Mengejar Barokah

Mengejar Barokah
MB # 35. UCAPAN ADALAH DO'A


__ADS_3

Neta tertawa-tawa sendiri mengingat aksi ofensif-nya barusan pada Jaka.


Shanneta 'sowang' Amber, ia tertawa tergelak kali ini, gelar barunya yang jadi ketularan nyosor-nyosor.


Neta yang memilih kembali merebahkan diri di kasur menatap langit-langit kamar. Dan kejadian dini hari tadi muncul kembali seolah bergema paling keras dalam otaknya,


"Lo kalo ngela curr liat-liat orang dulu dong, Am..."


Hatinya kembali berdenyut sakit mengingat itu, sejak sepulang tadi ia belum melihat lagi ponselnya. Neta bangun dan mencari tas miliknya. Rupanya sudah banyak pesan menyerang ponsel berikut panggilan tak terjawab termasuk panggilan dari ibu dan mas Syarif tadi pagi.


Neta memejamkan matanya, mulai sejak ini ia akan menyudahi semua yang berkaitan dengan Moccacino. Ucapan Jaka yang memintanya menjadi istri seutuhnya di rumah saat tadi pagi sempat membuatnya kepikiran juga, tapi jika hidup hanya dengan mengandalkan penghasilan Jaka, sudah pasti hidupnya akan stuck sampai disini saja, ditambah dirinya yang terbiasa memiliki penghasilan sendiri sudah pasti akan menjadi masalah di kemudian hari.


Jiwa bisnis Neta kini memaksa otaknya untuk berpikir keras. Shanneta menghitung-hitung, berapa jumlah uang yang ia punya dalam rekening, apakah akan cukup jika ia pakai untuk membuka usaha, begitupun jenis usaha apa yang akan ia buka.


Diantara heningnya suasana kamar ponselnya bergetar, "bang Sandi,"


"Hallo bang?"


(..)


°°°°°°°°


Sebagai seorang lelaki normal, wajar saja Jaka bersemangat kembali untuk pulang dan mengharapkan hal manis tadi pagi terjadi lagi. Dan memang benar kata para praktisi kesehatan, karena survey membuktikan ke in timan menghasilkan hormon endorfen yang membuat dirinya merasa bahagia dan lebih bersemangat. Dengan kata lain, hal menyenangkan seperti tadi pagi semacam asupan vitamin untuk pasangan yang sudah menikah.


Jaka membereskan peralatan bengkel secepatnya, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan sang pujaan hati, benar! Ia sudah jatuh, jatuh cinta pada Shanneta istrinya. Bahkan sejak pertama bertemu, ia sudah mengagumi kecantikan hamba Allah yang satu itu.


"Jak, nanti jum'at sore lo libur kan? Bentar lagi bulan Agustus, Tarka ada kumpulan ngga nih?"


"Ada, nanti saya infokan di grup.." jawab Jaka. Seperti biasa, sudah beberapa tahun belakangan ini Jaka yang dipilih menjadi ketua perkumpulan para pemuda kampung itu akan disibukkan dengan segudang acara menjelang HUT RI di lingkungan kampungnya. Padahal notabenenya Jaka adalah seorang perantau, namun sejak ia berusia 19 tahun saat menginjakkan kakinya pertama kalinya di tanah ibukota ini, disitulah Jaka sudah tinggal dan berbaur.


Jaka menyunggingkan senyuman setipis helaian rambut. Jika di ingat-ingat, ia yang jarang tersenyum kini lebih sering melengkungkan bibir setelah bertemu Neta, entah karena tingkah absurdnya atau karena ia yang menggemaskan, mampu menggetarkan kalbu, yang jelas keduanya memiliki peran untuk itu.

__ADS_1


Lihatlah sekarang wanita-nya. Wanitanya? Jaka akan dengan bangga mengatakan itu sekarang. Neta sedang berbaur mengobrol bersama mpok Aya, nyak Epi, tante Hana dan cing Anjar, memperhatikan anak-anak kampung berlarian sambil melempar guyonan, sungguh pemandangan yang menentramkan jiwa. Apalagi jika ditambah seorang anak kecil, buah hati keduanya...sepertinya dunia akan lebih sempurna untuk Jaka di usia yang sebentar lagi akan menginjak 27 tahun ini.


Dilatari langit yang mulai menguning namun masih menguarkan hawa hangatnya.


"Tuh, laki lo dateng neng...disambit dulu!" seloroh cing Anjar membuat nyak Epi lantas sewot.


"Sambit, dikira rumput!"


"Maksud gua sambit pake ciuman, kopi panas, nasi anget sama baju bersih..." lanjut cing Anjar. Tante Hana tertawa dengan tangan yang masih kotor berminyak sebab sedang menyuapi anaknya yang bermain sepedaan, anak lelaki berusia 4 tahun yang menguarkan aroma kayu putih sepaket stelan baju kaos Ejen Ali dan bedak putih yang tidak merata di wajahnya hampir menyerupai buah kesemek.


