapi malah kaya gini---" ujarnya tertawa garing, sementara Jaka sedang merapikan tas Neta, memeriksa takut ada barang yang tertinggal.



"Kita bisa kesini lagi nanti, dalam keadaan yang berbeda," balasnya mantap, mendengar kata honeymoon keluar dari mulut Neta itu rasanya kaya lagi makan gulali, ada rasa manis dan bahagianya.



"Aku kabarin dulu orang rumah sama minta jemput tetangga ya,"



"Jaka, pake aja mobilku. Mungkin bisa minta kak Syifa atau mas Syarif titipin kunci serep mobilku ke bang Togar," jawab Neta, membetulkan letak *arm sling* yang tersampir di pundak demi menyanggah tangan kanannya.



Jaka mengangguk tanpa menjawab karena sekarang ia tengah berada dalam sambungan telfon, ia lantas sedikit menjauh ke arah luar ruangan dimana Neta masih bisa melihatnya melakukan panggilan.



Ia datang dengan kemarahan dan kekecewaaan Jaka, disini pula ia dapatkan pelajarannya. Dan hari ini Jaka menjemputnya dengan semua keikhlasan, yakinlah Neta sudah belajar atas kejadian yang menimpanya ini, semua tindakannya kini harus didasari oleh ridho Jaka. Karena kembali, *Jaka lah tempatnya pulang*.



Senyuman membingkai wajah cantik Neta hari ini, "kenapa senyam-senyum sendiri?" tanya Jaka, gelengan manis ditunjukkannya, "engga. Aku seneng aja mau pulang!" serunya.


__ADS_1


"Kenapa? Disini takut dipergokin orang kalo mau basah-basahan?" selorohnya tersenyum menggoda. Neta tertawa tapi kemudian mencubit pinggang Jaka, "enak aja! Aku bisa lakuin dimanapun kok, semau aku!" balasnya.



"Iya percaya, aku tau neng cantik emang nekat." Jaka ingat betul dengan sikap *ofensif* Neta saat awal bertemu yang dengan berani ingin menciumnya hingga berujung menin dihh si juniornya.



"Bahaya!" bisik Jaka.



"Bahaya kalo deket-deket sama lelaki lain, apalagi yang imannya tipis," Jaka mengerlingkan matanya genit membuat Neta bergidik geli, tapi ia sudah memerah karena merona, "jiji!" cebiknya.



"Ngga usah kedip-kedip gitu kaya orang cacingan," sarkasnya menutupi rasa malu yang membuncah, Jaka tertawa renyah melihat Neta yang salting.



Sepasang tangan mendorong kursi roda ke dalam ruangan Neta, "pasien Shanneta,"



Keduanya menoleh bersamaan, "oh iya, makasih sus!"



Jaka menggendong Neta untuk duduk di kursi roda.



"Semoga lekas sembuh ya bu," ia mengatupkan kedua tangan pada Neta dan Jaka.



Tak ada yang lebih membuatnya senang sekarang selain bisa pulang, *home sweet home*...tak peduli seberapa kecil atau sederhananya itu, tapi dimana ada Jaka adalah rumah untuk Neta sekarang.



Sebuah taxi sudah menunggu keduanya di luar rumah sakit untuk mengantar langsung ke bandara.



"Kita ngga pulang ke kontrakan ya, tapi ke rumah ibu. Biar neng cantik ada temennya, disana juga ada toilet duduk, biar ngga susah kalo mau buang hajat."



Neta mengangguk paham, "tapi sama kamu kan? Kamu kalo kerja berangkat sama pulang dari rumah ibu juga kan?" tanya Neta menatap penuh harap.



"Kalo neng cantik maunya gitu, iya...untuk sementara, sampai neng cantik sembuh kita tinggal disana," jawab Jaka mengangguk.



Neta menyusupkan tangan kirinya diantara sandaran bangku mobil dan belakang punggung Jaka, Neta bersandar padanya, "pokonya aku ikut kamu..." ucap Neta.



"Iya."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2