"Jul, sini lah kau! Jangan terlalu kencang, nanti kau tabrak itu ayam kong Eman, marah lah dia orang!" teriaknya.


Neta undur diri dari geng emak-emak gang senggol, saat Jaka sudah menghentikkan mesin motornya. Menerima kresek hitam dengan ragu, "apa ini?" tanya nya, ia melongokkan pandangan membuka kresek, dan aroma ayam bakar menyeruak memanjakan penciuman.


"Temen nasi buat nanti malem," jawab Jaka.


"Jaka," panggilnya mengekor Jaka di belakang.


"Aku mau keluar kota," permohonan ijin itu lolos dari mulut Shanneta, membuat Jaka mendadak menghentikan langkahnya.


Dugh!


"Aduh, ih! Kalo ngerem kasih lampu sen dong! Ngapain berenti di pintu sih?!" sewotnya yang mengusapi ujung hidung bangirnya karena secara tak sengaja menubruk punggung Jaka.


Kali ini Jaka benar-benar menoleh, menatap Shanneta...baru saja ia merasa mendapatkan istrinya itu, kini tiba-tiba Shanneta meminta ijinnya pergi jauh? Bukan--bukan, itu bukan ijin, lebih tepatnya ia sudah memutuskan sepihak karena dengan jelas telinganya menangkap kalimat ia yang mau pergi, bukan meminta ijin.


"Ngapain?" tanya Jaka seketika datar, wajahnya tak seramah dan sehangat tadi.


"Aku punya side job, nge'DJ in acara ultah anak pejabat...ngga jauh kok, di Bali!" lanjutnya dengan mata penuh harap dan berbinar, setidaknya ia berharap pundi-pundi yang akan ia kumpulkan itu kelak akan mampu menjadi investasinya bersama Jaka di kemudian hari sebelum Neta benar-benar berhenti dari dunia DJ. Yap! Itu ide cemerlang untuk mengumpulkan uang dengan cepat.


What?! Yang benar saja, Bali ngga jauh?! Bahkan jaraknya saja tak dapat dihitung jika berjalan kaki, ya iyalah! Masa iya jalan kaki ke Bali, tapi coba hitung berapa langkah, berapa depa, berapa inci, berapa meter jarak yang memisahkan mereka dari Jakarta ke Bali? Gemuruh rasa kesal seketika memenuhi rongga dada.

__ADS_1


Jaka kira Neta mengerti dengan ucapannya tadi pagi, saat ia mengharapkan Neta menjadi istri seutuhnya yang menunggu di rumah maka itu artinya pria itu sangat menginginkannya.


Rahangnya sedikit mengeras dengan kedutan-kedutan kecil di tulang pipi, Jaka meloloskan nafas beratnya.


"Apa harus sejauh itu?" tanya Jaka, ingin rasanya ia mengatakan saya tak rela dan tak mengijinkan, tapi jelas jika Neta sudah memutuskan untuk pergi tanpa meminta pendapat dan ijinnya terlebih dahulu dan hanya mengabarinya saja.


Neta tertawa kecil dan menepuk lengan pria-nya, "ck! Jauh gimana sih, Bali deket kali! Suka lebay deh!" jawabnya enteng membawa kresek berisi ayam bakar dan memindahkan itu ke atas piring.


"Kenapa ngga minta ijin saya dulu?" tanya nya geram.


"Biasanya juga ngijinin, cuma 3 hari ngga lama...acaranya sih sehari, tapi perjalanannya ngga bisa dadakan kaya bikin cireng..." jawabnya tertawa renyah, sungguh Jaka tak ingin ikut tertawa. Ekspektasi Jaka rupanya hanya angan-angan semu, padahal dalam bayangannya Neta akan menyambutnya dengan manja penuh cum bu, namun apa sekarang? Ia disambut dengan kalimat yang bikin hatinya meradang.


Jaka lebih memilih menyambar handuknya, "kapan kamu pergi?"


"Nanti abis dari Shangri-la, sekitar jam 3...aku udah berangkat ke Soetta," jawab Neta.


Double kill! Bahkan Neta sudah menentukan kapan ia pergi tanpa repot-repot berbincang-bincang santai dengannya dulu. Jaka tak lagi menjawab atau berkata-kata, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi, buru-buru menyiram tubuhnya dengan air dingin agar panas di otaknya cepat reda. Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan kecewa oleh Shanneta.


Pergilah kemanapun kamu mau! Sekalipun ke tempat yang aku tak tau!


Tanpa sadar hatinya sudah mengatakan itu dengan penuh emosi di dada dan otaknya, sampai lupa jika ucapan adalah do'a....


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2